Menurut anda mengapa saat ini generasi muda mudah sekali terdegradasi nilai-nilai sosialnya? Bagaimana pandangan dan solusi anda selaku calon-calon pengembang pendidikan ips mengenai hal ini, jika dikaitkan dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih mengapa berbanding terbalik dengan moralitas warga dunia saat ini?
Diskusi
Kemajuan teknologi yang semakin pesat memang memberikan banyak manfaat bagi kehidupan manusia, namun juga dapat membawa tantangan terhadap nilai-nilai sosial dan moral apabila tidak diimbangi dengan pendidikan karakter. Generasi muda saat ini mudah terpengaruh oleh berbagai informasi dan budaya luar melalui media digital, sehingga diperlukan kemampuan berpikir kritis serta pemahaman nilai etika dalam penggunaannya. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kita memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai sosial, kepedulian, tanggung jawab, dan karakter melalui pembelajaran yang kontekstual agar teknologi dapat menjadi sarana memperkuat moralitas, bukan sebaliknya.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu.
Nama: Dika Yumanda
NPM: 2623031015
Mohon izin memberikan pendapat dan pandangan, ibu.
Saat ini, generasi muda mudah mengalami degradasi nilai sosial. Untuk itu, menurut saya, terdapat beberapa faktor yang saling berkaitan.
Pertama, adanya pergeseran dari komunitas nyata ke ruang digital. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Generasi muda saat ini menghabiskan lebih banyak waktu di ruang digital daripada ruang sosial nyata. Interaksi melalui media sosial memang dapat memperluas jaringan, tetapi tidak selalu membangun empati, toleransi, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara langsung.
Kedua, menurunnya kepercayaan sosial. Saat ini, generasi muda memiliki rasa memiliki terhadap komunitas yang cukup tinggi, tetapi tingkat kepercayaan terhadap orang lain relatif lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Oleh karena itu, fenomena individualisme cenderung berkembang di kalangan generasi muda.
Ketiga, semakin sengitnya persaingan ekonomi dan sosial. Hal ini dikarenakan pasar kerja yang semakin kompetitif, biaya pendidikan, dan ketidakpastian masa depan membuat banyak generasi muda menjadi lebih fokus pada pencapaian individu daripada keterlibatan sosial. Kondisi ini dapat mengurangi partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan yang berimplikasi pada menurunnya nilai-nilai sosial pada masyarakat.
Keempat, bergesernya orientasi dan pandangan generasi muda terhadap nilai. Saat ini, generasi muda lebih terbuka terhadap kebebasan, pencapaian diri, dan kesempatan berkembang. Namun, keterbukaan terhadap nilai-nilai keterbukaan ini terkadang kurang diiringi dengan penghargaan terhadap norma kolektif di dalam masyarakat jika tidak diimbangi pendidikan karakter. Untuk hal ini, IPS hadir untuk menjawab dan mempertahankan nilai-nilai sosial di dalam masyarakat.
Dari hal-hal tersebut, dapat dilihat bahwa saat ini teknologi berkembang secara eksponensial, sedangkan perkembangan moral bersifat evolusioner dan memerlukan proses pembiasaan, refleksi, serta interaksi sosial. Dengan kata lain, teknologi meningkatkan kemampuan (capability) manusia, tetapi tidak otomatis meningkatkan kebijaksanaan (wisdom) dalam menggunakannya.
Maka, untuk menjawab faktor-faktor tersebut, sebagai calon pengembang Pendidikan IPS berkaitan dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dengan moralitas semakin menurun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, ialah sebagai berikut.
Pertama, mengintegrasikan literasi digital dengan pendidikan nilai. Peserta didik tidak cukup diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara memverifikasi informasi, memahami etika bermedia, menghargai privasi, dan bertanggung jawab atas jejak digital.
Kedua, pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning). Peserta didik diberi kesempatan menyelesaikan persoalan nyata seperti intoleransi, sampah, kemiskinan, perundungan digital. Dengan demikian mereka belajar empati sekaligus berpikir kritis.
Ketiga, memperkuat keterampilan sosial (Social Skills). Pembelajaran IPS perlu secara eksplisit melatih komunikasi, kerja sama, negosiasi, penyelesaian konflik, serta kepemimpinan. Keterampilan ini menjadi modal penting dalam masyarakat digital.
Keempat, membangun budaya sekolah yang humanis. Dalam hal ini, karakter tidak hanya dibentuk melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui budaya sekolah. Guru perlu menjadi teladan, kepala sekolah mendukung kolaborasi, dan evaluasi diarahkan untuk pengembangan, bukan sekadar penilaian.
Maka, berdasarkan hal tersebut, dapat kita pahami bahwa degradasi nilai sosial pada generasi muda bukan semata-mata akibat kemajuan teknologi, melainkan hasil interaksi kompleks antara perubahan budaya, rendahnya kepercayaan sosial, tekanan ekonomi, dan penggunaan teknologi tanpa penguatan nilai. Oleh karena itu, Pendidikan IPS perlu menjadi wahana pembentukan warga negara digital yang mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama, sehingga kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan penguatan moralitas dan kohesi sosial.
Nama: Dika Yumanda
NPM: 2623031015
Mohon izin memberikan pendapat dan pandangan, ibu.
Saat ini, generasi muda mudah mengalami degradasi nilai sosial. Untuk itu, menurut saya, terdapat beberapa faktor yang saling berkaitan.
Pertama, adanya pergeseran dari komunitas nyata ke ruang digital. Pada dasarnya, manusia adalah makhluk sosial. Generasi muda saat ini menghabiskan lebih banyak waktu di ruang digital daripada ruang sosial nyata. Interaksi melalui media sosial memang dapat memperluas jaringan, tetapi tidak selalu membangun empati, toleransi, dan kemampuan menyelesaikan konflik secara langsung.
Kedua, menurunnya kepercayaan sosial. Saat ini, generasi muda memiliki rasa memiliki terhadap komunitas yang cukup tinggi, tetapi tingkat kepercayaan terhadap orang lain relatif lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Oleh karena itu, fenomena individualisme cenderung berkembang di kalangan generasi muda.
Ketiga, semakin sengitnya persaingan ekonomi dan sosial. Hal ini dikarenakan pasar kerja yang semakin kompetitif, biaya pendidikan, dan ketidakpastian masa depan membuat banyak generasi muda menjadi lebih fokus pada pencapaian individu daripada keterlibatan sosial. Kondisi ini dapat mengurangi partisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan yang berimplikasi pada menurunnya nilai-nilai sosial pada masyarakat.
Keempat, bergesernya orientasi dan pandangan generasi muda terhadap nilai. Saat ini, generasi muda lebih terbuka terhadap kebebasan, pencapaian diri, dan kesempatan berkembang. Namun, keterbukaan terhadap nilai-nilai keterbukaan ini terkadang kurang diiringi dengan penghargaan terhadap norma kolektif di dalam masyarakat jika tidak diimbangi pendidikan karakter. Untuk hal ini, IPS hadir untuk menjawab dan mempertahankan nilai-nilai sosial di dalam masyarakat.
Dari hal-hal tersebut, dapat dilihat bahwa saat ini teknologi berkembang secara eksponensial, sedangkan perkembangan moral bersifat evolusioner dan memerlukan proses pembiasaan, refleksi, serta interaksi sosial. Dengan kata lain, teknologi meningkatkan kemampuan (capability) manusia, tetapi tidak otomatis meningkatkan kebijaksanaan (wisdom) dalam menggunakannya.
Maka, untuk menjawab faktor-faktor tersebut, sebagai calon pengembang Pendidikan IPS berkaitan dengan kemajuan teknologi yang semakin canggih dengan moralitas semakin menurun, ada beberapa hal yang dapat dilakukan, ialah sebagai berikut.
Pertama, mengintegrasikan literasi digital dengan pendidikan nilai. Peserta didik tidak cukup diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara memverifikasi informasi, memahami etika bermedia, menghargai privasi, dan bertanggung jawab atas jejak digital.
Kedua, pembelajaran berbasis masalah (Problem-Based Learning). Peserta didik diberi kesempatan menyelesaikan persoalan nyata seperti intoleransi, sampah, kemiskinan, perundungan digital. Dengan demikian mereka belajar empati sekaligus berpikir kritis.
Ketiga, memperkuat keterampilan sosial (Social Skills). Pembelajaran IPS perlu secara eksplisit melatih komunikasi, kerja sama, negosiasi, penyelesaian konflik, serta kepemimpinan. Keterampilan ini menjadi modal penting dalam masyarakat digital.
Keempat, membangun budaya sekolah yang humanis. Dalam hal ini, karakter tidak hanya dibentuk melalui materi pelajaran, tetapi juga melalui budaya sekolah. Guru perlu menjadi teladan, kepala sekolah mendukung kolaborasi, dan evaluasi diarahkan untuk pengembangan, bukan sekadar penilaian.
Maka, berdasarkan hal tersebut, dapat kita pahami bahwa degradasi nilai sosial pada generasi muda bukan semata-mata akibat kemajuan teknologi, melainkan hasil interaksi kompleks antara perubahan budaya, rendahnya kepercayaan sosial, tekanan ekonomi, dan penggunaan teknologi tanpa penguatan nilai. Oleh karena itu, Pendidikan IPS perlu menjadi wahana pembentukan warga negara digital yang mampu memanfaatkan teknologi secara kritis, etis, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama, sehingga kemajuan teknologi dapat berjalan seiring dengan penguatan moralitas dan kohesi sosial.
Assalamualaikum wr wb
Nama: Barine Briliance Ikhsan
NPM: 2623031002
Karena moral, empati, akan lebih mudah kita hayati ketika kita mengalami secara langsung sesulit apa, menantang kehidupan untuk berusaha secara mandiri. Baru kita bisa merasakan bagaimana saat kesusahan itu. Kita akan belajar menghargai orang lain, dan kerja sama. Kecanggihan teknologi membuka lebih banyak cara supaya orang 'mager' untuk berinteraksi karena semua hal sudah bisa diakses secara online. Hal ini menambah 'PR' guru saat ini untuk mendidik muridnya dengan moral yg baik, akhlak yang terpuji. Kebiasaan main game 'mabar' juga membawa dampak negatif, anak-anak terbiasa mengucapkan kata-kata yang tidak terpuji. Membatasi penggunaan hp pada anak saat ini membutuhkan effort besar para orang tua supaya menjaga anak-anak nya dari pengaruh negatif gadget.
Nama: Barine Briliance Ikhsan
NPM: 2623031002
Karena moral, empati, akan lebih mudah kita hayati ketika kita mengalami secara langsung sesulit apa, menantang kehidupan untuk berusaha secara mandiri. Baru kita bisa merasakan bagaimana saat kesusahan itu. Kita akan belajar menghargai orang lain, dan kerja sama. Kecanggihan teknologi membuka lebih banyak cara supaya orang 'mager' untuk berinteraksi karena semua hal sudah bisa diakses secara online. Hal ini menambah 'PR' guru saat ini untuk mendidik muridnya dengan moral yg baik, akhlak yang terpuji. Kebiasaan main game 'mabar' juga membawa dampak negatif, anak-anak terbiasa mengucapkan kata-kata yang tidak terpuji. Membatasi penggunaan hp pada anak saat ini membutuhkan effort besar para orang tua supaya menjaga anak-anak nya dari pengaruh negatif gadget.
Nama : Azzahra Melani Putri Dania
NPM :2623031007
Menurut saya, degradasi nilai-nilai sosial pada generasi muda tidak semata-mata disebabkan oleh kemajuan teknologi, tetapi lebih karena ketidaksiapan individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara bijak. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan akses informasi, komunikasi, dan hiburan, namun juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, budaya instan, individualisme, cyberbullying, serta menurunnya interaksi sosial secara langsung. Akibatnya, nilai-nilai seperti empati, kepedulian, tanggung jawab, dan gotong royong dapat mengalami penurunan apabila tidak dibarengi dengan pendidikan karakter yang kuat. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa pembelajaran IPS harus menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran sosial, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi harus memberikan pengalaman nyata melalui diskusi isu sosial, proyek kolaboratif, kegiatan pengabdian masyarakat, serta pemanfaatan teknologi secara produktif dan etis. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Kemajuan teknologi yang semakin canggih memang sering terlihat berbanding terbalik dengan moralitas masyarakat karena perkembangan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan karakter dan etika manusia. Teknologi pada dasarnya bersifat netral; baik atau buruknya dampak yang muncul bergantung pada cara manusia menggunakannya. Oleh karena itu, solusi yang perlu dikembangkan adalah mengintegrasikan pendidikan karakter, pendidikan moral, dan literasi digital ke dalam pembelajaran IPS agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama, memperkuat hubungan sosial, serta berkontribusi secara positif dalam kehidupan bermasyarakat di era digital.
NPM :2623031007
Menurut saya, degradasi nilai-nilai sosial pada generasi muda tidak semata-mata disebabkan oleh kemajuan teknologi, tetapi lebih karena ketidaksiapan individu, keluarga, sekolah, dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi secara bijak. Kemajuan teknologi memberikan kemudahan akses informasi, komunikasi, dan hiburan, namun juga menghadirkan tantangan berupa penyebaran hoaks, budaya instan, individualisme, cyberbullying, serta menurunnya interaksi sosial secara langsung. Akibatnya, nilai-nilai seperti empati, kepedulian, tanggung jawab, dan gotong royong dapat mengalami penurunan apabila tidak dibarengi dengan pendidikan karakter yang kuat. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa pembelajaran IPS harus menjadi sarana untuk menanamkan kesadaran sosial, literasi digital, dan kemampuan berpikir kritis. Pembelajaran tidak cukup hanya berfokus pada penguasaan materi, tetapi harus memberikan pengalaman nyata melalui diskusi isu sosial, proyek kolaboratif, kegiatan pengabdian masyarakat, serta pemanfaatan teknologi secara produktif dan etis. Dengan demikian, peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial dan tanggung jawab sebagai warga negara.
Kemajuan teknologi yang semakin canggih memang sering terlihat berbanding terbalik dengan moralitas masyarakat karena perkembangan teknologi berlangsung jauh lebih cepat dibandingkan perkembangan karakter dan etika manusia. Teknologi pada dasarnya bersifat netral; baik atau buruknya dampak yang muncul bergantung pada cara manusia menggunakannya. Oleh karena itu, solusi yang perlu dikembangkan adalah mengintegrasikan pendidikan karakter, pendidikan moral, dan literasi digital ke dalam pembelajaran IPS agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk kebaikan bersama, memperkuat hubungan sosial, serta berkontribusi secara positif dalam kehidupan bermasyarakat di era digital.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu dan teman-teman..
Nama: Redo
NPM: 2623031016
-Mengapa Generasi Muda Rentan Mengalami Degradasi Nilai Sosial?
Nama: Redo
NPM: 2623031016
-Mengapa Generasi Muda Rentan Mengalami Degradasi Nilai Sosial?
Degradasi nilai sosial pada generasi muda pada dasarnya lahir dari pergeseran ruang sosialisasi mereka, dari interaksi langsung yang dulu menjadi wadah alami untuk belajar berempati dan bertenggang rasa, menuju ruang digital yang serba instan, individual, dan minim kontrol sosial. Kondisi ini diperparah oleh algoritma media sosial yang lebih mengutamakan konten provokatif dan hedonis demi engagement, sementara peran keluarga, sekolah, dan tokoh masyarakat sebagai agen sosialisasi tradisional justru semakin melemah karena harus bersaing dengan pengaruh dunia maya. Akibatnya, nilai-nilai luhur seperti gotong royong dan kepedulian sosial tidak lagi terinternalisasi secara mendalam, melainkan hanya dipahami secara dangkal dan performatif.
-Mengapa Teknologi Maju tapi Moralitas Justru Menurun?
Paradoks kemajuan teknologi yang berbanding terbalik dengan moralitas dapat dipahami melalui konsep cultural lag, yakni kesenjangan antara lajunya inovasi teknologi dengan lambatnya perkembangan nilai dan etika yang seharusnya mengiringinya, sebab teknologi diciptakan untuk efisiensi dan kecepatan, bukan untuk mematangkan hati nurani. Kelimpahan informasi yang dihasilkan teknologi juga menciptakan jarak antara "mengetahui" dan "merasakan", sehingga generasi muda dapat mengetahui banyak persoalan kemanusiaan lewat layar, namun jarang benar-benar menghayatinya, hingga empati yang tumbuh pun cenderung instan dan sebatas simbolis, bukan lahir dari kedalaman jiwa yang sesungguhnya.
-Pandangan dan Solusi dari Sudut Pandang Calon Pendidik IPS
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya meyakini bahwa IPS memiliki peran strategis untuk menjembatani kesenjangan ini, sebab pada hakikatnya IPS adalah ilmu tentang manusia dan kemanusiaan itu sendiri, sehingga harus dihidupkan bukan sekadar sebagai hafalan fakta sosial, melainkan sebagai ruang pembentukan karakter melalui literasi digital berbasis nilai, pembelajaran kontekstual yang menyentuh pengalaman nyata siswa, serta keteladanan guru yang didukung sinergi keluarga dan masyarakat agar kelak generasi muda tidak hanya cakap secara teknologi, tetapi juga matang secara nurani dan kemanusiaan.
Terima kasih..
Nama : Rindi Adya Molis
NPM : 2623031017
Di era digital saat ini para generasi muda memang mudah sekali tergradasi nilai-nilai sosialnya karena dipengaruhi oleh teknologi yang semakin berkembang saat ini, banyak sekali berbagai informasi yang diterima dari berbagai sumber, akan tetapi sumber tersebut belum teruji kebenarannya. Sehingga, dari keadaan tersebut menyebabkan para generasi muda tidak memfilter informasi yang didapat. Faktor lain yang menyebabkan nilai-nilai sosialnya tergradasi, karena mulai hilangnya nilai-nilai kegotong royongan, kebersamaan, toleransi dll. Mereka lebih menguatkan nilai individualitas.
NPM : 2623031017
Di era digital saat ini para generasi muda memang mudah sekali tergradasi nilai-nilai sosialnya karena dipengaruhi oleh teknologi yang semakin berkembang saat ini, banyak sekali berbagai informasi yang diterima dari berbagai sumber, akan tetapi sumber tersebut belum teruji kebenarannya. Sehingga, dari keadaan tersebut menyebabkan para generasi muda tidak memfilter informasi yang didapat. Faktor lain yang menyebabkan nilai-nilai sosialnya tergradasi, karena mulai hilangnya nilai-nilai kegotong royongan, kebersamaan, toleransi dll. Mereka lebih menguatkan nilai individualitas.
Sebagai seorang pendidik terutama pengembang pendidikan IPS dalam mengatasi persoalan terkait minusnya moralitas yang diakibatkan oleh kecanggihan teknologi saat ini adalah dengan melakukan penguatan pendidikan karakter. Jadi peran saya sebagai seorang pendidik tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga wajib untuk mendidik karakter murid. Karakter menjadi hal terpenting dan utama dalam dunia pendidikan, karena dengan memiilki karakter yang baik, tentunya akan membentuk moralitas yang baik pula.
Nama : Dewi Rahayu
NPM. : 2623031014
izin menjawab ibu
Menurut saya, generasi muda saat ini mudah mengalami degradasi nilai sosial karena kemajuan teknologi memberikan akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi, termasuk informasi yang negatif. Teknologi sebenarnya memberikan banyak manfaat dalam pendidikan dan kehidupan, tetapi tanpa kemampuan menyaring informasi dan pengendalian diri, teknologi dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, dan moral generasi muda.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital sejak dini. Generasi muda perlu diajarkan untuk berpikir kritis, mampu membedakan informasi yang benar dan salah, serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Peran orang tua, sekolah, dan pemerintah juga diperlukan melalui pendampingan, pengawasan, serta penyediaan lingkungan digital yang sehat.
Menurut saya, kemajuan teknologi tidak seharusnya berbanding terbalik dengan moralitas. Justru, semakin canggih teknologi, semakin penting pula pendidikan moral dan karakter agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif tanpa kehilangan nilai-nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
NPM. : 2623031014
izin menjawab ibu
Menurut saya, generasi muda saat ini mudah mengalami degradasi nilai sosial karena kemajuan teknologi memberikan akses yang sangat luas terhadap berbagai informasi, termasuk informasi yang negatif. Teknologi sebenarnya memberikan banyak manfaat dalam pendidikan dan kehidupan, tetapi tanpa kemampuan menyaring informasi dan pengendalian diri, teknologi dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, dan moral generasi muda.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital sejak dini. Generasi muda perlu diajarkan untuk berpikir kritis, mampu membedakan informasi yang benar dan salah, serta menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Peran orang tua, sekolah, dan pemerintah juga diperlukan melalui pendampingan, pengawasan, serta penyediaan lingkungan digital yang sehat.
Menurut saya, kemajuan teknologi tidak seharusnya berbanding terbalik dengan moralitas. Justru, semakin canggih teknologi, semakin penting pula pendidikan moral dan karakter agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi untuk hal-hal positif tanpa kehilangan nilai-nilai sosial dalam kehidupan bermasyarakat.
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh, Ibu.
Izin perkenalkan diri,
Nama : Ucep Saifulloh
NPM : 2623031008
Mohon izin ibu untuk memberi tanggapan terkait studi kasus yang telah disediakan :
Menurut pendapat saya, Fenomena degradasi nilai sosial pada generasi muda saat ini sebenarnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari pergeseran besar dalam cara nilai-nilai itu ditanamkan. Jika dahulu keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar menjadi ruang utama sosialisasi nilai dengan pengawasan yang relatif langsung, kini algoritma media sosial justru mengambil alih peran tersebut. Persoalannya, algoritma tidak dirancang untuk mendidik, melainkan untuk mempertahankan perhatian pengguna, sehingga konten yang viral dan banyak ditiru belum tentu konten yang mengandung nilai kebaikan. Ditambah lagi, kemudahan berinteraksi secara digital justru berpotensi mengikis empati sosial yang nyata, sebab interaksi tatap muka yang dahulu melatih kepekaan seperti membaca ekspresi, menahan diri, dan bernegosiasi kini banyak tergantikan oleh interaksi layar yang serba instan dan minim konsekuensi emosional. Belum lagi krisis keteladanan, di mana anak muda kesulitan menemukan figur panutan yang konsisten karena tokoh-tokoh publik pun kerap menampilkan perilaku yang bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan di ruang kelas.
Terkait mengapa kemajuan teknologi justru berbanding terbalik dengan moralitas, hal ini sebenarnya bukan sebuah paradoks jika dipahami bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral secara nilai, ia hanyalah alat yang berkembang mengikuti logika efisiensi dan inovasi yang bergerak sangat cepat. Sementara itu, moralitas terbentuk melalui proses pembiasaan, refleksi, dan pengalaman sosial yang membutuhkan waktu serta ruang kontemplasi yang jauh lebih lambat. Ketika kecepatan perkembangan teknologi jauh melampaui kecepatan pembentukan karakter, terjadilah apa yang oleh William Ogburn disebut sebagai cultural lag, yaitu kesenjangan antara perkembangan unsur material seperti teknologi dengan perkembangan unsur non-material seperti nilai dan norma. Akibatnya, masyarakat menjadi "gagap nilai", memiliki alat yang canggih namun belum memiliki kompas moral yang memadai untuk menggunakannya secara bijaksana.
Melihat kondisi ini, sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya berpandangan bahwa IPS memiliki posisi yang sangat strategis karena secara hakikat memang mengintegrasikan nilai sosial, sejarah, ekonomi, dan kewarganegaraan sekaligus. Pembelajaran IPS ke depan perlu diarahkan tidak sekadar pada hafalan konsep, melainkan pada analisis isu-isu kontekstual yang nyata dialami siswa, misalnya dampak media sosial terhadap perilaku sosial mereka sendiri, sehingga nilai tidak diajarkan secara doktriner tetapi ditemukan melalui proses refleksi kritis. Literasi digital pun perlu diajarkan secara terintegrasi dengan nilai, bukan hanya soal cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara memilah informasi dan bersikap secara etis di ruang digital. Di sisi lain, penguatan praktik sosial secara langsung melalui proyek berbasis komunitas seperti gotong royong, observasi lingkungan sosial, atau wawancara dengan tokoh masyarakat menjadi penting untuk mengimbangi dominasi interaksi digital dengan pengalaman sosial yang nyata. Tidak kalah penting, guru perlu memposisikan diri sebagai model nilai, bukan sekadar penyampai materi, karena keteladanan tetap menjadi metode paling efektif dalam pembentukan karakter.
Pada akhirnya, teknologi tidak perlu dilawan, melainkan perlu dikawal dengan pendidikan nilai yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Tugas pendidikan IPS ke depan bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan sosial, melainkan membentuk kesadaran kritis agar generasi muda mampu menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan objek yang justru dikendalikan olehnya.
Demikian ibu pendapat dari saya, mohon maaf apabila ada kekeliruan.
Terima Kasih Ibu
Wassalamu'alaikum wr wb
Izin perkenalkan diri,
Nama : Ucep Saifulloh
NPM : 2623031008
Mohon izin ibu untuk memberi tanggapan terkait studi kasus yang telah disediakan :
Menurut pendapat saya, Fenomena degradasi nilai sosial pada generasi muda saat ini sebenarnya bukan sesuatu yang berdiri sendiri, melainkan hasil dari pergeseran besar dalam cara nilai-nilai itu ditanamkan. Jika dahulu keluarga, sekolah, dan lingkungan sekitar menjadi ruang utama sosialisasi nilai dengan pengawasan yang relatif langsung, kini algoritma media sosial justru mengambil alih peran tersebut. Persoalannya, algoritma tidak dirancang untuk mendidik, melainkan untuk mempertahankan perhatian pengguna, sehingga konten yang viral dan banyak ditiru belum tentu konten yang mengandung nilai kebaikan. Ditambah lagi, kemudahan berinteraksi secara digital justru berpotensi mengikis empati sosial yang nyata, sebab interaksi tatap muka yang dahulu melatih kepekaan seperti membaca ekspresi, menahan diri, dan bernegosiasi kini banyak tergantikan oleh interaksi layar yang serba instan dan minim konsekuensi emosional. Belum lagi krisis keteladanan, di mana anak muda kesulitan menemukan figur panutan yang konsisten karena tokoh-tokoh publik pun kerap menampilkan perilaku yang bertolak belakang dengan nilai yang diajarkan di ruang kelas.
Terkait mengapa kemajuan teknologi justru berbanding terbalik dengan moralitas, hal ini sebenarnya bukan sebuah paradoks jika dipahami bahwa teknologi pada dasarnya bersifat netral secara nilai, ia hanyalah alat yang berkembang mengikuti logika efisiensi dan inovasi yang bergerak sangat cepat. Sementara itu, moralitas terbentuk melalui proses pembiasaan, refleksi, dan pengalaman sosial yang membutuhkan waktu serta ruang kontemplasi yang jauh lebih lambat. Ketika kecepatan perkembangan teknologi jauh melampaui kecepatan pembentukan karakter, terjadilah apa yang oleh William Ogburn disebut sebagai cultural lag, yaitu kesenjangan antara perkembangan unsur material seperti teknologi dengan perkembangan unsur non-material seperti nilai dan norma. Akibatnya, masyarakat menjadi "gagap nilai", memiliki alat yang canggih namun belum memiliki kompas moral yang memadai untuk menggunakannya secara bijaksana.
Melihat kondisi ini, sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya berpandangan bahwa IPS memiliki posisi yang sangat strategis karena secara hakikat memang mengintegrasikan nilai sosial, sejarah, ekonomi, dan kewarganegaraan sekaligus. Pembelajaran IPS ke depan perlu diarahkan tidak sekadar pada hafalan konsep, melainkan pada analisis isu-isu kontekstual yang nyata dialami siswa, misalnya dampak media sosial terhadap perilaku sosial mereka sendiri, sehingga nilai tidak diajarkan secara doktriner tetapi ditemukan melalui proses refleksi kritis. Literasi digital pun perlu diajarkan secara terintegrasi dengan nilai, bukan hanya soal cara menggunakan teknologi, tetapi juga cara memilah informasi dan bersikap secara etis di ruang digital. Di sisi lain, penguatan praktik sosial secara langsung melalui proyek berbasis komunitas seperti gotong royong, observasi lingkungan sosial, atau wawancara dengan tokoh masyarakat menjadi penting untuk mengimbangi dominasi interaksi digital dengan pengalaman sosial yang nyata. Tidak kalah penting, guru perlu memposisikan diri sebagai model nilai, bukan sekadar penyampai materi, karena keteladanan tetap menjadi metode paling efektif dalam pembentukan karakter.
Pada akhirnya, teknologi tidak perlu dilawan, melainkan perlu dikawal dengan pendidikan nilai yang lebih adaptif terhadap perkembangan zaman. Tugas pendidikan IPS ke depan bukan lagi sekadar menyampaikan pengetahuan sosial, melainkan membentuk kesadaran kritis agar generasi muda mampu menjadi subjek yang mengendalikan teknologi, bukan objek yang justru dikendalikan olehnya.
Demikian ibu pendapat dari saya, mohon maaf apabila ada kekeliruan.
Terima Kasih Ibu
Wassalamu'alaikum wr wb
Selamat siang Bu, izin menjawab Bu,
Nama: Santa Feni Brigita
Npm :2623031005
Menurut saya, menurunnya nilai-nilai sosial pada generasi muda saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Media sosial dan internet membuat generasi muda mudah mendapatkan berbagai informasi dan budaya dari seluruh dunia. Jika tidak digunakan dengan bijak, hal tersebut dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku, seperti munculnya sikap individualis, kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, konsumtif, dan berkurangnya interaksi sosial secara langsung.
Namun, menurut saya teknologi bukanlah penyebab utama menurunnya moralitas. Teknologi sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat, tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Masalahnya adalah perkembangan teknologi berjalan sangat cepat, sedangkan pembentukan karakter dan moral membutuhkan proses yang lebih lama.
Sebagai calon pengembang Pendidikan IPS, solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital. Peserta didik perlu diajarkan tentang toleransi, gotong royong, tanggung jawab, empati, serta etika dalam menggunakan media sosial. Pembelajaran IPS juga dapat dikaitkan dengan masalah sosial yang terjadi di kehidupan nyata agar siswa mampu berpikir kritis dan memahami dampak dari perilakunya terhadap masyarakat.
Jadi, menurut saya kemajuan teknologi dan moralitas seharusnya tidak berjalan berlawanan. Teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat. Tujuannya agar generasi muda tidak hanya menjadi generasi yang cerdas dan melek teknologi, tetapi juga memiliki moral, kepedulian sosial, dan mampu menggunakan teknologi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Nama: Santa Feni Brigita
Npm :2623031005
Menurut saya, menurunnya nilai-nilai sosial pada generasi muda saat ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah perkembangan teknologi yang sangat pesat. Media sosial dan internet membuat generasi muda mudah mendapatkan berbagai informasi dan budaya dari seluruh dunia. Jika tidak digunakan dengan bijak, hal tersebut dapat memengaruhi pola pikir dan perilaku, seperti munculnya sikap individualis, kurang peduli terhadap lingkungan sekitar, konsumtif, dan berkurangnya interaksi sosial secara langsung.
Namun, menurut saya teknologi bukanlah penyebab utama menurunnya moralitas. Teknologi sebenarnya dapat memberikan banyak manfaat, tergantung bagaimana manusia menggunakannya. Masalahnya adalah perkembangan teknologi berjalan sangat cepat, sedangkan pembentukan karakter dan moral membutuhkan proses yang lebih lama.
Sebagai calon pengembang Pendidikan IPS, solusi yang dapat dilakukan adalah memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital. Peserta didik perlu diajarkan tentang toleransi, gotong royong, tanggung jawab, empati, serta etika dalam menggunakan media sosial. Pembelajaran IPS juga dapat dikaitkan dengan masalah sosial yang terjadi di kehidupan nyata agar siswa mampu berpikir kritis dan memahami dampak dari perilakunya terhadap masyarakat.
Jadi, menurut saya kemajuan teknologi dan moralitas seharusnya tidak berjalan berlawanan. Teknologi harus diimbangi dengan pendidikan karakter yang kuat. Tujuannya agar generasi muda tidak hanya menjadi generasi yang cerdas dan melek teknologi, tetapi juga memiliki moral, kepedulian sosial, dan mampu menggunakan teknologi untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.
Assalamuallaikum wr.wb
izin menanggapi bu
Nama: Nur Rachma Lini
NPM : 2623031012
Perkembangan teknologi memang banyak membantu kehidupan manusia, terutama generasi muda dalam memperoleh informasi, berkomunikasi, dan belajar. Namun, kemajuan tersebut juga membawa tantangan, salah satunya menurunnya nilai-nilai sosial. Media sosial membuat generasi muda mudah terpengaruh oleh budaya, gaya hidup, dan perilaku yang belum tentu sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.
Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada bagaimana manusia menggunakannya. Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat membuat interaksi langsung berkurang, sehingga empati, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sosial juga bisa melemah. Karena itu, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran moral dan kemampuan menyaring informasi.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kita memiliki peran dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial. Pembelajaran IPS perlu menanamkan nilai toleransi, tanggung jawab, kerja sama, dan etika dalam menggunakan teknologi. Pendidikan karakter juga harus didukung oleh keluarga dan lingkungan masyarakat.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaannya. Teknologi harus menjadi alat untuk mempermudah kehidupan, bukan alasan untuk mengurangi kepedulian terhadap sesama. Tantangan kita bukan menghindari teknologi, tetapi belajar menggunakannya dengan bijak tanpa meninggalkan nilai-nilai sosial.
izin menanggapi bu
Nama: Nur Rachma Lini
NPM : 2623031012
Perkembangan teknologi memang banyak membantu kehidupan manusia, terutama generasi muda dalam memperoleh informasi, berkomunikasi, dan belajar. Namun, kemajuan tersebut juga membawa tantangan, salah satunya menurunnya nilai-nilai sosial. Media sosial membuat generasi muda mudah terpengaruh oleh budaya, gaya hidup, dan perilaku yang belum tentu sesuai dengan nilai dan norma masyarakat.
Menurut saya, masalahnya bukan terletak pada teknologinya, tetapi pada bagaimana manusia menggunakannya. Penggunaan teknologi yang berlebihan dapat membuat interaksi langsung berkurang, sehingga empati, kepedulian, dan rasa tanggung jawab sosial juga bisa melemah. Karena itu, kemajuan teknologi perlu diimbangi dengan kesadaran moral dan kemampuan menyaring informasi.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kita memiliki peran dalam membentuk generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan kepedulian sosial. Pembelajaran IPS perlu menanamkan nilai toleransi, tanggung jawab, kerja sama, dan etika dalam menggunakan teknologi. Pendidikan karakter juga harus didukung oleh keluarga dan lingkungan masyarakat.
Pada akhirnya, kemajuan teknologi seharusnya tidak membuat manusia kehilangan nilai kemanusiaannya. Teknologi harus menjadi alat untuk mempermudah kehidupan, bukan alasan untuk mengurangi kepedulian terhadap sesama. Tantangan kita bukan menghindari teknologi, tetapi belajar menggunakannya dengan bijak tanpa meninggalkan nilai-nilai sosial.
Assalamualaikum Ibu, saya Vilia Ariana dengan Npm 2623031010 izin berdiskusi
Menurut saya, generasi muda sekarang cukup mudah mengalami penurunan nilai sosial karena perkembangan teknologi ikut mengubah cara mereka berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial memang membuat kita lebih mudah terhubung dengan banyak orang, tetapi terkadang justru membuat interaksi langsung dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar berkurang. Selain itu, berbagai tren, gaya hidup, dan informasi dari internet dapat dengan mudah memengaruhi pola pikir dan perilaku jika tidak disikapi secara kritis. Jadi, sebenarnya bukan teknologinya yang salah, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Berdasarkan sudut pandang saya, salah satu solusinya adalah memberikan pendampingan agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak, bukan justru menjauhkannya dari teknologi. Dalam pembelajaran IPS, misalnya, guru dapat mengajak siswa membahas persoalan sosial yang mereka temui di media sosial, melakukan kegiatan peduli lingkungan, proyek sosial, atau diskusi tentang toleransi dan keberagaman. Dengan cara seperti ini, siswa tidak hanya mengetahui nilai gotong royong, empati, dan kepedulian dari buku, tetapi juga belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemajuan teknologi sebenarnya tidak selalu berbanding terbalik dengan moralitas. Teknologi dapat memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung pada penggunanya. Jika digunakan tanpa kontrol, teknologi bisa membuat seseorang lebih individualis dan kurang peka terhadap orang lain. Sebaliknya, jika digunakan dengan tepat, teknologi justru dapat menjadi sarana untuk belajar, berkolaborasi, dan menyebarkan hal-hal yang bermanfaat. Karena itu, menurut saya, kemajuan teknologi perlu berjalan bersama dengan penguatan karakter dan nilai sosial agar generasi muda tetap mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.
Menurut saya, generasi muda sekarang cukup mudah mengalami penurunan nilai sosial karena perkembangan teknologi ikut mengubah cara mereka berkomunikasi dan berinteraksi. Media sosial memang membuat kita lebih mudah terhubung dengan banyak orang, tetapi terkadang justru membuat interaksi langsung dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar berkurang. Selain itu, berbagai tren, gaya hidup, dan informasi dari internet dapat dengan mudah memengaruhi pola pikir dan perilaku jika tidak disikapi secara kritis. Jadi, sebenarnya bukan teknologinya yang salah, tetapi bagaimana teknologi tersebut digunakan.
Berdasarkan sudut pandang saya, salah satu solusinya adalah memberikan pendampingan agar generasi muda mampu menggunakan teknologi secara bijak, bukan justru menjauhkannya dari teknologi. Dalam pembelajaran IPS, misalnya, guru dapat mengajak siswa membahas persoalan sosial yang mereka temui di media sosial, melakukan kegiatan peduli lingkungan, proyek sosial, atau diskusi tentang toleransi dan keberagaman. Dengan cara seperti ini, siswa tidak hanya mengetahui nilai gotong royong, empati, dan kepedulian dari buku, tetapi juga belajar menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Kemajuan teknologi sebenarnya tidak selalu berbanding terbalik dengan moralitas. Teknologi dapat memberikan dampak positif maupun negatif, tergantung pada penggunanya. Jika digunakan tanpa kontrol, teknologi bisa membuat seseorang lebih individualis dan kurang peka terhadap orang lain. Sebaliknya, jika digunakan dengan tepat, teknologi justru dapat menjadi sarana untuk belajar, berkolaborasi, dan menyebarkan hal-hal yang bermanfaat. Karena itu, menurut saya, kemajuan teknologi perlu berjalan bersama dengan penguatan karakter dan nilai sosial agar generasi muda tetap mampu mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan rasa empati dan kepedulian terhadap sesama.
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nama : Redha Aulia
Npm : 2623031004
Izin memberikan pandangan mengenai fenomena paradoks digital, di mana kemajuan teknologi yang pesat justru berbanding terbalik dengan moralitas dan nilai sosial generasi muda saat ini. Yang pertama dimana adanya Faktor Penyebab Kemerosotan Nilai Sosial di Era Digital yang Dari perspektif sosiologi, fenomena ini terjadi karena adanya ketertinggalan budaya (cultural lag). Teknologi berkembang secara eksponensial (sangat cepat), sementara adaptasi budaya, kesadaran etika, dan hukum manusia bergerak secara linear (lambat). Faktor utamanya meliputi: Algoritma Media Sosial yang Memecah Belah, Anonimitas Ruang Siber, dan Pergeseran Agen Sosialisasi. Lalu yang kedua adanya Pandangan Selaku Calon Pengembang Pendidikan IPS. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa teknologi pada dasarnya netral. Teknologi merusak moral ketika penggunanya tidak dibekali dengan kecerdasan sosial dan nilai kewarganegaraan digital yang kuat. Pendidikan IPS tidak boleh lagi diajarkan sekadar sebagai hafalan teori sosial normatif. IPS harus bertransformasi menjadi navigasi moral. Tugas kita adalah menjembatani antara kecanggihan teknologi (high-tech) dengan kedalaman nilai kemanusiaan (high-touch). Sedangkan yang terakhir adanya Solusi Kurikulum dan Pembelajaran IPS Mendorong "Digital Citizenship" Untuk mengatasi krisis moralitas ini, kita harus mereformasi sistem pembelajaran IPS melalui tiga pilar utama:
• Integrasi Etika Digital dalam Kurikulum: Memasukkan literasi digital yang tidak hanya fokus pada kecakapan teknis, melainkan pada aspek Digital Citizenship (empati digital, penyaringan hoaks, dan keamanan data). Nilai kearifan lokal (seperti gotong royong dan tenggang rasa) harus diangkat kembali sebagai jangkar moral di ruang siber.
• Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek Nyata (Project-Based Learning): Guru harus menantang siswa menggunakan teknologi secara positif. Misalnya, menugaskan siswa membuat proyek IPS berupa kampanye digital tentang toleransi, video dokumenter kepedulian sosial, atau pemecahan masalah sosial nyata di lingkungan sekitar mereka.
• Reformasi Penilaian (Evaluasi Otentik): Mengubah kiblat penilaian yang awalnya bertumpu pada ujian tertulis (kognitif) menjadi penilaian berbasis portofolio karakter, observasi sikap, serta rekam jejak digital siswa saat berkolaborasi.
Dapat disimpulkan bahwa Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kematangan moral. Melalui rancangan pembelajaran IPS yang adaptif dan kritis, kita dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara digital (digital smart) tetapi juga bijaksana dalam bertindak (digital wise).
Nama : Redha Aulia
Npm : 2623031004
Izin memberikan pandangan mengenai fenomena paradoks digital, di mana kemajuan teknologi yang pesat justru berbanding terbalik dengan moralitas dan nilai sosial generasi muda saat ini. Yang pertama dimana adanya Faktor Penyebab Kemerosotan Nilai Sosial di Era Digital yang Dari perspektif sosiologi, fenomena ini terjadi karena adanya ketertinggalan budaya (cultural lag). Teknologi berkembang secara eksponensial (sangat cepat), sementara adaptasi budaya, kesadaran etika, dan hukum manusia bergerak secara linear (lambat). Faktor utamanya meliputi: Algoritma Media Sosial yang Memecah Belah, Anonimitas Ruang Siber, dan Pergeseran Agen Sosialisasi. Lalu yang kedua adanya Pandangan Selaku Calon Pengembang Pendidikan IPS. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa teknologi pada dasarnya netral. Teknologi merusak moral ketika penggunanya tidak dibekali dengan kecerdasan sosial dan nilai kewarganegaraan digital yang kuat. Pendidikan IPS tidak boleh lagi diajarkan sekadar sebagai hafalan teori sosial normatif. IPS harus bertransformasi menjadi navigasi moral. Tugas kita adalah menjembatani antara kecanggihan teknologi (high-tech) dengan kedalaman nilai kemanusiaan (high-touch). Sedangkan yang terakhir adanya Solusi Kurikulum dan Pembelajaran IPS Mendorong "Digital Citizenship" Untuk mengatasi krisis moralitas ini, kita harus mereformasi sistem pembelajaran IPS melalui tiga pilar utama:
• Integrasi Etika Digital dalam Kurikulum: Memasukkan literasi digital yang tidak hanya fokus pada kecakapan teknis, melainkan pada aspek Digital Citizenship (empati digital, penyaringan hoaks, dan keamanan data). Nilai kearifan lokal (seperti gotong royong dan tenggang rasa) harus diangkat kembali sebagai jangkar moral di ruang siber.
• Strategi Pembelajaran Berbasis Proyek Nyata (Project-Based Learning): Guru harus menantang siswa menggunakan teknologi secara positif. Misalnya, menugaskan siswa membuat proyek IPS berupa kampanye digital tentang toleransi, video dokumenter kepedulian sosial, atau pemecahan masalah sosial nyata di lingkungan sekitar mereka.
• Reformasi Penilaian (Evaluasi Otentik): Mengubah kiblat penilaian yang awalnya bertumpu pada ujian tertulis (kognitif) menjadi penilaian berbasis portofolio karakter, observasi sikap, serta rekam jejak digital siswa saat berkolaborasi.
Dapat disimpulkan bahwa Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kematangan moral. Melalui rancangan pembelajaran IPS yang adaptif dan kritis, kita dapat mencetak generasi muda yang tidak hanya cerdas secara digital (digital smart) tetapi juga bijaksana dalam bertindak (digital wise).
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu.
Nama: Rejeki Charistias Siregar
NPM: 2623031019
Mohon izin memberikan pendapat dan pandangan, ibu.
Sebagai mahasiswa Magister Pendidikan IPS, saya menganalisis bahwa degradasi nilai-nilai sosial generasi muda saat ini berakar pada fenomena ketertinggalan adaptasi kultural (cultural lag) dalam menghadapi disrupsi teknologi. Kemajuan teknologi yang eksponensial justru berbanding terbalik dengan moralitas warga dunia karena algoritma dan arsitektur ruang digital saat ini mengutamakan kecepatan informasi, anonimitas, dan kepuasan instan, yang pada akhirnya mendistorsi proses internalisasi empati serta refleksi moral yang lazimnya tumbuh melalui interaksi sosial dunia nyata yang bermakna. Menanggapi paradoks ini, solusi fundamental dari kacamata pengembang pendidikan IPS adalah merekonstruksi paradigma pembelajaran dari yang semula sekadar transfer pengetahuan kognitif menjadi transformative pedagogy yang berpusat pada penguatan digital citizenship (kewarganegaraan digital). Pendidikan IPS harus direvitalisasi menjadi ruang dialektika yang melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam memvalidasi arus informasi, menimbang konsekuensi etis dari setiap aktivitas maya mereka, dan merawat kearifan lokal di tengah arus globalisasi, sehingga generasi muda memiliki kompas moral yang kuat untuk menundukkan teknologi sebagai alat kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Nama: Rejeki Charistias Siregar
NPM: 2623031019
Mohon izin memberikan pendapat dan pandangan, ibu.
Sebagai mahasiswa Magister Pendidikan IPS, saya menganalisis bahwa degradasi nilai-nilai sosial generasi muda saat ini berakar pada fenomena ketertinggalan adaptasi kultural (cultural lag) dalam menghadapi disrupsi teknologi. Kemajuan teknologi yang eksponensial justru berbanding terbalik dengan moralitas warga dunia karena algoritma dan arsitektur ruang digital saat ini mengutamakan kecepatan informasi, anonimitas, dan kepuasan instan, yang pada akhirnya mendistorsi proses internalisasi empati serta refleksi moral yang lazimnya tumbuh melalui interaksi sosial dunia nyata yang bermakna. Menanggapi paradoks ini, solusi fundamental dari kacamata pengembang pendidikan IPS adalah merekonstruksi paradigma pembelajaran dari yang semula sekadar transfer pengetahuan kognitif menjadi transformative pedagogy yang berpusat pada penguatan digital citizenship (kewarganegaraan digital). Pendidikan IPS harus direvitalisasi menjadi ruang dialektika yang melatih peserta didik untuk berpikir kritis dalam memvalidasi arus informasi, menimbang konsekuensi etis dari setiap aktivitas maya mereka, dan merawat kearifan lokal di tengah arus globalisasi, sehingga generasi muda memiliki kompas moral yang kuat untuk menundukkan teknologi sebagai alat kemanusiaan, bukan sebaliknya.
Assalamualaikum wr wb
Nama: rofi alwan yazid
NPM: 2623031020
Menurut saya, generasi muda mudah mengalami degradasi nilai sosial karena pengaruh media sosial, lingkungan, perubahan budaya, dan kurangnya keteladanan. Teknologi yang semakin maju tidak selalu diikuti dengan moralitas karena teknologi hanyalah alat yang penggunaannya bergantung pada nilai dan kontrol diri.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, solusinya adalah mengintegrasikan pendidikan karakter, literasi digital, dan keterampilan sosial dalam pembelajaran. Siswa perlu dilatih berpikir kritis, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat berjalan seimbang dengan pembentukan moral dan kepedulian sosial.
Nama: rofi alwan yazid
NPM: 2623031020
Menurut saya, generasi muda mudah mengalami degradasi nilai sosial karena pengaruh media sosial, lingkungan, perubahan budaya, dan kurangnya keteladanan. Teknologi yang semakin maju tidak selalu diikuti dengan moralitas karena teknologi hanyalah alat yang penggunaannya bergantung pada nilai dan kontrol diri.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, solusinya adalah mengintegrasikan pendidikan karakter, literasi digital, dan keterampilan sosial dalam pembelajaran. Siswa perlu dilatih berpikir kritis, bekerja sama, menghargai perbedaan, dan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Dengan demikian, kemajuan teknologi dapat berjalan seimbang dengan pembentukan moral dan kepedulian sosial.
Menurut saya, generasi muda saat ini mudah mengalami penurunan nilai-nilai sosial bukan karena teknologi semata, tetapi karena cara menggunakan teknologi, lingkungan sosial, dan kurangnya pendampingan dalam membangun karakter. Kemajuan teknologi memberikan banyak manfaat, tetapi juga membuat informasi, budaya, dan berbagai perilaku dapat diterima dengan sangat cepat tanpa selalu disaring terlebih dahulu.
Beberapa faktor yang memengaruhinya adalah penggunaan media sosial yang berlebihan, kurangnya interaksi langsung, pengaruh lingkungan pergaulan, kurangnya keteladanan, serta pembelajaran yang terkadang masih menekankan pengetahuan daripada pembentukan sikap. Media sosial juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengikuti tren atau perilaku yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai sosial.
Menurut saya, kemajuan teknologi sebenarnya tidak berbanding terbalik dengan moralitas. Teknologi hanyalah alat; dampaknya sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya. Teknologi yang maju dapat digunakan untuk pendidikan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebencian, hoaks, perundungan, dan konflik. Oleh karena itu, yang perlu diperkuat adalah kemampuan manusia dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kita memiliki peran penting dalam menghadapi persoalan tersebut. Pendidikan IPS seharusnya tidak hanya mengajarkan teori tentang masyarakat, tetapi juga membentuk siswa agar mampu berpikir kritis, memiliki empati, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, dan mampu hidup bersama dalam masyarakat yang beragam.
Solusinya dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Mengintegrasikan pendidikan karakter dan literasi digital dalam pembelajaran IPS.
Mengajarkan siswa untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Menggunakan teknologi sebagai media untuk pembelajaran, bukan hanya hiburan.
Menggunakan masalah sosial nyata sebagai bahan diskusi dan proyek.
Meningkatkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Guru harus memberikan keteladanan dalam sikap dan penggunaan teknologi.
Memberikan ruang kepada siswa untuk berdiskusi, bekerja sama, melakukan refleksi, dan menyelesaikan masalah sosial.
Dengan demikian, menurut saya tujuan pendidikan IPS di era teknologi bukan menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan kecerdasan, tanggung jawab, dan moralitas. Teknologi yang canggih seharusnya berjalan bersama dengan karakter manusia yang semakin baik. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa tinggi pengetahuan siswa, tetapi juga dari bagaimana mereka menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.
Beberapa faktor yang memengaruhinya adalah penggunaan media sosial yang berlebihan, kurangnya interaksi langsung, pengaruh lingkungan pergaulan, kurangnya keteladanan, serta pembelajaran yang terkadang masih menekankan pengetahuan daripada pembentukan sikap. Media sosial juga dapat membuat seseorang lebih mudah mengikuti tren atau perilaku yang sebenarnya tidak sesuai dengan nilai sosial.
Menurut saya, kemajuan teknologi sebenarnya tidak berbanding terbalik dengan moralitas. Teknologi hanyalah alat; dampaknya sangat bergantung pada manusia yang menggunakannya. Teknologi yang maju dapat digunakan untuk pendidikan, tetapi juga dapat digunakan untuk menyebarkan kebencian, hoaks, perundungan, dan konflik. Oleh karena itu, yang perlu diperkuat adalah kemampuan manusia dalam menggunakan teknologi secara bijak.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kita memiliki peran penting dalam menghadapi persoalan tersebut. Pendidikan IPS seharusnya tidak hanya mengajarkan teori tentang masyarakat, tetapi juga membentuk siswa agar mampu berpikir kritis, memiliki empati, menghargai perbedaan, bertanggung jawab, dan mampu hidup bersama dalam masyarakat yang beragam.
Solusinya dapat dilakukan dengan beberapa cara:
Mengintegrasikan pendidikan karakter dan literasi digital dalam pembelajaran IPS.
Mengajarkan siswa untuk memeriksa informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya.
Menggunakan teknologi sebagai media untuk pembelajaran, bukan hanya hiburan.
Menggunakan masalah sosial nyata sebagai bahan diskusi dan proyek.
Meningkatkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Guru harus memberikan keteladanan dalam sikap dan penggunaan teknologi.
Memberikan ruang kepada siswa untuk berdiskusi, bekerja sama, melakukan refleksi, dan menyelesaikan masalah sosial.
Dengan demikian, menurut saya tujuan pendidikan IPS di era teknologi bukan menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi membekali mereka agar mampu menggunakan teknologi dengan kecerdasan, tanggung jawab, dan moralitas. Teknologi yang canggih seharusnya berjalan bersama dengan karakter manusia yang semakin baik. Karena itu, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa tinggi pengetahuan siswa, tetapi juga dari bagaimana mereka menggunakan pengetahuan dan teknologi untuk memberikan manfaat bagi diri sendiri, masyarakat, dan lingkungan.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi ibu, izin menyampaikan pendapat.
Nama : Cica Gafu Arta
NPM : 2623031009
Menurut saya, generasi muda saat ini mudah mengalami degradasi nilai sosial karena perkembangan teknologi yang sangat cepat tidak selalu diimbangi dengan kemampuan literasi digital dan penguatan karakter. Media sosial misalnya, dapat membuat seseorang lebih individualis, mudah terpengaruh tren, serta terbiasa dengan komunikasi yang instan. Sebagai calon pengembang Pendidikan IPS, solusinya bukan menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Pembelajaran IPS perlu menanamkan nilai empati, toleransi, tanggung jawab, berpikir kritis, dan kepedulian sosial melalui fenomena nyata di lingkungan maupun media digital. Menurut saya, teknologi sebenarnya tidak berbanding terbalik dengan moralitas. Teknologi hanyalah alat; yang menentukan dampaknya adalah manusia yang menggunakannya. Karena itu, semakin maju teknologi, semakin penting pula pendidikan karakter agar kemajuan tersebut tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sekian terimakasih ibu, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Nama : Cica Gafu Arta
NPM : 2623031009
Menurut saya, generasi muda saat ini mudah mengalami degradasi nilai sosial karena perkembangan teknologi yang sangat cepat tidak selalu diimbangi dengan kemampuan literasi digital dan penguatan karakter. Media sosial misalnya, dapat membuat seseorang lebih individualis, mudah terpengaruh tren, serta terbiasa dengan komunikasi yang instan. Sebagai calon pengembang Pendidikan IPS, solusinya bukan menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi mengajarkan bagaimana menggunakan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab. Pembelajaran IPS perlu menanamkan nilai empati, toleransi, tanggung jawab, berpikir kritis, dan kepedulian sosial melalui fenomena nyata di lingkungan maupun media digital. Menurut saya, teknologi sebenarnya tidak berbanding terbalik dengan moralitas. Teknologi hanyalah alat; yang menentukan dampaknya adalah manusia yang menggunakannya. Karena itu, semakin maju teknologi, semakin penting pula pendidikan karakter agar kemajuan tersebut tetap berjalan seiring dengan nilai-nilai kemanusiaan. Sekian terimakasih ibu, wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Assalamualaikum wr wb.
Nama : TOPIK SANJAYA
NPM : 26231006
Menurut saya, generasi muda saat ini relatif lebih mudah mengalami degradasi nilai-nilai sosial karena mereka hidup dalam lingkungan yang sangat cepat berubah. Media sosial, misalnya, membuat seseorang mudah mendapatkan informasi, tetapi juga dapat membuat nilai-nilai seperti empati, kesopanan, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial semakin terpinggirkan.
Beberapa faktor yang menurut saya berpengaruh adalah:
Pengaruh media sosial dan budaya digital
Generasi muda setiap hari terpapar berbagai macam gaya hidup, tren, bahasa, dan perilaku. Tidak semuanya sesuai dengan nilai sosial dan budaya masyarakat.
Budaya instan dan mencari pengakuan
Media sosial terkadang mendorong seseorang mengejar like, komentar, popularitas, dan pengakuan. Akibatnya, ukuran keberhasilan dapat bergeser dari kualitas diri menjadi seberapa banyak seseorang mendapatkan perhatian.
Berkurangnya interaksi sosial secara langsung
Teknologi memang membuat komunikasi semakin mudah, tetapi interaksi melalui layar tidak selalu mampu menggantikan pengalaman sosial secara langsung. Padahal, empati dan solidaritas banyak terbentuk melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain.
Lemahnya literasi digital dan literasi sosial
Generasi muda perlu bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memilah informasi, memahami dampak perilakunya, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan di ruang digital.
Ketidakseimbangan antara pendidikan intelektual dan pendidikan karakter
Pendidikan terkadang terlalu berorientasi pada nilai akademik, sementara pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan menyelesaikan persoalan kehidupan nyata belum mendapatkan perhatian yang sama.
Mengapa teknologi semakin maju tetapi moralitas seolah berbanding terbalik?
Menurut saya, sebenarnya teknologi dan moralitas berada pada dua ranah yang berbeda. Teknologi berkembang melalui ilmu pengetahuan dan inovasi, sedangkan moralitas berkembang melalui proses pendidikan, pengalaman sosial, keteladanan, budaya, dan kesadaran pribadi.
Teknologi dapat membuat manusia lebih cepat memperoleh informasi, tetapi belum tentu membuat manusia lebih bijaksana dalam menggunakan informasi.
Contohnya, seseorang dapat memiliki akses terhadap ribuan buku dan informasi tentang toleransi melalui internet, tetapi tetap dapat melakukan perundungan terhadap orang lain di media sosial. Artinya, pengetahuan tentang nilai moral belum tentu menghasilkan perilaku moral.
Karena itu, menurut saya masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada ketidakseimbangan antara perkembangan teknologi dengan perkembangan karakter manusia.
Solusi dari perspektif calon pengembang Pendidikan IPS
Sebagai calon pengembang Pendidikan IPS, menurut pendapat saya, kita tidak seharusnya memandang teknologi sebagai musuh pendidikan. Justru teknologi harus diintegrasikan dengan Pendidikan IPS untuk membangun manusia yang kritis sekaligus berkarakter.
Beberapa solusi yang dapat dilakukan:
Pendidikan IPS harus lebih kontekstual, bukan hanya menghafalkan sejarah, ekonomi, geografi, atau konsep sosial, tetapi menghubungkannya dengan persoalan nyata seperti perundungan, intoleransi, hoaks, kesenjangan sosial, dan konflik di media sosial.
Mengembangkan literasi digital dan literasi sosial secara bersamaan. Siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.
Memperbanyak pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dan proyek sosial. Siswa dapat diajak menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan mereka sehingga nilai gotong royong, tanggung jawab, empati, dan kepedulian sosial tidak hanya diajarkan secara teori.
Guru harus menjadi teladan. Pendidikan karakter akan sulit berhasil jika hanya disampaikan melalui ceramah tetapi tidak dicontohkan oleh guru dan lingkungan sekolah.
Membangun budaya dialog dan toleransi. Siswa perlu dibiasakan berdiskusi dengan orang yang memiliki pendapat berbeda tanpa melakukan penghinaan atau perundungan.
Mengajarkan etika digital. Siswa harus memahami bahwa perilaku di dunia maya tetap memiliki konsekuensi sosial dan moral.
Kesimpulan
Menurut saya, tantangan pendidikan di era digital bukan bagaimana menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi bagaimana membentuk generasi yang mampu mengendalikan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya.
Pendidikan IPS memiliki posisi yang sangat strategis karena IPS pada dasarnya tidak hanya membentuk siswa yang mengetahui kehidupan sosial, tetapi juga membentuk manusia yang mampu memahami masyarakat, berpikir kritis, menghargai perbedaan, memiliki kepedulian sosial, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.
Jadi, kemajuan teknologi seharusnya berjalan bersama dengan kemajuan moral. Teknologi memberikan manusia kekuatan untuk melakukan sesuatu, sedangkan pendidikan memberikan arah tentang apa yang seharusnya dilakukan. Jika keduanya dapat berjalan seimbang, kemajuan teknologi justru dapat menjadi sarana untuk membangun generasi muda yang lebih kritis, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial.
Nama : TOPIK SANJAYA
NPM : 26231006
Menurut saya, generasi muda saat ini relatif lebih mudah mengalami degradasi nilai-nilai sosial karena mereka hidup dalam lingkungan yang sangat cepat berubah. Media sosial, misalnya, membuat seseorang mudah mendapatkan informasi, tetapi juga dapat membuat nilai-nilai seperti empati, kesopanan, toleransi, tanggung jawab, dan kepedulian sosial semakin terpinggirkan.
Beberapa faktor yang menurut saya berpengaruh adalah:
Pengaruh media sosial dan budaya digital
Generasi muda setiap hari terpapar berbagai macam gaya hidup, tren, bahasa, dan perilaku. Tidak semuanya sesuai dengan nilai sosial dan budaya masyarakat.
Budaya instan dan mencari pengakuan
Media sosial terkadang mendorong seseorang mengejar like, komentar, popularitas, dan pengakuan. Akibatnya, ukuran keberhasilan dapat bergeser dari kualitas diri menjadi seberapa banyak seseorang mendapatkan perhatian.
Berkurangnya interaksi sosial secara langsung
Teknologi memang membuat komunikasi semakin mudah, tetapi interaksi melalui layar tidak selalu mampu menggantikan pengalaman sosial secara langsung. Padahal, empati dan solidaritas banyak terbentuk melalui pengalaman berinteraksi dengan orang lain.
Lemahnya literasi digital dan literasi sosial
Generasi muda perlu bukan hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu memilah informasi, memahami dampak perilakunya, menghargai perbedaan, dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan di ruang digital.
Ketidakseimbangan antara pendidikan intelektual dan pendidikan karakter
Pendidikan terkadang terlalu berorientasi pada nilai akademik, sementara pembentukan karakter, kepedulian sosial, dan kemampuan menyelesaikan persoalan kehidupan nyata belum mendapatkan perhatian yang sama.
Mengapa teknologi semakin maju tetapi moralitas seolah berbanding terbalik?
Menurut saya, sebenarnya teknologi dan moralitas berada pada dua ranah yang berbeda. Teknologi berkembang melalui ilmu pengetahuan dan inovasi, sedangkan moralitas berkembang melalui proses pendidikan, pengalaman sosial, keteladanan, budaya, dan kesadaran pribadi.
Teknologi dapat membuat manusia lebih cepat memperoleh informasi, tetapi belum tentu membuat manusia lebih bijaksana dalam menggunakan informasi.
Contohnya, seseorang dapat memiliki akses terhadap ribuan buku dan informasi tentang toleransi melalui internet, tetapi tetap dapat melakukan perundungan terhadap orang lain di media sosial. Artinya, pengetahuan tentang nilai moral belum tentu menghasilkan perilaku moral.
Karena itu, menurut saya masalahnya bukan pada teknologinya, tetapi pada ketidakseimbangan antara perkembangan teknologi dengan perkembangan karakter manusia.
Solusi dari perspektif calon pengembang Pendidikan IPS
Sebagai calon pengembang Pendidikan IPS, menurut pendapat saya, kita tidak seharusnya memandang teknologi sebagai musuh pendidikan. Justru teknologi harus diintegrasikan dengan Pendidikan IPS untuk membangun manusia yang kritis sekaligus berkarakter.
Beberapa solusi yang dapat dilakukan:
Pendidikan IPS harus lebih kontekstual, bukan hanya menghafalkan sejarah, ekonomi, geografi, atau konsep sosial, tetapi menghubungkannya dengan persoalan nyata seperti perundungan, intoleransi, hoaks, kesenjangan sosial, dan konflik di media sosial.
Mengembangkan literasi digital dan literasi sosial secara bersamaan. Siswa tidak hanya diajarkan cara menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana menggunakan teknologi secara etis dan bertanggung jawab.
Memperbanyak pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) dan proyek sosial. Siswa dapat diajak menyelesaikan persoalan nyata di lingkungan mereka sehingga nilai gotong royong, tanggung jawab, empati, dan kepedulian sosial tidak hanya diajarkan secara teori.
Guru harus menjadi teladan. Pendidikan karakter akan sulit berhasil jika hanya disampaikan melalui ceramah tetapi tidak dicontohkan oleh guru dan lingkungan sekolah.
Membangun budaya dialog dan toleransi. Siswa perlu dibiasakan berdiskusi dengan orang yang memiliki pendapat berbeda tanpa melakukan penghinaan atau perundungan.
Mengajarkan etika digital. Siswa harus memahami bahwa perilaku di dunia maya tetap memiliki konsekuensi sosial dan moral.
Kesimpulan
Menurut saya, tantangan pendidikan di era digital bukan bagaimana menjauhkan generasi muda dari teknologi, tetapi bagaimana membentuk generasi yang mampu mengendalikan teknologi tanpa kehilangan nilai kemanusiaannya.
Pendidikan IPS memiliki posisi yang sangat strategis karena IPS pada dasarnya tidak hanya membentuk siswa yang mengetahui kehidupan sosial, tetapi juga membentuk manusia yang mampu memahami masyarakat, berpikir kritis, menghargai perbedaan, memiliki kepedulian sosial, dan bertanggung jawab sebagai warga negara.
Jadi, kemajuan teknologi seharusnya berjalan bersama dengan kemajuan moral. Teknologi memberikan manusia kekuatan untuk melakukan sesuatu, sedangkan pendidikan memberikan arah tentang apa yang seharusnya dilakukan. Jika keduanya dapat berjalan seimbang, kemajuan teknologi justru dapat menjadi sarana untuk membangun generasi muda yang lebih kritis, berkarakter, dan memiliki kepedulian sosial.
izin menjawab bu saya anggun anggrani (2623031001). Saat ini, mungkin generasi muda tampak mudah kehilangan nilai sosial, bukan hanya karena perkembangan teknologi, akan tetapi karena teknologi-teknologi yang harusnya digunakan untuk hal-hal positif seperti mencari informasi pembelajaran atau hal baik lainnya malah disalahgunakan, lalu ruang pembentuk nilai seperti keluarga serta intansi/komunitas lain kian menyempit. Kemajuan dalam teknologi berlari jauh lebih cepat dibandingkan dengan kematangan etis, sehingga kecanggihan alat tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan dalam menggunakannya. teknologi pada dasarnya memperbesar apa yang sudah ada dalam diri dan masyarakan dalam hal kebaikan maupun keburukan, karena hal itu kita sebagai calon pengembang pendidikan IPS solusinya bukan menolak teknologi akan tetapi menjadikan literasi dan kewargaan digital sebagai bagian inti dalam pembelajaran, dan menerapkannya dengan basis pengalaman dan masalah nyata yang dengan memanfaatkan platform digital untuk memperluas empati lintas budaya, juga memperkuat keteladanan guru/ pendidik dan sinergi antara sekolah, masyarakat, keluarga agar kemudian generasi muda mampu menggunakan dan mengendalikan teknologi dengan baik, bukan malah terbalik jadi dikendalikan olehnya. Terimakasih.