Analisis Banjir

Analisis Banjir

Number of replies: 25

Mahasiswa sekalian, anda sering sekali mendengar berita tentang bencana banjir. Berkaitan dengan kejadian bencana banjir, ada banyak sekali data yang bisa anda akses dari berbagai instansi. Melalui forum ini, silahkan anda menjawab pertanyaan berikut secara singkat:

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 
2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Annisa Alma Safira 2513034020 གིས-

Nama: Annisa Alma Safira

NPM: 2513034020


1.     Bagaimana Seorang Geograf Memandang Kejadian Banjir?

Seorang geograf memandang banjir bukan sekadar sebagai "air yang meluap", melainkan sebagai fenomena spasial-temporal yang kompleks hasil interaksi antara sistem fisik dan sistem manusia di suatu wilayah. Ada beberapa perspektif:

a.     Pendekatan Keruangan (Spatial Approach)

Banjir dilihat dari sisi pola, persebaran, dan lokasi kejadiannya di ruang muka bumi. Geograf akan bertanya: di mana banjir terjadi? Mengapa di situ? Apa pola persebarannya? Contoh penerapannya adalah memetakan daerah rawan banjir berdasarkan ketinggian lahan, jarak dari sungai, dan pola penggunaan lahan  untuk keperluan perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana.

 

b.     Pendekatan Ekologi (Ecological Approach)

Banjir dilihat sebagai hasil dari hubungan timbal balik antara manusia dan lingkungan fisiknya. Geograf akan bertanya: apa yang dilakukan manusia sehingga banjir makin parah? Contohnya adalah menganalisis bagaimana deforestasi di hulu DAS, alih fungsi lahan menjadi kawasan terbangun, dan minimnya RTH di perkotaan menyebabkan kapasitas resapan air menurun drastis sehingga banjir makin sering terjadi.

 

c.     Pendekatan Kompleks Wilayah (Regional Complex Approach)

Banjir dilihat secara menyeluruh dengan menggabungkan aspek keruangan dan ekologi, sekaligus memperhatikan interaksi antarwilayah. Contohnya adalah kasus banjir Jakarta yang tidak bisa diselesaikan hanya oleh Pemerintah DKI saja, karena air kiriman dari Bogor dan Depok (wilayah hulu) turut berkontribusi sehingga penanganannya memerlukan koordinasi lintas wilayah Jabodetabek.


2. Sumber Data Banjir di Indonesia

a. Instansi Pemerintah Pusat

Instansi: BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
Jenis data: Data kejadian banjir, korban, kerugian
Akses: bnpb.go.id / dibi.bnpb.go.id

Instansi: BMKG
Jenis data: Data curah hujan, peringatan dini banjir
Akses: bmkg.go.id

Instansi: Kementerian PUPR / BBWS
Jenis data: Data debit sungai, tinggi muka air, DAS
Akses: pu.go.id

Instansi: BIG (Badan Informasi Geospasial)
Jenis data: Peta topografi, DEM, peta rawan banjir
Akses: big.go.id / tanahair.indonesia.go.id

b. Platform Data & GIS Online
Platform: DIBI BNPB (Disaster Information and Base Map)
Keterangan: Database kejadian bencana Indonesia sejak 1815

Platform: InaRISK (BNPB)
Keterangan: Peta risiko bencana per kecamatan/desa

Platform: SIPD BNPB
Keterangan: Sistem informasi penanggulangan bencana

Platform: One Map Policy (BIG)
Keterangan: Portal peta nasional terintegrasi

Platform: BPBD Provinsi/Kabupaten
Keterangan: Data banjir tingkat lokal yang lebih detail

c. Data Penginderaan Jauh dan Global
Sumber: NASA MODIS / Sentinel-1 (ESA)
Jenis Data: Citra satelit untuk deteksi genangan banjir

Sumber: Global Flood Database (Cloud to Street)
Jenis Data: Data banjir historis global termasuk Indonesia

Sumber: Copernicus EMS
Jenis Data: Layanan pemetaan darurat bencana dari Eropa

Sumber: JAXA ALOS
Jenis Data: Data DEM dan pemantauan banjir Asia-Pasifik

d. Data Hidrologi dan Klimatologi
BMKG: data curah hujan harian/bulanan/tahunan (stasiun tersebar di seluruh Indonesia)
Balai Wilayah Sungai (BWS/BBWS): data tinggi muka air sungai (water level) secara real-time
Pusat Data Hidrologi (Kemen. PUPR): data debit dan sedimen Sungai

e. Sumber Lainnya
Media massa local: untuk dokumentasi kejadian banjir yang mungkin belum tercatat resmi
Laporan RPJMD / RTRW: dokumen perencanaan daerah yang memuat data kebencanaan
Jurnal ilmiah (Google Scholar, SINTA, Scopus): penelitian akademik tentang banjir di Indonesia
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Bilqis Zahrotussyifa 2513034067 གིས-

Nama: Bilqis Zahrotussyifa 

NPM: 2513034067

Kelas: 2025 B

1. Seorang geografi memandang kejadian banjir memadukan antara faktor alam dan manusia untuk menjelaskan banjir sebagai akibat ketidakseimbangan sistem dalam DAS

faktor alami: topografi daratan rendah dengan kemiringan  kecil yang memperlambat gerakan aliran air, intensitas hujan tinggi yang melampaui kapasitas infiltrasi, ditambahn sedimentasi dari hulu yang menyebabkan pendangkalan sungai dan berkurangnya kapasitas tampung

faktor antropogenik: Perubahan penggunaan lahan (alih fungsi lahan dari hutan menjadi pemukiman), penyempitan bantaran sungai, urbanisasi yang masif yang akan meningkatkan area terbangun yang akan mengurangi daerah resapan 

secara pendektan spasial dengan mengkaji distribusi wilayah rawan banjir dan hubungan hulu dan hilir 

2. kita bisa mendapatkan data banir yang ada di indonesia melalui:

BMKG (Badan Meteorologi, klimatologi dan Geofisika): data curah hujan harian, prediksi cuaca

BNPB( Badan Nasional Penanggulangan Bencana): data historis kejadian, jumlah korban, dan dampak kerusakan

Kementrian PUPR: data debut sungai, tinggi muka air, dan data hidrologi 

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Amyanti 2513034036 གིས-
Nama : Amyanti
Npm : 2513034036

1. Cara pandang geografi terhadap banjir
Dalam perspektif geografi, banjir dipahami sebagai hasil interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia. Secara alamiah, banjir dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, kondisi topografi (dataran rendah), jenis tanah, dan sistem drainase alami. Namun, faktor manusia seperti alih fungsi lahan, urbanisasi, deforestasi, serta buruknya pengelolaan tata ruang turut memperparah kejadian banjir.
Seorang geografer akan menganalisis banjir secara spasial (keruangan), ekologis (hubungan manusia–lingkungan), dan kewilayahan, termasuk memetakan daerah rawan banjir serta pola sebarannya.

2. Sumber data banjir di Indonesia
Data banjir dapat diperoleh dari berbagai instansi resmi, antara lain:
1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) data kejadian bencana dan dampaknya
2. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) data curah hujan dan iklim
3.Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) data sungai, bendungan, dan drainase
4. Badan Informasi Geospasial (BIG) peta dan data geospasial
5. Badan Pusat Statistik (BPS) data penduduk dan wilayah terdampak
6. Pemerintah daerah (BPBD provinsi/kabupaten) data lokal kejadian banjir
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Widy Nugroho 2513034008 གིས-
Nama: Widy Nugroho
NPM: 2513034008


1.Dari segi fisik, banjir dianggap sebagai bagian dari proses yang terjadi dalam Siklus Hidrologi. Curah hujan yang banyak, kondisi tanah yang sudah tergenang air, kemiringan lereng yang curam, dan kemampuan sungai dalam menampung air adalah faktor-faktor alami yang memengaruhi apakah suatu daerah akan banjir. Banjir bisa dianggap sebagai peristiwa alam yang biasa terjadi, bahkan memiliki manfaat bagi lingkungan, misalnya membantu memperkaya tanah di area dataran banjir.

Namun, geografi tidak hanya melibatkan aspek alam saja. Dari sudut pandang manusia dalam geografi sosial, banjir juga dianggap sebagai hasil dari tindakan-tindakan manusia, seperti perubahan penggunaan lahan, penebangan hutan, pembangunan di wilayah penangkap air, hingga kurangnya sistem saluran air yang baik. Dengan kata lain, banjir sering dikatakan sebagai "bencana" karena manusia rentan terhadap fenomena tersebut.

Pendekatan geografi juga bersifat keruangan (spasial). Artinya, seorang geografer akan bertanya: di mana banjir terjadi, mengapa banjir itu terjadi di tempat tersebut, dan bagaimana banjir itu menyebar. Analisis ini umumnya menggunakan peta untuk memperlihatkan hubungan antara cara lahan digunakan, bentuk tanah, dan sistem sungai.

Selain itu, geografi menggunakan pendekatan kewilayahan, yaitu memperhatikan semua ciri-ciri suatu daerah, baik kondisi fisik maupun sosial, agar bisa memahami tingkat bahaya banjir dan cara mengatasinya dengan tepat.

2.A. Lembaga Pemerintah
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
Menyediakan data kejadian banjir, lokasi, jumlah korban, dan kerusakan melalui portal seperti DIBI (Data Informasi Bencana Indonesia).
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG)
Memberikan data curah hujan, prakiraan cuaca, dan peringatan dini banjir.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
Menyediakan data terkait sungai, bendungan, dan sistem drainase.
Badan Informasi Geospasial (BIG)
Menyediakan peta dasar, peta rawan banjir, dan data geospasial lainnya.

B. Data Penginderaan Jauh (Satelit)
Citra satelit dari NASA atau European Space Agency
Digunakan untuk memantau luas genangan banjir secara real-time maupun historis.
Platform seperti Google Earth Engine untuk analisis data banjir berbasis citra satelit.

C. Pemerintah Daerah
BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) di tiap provinsi/kabupaten
Biasanya memiliki data yang lebih detail dan spesifik lokasi.

D. Lembaga Internasional dan NGO
World Bank atau organisasi kemanusiaan lain
Sering menyediakan laporan risiko banjir dan peta kerentanan.

E. Sumber Akademik
Jurnal penelitian, skripsi, dan laporan ilmiah
Biasanya berisi analisis mendalam tentang penyebab, dampak, dan pemodelan banjir.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Tiara Juliesta Sabrina གིས-

1. Dalam perspektif geografi, banjir tidak hanya dipahami sebagai peristiwa meluapnya air, tetapi sebagai fenomena keruangan yang kompleks akibat interaksi antara faktor fisik (alam) dan faktor manusia. Dari sisi fisik, banjir dipengaruhi oleh curah hujan yang tinggi, kondisi topografi yang relatif rendah atau datar, kemiringan lereng yang kecil, kapasitas sungai, serta jenis tanah yang kurang mampu menyerap air. Selain itu, aspek hidrologi seperti debit sungai dan sistem aliran juga berperan penting dalam menentukan terjadinya banjir.

Sementara itu, dari sisi manusia, banjir sering kali diperparah oleh aktivitas seperti alih fungsi lahan, berkurangnya daerah resapan air, pembangunan di bantaran sungai, serta sistem drainase yang tidak memadai. Oleh karena itu, dalam kajian geografi, banjir dianalisis melalui berbagai pendekatan, seperti pendekatan keruangan (melihat lokasi dan persebaran banjir), pendekatan ekologi (hubungan manusia dan lingkungan), serta pendekatan kompleks wilayah (keterkaitan antar wilayah). Dengan demikian, banjir tidak hanya dilihat sebagai bencana alam semata, tetapi juga sebagai hasil dari interaksi dinamis antara lingkungan fisik dan aktivitas manusia, sehingga penanganannya perlu dilakukan secara terpadu melalui upaya mitigasi dan pengelolaan lingkungan.

2. Data terkait banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai instansi resmi yang menyediakan informasi baik dalam bentuk data statistik, laporan kejadian, maupun data spasial. Salah satu sumber utama adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang menyediakan data kejadian dan dampak bencana melalui Portal Satu Data Bencana Indonesia serta DIBI (Data Informasi Bencana Indonesia). Selain itu, BNPB juga memiliki platform InaRISK yang menyajikan informasi terkait peta risiko, tingkat ancaman, jumlah penduduk terdampak, serta potensi kerugian akibat bencana.

Selanjutnya, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyediakan data yang berkaitan dengan kondisi cuaca, curah hujan, dan iklim yang menjadi faktor utama dalam terjadinya banjir. Data hidrologi seperti tinggi muka air, debit sungai, serta informasi peringatan dini banjir dapat diperoleh dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Sementara itu, untuk data spasial dasar seperti peta rupa bumi, jaringan sungai, batas wilayah, dan topografi, dapat diakses melalui Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui Ina-Geoportal.

Selain instansi tersebut, data banjir juga dapat diperoleh dari laporan pemerintah daerah, jurnal penelitian, serta pemanfaatan teknologi seperti citra satelit dan sistem informasi geografis (SIG). Dengan berbagai sumber data tersebut, seorang geografer dapat melakukan analisis yang lebih komprehensif terhadap kejadian banjir, baik dari aspek penyebab, pola persebaran, hingga upaya mitigasi yang tepat.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Aprilianti Rahma Putri 2513034075 གིས-
Nama: Aprilianti Rahma Putri
NPM: 2513034075

1. Seorang geografi memandang kejadian banjir tidak hanya sebagai bencana alam, tetapi sebagai hasil interaksi antara kondisi alam dan aktivitas manusia. Dalam kajian geografi, banjir dianalisis melalui pendekatan keruangan, lingkungan, dan kewilayahan. Faktor alam yang diperhatikan misalnya curah hujan tinggi, bentuk lahan, kemiringan lereng, jenis tanah, dan kondisi sungai. Sementara faktor manusia meliputi penebangan hutan, alih fungsi lahan, pembangunan permukiman di daerah resapan, pembuangan sampah ke sungai, serta buruknya sistem drainase. Seorang geografi juga melihat persebaran wilayah rawan banjir, dampaknya terhadap kehidupan masyarakat, serta upaya mitigasi dan penanggulangannya agar risiko banjir dapat dikurangi.

2. Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai sumber, antara lain:
a. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), melalui data kejadian bencana dan peta risiko banjir.
b. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), untuk data curah hujan, cuaca, dan peringatan dini banjir.
c. Badan Informasi Geospasial (BIG), untuk peta wilayah dan data spasial.
d. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), khususnya data sungai, drainase, dan pengelolaan sumber daya air.
e. Badan Pusat Statistik (BPS), yang menyediakan data dampak bencana dan kondisi wilayah.
f. Citra satelit dan penginderaan jauh, misalnya dari Landsat atau Sentinel, untuk memantau wilayah terdampak banjir.
g. Jurnal penelitian, laporan pemerintah daerah, berita, serta hasil observasi lapangan dan wawancara masyarakat.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

2513034006 Zaskia Rima Az Zahra གིས-
Nama: Zaskia Rima Az Zahra
NPM: 2513034006
Kelas: 2025 B

Izin menjawab ibu.
1. Seorang geografer memandang kejadian banjir sebagai suatu fenomena yang terjadi akibat hasil interaksi dari kondisi fisik lingkungan dengan aktivitas manusia. Dalam geografi, banjir dapat dianalisis menggunakan pendekatan geografi, yaitu pendekatan keruangan atau spasial, pendekatan ekologi, dan pendekatan kompleks wilayah.
- Melalui pendekatan keruangan atau spasial, seorang geografer akan mengkaji lokasi terjadinya banjir, pola persebarannga, dan karakteristik wilayah yang terdampak. Seperti, banjir umumnya terjadi di wilayah dataran rendah, daerah aliran sungai (DAS), dan kawasan perkotaan yang padat penduduk. Selain itu, seorang geografer akan memperhatikan bagaimana pola banjir tersebut menyebar, apakah berpola lokal atau akan menyebar ke berbagai wilayah.
- Pendekatan ekologi atau pendekatan lingkungan, seorang geografer akan melihat hubungan timbal balik antara manusia dengan lingkungannya dalam fenomena banjir. Faktor alam seperti curah hujan yang tinggi, kondisi tanah, kemiringan lereng, dan kapasitas sungai menjadi bagian penting dalam analisis. Akan tetapi, faktor manusia juga mempunyai peran besar, seperti alih fungsi lahan yang awalnya wilayah hutan menjadi permukiman, pembangunan yang tidak memperhatikan tata ruang, dan kebiasaan buruk manusia yang suka membuang sampah sembarangan seperti membuang sampah ke sungai yang dapat menghambat aliran air dan menyebabkan air meluap. Dengan ini, banjir dipahami sebagai akibat dari ketidakseimbangan antara sistem alam dan aktivitas manusia.
- Pendekatan kompleks wilayah, digunakan untuk membandingkan karakteristik antara wilayah satu dengan wilayah yang lainnya. Melalui pendekatan ini, seorang geografer dapat menjelaskan mengapa suatu daerah lebih rentan terhadap banjir dibandingkan dengan daerah lainnya. Contohnya, wilayah yang mempunyai curah hujan tinggi dan memiliki sistem drainase yang buruk akan lebih mudah mengalami banjir daripada wilayah yang datarannya tinggi dan mempunyai sistem drainase yang baik.

Selain itu, seorang geografer akan menganalisis dampak yang ditimbulkan dari fenomena banjir, baik dari segi sosial, ekonomi, dan lingkungan. Dalam segi sosial, dampak yang terjadi berupa pengungsian penduduk dan terganggunya aktivitas sehari-hari, dampak ekonomi berupa kerugian materi, dan dampak lingkungan seperti pencemaran air. Oleh karena itu, dalam geografi, banjir adalah fenomena yang kompleks yang dapat melibatkan berbagai faktor dan menimbulkan dampak yang luas terhadap kehidupan manusia.

2. Data fenomena banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai sumber terpercaya, seperti lembaga pemerintah, platform digital, ataupun hasil penelitian ilmiah. Sumber tersebut yang akan menjadi pendukung dalam analisis geografi untuk memahami pola, penyebab, dan dampak dari banjir.
Sumber utama adalah lembaga pemerintah seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), yang menyediakan data kejadian bencana secara nasional, termasuk banjir, berbentuk laporan ataupun statistik. Selain BNPB, ada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menjadi sumber penting karena menyediakan data terkait curah hujan, kondisi cuaca, dan iklim yang sangat mempengaruhi terjadinya fenomena banjir.
Selanjutnya, data juga dapat diperoleh dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), khususnya yang berkaitan dengan kondisi sungai, bendungan, dan sistem drainase. Kemudian, Badan Informasi Geospasial (BIG) menyediakan data berupa peta dan informasi geospasial yang dapat digunakan untuk menganalisis wilayah rawan banjir lebih dalam.

Selain lembaga pemerintah, terdapat platform berbasis teknologi seperi InaRisk yang menyediakan peta risiko bencana, termasuk banjir. Platform ini sangat membantu dalam melihat tingkat kerawanan suatu wilayah terhadap bencana.

Selanjutnya, data banjir dapat diperoleh juga melalui teknologi penginderaan jauh, seperti citra satelit dan pengguna Sistem Informasi Geografis (SIG). Melalui teknologi ini, peneliti dapat memantau kondisi wilayah terdampak banjir secara luas dan akurat tanpa harus datang langsung ke lokasi.
Selain itu, sumber lain seperti jurnal ilmiah, laporan penelitian, berita, serta observasi langsung di lapangan dapat digunakan juga sebagai data pendukung. Setelah mendapatkan berbagai sumber tersebut kemudian dapat dianalisis untuk mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif terkait fenomena banjir di Indonesia.
Dengan memanfaatkan sumber data tersebut, seorang geografer dapat melakukan analisis yang lebih luas dan akurat, sehingga dapat memberikan solusi yang tepat dalam mitigasi dan penganggulangan bencana banjir di Indonesia.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Firna Miladiah གིས-

Nama: Firna Miladiah 

MPM: 2513034038

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir?

Sebagai mahasiswa geografi, kita tidak bisa melihat banjir hanya sebagai “air meluap karena hujan deras”. Cara pandang geografi justru menempatkan banjir sebagai fenomena hasil interaksi antara sistem alam dan sistem manusia dalam suatu ruang. Dari sisi fisik, banjir memang dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, kondisi topografi yang rendah atau cekung, jenis tanah yang sulit menyerap air, serta kapasitas sungai dalam suatu daerah aliran sungai (DAS). Data dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) misalnya, sering menunjukkan bahwa intensitas hujan ekstrem menjadi pemicu utama kejadian banjir di banyak wilayah Indonesia.

Namun, jika berhenti di situ, analisis kita masih dangkal. Perspektif geografi justru menuntut kita untuk mengkritisi peran manusia. Alih fungsi lahan dari hutan atau sawah menjadi permukiman dan kawasan industri menyebabkan berkurangnya daya resap air. Urbanisasi yang tidak terkendali, terutama di kota-kota besar, menciptakan permukaan kedap air (aspal dan beton) yang mempercepat limpasan air. Selain itu, buruknya tata kelola drainase dan kebiasaan membuang sampah sembarangan memperparah kondisi banjir. Dalam konteks ini, banjir sering kali bukan sekadar “bencana alam”, tetapi juga “bencana sosial-ekologis” akibat kegagalan pengelolaan ruang.

Lebih jauh lagi, geografi melihat banjir sebagai fenomena spasial. Artinya, kita menganalisis pola persebaran wilayah terdampak, tingkat kerentanan masyarakat, hingga hubungan antara lokasi dengan tingkat risiko. Misalnya, daerah bantaran sungai cenderung memiliki risiko lebih tinggi, tetapi sering kali dihuni oleh kelompok masyarakat berpenghasilan rendah karena keterbatasan akses lahan. Hal ini menunjukkan bahwa banjir juga berkaitan dengan aspek sosial dan ekonomi, bukan hanya fisik. Oleh karena itu, seorang geografer akan mempertanyakan: apakah banjir ini bisa diprediksi? Apakah pola kejadiannya berulang? Dan apakah ada ketimpangan dalam distribusi risiko?


Dengan demikian, memandang banjir secara geografi berarti melihatnya secara holistik: menggabungkan aspek fisik, sosial, ekonomi, dan kebijakan dalam satu analisis keruangan. Pendekatan ini penting agar solusi yang ditawarkan tidak hanya bersifat teknis (misalnya membangun tanggul), tetapi juga menyentuh akar masalah seperti perencanaan tata ruang dan kesadaran masyarakat (BMKG, BNPB).



2. Darimana saja kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

Dalam konteks geografi, data adalah kunci utama untuk memahami dan menganalisis banjir secara komprehensif. Menariknya, data banjir di Indonesia sebenarnya sangat melimpah, tetapi tersebar di berbagai instansi dan memiliki karakteristik yang berbeda-beda.

Pertama, dari lembaga pemerintah, kita bisa mengakses data kejadian banjir melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), khususnya melalui sistem Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI). Data ini mencakup waktu kejadian, lokasi, jumlah korban, serta dampak kerusakan. Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyediakan data curah hujan, iklim, dan peringatan dini yang sangat penting untuk analisis penyebab banjir. Dari sisi infrastruktur air, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menyediakan data sungai, bendungan, serta sistem drainase.

Kedua, dari aspek geospasial, kita bisa memperoleh data citra satelit dan peta melalui Badan Informasi Geospasial (BIG). Data ini sangat penting untuk melihat perubahan penggunaan lahan, luas genangan, hingga analisis spasial lainnya. Selain itu, sumber global seperti NASA dan European Space Agency menyediakan citra satelit resolusi tinggi yang dapat digunakan untuk memantau banjir secara real-time maupun historis.

Ketiga, data juga dapat diperoleh dari sumber akademik seperti jurnal ilmiah, laporan penelitian, dan skripsi/tesis yang biasanya memberikan analisis lebih mendalam dan spesifik lokasi. Sumber ini penting karena sering kali menggabungkan berbagai jenis data dan metode analisis yang lebih kompleks.

Keempat, di era digital, data banjir juga bisa berasal dari crowdsourcing, seperti media sosial, aplikasi pelaporan bencana, atau platform berbasis masyarakat. Meskipun data ini cepat dan aktual, seorang geografer harus tetap kritis dalam menilai validitas dan akurasinya.

Yang perlu ditekankan, seorang mahasiswa geografi tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga harus mampu mengevaluasi kualitas data tersebut. Setiap sumber memiliki kelebihan dan keterbatasan, baik dari segi skala, resolusi, maupun potensi bias. Oleh karena itu, pendekatan yang paling tepat adalah mengombinasikan berbagai sumber data (data triangulation) agar menghasilkan analisis yang lebih akurat dan dapat dipertanggungjawabkan (BNPB, BIG, NASA).

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Sofi Hikmah Nurjanah 2513034014 གིས-
Nama: Sofi Hikmah Nurjanah
Npm: 2513034014

1. Dalam geografi, banjir dikaji melalui tiga pendekatan, yaitu pendekatan keruangan dengan melihat di mana banjir terjadi dan bagaimana pola persebarannya, pendekatan kelingkungan dengan memahami hubungan antara aktivitas manusia dan kondisi alam yang dapat memperparah banjir, serta pendekatan kewilayahan dengan menelaah karakteristik suatu daerah secara menyeluruh seperti kondisi fisik, kepadatan penduduk, dan tata ruangnya sehingga dapat diketahui tingkat kerawanan dan upaya penanganannya.

2. Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari beberapa instansi resmi, seperti:
•Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyediakan data kejadian banjir, jumlah korban, serta dampak kerusakan.

•Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyediakan data curah hujan, prakiraan cuaca, dan peringatan dini cuaca ekstrem.

•Badan Informasi Geospasial (BIG) menyediakan peta dasar, peta topografi, dan data geospasial wilayah rawan banjir.

•Badan Pusat Statistik (BPS) menyediakan data kependudukan dan dampak sosial ekonomi akibat banjir.

•Pemerintah Daerah (BPBD setempat) menyediakan data kejadian banjir di tingkat provinsi atau kabupaten/kota.

•Jurnal penelitian dan citra satelit. Digunakan untuk analisis lebih lanjut mengenai pola dan penyebab banjir.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Luthviana Zulfa གིས-

Assalamu'alaikum wr, wb. Izin menjawab pertanyaan

Nama : Luthviana Zulfa 

Npm : 2513034037


1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 

Seorang geografer melihat banjir sebagai hasil interaksi kompleks antara alam dan aktivitas manusia, faktor fisik, sosial, dan alam. Pendekatannya biasanya meliputi:

a. Pendekatan keruangan (spasial)

Geografer menganalisis:

1. Di mana banjir terjadi (pola persebaran)

2. Wilayah rawan (dataran rendah, bantaran sungai, daerah hilir)

3. Hubungan dengan penggunaan lahan (permukiman, sawah, kota)

Contoh: daerah perkotaan padat dengan drainase buruk lebih rentan banjir.


b. Pendekatan kelingkungan (ekologi)

Banjir dilihat sebagai akibat interaksi:

1. Curah hujan tinggi

2. Kondisi tanah (daya serap/infiltrasi)

3. Kerusakan lingkungan (deforestasi, alih fungsi lahan)

Artinya, banjir bukan hanya “bencana alam”, tetapi juga bisa dipicu oleh ulah manusia.


c. Pendekatan kompleks wilayah

Geografer mengaitkan berbagai faktor:

1. Hulu–hilir sungai

2. Aktivitas manusia (industri, urbanisasi)

3. Sistem pengelolaan wilayah

Misalnya: banjir di hilir bisa dipengaruhi oleh kerusakan hutan di hulu.


2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

a. Instansi pemerintah 

Melalui 

- Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

- Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)


b. Data penginderaan jauh (teknologi satelit)

Citra satelit (misalnya Landsat, Sentinel)

Digunakan untuk:

Melihat luas genangan, Perubahan penggunaan lahan, Monitoring banjir secara real-time.


c. Data lapangan (observasi langsung)

Pengukuran tinggi muka air, Wawancara masyarakat, Dokumentasi kejadian.


d. Data sekunder (literatur dan media)

Bisa melalui Jurnal ilmiah, Laporan penelitian, Berita terpercaya


e. Sistem informasi dan platform digital

- InaRISK (peta risiko bencana)

- Google Earth / GIS

- Dashboard bencana online

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Tesi Aprilia 2513034035 གིས-
Nama : Tesi Aprilia
Npm : 2513034035

1. Bagaimana Seorang Geografi Memandang Kejadian Banjir?

Dalam kajian geografi, banjir bisa kita pahami sebagai sebuah fenomena yang terjadi karena interaksi antara faktor alam dan juga aktivitas manusia dalam suatu ruang. Misalnya curah hujan yang tinggi, kondisi topografi yang rendah, jenis tanah, serta kapasitas aliran sungai menjadi penyebab alami utama banjir. Kondisi ini semakin diperparah oleh aktivitas manusia seperti alih fungsi lahan, pertumbuhan permukiman yang tidak terencana, serta sistem drainase yang kurang baik.

Selain itu geografi tidak hanya melihat penyebabnya, tetapi juga menganalisis persebaran wilayah terdampak menggunakan pendekatan spasial seperti peta dan Sistem Informasi Geografis. Penelitian yang ada di Indonesia menunjukkan bahwa variabel seperti curah hujan, kemiringan lereng, penggunaan lahan, dan jenis tanah sangat berpengaruh dalam menentukan tingkat kerawanan banjir.

2. Sumber Data Banjir di Indonesia

Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai sumber yang saling melengkapi. Seperti lembaga pemerintah misalnya BNPB, BMKG, dan Badan Informasi Geospasial yang menyediakan data kejadian, curah hujan, serta peta wilayah rawan bencana. Selain itu, data juga bisa didapat dari hasil penelitian ilmiah di jurnal yang menggunakan pendekatan SIG, citra satelit, dan survei lapangan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemanfaatan SIG berbasis web mampu menyajikan informasi daerah rawan banjir secara lebih akurat dan juga mudah diakses. Data hidrologi, tata guna lahan, serta perkembangan wilayah juga sering digunakan untuk menganalisis risiko banjir secara lebih mendalam.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Allifiya Zaliyanti གིས-

Nama: Allifiya Zaliyanti

NPM: 2513034005

1. Sebagai seorang geografi, kita memandang banjir bukan sekadar bencana alam, melainkan fenomena hidrometeorologis yang kompleks hasil interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia. Dalam ilmu geografi  banjir dianalisis menggunakan pendekatan yang holistik dan integratif untuk memahami bagaimana fenomena tersebut terbentuk serta dampaknya bagi suatu wilayah. Berikut adalah sudut pandang utama geografi: 

a) Pendekatan Keruangan: Geografi memandang banjir melalui persebaran spasialnya, menganalisis mengapa banjir terjadi di titik-titik tertentu berdasarkan karakteristik fisik wilayah, seperti kemiringan lereng, kondisi geologi, dan sistem drainase.

b) Pendekatan Ekologi (Lingkungan): Perspektif ini meninjau interaksi antara aktivitas manusia dengan lingkungan fisik, misalnya bagaimana alih fungsi lahan atau pengelolaan sampah yang buruk oleh manusia dapat memicu atau memperparah banjir.

c) Konsep Keterkaitan Keruangan: Banjir sering kali dipandang sebagai peristiwa yang tidak berdiri sendiri, di mana kejadian di satu lokasi (seperti dataran tinggi) dapat berdampak langsung pada lokasi lain (seperti dataran rendah), yang dikenal dengan istilah banjir kiriman.

d) Pendekatan Kompleks Wilayah: Menggabungkan analisis keruangan dan ekologi untuk membedah banjir sebagai fenomena yang dipengaruhi oleh karakteristik unik setiap tempat, memadukan faktor alamiah dan intervensi manusia

2. Untuk mendukung analisis geografi, kita dapat melihat berbagai sumber data resmi  mengenai kejadian banjir di Indonesia yaitu:

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB): Merupakan sumber data utama yang menyediakan statistik kejadian bencana alam, termasuk banjir, secara nasional melalui laporan tahunan atau platform Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI).

Portal Satu Data Indonesia: Menyediakan berbagai dataset terkait kejadian bencana yang terdokumentasi per provinsi atau kabupaten/kota, yang sangat berguna untuk analisis spasial dan temporal.

Lembaga Penelitian dan Akademisi: Jurnal-jurnal ilmiah, seperti Jurnal Dialog Penanggulangan Bencana, sering memuat data hasil penelitian lapangan, observasi langsung, dan analisis teknis mengenai fenomena banjir di wilayah spesifik.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG): Memberikan data pendukung krusial berupa curah hujan, pola iklim, dan peringatan dini yang menjadi faktor pemicu utama (hidrometeorologis) terjadinya banjir.


In reply to First post

Re: Analisis Banjir

2513034051 Shinta Agustinanda གིས-
Nama: Shinta Agustinanda
NPM: 2513034051
Kelas: 2025/B


1. Cara pandang geografi terhadap banjir
Dalam ilmu geografi, banjir dipandang sebagai fenomena hasil interaksi kompleks antara kondisi fisik alam dan aktivitas manusia dalam suatu ruang. Artinya, geografer tidak hanya melihat “banjir terjadi karena hujan deras”, tapi menganalisis mengapa di lokasi tertentu banjir terjadi, bagaimana polanya, dan apa kaitannya dengan wilayah lain.

Pendekatan geografi terhadap banjir biasanya meliputi:

Pendekatan keruangan (spasial)
Banjir dianalisis berdasarkan lokasi dan persebarannya. Misalnya, mengapa daerah dataran rendah atau hilir sungai lebih sering banjir dibandingkan daerah tinggi.
Pendekatan kelingkungan (ekologi)
Melihat hubungan timbal balik manusia dan lingkungan. Contohnya, alih fungsi hutan menjadi permukiman mengurangi daya serap air sehingga meningkatkan risiko banjir.
Pendekatan kewilayahan (regional)
Mengkaji keterkaitan antarwilayah, seperti hubungan antara daerah hulu dan hilir sungai. Kerusakan di hulu bisa menyebabkan banjir di wilayah hilir. Selain itu, geografer juga mempertimbangkan:

Faktor alam: curah hujan, topografi, jenis tanah, kondisi DAS
Faktor manusia: urbanisasi, tata ruang, drainase, penggunaan lahan
Dampak: sosial, ekonomi, dan lingkungan

Jadi intinya, dalam geografi, banjir dilihat sebagai fenomena yang memiliki pola, penyebab berlapis, serta keterkaitan ruang, sehingga bisa dianalisis untuk mitigasi dan perencanaan wilayah yang lebih baik.

2. Sumber data banjir di Indonesia
Data banjir bisa diperoleh dari berbagai sumber, baik pemerintah maupun non-pemerintah:

Instansi pemerintah:
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) → data kejadian, korban, dan kerugian
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika → data curah hujan, cuaca ekstrem
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat → data sungai, bendungan, dan drainase
Badan Informasi Geospasial → peta dasar dan data spasial
Badan Pusat Statistik → data sosial ekonomi dampak banjir

Sumber lain:
Pemerintah daerah (BPBD) → data lokal lebih detail
Citra satelit (misalnya Landsat, Sentinel) → analisis genangan dan perubahan lahan
Jurnal/penelitian akademik → kajian penyebab dan mitigasi
Media dan laporan lapangan → informasi kejadian terkini
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Danda Nur Setiawan 2513034050 གིས-
Nama: Danda Nur Setiawan
NPM: 2513034050

1. Seorang geografi tidak melihat banjir sekadar "bencana air meluap", melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara alam dan aktivitas manusia dalam ruang. Dari sudut pandang fisik, banjir dipahami sebagai bagian dari sistem hidrologi. Curah hujan tinggi, kondisi topografi yang datar hingga jenis tanah yang kurang menyerap air. Dalam pandangan ini, banjir sebenarnya adalah proses alamiah yan sudah dirancang alam. Sedangkan, dari sudut pandang sosial, banjir sering diperparah oleh aktivitas manusia. Alih fungsi lahan, pembangunan di bantaran sungai, sistem drainase yang buruk, hingga perilaku membuang sampah sembarangan membuat kapasitas lingkungan menurun. Artinya, banjir bukan hanya fenomena alam, tapi juga hasil keputusan manusia dalam memanfaatkan ruang. Dalam kajian geografi, banjir dapat dianalisis melalui tiga pendekatan utama, yaitu pendekatan keruangan, ekologis, dan regional. Melalui pendekatan keruangan, banjir dikaji berdasarkan lokasi, persebaran, dan pola kejadiannya. Geografer menganalisis mengapa banjir bisa terjadi di wilayah tertentu, bagaimana pola alirannya, dan bagaimana keterkaitannya dengan pemanfaatan ruang. Pendekatan ekologis melihat banjir sebagai hasil interaksi antara unsur alam dan aktivitas manusia. Dalam hal ini, geografi fisik berperan dalam memahami curah hujan ataupun aliran sungai. Sementara, geografi sosial menjelaskan bagaimana aktivitas manusia dapat memperparah banjir. Terakhir, pendekatan regional mengkaji karakteristik banjir secara menyeluruh di wilayah tertentu. Setiap wilayah berbeda kondisi fisik dan sosial sehingga penanganan disesuaikan dengan karakteristik wilayah tersebut.


2. Untuk mendapatkan data banjir di Indonesia terdapat beberapa sumber, antara lain:
  1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB): menyediakan data kejadian banjir, jumlah korban,kerusakan, dan laporan resmi bencana.
  2. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG): data curah hujan, cuaca ekstrem, perkiraan cuaca berkaitan dengan potensi banjir.
  3. Badan Informasi Geospasial (BIG): menyediakan peta dasar, peta topografi, dan data geospasial pendukung analisis banjir.
  4. Kementrian PUPR: data sungai, drainase, serta daerah rawan banjir.
  5. Citra satelit dari NASA dan satelit landsat serta sentinel: untuk melihat wilayah tergenang, perubahan kondisi permukaan sebelum dan sesudah banjir.
  6. Platform InaRISK: untuk melihat peta risiko banjir di Indonesia.
  7. Data lapangan (observasi, wawancara)
  8. Jurnal ilmiah dan laporan penelitian kampus atau lembaga.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Maharani Naira Az Zahra གིས-
Nama: Maharani Naira Az Zahra
NPM: 2513034071

Sebagai mahasiswa pendidikan geografi, saya memandang banjir bukan sekadar peristiwa air yang meluap dan menggenangi permukiman. Banjir adalah sebuah fenomena yang kompleks yamg lahir dari pertemuan antara sistem alam dan sistem sosial yang saling berinteraksi di atas suatu ruang tertentu. Untuk memahaminya secara utuh seorang geograf perlu melihat melalui tiga landasan berpikir geografi: ontologi, epistemologi, dan aksiologi
Secara ontologis, banjir dipahami sebagai fenomena keruangan yakni ketidakseimbangan antara sistem hidrologis, klimatologis, dan geomorfologis dengan ruang yang ditempati manusia. Artinya, banjir bukan semata-mata salah alam, bukan pula semata-mata salah manusia. Ia adalah hasil dari interaksi keduanya di suatu wilayah yang memiliki karakteristik fisik tertentu. Inilah titik awal fakta bahwa segala sesuatu di muka bumi termasuk banjir tidak terjadi begitu saja, melainkan terhubung dalam sebuah sistem yang tersebar di ruang dan waktu.
Setelah menetapkan bahwa banjir adalah fenomena keruangan yang lahir dari interaksi alam dan manusia (ontologi), pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana cara kita mengetahuinya? Di sinilah epistemologi geografi berperan. Geografi mengkaji banjir melalui tiga pendekatan yang saling melengkapi.
Pertama, pendekatan keruangan kita memetakan persebaran daerah rawan banjir, menganalisis pola aliran sungai, serta mendistribusikan data curah hujan menggunakan peta dan Sistem Informasi Geografis (SIG). Kedua, pendekatan ekologis kita menelusuri hubungan sebab akibat antara manusia dan lingkungannya seperti bagaimana alih fungsi lahan, deforestasi, dan urbanisasi yang masif secara perlahan memperparah kejadian banjir. Ketiga, pendekatan kompleks wilayah kita menyadari bahwa tidak ada banjir yang sepenuhnya sama antara satu daerah dengan daerah lain, karena setiap wilayah memiliki kondisi fisik, sosial, dan budaya yang khas. Ketiga pendekatan ini bekerja bersama untuk menghasilkan pemahaman yang menyeluruh tentang banjir bukan hanya dari satu sisi, tetapi dari berbagai dimensi secara bersamaan.
Jika ontologi menjawab 'apa', dan epistemologi menjawab 'bagaimana kita tahu', maka aksiologi menjawab 'untuk apa'. Pemahaman geografi tentang banjir tidak boleh berhenti di tataran akademik semata. Ia harus memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Kajian geografi tentang banjir berguna untuk pemetaan zona risiko, perencanaan tata ruang berbasis kebencanaan, edukasi mitigasi kepada masyarakat, hingga menjadi landasan ilmiah bagi pengambil kebijakan. Dengan demikian, ketiga landasan ini ontologi, epistemologi, dan aksiologi tidak bisa dipisahkan. Kita memahami banjir sebagai fenomena ruang (ontologi), kita mengkajinya dengan metode yang tepat (epistemologi), dan kita menggunakan pengetahuan itu untuk mencegah dan mengurangi dampaknya (aksiologi). Itulah cara pandang geografi yang sesungguhnya.

2. Sumber Data Banjir di Indonesia
. Berikut adalah sumber-sumber data banjir yang dapat diakses di Indonesia:
a) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
BNPB merupakan instansi pemerintah pusat yang menjadi rujukan utama data kebencanaan nasional, termasuk banjir. Data yang tersedia meliputi: jumlah kejadian banjir per tahun, jumlah korban jiwa dan pengungsi, kerugian materil, serta sebaran lokasi kejadian banjir. Data dapat diakses melalui portal resmi bnpb.go.id dan aplikasi inaRISK.
b) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
BPBD di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota memiliki data banjir yang lebih spesifik dan detail untuk wilayahnya masing-masing. Data BPBD mencakup laporan kejadian banjir secara real-time, peta daerah rawan banjir lokal, serta data historis bencana di daerah tersebut. Data ini sangat berguna untuk analisis banjir pada skala regional.
c) Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
BMKG menyediakan data hidrometeorologi yang sangat relevan untuk analisis banjir, seperti data curah hujan harian, data debit sungai, prakiraan cuaca ekstrem, serta peringatan dini banjir (early warning system). Data ini dapat diakses melalui website resmi bmkg.go.id.
d) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)
Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air memiliki data terkait Daerah Aliran Sungai (DAS), peta genangan banjir, data infrastruktur pengendali banjir (bendungan, tanggul, pintu air), serta hasil pemodelan hidrologi wilayah sungai di seluruh Indonesia.
e) Badan Informasi Geospasial (BIG)
BIG menyediakan data geospasial dasar yang mendukung analisis banjir secara spasial, seperti peta topografi, peta Digital Elevation Model (DEM), peta tata guna lahan, dan peta jaringan sungai. Data BIG dapat diakses melalui portal tanahair.indonesia.go.id.
f) Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) / BRIN
LAPAN yang kini bergabung dalam BRIN menyediakan data penginderaan jauh (remote sensing) berupa citra satelit sebelum, saat, dan sesudah banjir terjadi. Data ini sangat berharga untuk pemetaan area terdampak banjir (flood inundation mapping) secara akurat dan cepat.
g) Badan Pusat Statistik (BPS)
BPS menyediakan data statistik terkait kejadian bencana banjir yang termuat dalam publikasi tahunan seperti Statistik Indonesia dan Statistik Lingkungan Hidup Indonesia. Data ini berguna untuk analisis tren dan perbandingan antar wilayah dari tahun ke tahun.
h) Media dan Platform Digital / Open Data
Selain instansi pemerintah, data banjir juga dapat diperoleh dari platform open data internasional seperti Global Flood Database (GFD), Global Flood Awareness System (GloFAS) dari Uni Eropa, serta portal data terbuka data.go.id milik pemerintah Indonesia. Selain itu, laporan dari media massa dan foto/video masyarakat di media sosial juga dapat menjadi data pendukung (crowdsourcing data) dalam analisis kejadian banjir.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Fauziah Dzatir Rajwa གིས-

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, izin memperkenalkan diri:

Nama: Fauziah Dzatir Rajwa

NPM: 2513034015

sebelumnya izin menjawab ya ibu,

1. Bagaimana seorang geografi memandang kejadian banjir?

Jadi bagaimana sih sebenarnya seorang geografi melihat banjir? jadi seorang geografi melihat banjir bukan hanya karena diakibatkan oleh hujan deras saja, tetapi sebagai kejadian yang dipengaruhi oleh banyak hal, baik dari alam maupun aktivitas manusia. Dalam geografi, banjir dipelajari melalui tiga pendekatan utama, yaitu keruangan (di mana?), kelingkungan (kenapa?), dan kompleks wilayah (gimana keseluruhannya?).

A. Pendekatan Keruangan (Spatial)

Pendekatan keruangan fokus pada pertanyaan: banjir terjadi di mana dan kenapa di tempat itu? Nah dalam pendekatan ini, geografi melihat lokasi banjir dan pola persebarannya. Misalnya, daerah yang berada di dataran rendah biasanya lebih mudah terkena banjir karena air dari daerah tinggi akan mengalir ke bawah. Selain itu, daerah yang dekat sungai juga lebih berisiko, apalagi kalau sungai tidak mampu menampung air saat hujan deras. Hal lain yang dilihat adalah curah hujan. Kalau hujan turun sangat deras dalam waktu singkat, air akan lebih cepat menggenang karena tanah tidak sempat menyerap air.

Contoh sederhana:
Kalau sebuah rumah berada di dekat sungai dan posisinya lebih rendah dari jalan, rumah itu biasanya lebih mudah terkena kebanjiran.

B. Pendekatan Kelingkungan (Ekologi)

Pendekatan ini fokus pada hubungan manusia dengan lingkungan. Artinya, geograf ingin tahu: apa yang dilakukan manusia sehingga banjir bisa terjadi? Banjir sering terjadi karena lingkungan sudah rusak. Misalnya, hutan ditebang sehingga air hujan tidak terserap akar pohon. Lalu banyak lahan hijau diubah menjadi perumahan atau jalan beton, sehingga air tidak bisa masuk ke tanah dan akhirnya mengalir di permukaan. Masalah lain adalah sampah yang dibuang ke sungai. Sampah bisa menyumbat aliran air dan membuat sungai meluap. Jadi banjir tidak selalu terjadi karena hujan deras saja, tetapi juga karena manusia kurang menjaga lingkungan.

C. Pendekatan Kompleks Wilayah

Pendekatan ini melihat banjir secara lebih lengkap, karena menggabungkan semua faktor yang ada di suatu wilayah. Seorang Geografi tidak hanya melihat kondisi alam seperti hujan, sungai, atau tanah, tetapi juga melihat kondisi masyarakat, seperti kepadatan penduduk, kualitas drainase, dan aturan tata ruang. Misalnya di kota besar, banjir bisa lebih parah karena banyak bangunan, sedikit lahan hijau, saluran air sempit, dan jumlah penduduk nya sangat padat. Yang dilihat dalam pendekatan ini: Kondisi alam (hujan, sungai, tanah), Kondisi masyarakat (jumlah penduduk, kebiasaan), Kondisi pembangunan (drainase, tata kota)

Contoh:
Di kota besar, walaupun hujan hanya beberapa jam, banjir bisa cepat terjadi karena air sulit meresap.

Jadi Kesimpulannnya: seorang geografi melihat banjir dari banyak sisi, bukan hanya dari hujannya saja. tetapi seorang geograf itu bertanya:

Di mana banjir terjadi? (keruangan)Apa penyebabnya? (kelingkungan)
Bagaimana kondisi wilayahnya? (kompleks wilayah)

Dengan cara ini, solusi banjir bisa lebih tepat, seperti memperbaiki drainase, menjaga hutan, membersihkan sungai, dan mengatur pembangunan.


2. Dari mana kita bisa mendapatkan data banjir di Indonesia?

Data banjir bisa didapat dari berbagai tempat. Data ini penting supaya kita tahu kapan banjir terjadi, seberapa parah dampaknya, dan daerah mana yang paling rawan.

A. Instansi Pemerintah

Pemerintah punya data banjir yang cukup lengkap. beberapa sumbernya:

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)
    Menyediakan data kejadian banjir, jumlah korban, dan kerusakan.
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)
    Menyediakan data hujan dan cuaca ekstrem.
  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
    Menyediakan data sungai, bendungan, dan drainase.
  • Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)
    Menyediakan data banjir di daerah masing-masing.

B. Satelit dan Peta

Data banjir juga bisa dilihat dari citra satelit dan peta digital. Contohnya:

  • Badan Informasi Geospasial (BIG) → peta rawan banjir
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) → data penelitian dan citra satelit
  • Google Earth Engine → analisis banjir dari citra satelit

Keuntungan dari data satelit adalah kita bisa melihat daerah banjir dari atas dan lebih luas.

C. Platform Digital Kebencanaan

Sekarang ada platform digital yang bisa diakses online, seperti:

  • InaRISK → melihat peta risiko banjir
  • InaSAFE → simulasi dampak banjir

Platform ini membantu masyarakat memahami daerah rawan bencana.

D. Lapangan dan Media

Selain data resmi, informasi banjir juga bisa didapat dari:

  • Berita atau media online
  • Pengamatan langsung di lokasi
  • Wawancara dengan masyarakat
  • Penelitian dan jurnal kampus

Biasanya data ini membantu untuk mengetahui kondisi terbaru di lapangan.

 


In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Silvia Mustika Dewi 2513034056 གིས-

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, selamat pagi Ibu,izin mengirimkan tugas.

Nama:Silvia Mustika Dewi

NPM:2513034056

Kelas :2025B

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir?

Dalam geografi, banjir tidak hanya dilihat sebagai peristiwa alam biasa, tetapi sebagai hasil interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia dalam suatu ruang (wilayah).

Banjir dipengaruhi oleh curah hujan tinggi, kondisi topografi (dataran rendah lebih rawan), jenis tanah, serta kondisi sungai. Sementara dari sisi manusia, banjir sering diperparah oleh penggunaan lahan yang tidak tepat seperti penebangan hutan, pembangunan di daerah resapan air, dan buruknya sistem drainase.

Banjir secara keruangan (spasial), yaitu di mana lokasi rawan banjir, bagaimana pola persebarannya, serta bagaimana hubungan antar wilayah (misalnya banjir di hilir dipengaruhi kondisi di hulu). Selain itu, geografi juga menekankan analisis waktu (temporal) untuk melihat kapan banjir sering terjadi dan bagaimana perubahannya dari tahun ke tahun.


2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana,badan ini menyediakan data kejadian bencana,termasuk banjir dari skala nasional sampai daerah.

2. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika, menyediakan data curah hujan,cuaca dan iklim yang sangat berkaitan dengan penyebab banjir.

3. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat ,menyediakan data bendungan,data sungai dan sistem drainase.

4. Badan Informasi Geospasial,badan ini menyediakan data melalui peta dan data spasial seperti peta rawan banjir

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Fillah Lutfiana གིས-

Assalamualaikum Wr. Wb. Izin memperkenalkan diri ibu,

Nama : Fillah Lutfiana

NPM : 2553034001

Kelas : 20205B

Izin menjawab ibu,

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir?

Seorang Geografi melihat banjir memalui 3 pendekatan 

Pendekatan Keruangan : Banjir terjadi karena adanya perbedaan karakteristik ruang di suatu wilayah. Wilayah yang berada di dataran rendah, bantaran sungai, atau kawasan pesisir memiliki risiko lebih tinggi terkena banjir dibandingkan wilayah lainnya. Karena disebabkan oleh faktor topografi yang rendah maka air cenderung mengalir dan menggenang disuatu wilayah. Melalui pendekatan ini, kitab isa menganalisis pola persebaran dan lokasi daerah rawan banjir menggunakan peta, SIG, dan penginderaan jauh.

Pendekatan Ekologi : Seorang Geografi memandang banjir sebagai cerminan dari ketidakseimbangan hubungan antara manusia dan lingkungannya. Banjir tidak semata-mata disebabkan oleh curah hujan yang tinggi, tetapi juga dipicu oleh alih fungsi lahan, deforestasi di daerah hulu, berkurangnya daerah resapan air, serta menurunnya kualitas ekosistem daerah aliran sungai (DAS). Pendekatan ini membantu memahami permasalahan banjir secara lebih menyeluruh, yakni sebagai akibat dari interaksi yang tidak seimbang antara aktivitas manusia dan kondisi lingkungan alam.

Pendekatan Kewilayahan : Banjir terjadi karena berbagai faktor fisik dan sosial yang saling berkaitan dalam suatu wilayah. Faktor fisik seperti curah hujan tinggi, topografi datar, dan jenis tanah kedap air, diperparah oleh faktor sosial seperti kepadatan penduduk, kemiskinan, dan buruknya tata ruang wilayah. Inilah yang menyebabkan suatu wilayah memiliki tingkat kerentanan banjir yang berbeda-beda. Oleh karena itu, penanganan banjir harus dilakukan secara menyeluruh sesuai karakteristik masing-masing wilayah.

2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

Sumber Data Banjir di Indonesia

1.BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) Data kejadian banjir nasional, korban dan kerugian.

2.BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi & Geofisika) Data curah hujan, peringatan dini banjir dan data klimatologi. 

3.BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Data debit sungai, tinggi muka air, peta DAS. 

4.BIG (Badan Informasi Geospasial) Peta topografi. 

5.LAPAN / BRINData satelit penginderaan jauh (citra Sentinel, Landsat) untuk pemantauan sumber daya alam, pemetaan wilayah dan mitigasi bencana.

6.BPBD Provinsi/Kabupaten Data banjir tingkat regional.

7.Pusat Data BPBD & Siaga Bencana Laporan kejadian banjir di tingkat daerah.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Fauziah Hertanti Semangi གིས-

1. Bagaimana seorang geografi memandang kejadian banjir

Dalam perspektif geografi, banjir dipahami melalui tiga pendekatan utama. Pertama, pendekatan keruangan melihat banjir dari sisi lokasi dan persebarannya. Geografer akan mengamati di mana banjir sering terjadi, seperti di dataran rendah, bantaran sungai, atau kawasan padat penduduk, serta bagaimana pola penyebarannya di suatu wilayah. Kedua, pendekatan kelingkungan menekankan bahwa banjir merupakan hasil interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia. Curah hujan tinggi, kondisi sungai, serta kerusakan lingkungan akibat alih fungsi lahan atau buruknya drainase menjadi faktor yang saling berkaitan. Ketiga, pendekatan kompleks wilayah memandang banjir secara menyeluruh dengan melihat keterkaitan antar wilayah, misalnya hubungan antara daerah hulu yang mengalami kerusakan hutan dengan daerah hilir yang terdampak banjir. Dengan demikian, banjir tidak dilihat secara sederhana, tetapi sebagai fenomena yang melibatkan berbagai faktor yang saling terhubung.


2. Darimana saja kita bisa mendapatkan data banjir di Indonesia

Data banjir di Indonesia dapat diperoleh dari berbagai instansi resmi pemerintah yang menyediakan informasi terkait kebencanaan, lingkungan, dan kondisi wilayah. Salah satunya adalah Badan Nasional Penanggulangan Bencana yang menyediakan data kejadian bencana secara nasional, termasuk banjir. Selain itu, BMKG memberikan data curah hujan dan kondisi cuaca yang sangat berpengaruh terhadap terjadinya banjir. 

Data mengenai kondisi lingkungan dan penggunaan lahan dapat diperoleh dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, sedangkan informasi terkait peta wilayah dan topografi dapat diakses melalui Badan Informasi Geospasial. Di tingkat daerah, data banjir juga dapat diperoleh dari (BPBD) yang mencatat kejadian banjir secara lebih spesifik. Selain itu, Badan Pusat Statistik juga menyediakan data pendukung seperti kondisi wilayah dan jumlah penduduk terdampak. Dengan memanfaatkan berbagai sumber tersebut, informasi mengenai banjir dapat diperoleh secara lengkap dan akurat.


In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Fadhil Juel Mountana Sembiring 2513034068 གིས-

Nama: Fadhil Juel Mountana Sembiring

Npm: 2513034068

Kelas: 2025 B

1.bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 

sebagai seorang geografi, kita memandang banjir bukan hanya peristiwa air meluap ke daratan, tapi kita sebagai orang geografi memandang banjir sebagai satu fenomena geosfer yang di lihat dari 3 sudut pandang berbeda yaitu, pendekatan keruangan, pendekatan ekologi dan pendekatann kewilayahan. 

tiga sudut pandang ini yang membantu seorang geografi memahami fenomena geosfer. 

1. sudut pandang/pendekatan keruangan

dalam sudut pandang keruangan seorang geografi melihat fenomena banjir, dari lokasi, jarak dan hubungan antar unsur yang terjadi dalam suatu ruang. 

pada sudut pandang keruangan orang geografi melihat hubungan antar aspek topografi yang ada pada suatu ruang, seperti dataran rendah, dataran tinggi, kemiringan lereng, dll. dari data tersebut lalu digunakan untuk memahami fenomena banjir yang terjadi. 

2. sudut pandang/pendekatan lingkungan

dalam pendekatan lingkungan fenomena banjir dilihat sebagai interaksi antara manusia dan lingkungan yang menyebabkan banjir. 

sebagai orang geografi kita melihat bagaimana aktivitas manusia yang menyebabkan banjir, seperti penebangan hutan di wilayah hulu sungai, pembangunan kota yang tidak memperhatikan tata letak dan juga ruang terbuka hijau sehingga air tidak dapat menyerap ke dalam tanah, pembuangan sampah ke sungai atau membuang sampah sembarangan juga bisa menjadi faktor utama banjir. 

3. sudut pandang/pendekatan kewilayahan

pendekatan kewilayahan adalah gabungan dari pendekatan keruangan dan ekologi. dalam pendekatan kewilayahan banjir tidak dapat di pisahkan dari keterikatan antar wilayah yang saling mempengaruhi. 

seorang geografi melihat interaksi antar wilayah yang saling mempengaruhi seperti, penebangan hutan di hulu sungai yang menyebabkan peningkatan debit air di hilir, tata letak kota yang tidak relevan dan juga kepadatan penduduk dapat menyebabkan banjir di suatu wilayah, faktor keruangan dan lingkungan saling berkaitan dan juga di hubungkan dengan antar wilayah yang mempengaruhi, banjir dapat terjadi di kota dikarenakan penebangan hutan di wilayah hilir, pembuangan sampah di daerah pedesaan juga dapat menyebabkan penyumbatan daerah aliran sungai yang menyebabkan banjir. 


2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?


1. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB)

BNPB merupakan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dalam penanggulangan bencana di Indonesia. BNPB menyediakan data kejadian banjir, jumlah korban, kerusakan, dan wilayah terdampak melalui berbagai portal data kebencanaan nasional.

2. InaRISK

InaRISK adalah portal kajian risiko bencana yang dikembangkan oleh BNPB. Portal ini menyediakan informasi mengenai peta ancaman banjir, tingkat risiko bencana, serta potensi kerugian yang mungkin terjadi di berbagai wilayah Indonesia

3. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG)

BMKG menyediakan data yang berkaitan dengan faktor penyebab banjir, terutama data meteorologi seperti curah hujan, prakiraan cuaca, dan potensi hujan ekstrem.

4. Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR)

Kementerian PUPR melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air menyediakan data mengenai daerah rawan banjir, sistem drainase, sungai, dan pengelolaan daerah aliran sungai (DAS).

5. Badan Informasi Geospasial (BIG)

BIG menyediakan berbagai data geospasial nasional, seperti peta dasar Indonesia (RBI), peta penggunaan lahan, dan peta topografi.

6. Geoportal Kebencanaan Indonesia

Geoportal Kebencanaan merupakan sistem informasi spasial yang mengintegrasikan berbagai data bencana dari banyak sumber.

7. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD)

BPBD merupakan lembaga penanggulangan bencana di tingkat provinsi atau kabupaten/kota. Lembaga ini biasanya memiliki data banjir yang lebih rinci di tingkat daerah, seperti lokasi banjir, kronologi kejadian, serta dampak yang terjadi pada masyarakat.

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Maria Valentina Sekar Indah གིས-
Assalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
Nama : Maria Valentina Sekar Indah
NPM : 2513034024
Izin untuk mengirim tugas dari analisis banjir

1. Sebagai seorang geografi, kita tidak cuma lihat banjir sebagai "air meluap". Kita bedah dari ruang, waktu, dan interaksi manusia-lingkungan.

Seorang geografi memandang banjir lewat pendekatan keruangan, kelingkungan, dan kewilayahan:

- Pendekatan Keruangan: Banjir dilihat sebagai fenomena yang punya pola persebaran. Kita tanya: _Di mana banjir terjadi? Mengapa di daerah itu?_ Misalnya, banjir lebih sering di dataran rendah, daerah cekungan, atau dekat sungai besar seperti Bengawan Solo dan Ciliwung. Kita juga lihat hubungan antara hulu-hilir DAS. Hutan di hulu gundul → aliran permukaan besar → banjir di hilir.

- Pendekatan Kelingkungan: Banjir adalah hasil interaksi antara faktor alam dan manusia. Faktor alam: curah hujan tinggi, topografi datar, pasang surut air laut, dan jenis tanah yang impermeabel. Faktor manusia: alih fungsi lahan, buruknya drainase, pembangunan di bantaran sungai, dan sampah yang menyumbat saluran. Jadi banjir bukan cuma "bencana alam", tapi sering juga "bencana akibat ulah manusia".

- Pendekatan Kewilayahan: Kita lihat dampak banjir terhadap wilayah dan masyarakatnya. Dampak ekonomi seperti gagal panen, dampak sosial seperti pengungsi, dampak kesehatan seperti penyakit. Dari sini muncul konsep kerentanan dan kapasitas adaptasi masyarakat. Wilayah padat penduduk dengan permukiman kumuh biasanya lebih rentan.

Intinya, geografi melihat banjir sebagai sistem, ada juga input, proses, output, dan umpan balik.tidak hanya bisa dipotong karena faktor hujan saja.

2. Kita bisa mendapatkan data banjir di Indonesia melalui, diantaranya sebagai berikut :
- BNPB : dimana bisa melihat data kejadian, korban, dan juga kerugian lewat aplikasi InaRISK dan Geoportal BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana)
- BMKG : disini kita bisa melihat data curah hujan, lalu juga peringatan dini yang penting untuk menganalisis banjir.
- PUPR : disini bisa dilihat debit air sungainya, lalu tinggi muka airnya juga
- BIG : ini merupakan sumber peta rawan banjir dan juga data spasial untuk pemetaan zona rawan banjir
Dan tentunya masih banyak lainnya, untuk mengakses data banjir di Indonesia

Sekian dari jawaban dari tugas analisis ini, mohon maaf jika masih ada kesalahan kata
Saya akhiri
Wassalamualaikum Warahmatulahi Wabarakatuh
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Nadia Olifia 2513034055 གིས-
Nama: Nadia Olifia
NPM: 2513034055

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir?

  • Pendekatan spasial dalam geografi memandang banjir dari aspek lokasi, distribusi, dan sifat tempat. Analisis mengenai banjir dilakukan dengan melihat di mana kejadian tersebut terjadi, seperti di daerah rendah, lokasi sepanjang aliran sungai, atau area kawasan perkotaan yang memiliki sistem drainase yang buruk. Dengan pendekatan ini, para geografer dapat menemukan daerah yang rentan terhadap banjir dan pola penyebarannya, yang berkontribusi pada perencanaan penggunaan ruang yang lebih aman
  • Pendekatan ekologi atau kelingkungan menganalisis banjir sebagai akibat dari hubungan antara manusia dan lingkungan alaminya. Banjir tidak hanya diakibatkan oleh faktor alam seperti hujan deras, tetapi juga kegiatan manusia seperti penebangan pohon, perubahan fungsi lahan, dan pembangunan yang kurang memperhatikan aspek lingkungan. Metode ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem agar risiko terjadinya banjir bisa dikurangi.
  • Pendekatan kompleks wilayah meneliti banjir secara menyeluruh dengan mengintegrasikan berbagai aspek fisik dan sosial. Dalam metode ini, banjir dipahami sebagai produk dari kombinasi kondisi geografis, cara penggunaan lahan, kepadatan penduduk, serta kebijakan pembangunan di suatu area. Oleh karena itu, setiap wilayah memiliki tingkat risiko banjir yang berbeda, sehingga penanganan yang tepat perlu disesuaikan dengan karakter masing-masing daerah.

2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

Data banjir di Indonesia bisa diperoleh dari berbagai sumber, antara lain:

  • Badan Nasional Penanggulangan Bencana (data kejadian bencana dan laporan resmi)
  • Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (data curah hujan dan cuaca)
  • Badan Informasi Geospasial (peta dan data geospasial)
  • Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (data sungai, drainase, dan infrastruktur)
  • Badan Pusat Statistik (data kependudukan dan wilayah terdampak)
  • Pemerintah daerah (BPBD setempat)
  • Citra satelit dan data penginderaan jauh (misalnya dari LAPAN/BRIN)
  • Jurnal penelitian, laporan akademik, serta media massa terpercaya

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Lusia Erin Arum Nita གིས-
Nama: Lusia Erin Arum Nita 
NPM: 2513034049

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 
Jawab:
Banjir dari Kacamata Geografi itu bukan hanya sebuah bencana alam saja. Namun dilihat pula dari analisis pendekatannya, ada keruangan, kelingkungan, dan kompleks wilayah. Sebenarnya banjir dianggap sebagai gangguan pada siklus hidrologi yang dipicu oleh faktor alam seperti curah hujan atau pasang surut laut dan diperparah oleh aktivitas manusia.

-Pendekatan Keruangan (spasial) kita lihat dimana banjir ini terjadi, seperti apa lahannya, dan kita bisa memetakan zona kerawanan berdasarkan variabel fisiknya.
- Pendekatan Kelingkungan (ekologi) mengenai hubungan antara manusia dan alam, di mana banjir seringkali dipandang sebagai respon alam terhadap perubahan penggunaan lahan yang kita tahu hutan saat ini semakin sedikit yang menurunkan laju infiltrasi air ke dalam tanah karena banyaknya bangunan maka manusia memiliki hubungan erat dengan alam.
- Pendekatan Kompleks Wilayah yang di mana banjir itu memiliki hubungan antar wilayah dan memiliki masalah sistemik seperti banjir yang sering terjadi di Jakarta sering dipengaruhi oleh kondisi di Bogor yang selalu turun hujan di mana Bogor merupakan titik hulu.Banjir itu masalah sistem antarwilayah. 

> *Kuncinya*: Buat geografer, banjir = terganggunya *siklus hidrologi*. Pemicunya bisa alami kayak hujan ekstrem atau rob, tapi diperparah ulah manusia.

2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?
Jawab:
Sumber yang dapat kita akses sebagai analisis spasial ataupun riset data dari lembaga-lembaga resmi yaitu: 
-BNPB (Data Informasi Bencana Indonesia) melalui ini kita bisa melihat data bencana terlengkap di Indonesia yang mencakup jumlah korban, frekuensi kejadian, hingga kerusakan-kerusakan yang terjadi. 
-BMKG (Data Online Pusat Database) yang umumnya orang ketahui di mana BMKG selalu digunakan untuk mencari curah hujan harian ataupun jam yang paling sering memberikan peringatan kepada pengguna. 

In reply to First post

Re: Analisis Banjir

Alifah Rasendriya Hartanto 2513034065 གིས-
Nama : Alifah Rasendriya Hartanto
NPM : 2513034065

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir?
2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?

Jawab :
Berdasarkan video yang Anda bagikan dan perspektif keilmuan geografi, berikut adalah penjelasan mengenai cara pandang geograf terhadap banjir serta sumber data yang bisa diakses di Indonesia:

1.Dalam studi geografi, banjir tidak dilihat hanya sebagai peristiwa air yang meluap, melainkan sebagai fenomena "Bencana Hidrometeorologi" yang kompleks. Geografi menggunakan pendekatan yang terintegrasi untuk menganalisisnya:

-Perspektif Hulu-Hilir (Daerah Aliran Sungai/DAS): Seorang geografi melihat banjir sebagai kegagalan sistematis dalam satu kesatuan DAS. Hujan ekstrem di wilayah hulu (seringkali dipicu oleh siklon tropis atau fenomena La Niña) seharusnya bisa diserap oleh hutan. Namun, akumulasi kerusakan ekologi jangka panjang, seperti deforestasi masif di Aceh dan Sumatera Utara yang menyebabkan lahan kehilangan porositasnya.

-Interaksi Manusia dan Lingkungan (Ekologi):Banjir dianggap sebagai manifestasi dari bertemunya krisis iklim global dengan kerapuan ekosistem lokal. Geografi menganalisis bagaimana aktivitas manusia, seperti pembalakan liar dan alih fungsi lahan, memperparah dampak curah hujan.

-Analisis Keruangan (Spasial): Geografi memetakan distribusi dampak, mulai dari jumlah kabupaten yang terisolasi hingga infrastruktur yang rusak (jalan, jembatan, dan fasilitas kesehatan). Data keruangan ini penting untuk menentukan strategi evakuasi dan mitigasi di masa depan.

-Daya Dukung Lingkungan: Kejadian ini menunjukkan batas daya dukung alam. Ketika "benteng alam" di hulu rusak, kemampuan alam untuk meredam cuaca ekstrem runtuh, yang mengakibatkan kerugian ekonomi besar dan hilangnya nyawa.


2. Untuk mendapatkan data yang akurat dan valid terkait banjir di Indonesia, Anda dapat merujuk pada institusi-institusi berikut:

-BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana): Merupakan sumber utama untuk data real-time terkait jumlah korban (meninggal, hilang, mengungsi), jumlah wilayah terdampak (kabupaten/kota), dan rilis status tanggap darurat nasional. (Kontak : Call Center 117).

-BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah): Memberikan data yang lebih mendetail di tingkat provinsi atau kabupaten, termasuk taksiran kerugian material, kerusakan infrastruktur spesifik (seperti jembatan putus), dan kebutuhan logistik lokal.

-BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika): Menyediakan data mengenai pemicu banjir, seperti intensitas curah hujan, pergerakan siklon tropis (misalnya Siklon Senyar atau Ditua), dan fenomena iklim global (La Niña).

-Basarnas: Fokus pada data evakuasi dan pencarian korban hilang di lapangan.(Kontak : Call Center 115).

-Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK): Menyediakan data mengenai tutupan hutan dan laju deforestasi yang digunakan untuk menganalisis penyebab banjir dari sisi perubahan tata guna lahan.

-Situs Resmi Pemerintah Provinsi/Daerah: Misalnya `pemprov.aceh.go.id` yang sering merilis pembaruan terkait kondisi jalan dan infrastruktur publik yang lumpuh akibat bencana.
In reply to First post

Re: Analisis Banjir

M. Satria གིས-

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, persmisi ibu. Izin untuk memberikan tanggapan jawaban terkait analisis banjir, sebelumnya izin memperkenalkan diri:

Nama: M. Satria
NPM: 2513034066
Kelas/Angkatan: 2025 B

1. Bagaimana kita, seorang geografi, memandang kejadian banjir? 
Jadi, seorang geograf tidak memandang banjir semata-mata sebagai suatu peristiwa alam (curah hujan tinggi), melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara proses alam dan aktivitas manusia dalam keruangan. Secara holistik tiga pendekatan jika dilihat melalui filsafat geografi, yaitu:
Pendekatan Spasial: Memetakan sebaran wilayah rawan banjir, menganalisis karakteristik fisik lahan (topografi cekungan, jenis tanah, daerah aliran sungai), dan melihat pola pemanfaatan ruang yang tidak selaras, seperti permukiman di bantaran sungai.
Pendekatan Ekologi: Melihat banjir sebagai ketidakseimbangan sistem lingkungan. Misalnya, berkurangnya daerah resapan air di hulu akibat deforestasi mengganggu siklus hidrologi dan meningkatkan limpasan permukaan.
Pendekatan Kompleks Wilayah: Mengaitkan banjir sebagai masalah terpadu antara faktor alam (curah hujan, pasang laut) dengan faktor sosial-budaya (perilaku membuang sampah ke sungai) dan ekonomi-politik (tata ruang yang tidak terkendali, buruknya drainase perkotaan). Kami menekankan bahwa "bencana" terjadi ketika bahaya alam bertemu dengan kerentanan dan kapasitas masyarakat yang rendah di lokasi tersebut. 

2. Darimana saja kah kita bisa mendapatkan data banjir yang ada di Indonesia?
Data banjir dapat diakses dari berbagai instansi pemerintah dan platform resmi lainnya, dan itu tergantung jenis datanya yang ingin kita cari, seperti:
Data Historis Kejadian & Dampak: Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melalui situs resmi atau portal Data Informasi Bencana Indonesia (DIBI);
Data Hidrologi (Curah Hujan & Tinggi Muka Air): Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk data cuaca; Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Ditjen Sumber Daya Air untuk data debit dan tinggi muka air sungai secara real-time atau historis;
Data Spasial dan Peta Kerawanan: Badan Informasi Geospasial (BIG) melalui portal Tanah Air Indonesia untuk peta dasar dan tematik, serta InaRISK (produk BNPB) yang memvisualisasikan indeks risiko banjir;
Data Tutupan Lahan & Lingkungan: Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk data perubahan tutupan hutan dan daerah aliran sungai (DAS).