Analisis Banjir

Analisis Banjir

Number of replies: 24

Mahasiswa sekalian, anda sering sekali mendengar berita tentang bencana banjir. Berkaitan dengan kejadian bencana banjir, ada banyak sekali data yang bisa anda akses dari berbagai instansi. Melalui forum ini, silahkan anda menjawab pertanyaan berikut secara singkat:

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 
2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by SHYVA KEISYA LAURA -

Nama: Shyva Keisya Laura

NPM: 2513034003

1. Sebagai seorang geografi, banjir tidak hanya dilihat sebagai bencana alam semata, tetapi sebagai fenomena yang muncul dari interaksi antara kondisi alam dan aktivitas manusia. Dari sisi alam, banjir terjadi ketika volume air melebihi kapasitas tampung sungai atau lahan, yang bisa disebabkan oleh curah hujan tinggi, topografi dataran rendah, atau jenis tanah yang tidak menyerap air dengan baik. Dari sisi manusia, alih fungsi lahan seperti hutan yang berubah menjadi permukiman, pembangunan di bantaran sungai, hingga sistem drainase yang buruk turut memperparah kejadian banjir. Jadi, geografi memandang banjir sebagai hasil dari dua sistem yang saling memengaruhi alam dan manusia sehingga keduanya perlu dikaji bersama.

2. Ada beberapa sumber data yang bisa diakses. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) menyediakan data kejadian banjir, jumlah korban, dan kerusakan yang bisa diakses melalui situs dibi.bnpb.go.id, Selain itu BPBD di masing-masing daerah juga menyediakan data bencana di tingkat provinsi atau kabupaten. BMKG menyediakan data curah hujan dan peringatan dini banjir, sementara Kementerian PUPR atau BBWS memiliki data debit sungai dan kondisi daerah aliran sungai. BPS juga menyediakan data statistik bencana per wilayah jika dibutuhkan untuk analisis lebih lanjut. Untuk peta risiko bencana secara interaktif, bisa menggunakan InaRISK dari BNPB di inarisk.bnpb.go.id.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Melly Retno Anggraini 2513034044 -
NAMA : MELLY RETNO ANGGRAINI

NPM : 2513034044


1. Jawaban menurut saya yaitu banjir bagi kita seorang yang mempelajari geografi dikelas itu bukan hanya soal air yang meluap ke permukaan tetapi kita akan melihat dari kacamata geografi tentang hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya atau interaksi keruangan. Nah kita akan melihat dari 3 aspek yaitu :

1.Melihat dari pendekatan sistem, kita akan melihat banjir itu sebagai hasil dari gabungan antara faktor alam (curah hujan tinggi, topografi, daya serap tanahnya) dan juga melihat dari faktor manusianya (alih fungsi lahan, pengelolaan sampah yang buruk, pembangunan yang tidak ramah lingkungan)

2. Melalui analisis keruangan atau spasial, jadi kita akan tidak hanya akan melihat dari lokasi saja tetapi juga dari sebab akibatnya dan kita perlu melihat persebaran banjir, apakah banjir ini berkaitan dengan aliran DAS(daerah aliran sungai) atau penurunan muka tanah atau malah zonasi wilayahnya yang tidak sesuai.

3. Mitigasi bencana geografi, jadi kita akan memandang banjir ini sebagai tantangan dari tata kelola ruang. jika kita paham kondisi karakteristik wilayahnya kita bisa memberikan solusinya berbasis data, misalnya perencanaan mitigasi yang baik, pemetaan resiko bencana, atau juga rekomendasi tata ruang yang lebih tangguh lagi terhadap bencana. Jadi kita terutama saya akan memandang banjir ini bukan sekedar musibah yang kebetulan terjadi tetapi sebagai masalah spasial yang punya penyebabnya, pola, dan solusi yang bisa dilakukan.



2. Untuk mendapatkan data banjir di Indonesia kita bisa menggunakan:



1. BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) - DIBI: Jadi Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) adalah kunci utama untuk data bencana. Bisa diakses melalui dibi.bnpb.go.id. Dan ini sangat lengkap untuk analisis data historis.

2. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika): Sangat krusial untuk data pendukung, seperti curah hujan harian, prediksi cuaca ekstrem, dan analisis iklim yang menjadi pemicu banjir. Bisa diakses di bmkg.go.id.

3. BIG (Badan Informasi Geospasial): Jika butuh data dasar (seperti peta topografi, penggunaan lahan, atau kemiringan lereng) untuk analisis spasial banjir, bisa menggunakan geoportal.go.id.

4. Pusdatin BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai): Untuk data yang lebih teknis terkait debit air sungai, kapasitas tampung waduk, dan infrastruktur pengendali banjir di wilayah sungai tertentu.

5. BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) tingkat Provinsi/Kabupaten/Kota: Untuk data yang lebih spesifik di tingkat lokal atau daerah tempat tinggal saat ini.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Fadhila Nur Al Akwa -
Nama: Fadhila Nur Al Akwa
NPM: 2513034001


1. Banjir tidak bisa dilihat hanya sebagai air yang meluap. Dalam geografi, banjir dipahami sebagai hasil dari hubungan antara kondisi alam dan aktivitas manusia. Artinya, banjir terjadi bukan hanya karena hujan, tetapi juga karena bagaimana manusia mengelola lingkungannya.

Dari pendekatan keruangan, banjir dikaji berdasarkan lokasi dan pola persebarannya. Daerah dataran rendah, dekat sungai, atau yang drainasenya buruk biasanya lebih sering mengalami banjir. Dari pendekatan kelingkungan, banjir terjadi karena interaksi manusia dengan alam, seperti penebangan hutan atau pembuangan sampah sembarangan yang menghambat aliran air. Sedangkan pendekatan kompleks wilayah melihat bahwa banjir di suatu tempat bisa dipengaruhi oleh daerah lain, misalnya kerusakan hutan di hulu yang menyebabkan banjir di hilir. Selain itu, geografi juga menggunakan beberapa prinsip. Prinsip distribusi menjelaskan bahwa banjir tidak terjadi di semua tempat. Prinsip interelasi menunjukkan hubungan sebab-akibat antara faktor-faktor penyebab banjir. Prinsip deskripsi menggambarkan banjir dengan data dan peta. Sementara prinsip korologi menggabungkan semuanya agar pemahaman lebih lengkap.

2. Untuk memahami banjir secara tepat, diperlukan data yang akurat. Di Indonesia, data banjir bisa diperoleh dari lembaga seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, dan Badan Pusat Statistik. Selain itu, ada juga data peta dari Badan Informasi Geospasial serta hasil pengamatan langsung di lapangan.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by NANDA A'BIDAH SABRINA -

Nama: Nanda A'bidah Sabrina

NPM: 2513034031

1. Bagaimana kita, sebagai seorang geografi, memandang kejadian banjir?
Menurut saya sebagai seorang geografi, banjir dipandang sebagai peristiwa yang terjadi karena gabungan faktor alam dan manusia. Kita tidak hanya melihat akibatnya, tapi juga mencari penyebabnya secara lebih dalam, seperti kondisi lingkungan, perubahan penggunaan lahan, dan pola hujan. Dengan begitu, kita bisa memahami kenapa banjir bisa terjadi di suatu daerah dan bagaimana cara menguranginya.

2. Dari mana saja kita bisa mendapatkan data banjir di Indonesia?

Kita bida mendapatkan data banjir seperti dari web selain itu, bisa juga dari berita, jurnal, atau laporan penelitian

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (data kejadian bencana)
  • Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (data cuaca dan curah hujan)
  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (data sungai dan infrastruktur)
  • Badan Pusat Statistik (data statistik wilayah)

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Imroatus Sholeha -
Nama: Imroatus Sholeha
NPM: 2513034018

1. Sebagai mahasiswa geografi, kita memandang banjir sebagai fenomena spasial yang kompleks, bukan sekadar luapan air semata. Kita menganalisisnya menggunakan pendekatan keruangan untuk melihat titik persebaran, pendekatan kelingkungan untuk memahami dampak alih fungsi lahan oleh manusia, serta pendekatan kompleks wilayah karena banjir biasanya merupakan masalah sistemik dari hulu ke hilir dalam satu Daerah Aliran Sungai (DAS).

2.Untuk mendapatkan data banjir yang akurat, kita bisa mengakses portal DIBI dari BNPB guna melihat riwayat dan dampak bencana secara statistik. Selain itu, data curah hujan bisa didapatkan dari BMKG, data spasial atau peta dasar dari Ina-Geoportal (BIG), serta data debit sungai melalui portal Kementerian PUPR. Untuk informasi kejadian yang lebih spesifik dan terkini di tingkat daerah, laporan dari BPBD setempat menjadi sumber yang sangat krusial.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Nesa Aryati 2513034043 -

Nama: Nesa Aryati

NPM: 2513034043

Banjir merupakan salah satu bencana alam yang paling sering terjadi di Indonesia. Banjir memiliki dampak signifikan terhadap kehidupan masyarakat, baik dari segi sosial, ekonomi, mupun lingkungan. Tingginya intensitas curah hujan, kondisi geografis wilayah, serta aktivitas manusia kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan menjadi faktor utama penyebab terjadinya banjir.

1. Bagaimana kita seorang geografi, memandang kejadian banjir?

Jawaban :

Dalam perspektif geografi, banjir itu dipandang sebagai fenomena yang dihasilkan dari interaksi antara komponen fisik dan aktivitas manusia (antropogenik). Secara fisik, banjir berkaitan dengan curah hujan tinggi, kondisi topografi rendah, jenis tanah, serta kapasitas sungai dalam menampung air. Sementara dari sisi aktivitas manusia, banjir dipengaruhi oleh perubahan penggunaan lahan seperti deforestasi, dan urbanisasi. Oleh karena itu, kita sebagai seorang geografer tidak hanya melihat banjir sebagai peristiwa alam semata, tetapi sebagai hasil dari hubungan timbal balik antara lingkungan alam dan aktivitas manusia dalam suatu ruang.

2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

Jawaban:

Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai instansi yang dapat dipercaya dan mudah diakses, antara lain:

a. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Instansi ini menyediakan data kejadian bencana secara nasional melalui situs resmi dan aplikasi InaRISK.

b. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Instansi ini menyediakan data curah hujan, perkiraan cuaca, dan peringatan dini.

c. Badan Informasi Geospasial (BIG), Instansi ini menyediakan peta dan data geospasial terkait wilayah rawan banjir.

d. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kementerian PUPR), Instansi ini menyediakan data terkait sungai, bendungan, dan sistem drainase.

e. Pemerintah daerah (BPBD provinsi/kabupaten), Instansi ini memberikan data lokal yang lebih detail dan aktual.

f. Selain itu, data juga dapat diperoleh dari citra satelit (misalnya melalui platform seperti Google Earth) dan hasil penelitian akademik (jurnal, laporan penelitian).

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Algani Afliansyach Setri 2513034064 -
Nama: Algani Afliansyach Setri
NPM: 2513034064

1. Banjir adalah fenomena yang sering terjadi, bencana hidrometeorologi ini bersifat kompleks (interaksi alam dan manusia). Sebagai seorang geografer, dalam memandang banjir harus menekankan 3 aspek utama yang meliputi:
Pendekatan Kewilayahan (Kompleks Wilayah): 
Dengan mengamati dan menganalisis dimana tempat air tersebut menggenang (hilir) dan bagaimana keterkaitannya dengan daerah sumber air awal (hulu)
Analisis Keruangan: Melakukan pemetaan tingkat kerawanan banjir berdasarkan jenis dataran, cekungan dan penggunaan lahan.
Analisis Kelingkungan: Banjir sering disebabkan oleh penebangan hutan, alih fungsi lahan dan sistem drainase yang buruk akibat pembangunan yang tidak terencana.

2. Data banjir di Indonesia bisa diperoleh dari banyak instansi, contohnya BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yang menyediakan data kejadian bencana yang dapat di akses di gis.bnpb.go.id . Kemudian BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dengan informasi tingkat provinsi atau kabupaten. Ada juga BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika) yang menyediakan data curah hujan dan prakiraan cuaca yang dapat berpengaruh terhadap banjir dapat diakses di bmkg.go.id . Ada juga Kementrian PU (Pekerjaan Umum) yang menyediakan data infrastruktur pengairan melalui sitaba.pu.go.id . Dan Badan Informasi Geospasial (BIG) yang menyediakan peta peta rawan banjir tanahair.indonesia.go.id
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Muhammad Vicky Mezza Alheta 2513034032 -
1.Dalam kajian geografi, banjir dipahami sebagai fenomena yang muncul akibat hubungan antara kondisi alam dan aktivitas manusia.
Faktor alam meliputi curah hujan yang tinggi, bentuk permukaan bumi yang rendah, jenis tanah, serta kondisi aliran sungai. Sementara itu, faktor manusia seperti perubahan fungsi lahan, penebangan hutan, pembangunan yang tidak terencana, dan sistem drainase yang kurang baik turut memperburuk terjadinya banjir.
Pendekatan geografi meninjau banjir dari aspek spasial, lingkungan, dan kewilayahan, sehingga dapat dianalisis penyebab, persebaran, serta dampaknya.

2.Informasi mengenai banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai lembaga resmi, di antaranya:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sebagai penyedia data kejadian bencana
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang menyediakan data cuaca dan curah hujan
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terkait data sungai dan infrastruktur air
Badan Informasi Geospasial (BIG) untuk peta dan data geospasial
Badan Pusat Statistik (BPS) untuk data statistik dampak banjir
BPBD daerah yang menyediakan data lebih rinci di tingkat lokal

Selain itu, data juga dapat diperoleh melalui citra satelit, hasil penelitian, serta teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG).
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by anggela frisca faluvi 2513034083 -

Nama: Anggela Frisca Faluvi 

NPM: 2513034083

1.Banjir merupakan salah satu bencana alam yang tidak hanya disebabkan oleh tingginya curah hujan, tetapi juga dipengaruhi oleh kondisi wilayah dan aktivitas manusia. Dalam kajian geografi, banjir dipahami sebagai peristiwa yang terjadi karena adanya hubungan antara unsur alam dengan tindakan manusia dalam memanfaatkan lingkungan. Misalnya, hujan deras yang turun terus-menerus dapat menyebabkan debit air meningkat, namun jika saluran air baik dan daerah resapan masih luas, dampak banjir bisa dikurangi. Sebaliknya, jika banyak lahan tertutup bangunan, hutan ditebang, dan drainase tersumbat sampah, maka banjir lebih mudah terjadi.

Seorang geografi melihat banjir dari persebaran wilayah yang rawan, penyebab terjadinya, dampak terhadap kehidupan masyarakat, serta upaya penanggulangannya. Daerah dataran rendah, bantaran sungai, dan kawasan perkotaan padat penduduk biasanya memiliki risiko banjir lebih tinggi. Selain itu, geografi juga mempelajari keterkaitan antarwilayah, misalnya kerusakan daerah hulu sungai dapat menyebabkan banjir di wilayah hilir. Oleh karena itu, banjir dipandang sebagai masalah lingkungan yang perlu ditangani secara menyeluruh.

2.Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari BNPB dan BPBD yang menyediakan data kejadian banjir, korban, dan kerugian. BMKG menyediakan data curah hujan serta cuaca. BIG menyediakan peta wilayah dan topografi. BPS menyediakan data jumlah penduduk di daerah terdampak. Selain itu, data banjir juga dapat diperoleh dari citra satelit, survei lapangan, dan media massa.


In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by LAFIFATUROHMAH 2513034047 -
1. Menurut pandangan saya sebagai mahasiswa pendidikan geografi, banjir bukan hanya disebabkan oleh faktor alam saja melainkan adanya campur tangan manusia dalam suatu ruang, sehingga penanganannyapun harus memperhatikan faktor lingkungan, lokasi, dan perilaku manusia secara bersamaan.
2. Kita dapat memperoleh data banjir yang ada di Indonesia melalui berbagai sumber yakni: BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI) (dibi.bnpb.go.id), Geoportal Data Bencana Indonesia (gis.bnpb.go.id), BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah), PetaBencana.id
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Yosifa Delvira 2513034019 -

Nama: Yosifa Delvira

Npm: 2513034019

1. Dalam ilmu geografi, banjir dipahami sebagai fenomena yang terjadi akibat interaksi kompleks antara unsur alam (fisik) dan aktivitas manusia (sosial). Dari sisi fisik, banjir dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti curah hujan yang tinggi, kondisi topografi (misalnya daerah dataran rendah lebih rentan tergenang), jenis tanah yang sulit menyerap air, serta kapasitas sungai dan sistem drainase. Sementara itu, dari sisi manusia, banjir sering diperparah oleh alih fungsi lahan (misalnya hutan menjadi permukiman), urbanisasi yang tidak terencana, penyempitan sungai, serta buruknya pengelolaan lingkungan seperti pembuangan sampah sembarangan.


Geografi juga memandang banjir sebagai fenomena keruangan, artinya kejadian ini dianalisis berdasarkan lokasi, pola persebaran, serta keterkaitan antarwilayah. Misalnya, banjir di wilayah hilir sering kali dipengaruhi oleh kondisi di wilayah hulu, seperti kerusakan hutan. Oleh karena itu, pendekatan geografi tidak hanya menjelaskan “apa” dan “mengapa” banjir terjadi, tetapi juga “di mana” dan “bagaimana dampaknya menyebar”. Selain itu, geografi berperan dalam upaya mitigasi bencana, seperti pemetaan daerah rawan banjir, perencanaan tata ruang, serta edukasi masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan.

2. Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai instansi pemerintah maupun sumber lain yang terpercaya. Beberapa di antaranya adalah:

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana
    Menyediakan data kejadian bencana secara nasional, termasuk jumlah kejadian banjir, lokasi terdampak, korban, dan kerugian. Data ini bisa diakses melalui laporan resmi maupun portal data bencana.
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
    Menyediakan data curah hujan, prakiraan cuaca, dan informasi iklim yang sangat penting untuk menganalisis penyebab banjir.
  • Badan Informasi Geospasial
    Menyediakan data peta dasar, peta topografi, dan informasi geospasial lainnya yang membantu dalam analisis wilayah rawan banjir.
  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
    Menyediakan data terkait jaringan sungai, bendungan, irigasi, serta sistem drainase yang berhubungan langsung dengan pengendalian banjir.
  • Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
    Menyediakan data penggunaan lahan, tutupan hutan, serta kondisi lingkungan yang memengaruhi daya serap air dan potensi banjir.

Selain instansi tersebut, data banjir juga dapat diperoleh dari pemerintah daerah (BPBD), jurnal ilmiah, laporan penelitian, serta teknologi penginderaan jauh seperti citra satelit. Saat ini, platform digital seperti GIS (Geographic Information System) juga sangat membantu dalam mengolah dan menganalisis data banjir secara lebih akurat.

Dengan memanfaatkan berbagai sumber data tersebut, seorang geografer dapat melakukan analisis yang komprehensif untuk memahami penyebab, pola, serta dampak banjir, sekaligus merumuskan solusi yang tepat dalam pengurangan risiko bencana.



In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Aprilia Niken -
Nama : Aprilia Niken
Npm   : 2513034082

1. Sebagai mahasiswa geografi, banjir itu tidak cuma dilihat sebagai bencana alam biasa. Kita melihatnya sebagai hasil dari gabungan faktor alam dan ulah manusia. Misalnya, hujan deras, kondisi tanah, dan bentuk wilayah memang bisa menyebabkan banjir. Tapi di sisi lain, aktivitas manusia seperti penebangan hutan, pembangunan yang tidak teratur, dan saluran air yang buruk juga ikut memperparah. Jadi, banjir itu bisa dianalisis dari lokasi, penyebab, dan dampaknya di suatu wilayah.

2. Data banjir di Indonesia bisa kita dapatkan dari berbagai instansi resmi. Misalnya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyediakan data kejadian bencana dan dampaknya. Selain itu, ada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang memberikan informasi tentang curah hujan dan kondisi cuaca. Untuk data peta dan informasi wilayah, kita bisa mengakses Badan Informasi Geospasial (BIG). Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) menyediakan data pendukung seperti jumlah penduduk dan dampak sosial ekonomi. Selain instansi tersebut, data juga bisa diperoleh dari BPBD daerah, berita, maupun citra satelit yang tersedia di internet.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Sifa Nur Asriyani -
Nama: Sifa Nur Asriyani
NPM: 2513034034

1. Kalau kita lihat dari kacamata geografi, banjir itu sebenarnya bukan cuma soal hujan deras atau sungai yang meluap. Ada banyak faktor yang saling berkaitan di baliknya. Sebagai geograf, kita diajarkan untuk melihat suatu kejadian secara menyeluruh mulai dari kondisi fisik wilayahnya seperti topografi dan jenis tanah, sampai ke perilaku manusianya sendiri seperti pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang dan penggundulan hutan yang bikin daerah resapan air makin berkurang. Banjir yang terjadi di suatu daerah belum tentu penyebabnya sama dengan daerah lain, makanya kita perlu analisis per wilayah. Dari data yang ada, banjir mencatatkan kejadian terbanyak yaitu 387 kasus hanya dalam periode Januari sampai April 2026, angka ini menurut saya cukup mengkhawatirkan dan jelas butuh perhatian lebih dari sisi perencanaan wilayah.

2. Untuk cari data banjir di Indonesia sebenarnya tidak susah karena sudah banyak instansi pemerintah yang menyediakannya secara terbuka. Yang paling sering saya pakai adalah website BNPB di dibi.bnpb.go.id karena datanya cukup lengkap mulai dari jumlah kejadian, korban, sampai kerusakan yang ditimbulkan, bahkan tampilannya sudah dalam bentuk dashboard seperti yang ada di gambar ini. Selain itu ada juga BMKG untuk data curah hujan dan peringatan dini, BPBD untuk data yang lebih spesifik di tingkat daerah, BIG kalau kita butuh peta topografi atau peta rawan banjir, dan BRIN untuk citra satelit yang bisa menunjukkan sebaran genangan banjir dari atas. Semua sumber ini kalau digabungkan bisa jadi bahan analisis yang cukup kuat untuk memahami pola dan risiko banjir di Indonesia.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Khansa Farica 2513034053 -
Nama : Khansa Farica
NPM : 2513034053

1. Perspektif Geografi terhadap Kejadian Banjir (Analisis Multidimensi)

Seorang geograf tidak hanya melihat banjir sebagai objek statis, melainkan sebagai fenomena dinamis yang melibatkan interaksi ruang dan waktu. Kita menggunakan tiga pendekatan utama:

Pendekatan Keruangan :
Kita menganalisis banjir berdasarkan lokasi dan atribut wilayahnya. Fokusnya adalah pada morfologi sungai, kemiringan lereng (topografi), dan bentuk lahan (landform). Geograf akan bertanya: "Mengapa titik A tergenang sementara titik B tidak?" Analisis ini melibatkan pemetaan zonasi rawan banjir untuk melihat pola distribusi genangan di suatu wilayah.

Pendekatan Kelingkungan :
Banjir dipandang sebagai akibat dari terganggunya keseimbangan ekosistem. Geografi mengkaji bagaimana aktivitas manusia seperti deforestasi di area hulu atau penutupan lahan dengan beton di perkotaan mengurangi kemampuan infiltrasi tanah. Dalam pandangan ini, banjir adalah respons alam terhadap ketidakmampuan lingkungan dalam menyerap curah hujan akibat perubahan penggunaan lahan yang masif.

Pendekatan Kompleks Wilayah :
Ini adalah pandangan yang paling luas, di mana banjir dianggap sebagai permasalahan antarwilayah. Misalnya, banjir di wilayah hilir (seperti Jakarta atau pesisir Lampung) sering kali disebabkan oleh manajemen air yang buruk di wilayah hulu. Oleh karena itu, solusinya tidak bisa hanya dilakukan di satu titik, melainkan harus terintegrasi dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu ke hilir.

2. Sumber Data Banjir di Indonesia (Teknis dan Instansional)

Untuk keperluan penelitian atau laporan akademis, data banjir dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis sumber:

A. Data Kejadian dan Dampak (Data Historis):

BNPB (Data Informasi Bencana Indonesia - DIBI): Menyediakan basis data jangka panjang mengenai jumlah kejadian, korban jiwa, pengungsi, serta kerusakan fasilitas sosial dan umum.

BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah): Sumber utama untuk data real-time dan spesifik lokal. BPBD sering kali memiliki catatan detail mengenai tinggi muka air (TMA) di tingkat kelurahan atau desa.

B. Data Pemicu (Hidro-Meteorologi):

BMKG (e-Klimat): Menyediakan data curah hujan harian, bulanan, dan tahunan. Data ini krusial untuk menganalisis hubungan antara intensitas hujan dengan volume banjir.

Kementerian PUPR (SDA): Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), kita bisa mendapatkan data debit air sungai, kapasitas tampung bendungan, dan peta kerawanan banjir teknis.

C. Data Spasial dan Pemetaan (Geospasial):

BIG (Ina-Geoportal): Menyediakan Peta Rupabumi Indonesia (RBI) yang digunakan sebagai peta dasar, data DEMNAS (Digital Elevation Model Nasional) untuk analisis ketinggian, serta batas administrasi.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK): Menyediakan data tutupan lahan (land cover) untuk melihat sejauh mana berkurangnya area hutan atau vegetasi yang mempengaruhi run-off (aliran permukaan).

D. Sumber Berbasis Komunitas dan Teknologi Baru:

PetaBencana.id: Platform berbasis partisipasi masyarakat yang memetakan titik banjir secara real-time melalui laporan media sosial, yang sangat berguna untuk pemantauan cepat di lapangan.

Citra Satelit (Sentinel/Landsat): Melalui platform seperti Google Earth Engine, seorang geograf dapat mengolah data penginderaan jauh untuk melihat luasan genangan banjir secara visual dari ruang angkasa.

Dengan menggabungkan data fisik (curah hujan, kelerengan) dan data sosial (kepadatan penduduk, penggunaan lahan), kita dapat menghasilkan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang akurat untuk mendukung kebijakan mitigasi bencana.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Filda Kumala Sari 2513034002 -

Nama:Filda Kumala Sari

NPM:2513034002

1.Banjir adalah peristiwa meluapnya air yang menggenangi suatu wilayah yang biasanya kering, baik karena curah hujan tinggi, luapan sungai, maupun faktor lainnya. 

Seorang geografi memandang banjir sebagai hasil interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia dalam suatu ruang. Dari sisi alam, banjir dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, bentuk lahan seperti dataran rendah, jenis tanah, serta kondisi sungai. Dari sisi manusia, banjir sering diperparah oleh alih fungsi lahan, penebangan hutan, sistem drainase yang buruk, dan kepadatan permukiman, sehingga banjir dilihat sebagai fenomena keruangan yang mencerminkan hubungan manusia dan lingkungannya.

2.Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai instansi resmi. Misalnya dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang menyediakan data kejadian bencana, serta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang menyediakan data cuaca dan curah hujan. Selain itu, ada juga Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk data sungai dan infrastruktur air, Badan Informasi Geospasial untuk peta dan data spasial, serta Badan Pusat Statistik untuk data pendukung seperti kondisi wilayah dan penduduk. Data tambahan juga bisa diperoleh dari pemerintah daerah, hasil penelitian, dan citra satelit.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Irene agnesia br sinulingga 2513034021 -
Nama : Irene Agnesia Br Sinhulingga
NPM : 2513034021

1. Dari sisi alam, banjir bisa terjadi karena curah hujan tinggi, kondisi tanah, bentuk permukaan bumi (topografi), serta sistem sungai. Tapi dari sisi manusia, banjir sering diperparah oleh hal seperti penebangan hutan, pembangunan di daerah resapan air, sampah yang menyumbat drainase, sampai tata kota yang kurang baik.
Jadi, geografi melihat banjir itu secara menyeluruh (holistik), mulai dari penyebabnya, proses terjadinya, sampai dampaknya ke lingkungan dan kehidupan manusia. Selain itu, seorang geografi juga berpikir tentang bagaimana solusi yang tepat, seperti pengelolaan tata ruang, konservasi lingkungan, dan mitigasi bencana.Dari sisi fisik, geografi memperhatikan faktor-faktor seperti curah hujan yang tinggi, kondisi tanah (apakah mudah menyerap air atau tidak), kemiringan lereng, bentuk permukaan bumi (topografi), serta kondisi sungai dan daerah aliran sungai (DAS). Misalnya, wilayah dataran rendah dengan aliran sungai yang dangkal dan curah hujan tinggi akan lebih rentan mengalami banjir. Selain itu, perubahan iklim juga menjadi faktor penting karena dapat meningkatkan intensitas hujan yang ekstrem.

Namun, geografi juga sangat menekankan peran manusia dalam memperparah atau bahkan memicu terjadinya banjir. Aktivitas seperti penebangan hutan, alih fungsi lahan menjadi permukiman atau industri, pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang, serta kebiasaan membuang sampah sembarangan dapat mengurangi daya serap tanah dan menyumbat aliran air. Akibatnya, air hujan yang seharusnya meresap ke dalam tanah justru mengalir di permukaan dan menyebabkan banjir.

2. Instansi pemerintah
Contohnya seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang menyediakan data kejadian bencana, termasuk banjir.
Ada juga Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk data cuaca dan curah hujan.
Selain itu, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyediakan peta dan data spasial.
Citra satelit dan teknologi penginderaan jauh
Data dari satelit bisa digunakan untuk melihat daerah yang terdampak banjir secara luas dan cepat.
Laporan lapangan
Data dari survei langsung, laporan masyarakat, atau relawan di lokasi kejadian.
Media dan platform online
Berita, website resmi pemerintah, atau platform pemantauan bencana juga sering menyediakan update kejadian banjir.
Penelitian dan jurnal
Data juga bisa diambil dari hasil penelitian akademik yang membahas kejadian banjir di berbagai daerah.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by SUSI SUSANTI -

Nama: Susi Susanti

Npm: 2513034013

1. Menurut saya, sebagai seorang yang mempelajari geografi, kita tidak hanya melihat banjir sebagai sekadar air yang meluap, tapi sebagai suatu fenomena yang terjadi karena hubungan antara alam dan aktivitas manusia. Banjir bisa dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, kondisi sungai, bentuk permukaan bumi, sampai perilaku manusia seperti membuang sampah sembarangan atau alih fungsi lahan (penggundulan hutan tanpa melakukan reboisasi). Jadi, kita melihat banjir itu secara menyeluruh, tidak hanya dari satu penyebab saja, tetapi dari berbagai faktor yang saling berkaitan.

2. Menurut saya, data banjir di Indonesia bisa kita dapatkan dari banyak sumber yang cukup mudah diakses. Misalnya dari BMKG untuk data cuaca dan curah hujan, BNPB untuk data kejadian bencana, serta dari pemerintah daerah seperti BPBD. Selain itu, kita juga bisa mencari data dari BPS, Kementerian PUPR, atau bahkan dari berita dan laporan di internet. Sekarang juga sudah banyak peta digital dan website resmi yang menyediakan informasi banjir secara lengkap dan terbaru.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by ISNI NURFAIZAH AGUSTIN -

Nama : Isni Nurfaizah Agustin

NPM : 2513034080

1. Menurut saya banjir itu bukan cuma sekadar air meluap, tapi sebagai hasil dari banyak faktor yang saling berhubungan. Misalnya faktor alam seperti curah hujan tinggi, kondisi tanah, bentuk wilayah (dataran rendah lebih mudah banjir), sampai kondisi sungai. Selain itu, ada juga faktor manusia, seperti penebangan hutan, sampah yang menyumbat drainase, padatnya permukiman. Kita harus melihat banjir dari sudut pandang yang luas (spasial), kenapa bisa terjadi di tempat tertentu, dan bagaimana dampaknya bagi lingkungan dan masyarakat.

2. Sumber data banjir di Indonesia

- Lembaga pemerintah seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang punya data kejadian bencana 

- Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) untuk data cuaca dan curah hujan.

- Badan Pusat Statistik (BPS) untuk data penduduk dan dampak sosial.

- Citra satelit atau peta, misalnya lewat teknologi penginderaan jauh.

- Berita, laporan lapangan, atau bahkan survei langsung ke lokasi.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by FADILLAH LAILATUL NISA -
Nama: Fadillah Lailatul Nisa
Npm: 2513034029
Kelas: 2025/A


1. Menurut saya kita sebagai seorang geografi, banjir tidak hanya dilihat sebagai peristiwa air meluap saja, tetapi sebagai hasil dari interaksi antara alam dan aktivitas manusia. Dalam ilmu geografi, kita menggunakan beberapa pendekatan untuk memahami banjir.

Pertama, dari faktor alam (fisik). Banjir bisa terjadi karena curah hujan yang tinggi dalam waktu lama, sehingga air tidak sempat meresap ke dalam tanah. Selain itu, kondisi tanah juga berpengaruh, misalnya tanah yang sudah jenuh air atau jenis tanah yang sulit menyerap air akan memperbesar kemungkinan banjir. Bentuk permukaan bumi (topografi) juga penting, daerah dataran rendah atau cekungan lebih mudah tergenang dibandingkan daerah tinggi. Sungai yang dangkal atau menyempit juga bisa menyebabkan air meluap ke permukiman.

Kedua, dari faktor manusia. Aktivitas manusia sering kali memperparah banjir. Contohnya seperti penebangan hutan yang mengurangi daya serap air, pembangunan di daerah resapan air, serta kebiasaan membuang sampah ke sungai yang menyebabkan aliran air tersumbat. Selain itu, pembangunan kota yang tidak terencana (urbanisasi) membuat banyak lahan tertutup beton atau aspal sehingga air hujan tidak bisa meresap ke tanah.

Ketiga, dalam geografi kita menggunakan pendekatan keruangan (spasial). Artinya, kita melihat di mana banjir sering terjadi, bagaimana pola persebarannya, dan wilayah mana yang paling rawan. Misalnya, daerah sekitar bantaran sungai atau kota besar biasanya lebih rentan banjir.

Keempat, ada juga pendekatan kelingkungan (ekologi), yaitu melihat hubungan antara manusia dan lingkungan. Dalam hal ini, banjir terjadi karena keseimbangan alam terganggu oleh aktivitas manusia.

Selain itu, kita juga melihat dampak banjir, baik dari sisi sosial, ekonomi, maupun lingkungan. Secara sosial, banjir bisa menyebabkan masyarakat kehilangan tempat tinggal dan terganggu aktivitasnya. Dari sisi ekonomi, kerugian bisa sangat besar, seperti rusaknya rumah, jalan, dan lahan pertanian. Dari sisi lingkungan, banjir bisa menyebabkan pencemaran air dan kerusakan ekosistem.

Jadi, sebagai geografi , kita memandang banjir sebagai fenomena kompleks yang terjadi karena banyak faktor yang saling berkaitan, bukan hanya karena hujan saja.

2. Data banjir di Indonesia bisa diperoleh dari berbagai sumber yang terpercaya, baik dari lembaga pemerintah, teknologi, maupun masyarakat.

Pertama, dari instansi pemerintah.

* BMKG menyediakan data cuaca dan curah hujan yang sangat penting untuk mengetahui potensi banjir.
* BNPB menyediakan data kejadian bencana, jumlah korban, dan dampaknya secara nasional.
* BPBD (tingkat daerah) memberikan data yang lebih spesifik di wilayah masing-masing.

Kedua, dari kementerian dan lembaga terkait.

* Kementerian PUPR menyediakan data tentang kondisi sungai, bendungan, dan sistem drainase.
* BIG (Badan Informasi Geospasial) menyediakan peta dan data spasial yang membantu analisis wilayah rawan banjir.

Ketiga, dari Badan Pusat Statistik (BPS).
BPS menyediakan data terkait dampak banjir terhadap penduduk, seperti jumlah korban, kerugian ekonomi, dan kondisi sosial masyarakat.

Keempat, dari teknologi dan citra satelit.
Kita bisa menggunakan citra satelit untuk melihat daerah yang tergenang banjir secara langsung. Contohnya melalui Google Earth atau sistem pemantauan lainnya. Data ini sangat membantu untuk analisis wilayah terdampak secara visual.

Kelima, dari media massa dan internet.
Berita online, televisi, dan media sosial sering memberikan informasi terbaru tentang kejadian banjir. Walaupun harus tetap disaring kebenarannya, sumber ini sangat cepat dalam memberikan informasi.

Keenam, dari observasi langsung di lapangan.
Kita bisa melakukan survei, wawancara dengan masyarakat, atau pengamatan langsung di lokasi banjir untuk mendapatkan data yang lebih nyata dan detail.

Ketujuh, dari penelitian dan jurnal ilmiah.
Banyak penelitian yang membahas banjir dari berbagai sudut pandang, sehingga bisa menjadi sumber data tambahan yang lebih mendalam.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Mylan Sifa Ayu Adzkia 2513034079 -

Nama: Mylan Sifa Ayu Adzkia 

Npm: 2513034079

Kelas: 2025 A

1. Dalam geografi, fenomena banjir tidak hanya di lihat dari peristiwa alam, tetapi sebagai hasil interaksi antara faktor fisik (alam) dan faktor manusia.

Pendekatan geografi dalam mengkaji fenomena banjir terdiri dari tiga aspek, yaitu: 

1. Pendekatan keruangan: Geografi melihat di mana banjir terjadi, sebaran lokasinya, dan keterkaitannya dengan kondisi topografi, sungai, dan wilayah di hulu ke hilir (misalnya banjir kiriman dari Bogor ke Jakarta).

2. Pendekatan kewilayahan (regional): Geografi mengkaji karakter khusus kawasan rawan banjir (misalnya dataran rendah, daerah pesisir, daerah aliran sungai terbuka) dan faktor lokal yang memperkuat risiko (curah hujan tinggi, alih fungsi lahan, pendangkalan sungai).

3. Pendekatan ekologi dan tata guna lahan: Rusaknya fungsi tata air alami (hutan, resapan, situ) dan ekspansi permukiman di sempadan sungai atau rawa meningkatkan limpasan permukaan dan banjir.

Dengan kata lain, geografi mengkaji banjir sebagai hasil interaksi antara alam dan manusia dalam ruang.


2. Data banjir bisa di peroleh dari berbagai sumber instansi resmi maupun sumber terbuka, antara lain: 

1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Menyediakan data kejadian bencana secara nasional melalui platform seperti Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI).

2. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Menyediakan data curah hujan, cuaca ekstrem, dan informasi iklim yang berkaitan dengan potensi banjir.

3. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), Menyediakan data terkait sungai, bendungan, dan pengelolaan sumber daya air.

4. Badan Informasi Geospasial (BIG), Menyediakan peta dasar, peta topografi, dan data geospasial yang mendukung analisis banjir.

5. Badan Pusat Statistik (BPS), Menyediakan data kependudukan dan penggunaan lahan yang berkaitan dengan risiko banjir.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Dwi Andika 2513034016 -

Nama: Dwi Andika

Npm: 2513034016

1. Sebagai mahasiswa geografi, kita nggak cuma lihat banjir sebagai air meluap doang. Kita memandangnya sebagai hasil dari interaksi antara kondisi alam dan aktivitas manusia di suatu wilayah. Geografi itu memang ilmu yang melihat segala sesuatu secara spasial dan menyeluruh.Dari situ kita bisa analisis dan petakan daerah mana yang paling rentan. Singkatnya, banjir bagi geografi bukan sekadar bencana alam, tapi fenomena yang bisa dijelaskan, diprediksi, dan dimitigasi lewat pendekatan keruangan.

2. Salah satu sumber utama yang bisa kita akses adalah BNPB lewat situs dibi.bnpb.go.id. Dari gambar di atas, terlihat bahwa dalam periode 1 Januari – 28 April 2026 saja, sudah tercatat 387 kejadian banjir  menjadikannya bencana paling sering terjadi dibanding bencana lain seperti cuaca ekstrem (257) dan tanah longsor (72). Dampaknya pun sangat besar 214 orang meninggal, lebih dari 2,3 juta jiwa menderita dan mengungsi, serta 9.672 rumah rusak. 

Selain BNPB, kita juga bisa akses data dari: BMKG data curah hujan dan peringatan dini banjir, BPBD provinsi/kabupaten data banjir skala lokal, Kementerian PUPR / BBWS data hidrologi dan debit sungai, BIG peta rawan banjir dan data topografi, BRIN  citra satelit untuk deteksi genangan, NASA / Copernicus EMS data dan citra satelit skala global.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Ridho Cahya Pratama -
Nama: Ridho Cahya Pratama

NPM: 2513034010

1. Dari sudut pandang geografi, banjir tidak dilihat hanya sebagai “air meluap”, tetapi sebagai hasil interaksi kompleks antara alam dan aktivitas manusia dalam suatu ruang.
1. Pendekatan Keruangan
Geografi selalu bertanya: di mana banjir terjadi dan mengapa di lokasi itu?
Banjir sering terjadi di dataran rendah, daerah aliran sungai (DAS), dan wilayah dengan drainase buruk
Pola sebarannya bisa dianalisis menggunakan peta: apakah banjir terkonsentrasi di hilir sungai, kawasan urban, atau pesisir
Faktor lokasi seperti kemiringan lereng, jenis tanah, dan penggunaan lahan sangat menentukan.

2. Pendekatan Ekologi (Kelingkungan)
Di sini banjir dipahami sebagai hasil hubungan antara manusia dan lingkungan.

Faktor alam:
Curah hujan tinggi
Kapasitas sungai terbatas
Tanah jenuh air atau tidak mampu menyerap

Faktor manusia:
Deforestasi (penggundulan hutan)
Alih fungsi lahan (hutan → permukiman)
Pembuangan sampah ke sungai
Urbanisasi tanpa sistem drainase yang baik

3. Pendekatan Kewilayahan
Pendekatan ini menggabungkan aspek fisik dan sosial dalam satu wilayah.

Seorang geografer akan melihat:
Karakteristik wilayah (iklim, topografi, hidrologi)
Kepadatan penduduk
Tingkat ekonomi dan kesiapsiagaan masyarakat
Infrastruktur (bendungan, tanggul, drainase

2. Dengan kemajuan teknologi, moderanisasi semua orang bisa dengan mudah mencari data-data banjir dengan mudah. Lembaga Pemerintah Nasional Ini adalah sumber paling resmi dan sering digunakan.

*Badan Nasional Penanggulangan Bencana
Menyediakan data kejadian bencana (termasuk banjir), jumlah korban, kerusakan, dan lokasi kejadian melalui database seperti DIBI (Data Informasi Bencana Indonesia).

*Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika
Data curah hujan, iklim, dan peringatan dini cuaca ekstrem—penting untuk analisis penyebab banjir.

*Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
Data sungai, debit air, bendungan, dan sistem drainase.

*Badan Informasi Geospasial
Menyediakan peta topografi, peta RBI, dan data geospasial lainnya.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Ni'matul Munfarida -

1.  Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 

Berdasarkan pandangan seorang geografer, banjir bukan hanya sebuah luapan air tetapi kita analisis dari pendekatan yaitu keruangan, ekologi, dan kompleks wilayah.

Dilihat dari pendekatan keruangan, dilihat di mana saja wilayah yang rawan terjadi banjir, persebarannya, serta hubungannya dengan sungai, topografi, dan lahan.

Dilihat dari ekologi, bagaimana hubungan manusia dengan alam yang dapat menyebabkan banjir tersebut.

sedangkan dari sisi kompleks wilayah, membandingkan karakteristik banjir antar daerah, misalnya banjir di Jakarta berbeda dengan banjir di Aceh karena kondisi fisik dan sosialnya berbeda. 

2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

Data banjir di Indonesia dapat kita peroleh dari berbagai instansi pemerintah maupun lembaga lainnya, baik dalam bentuk data kejadian, curah hujan, peta wilayah, maupun dampak sosial ekonomi. Contohnya seperti BMKG, BIG, BPS, dan BPDB.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

by Azka Nur Fauzan 2513034078 -

Nama : Azka Nur Fauzan 

NPM : 2513034078

1. Menurut saya sebagai seorang geografi, banjir dapat dilihat melalui dari 3 aspek pendekatan geografi. Yakni 

A. Pendekatan Keruangan : Kita melihat di mana banjir terjadi. Fokusnya adalah pada lokasinya, sebaran genangan, luas area terdampak, dan kemiringan lereng. Kita menganalisis faktor fisik seperti morfologi sungai yang berkelok (meander) atau penyempitan dan pendangkalan air sungai. 

B. Pendekatan Kelingkungan: Kita melihat hubungan timbal balik antara manusia dan alam. Banjir dipandang sebagai dampak dari perubahan tata guna lahan, misalnya alih fungsi hutan menjadi pemukiman atau beton yang mengurangi daya serap air (infiltrasi).

C. Pendekatan Kompleks Wilayah: Ini adalah gabungan keduanya. Kita melihat bagaimana banjir di suatu wilayah (misalnya Jakarta) dipengaruhi oleh wilayah lain (misalnya kiriman air dari Bogor), misalnya juga wilayah lembah gunung berapi yang terkena banjir lahar dingin akibat adanya air hujan yang terkumpul pada kaldera kemudian pada kawah tidak bisa ditampung kemudian akhirnya turun menuju lembah, serta bagaimana kebijakan tata ruang antarwilayah tersebut saling berkaitan. 

2. Data banjir di Indonesia dapat diakses dan diperoleh dari DIBI - BNPB, InaRISK, BMKG, dan Pusdatin PUPR  / BBWS