silahkan Upload Makalah, PPT dan Notulensi
Forum diskusi
Nama: Erika Krisnawati
NPM: 2513053118
Izin bertanya,
Jika guru harus menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik setiap peserta didik, apakah itu realistis dilakukan di dalam kelas yang berjumlah banyak siswa? Sementara itu, situasi ini akan membutuhkan strategi atau metode yang beragam, dan kebanyakan guru mempunyai kendala di waktu yang terbatas. Bagaimana solusinya?
NPM: 2513053118
Izin bertanya,
Jika guru harus menyesuaikan pembelajaran dengan karakteristik setiap peserta didik, apakah itu realistis dilakukan di dalam kelas yang berjumlah banyak siswa? Sementara itu, situasi ini akan membutuhkan strategi atau metode yang beragam, dan kebanyakan guru mempunyai kendala di waktu yang terbatas. Bagaimana solusinya?
Nama: Haya Aqila Syakib
NPM: 2513053110
Izin menjawab pertanyaan Erika,
Guru tetap harus menyesuaikan pembelajaran sama karakteristik siswa, tapi kalau di kelas siswanya banyak, tidak mungkin juga satu-satu diperlakukan beda semua. Jadi yang realistis itu bukan beda perlakuan per orang, tapi bikin pembelajaran yang fleksibel dan bisa nyesuain ke banyak tipe siswa.
Misalnya pas ngajar akidah akhlak, tidak cuma ceramah aja, tapi juga pakai video atau gambar buat yang visual, lalu ada diskusi atau studi kasus buat yang lebih aktif. Atau tugasnya dikasih pilihan, mau bikin rangkuman, poster, atau presentasi. Jadi siswa bisa pilih sesuai minat dan kemampuannya.
Jadi, meskipun kelas besar menjadi tantangan, penyesuaian pembelajaran tetap realistis dilakukan melalui variasi strategi, media, dan tugas yang dirancang secara bijaksana.
NPM: 2513053110
Izin menjawab pertanyaan Erika,
Guru tetap harus menyesuaikan pembelajaran sama karakteristik siswa, tapi kalau di kelas siswanya banyak, tidak mungkin juga satu-satu diperlakukan beda semua. Jadi yang realistis itu bukan beda perlakuan per orang, tapi bikin pembelajaran yang fleksibel dan bisa nyesuain ke banyak tipe siswa.
Misalnya pas ngajar akidah akhlak, tidak cuma ceramah aja, tapi juga pakai video atau gambar buat yang visual, lalu ada diskusi atau studi kasus buat yang lebih aktif. Atau tugasnya dikasih pilihan, mau bikin rangkuman, poster, atau presentasi. Jadi siswa bisa pilih sesuai minat dan kemampuannya.
Jadi, meskipun kelas besar menjadi tantangan, penyesuaian pembelajaran tetap realistis dilakukan melalui variasi strategi, media, dan tugas yang dirancang secara bijaksana.
Nama : Atya Syahvinadifa
NPM : 2513053128
Apakah guru dinyatakan berhasil mencapai tujuan pembelajaran apabila kemampuan akademik siswa baik, tetapi pembentukan karakternya cenderung kurang baik/belum optimal?
NPM : 2513053128
Apakah guru dinyatakan berhasil mencapai tujuan pembelajaran apabila kemampuan akademik siswa baik, tetapi pembentukan karakternya cenderung kurang baik/belum optimal?
Nama : Rijayanti Selanatanila
NPM : 2513053125
izin menjawab pertanyaan Atya,
kalau dlihat dari sudut pandang pendidikan secara utuh, guru belum sepenuhnya berhasil, tapi juga tidak bisa langsung disebut gagal
Kalau kita lihat tujuan pendidikan di Indonesia, misalnya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa pendidikan itu bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan bertanggung jawab. Artinya, aspek kognitif atau hasil akademik dan aspek afektif atau karakter itu sama-sama penting.
jadi kalau siswa cuma unggul di nilai tapi sikapnya kurang, berarti guru baru berhasil di aspek pengetahuan saja, belum di aspek pembentukan karakter. karena idealnya pembelajaran itu mencakup tiga hal: pengetahuan, sikap, dan keterampilan
Jadi kesimpulannya, guru tersebut berhasil sebagian, tapi belum sepenuhnya mencapai tujuan pembelajaran yang utuh.
NPM : 2513053125
izin menjawab pertanyaan Atya,
kalau dlihat dari sudut pandang pendidikan secara utuh, guru belum sepenuhnya berhasil, tapi juga tidak bisa langsung disebut gagal
Kalau kita lihat tujuan pendidikan di Indonesia, misalnya dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dijelaskan bahwa pendidikan itu bertujuan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, berakhlak mulia, berilmu, cakap, kreatif, dan bertanggung jawab. Artinya, aspek kognitif atau hasil akademik dan aspek afektif atau karakter itu sama-sama penting.
jadi kalau siswa cuma unggul di nilai tapi sikapnya kurang, berarti guru baru berhasil di aspek pengetahuan saja, belum di aspek pembentukan karakter. karena idealnya pembelajaran itu mencakup tiga hal: pengetahuan, sikap, dan keterampilan
Jadi kesimpulannya, guru tersebut berhasil sebagian, tapi belum sepenuhnya mencapai tujuan pembelajaran yang utuh.
Afifatul Magfirah Bela Sukma 2513053131
Bagaimana karakteristik sosial-emosional siswa memengaruhi perilaku dari anak tersebut di lingkungan sekitar?
Bagaimana karakteristik sosial-emosional siswa memengaruhi perilaku dari anak tersebut di lingkungan sekitar?
Nama : Rijayanti Selanatanila
NPM : 2513053125
izin menjawab pertanyaan Afifa,
karakteristik sosial-emosional itu berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami dan mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, serta mengontrol perilaku diri. kalau seorang siswa memiliki kemampuan sosial-emosional yang baik, maka ia cenderung mampu menjalin pertemanan yang sehat, mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang bijak, serta menunjukkan sikap sopan dan bertanggung jawab. Anak seperti ini biasanya lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru dan memiliki hubungan sosial yang positif.
Sebaliknya, jika kemampuan sosial-emosionalnya kurang berkembang, anak bisa menunjukkan perilaku seperti mudah marah, sulit bekerja. Hal ini bisa memengaruhi cara teman-temannya memandang dirinya dan berdampak pada proses belajar maupun perkembangan kepribadiannya.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa karakteristik sosial-emosional sangat menentukan kualitas perilaku anak di lingkungan sekitar. Semakin baik kemampuan sosial-emosional yang dimiliki siswa, semakin positif pula perilaku dan interaksinya dengan orang lain.
NPM : 2513053125
izin menjawab pertanyaan Afifa,
karakteristik sosial-emosional itu berkaitan dengan kemampuan anak dalam memahami dan mengelola emosi, berinteraksi dengan orang lain, serta mengontrol perilaku diri. kalau seorang siswa memiliki kemampuan sosial-emosional yang baik, maka ia cenderung mampu menjalin pertemanan yang sehat, mampu menyelesaikan konflik dengan cara yang bijak, serta menunjukkan sikap sopan dan bertanggung jawab. Anak seperti ini biasanya lebih mudah beradaptasi di lingkungan baru dan memiliki hubungan sosial yang positif.
Sebaliknya, jika kemampuan sosial-emosionalnya kurang berkembang, anak bisa menunjukkan perilaku seperti mudah marah, sulit bekerja. Hal ini bisa memengaruhi cara teman-temannya memandang dirinya dan berdampak pada proses belajar maupun perkembangan kepribadiannya.
Jadi, bisa disimpulkan bahwa karakteristik sosial-emosional sangat menentukan kualitas perilaku anak di lingkungan sekitar. Semakin baik kemampuan sosial-emosional yang dimiliki siswa, semakin positif pula perilaku dan interaksinya dengan orang lain.
Kelompok 3
Haya Aqila Syakib (2513053110)
Revalina Indah Wati (2553053031)
Rijayanti Selanatanila (2513053125)
Haya Aqila Syakib (2513053110)
Revalina Indah Wati (2553053031)
Rijayanti Selanatanila (2513053125)
nama: Eka Mutiara Amelia Ramadhani
NPM: 2513053112
dalam implementasi pembelajaran, guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk berpartisipasi, tapi seperti yang kita tahu... walaupun guru memberikan kesempatan, peserta didik tidak berminat karena berbagai alasan. apa yang harus dilakukan guru untuk memaksimalkan kesempatan berpartisipasi siswa?
NPM: 2513053112
dalam implementasi pembelajaran, guru harus memberikan kesempatan yang sama kepada seluruh siswa untuk berpartisipasi, tapi seperti yang kita tahu... walaupun guru memberikan kesempatan, peserta didik tidak berminat karena berbagai alasan. apa yang harus dilakukan guru untuk memaksimalkan kesempatan berpartisipasi siswa?
Nama: Haya Aqila Syakib
NPM: 2513053110
Izin menjawab pertanyaan Eka Mutiara,
Kalau guru sudah memberikan kesempatan tapi siswanya tetap tidak mau ikut, berarti masalahnya bukan cuma di “kesempatan”, tapi di minat dan kenyamanan mereka.
Yang bisa dilakukan guru itu misalnya bikin suasana kelas lebih santai dan nggak bikin takut salah. Kadang siswa nggak mau ngomong karena malu atau takut jawabannya salah. Terus metode belajarnya juga jangan monoton, bisa pakai diskusi kelompok kecil dulu biar mereka lebih berani sebelum ngomong di depan kelas.
Misalnya, pakai diskusi kelompok kecil dulu, jadi semua anggota harus ngomong di kelompoknya, bukan cuma satu dua orang saja. Atau guru bisa pakai sistem giliran, undian nama, atau pertanyaan ke semua siswa secara bergantian supaya nggak yang aktif itu-itu aja.
Bisa juga kasih pertanyaan yang ringan dan sesuai sama kehidupan mereka biar lebih berani jawab. Jadi intinya, untuk memaksimalkan partisipasi, guru harus bikin sistem dan cara yang memastikan semua siswa dapat kesempatan, bukan cuma yang percaya diri saja.
NPM: 2513053110
Izin menjawab pertanyaan Eka Mutiara,
Kalau guru sudah memberikan kesempatan tapi siswanya tetap tidak mau ikut, berarti masalahnya bukan cuma di “kesempatan”, tapi di minat dan kenyamanan mereka.
Yang bisa dilakukan guru itu misalnya bikin suasana kelas lebih santai dan nggak bikin takut salah. Kadang siswa nggak mau ngomong karena malu atau takut jawabannya salah. Terus metode belajarnya juga jangan monoton, bisa pakai diskusi kelompok kecil dulu biar mereka lebih berani sebelum ngomong di depan kelas.
Misalnya, pakai diskusi kelompok kecil dulu, jadi semua anggota harus ngomong di kelompoknya, bukan cuma satu dua orang saja. Atau guru bisa pakai sistem giliran, undian nama, atau pertanyaan ke semua siswa secara bergantian supaya nggak yang aktif itu-itu aja.
Bisa juga kasih pertanyaan yang ringan dan sesuai sama kehidupan mereka biar lebih berani jawab. Jadi intinya, untuk memaksimalkan partisipasi, guru harus bikin sistem dan cara yang memastikan semua siswa dapat kesempatan, bukan cuma yang percaya diri saja.
Nama : Tio Dwi Fernanto
Npm : 2513053134
Pertanyaan :
Jika ada siswa yang dikategorikan sebagai siswa kurang dalam segi akademik, tetapi ketika diluar akademik dia memiliki kemampuan/prestasi, hal ini membuat siswa tersebut kurang terhadap nilainya sehingga guru mempertimbangkan untuk dapat naik kelas, bagaimana langkah kita menangani permasalahan ini sebagai calok pendidik
Npm : 2513053134
Pertanyaan :
Jika ada siswa yang dikategorikan sebagai siswa kurang dalam segi akademik, tetapi ketika diluar akademik dia memiliki kemampuan/prestasi, hal ini membuat siswa tersebut kurang terhadap nilainya sehingga guru mempertimbangkan untuk dapat naik kelas, bagaimana langkah kita menangani permasalahan ini sebagai calok pendidik
Revalina Indah Wati
2553053031
izin meja pertanyaan dari tio
Sebagai calon pendidik, kita harus melihat siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari nilai akademik. Jika siswa lemah di akademik tetapi berprestasi di non-akademik, maka langkah yang dapat dilakukan adalah:
1. Memberikan remedial atau bimbingan tambahan untuk meningkatkan nilai akademiknya.
2. Memberikan motivasi dan dukungan agar siswa lebih percaya diri.
3. Berkoordinasi dengan orang tua dan guru BK.
4. Menghargai potensi non-akademik sebagai bagian dari perkembangan siswa.
Keputusan kenaikan kelas harus dilakukan secara adil, objektif, dan sesuai aturan, dengan mempertimbangkan perkembangan siswa secara keseluruhan.
2553053031
izin meja pertanyaan dari tio
Sebagai calon pendidik, kita harus melihat siswa secara menyeluruh, tidak hanya dari nilai akademik. Jika siswa lemah di akademik tetapi berprestasi di non-akademik, maka langkah yang dapat dilakukan adalah:
1. Memberikan remedial atau bimbingan tambahan untuk meningkatkan nilai akademiknya.
2. Memberikan motivasi dan dukungan agar siswa lebih percaya diri.
3. Berkoordinasi dengan orang tua dan guru BK.
4. Menghargai potensi non-akademik sebagai bagian dari perkembangan siswa.
Keputusan kenaikan kelas harus dilakukan secara adil, objektif, dan sesuai aturan, dengan mempertimbangkan perkembangan siswa secara keseluruhan.
Nama: Danni Adien Al Fariz
NPM: 2513053117
Izin bertanya, bagaimana cara membedakan anak yang benar benar kurang mampu dalam akademik dengan anak yang kurang motivasi. Dan kalo menurut kalian bagaimana cara menaikan motivasinya.
Izin bertanya, bagaimana cara membedakan anak yang benar benar kurang mampu dalam akademik dengan anak yang kurang motivasi. Dan kalo menurut kalian bagaimana cara menaikan motivasinya.
Revalina Indah wati
2553053031
izin menjawab pertanyaan dari dani
Untuk membedakan anak yang kurang mampu dalam akademik dan yang kurang motivasi, dapat dilihat dari usaha dan sikapnya saat belajar:
• Kurang mampu akademik: Sudah berusaha, memperhatikan, dan mencoba mengerjakan tugas, tetapi tetap kesulitan memahami materi meskipun sudah dibimbing.
• Kurang motivasi: Sebenarnya mampu, tetapi kurang berusaha, tidak fokus, sering tidak mengerjakan tugas, atau terlihat tidak tertarik.
Cara menaikkan motivasi belajar:
1. Memberikan motivasi dan apresiasi atas usaha kecil yang dilakukan.
2. Mengaitkan materi dengan minat atau hobi siswa.
3. Memberikan tujuan belajar yang jelas dan bertahap.
4. Menciptakan pembelajaran yang menarik dan variatif.
5. Memberikan dukungan serta komunikasi yang baik dengan siswa dan orang tua.
2553053031
izin menjawab pertanyaan dari dani
Untuk membedakan anak yang kurang mampu dalam akademik dan yang kurang motivasi, dapat dilihat dari usaha dan sikapnya saat belajar:
• Kurang mampu akademik: Sudah berusaha, memperhatikan, dan mencoba mengerjakan tugas, tetapi tetap kesulitan memahami materi meskipun sudah dibimbing.
• Kurang motivasi: Sebenarnya mampu, tetapi kurang berusaha, tidak fokus, sering tidak mengerjakan tugas, atau terlihat tidak tertarik.
Cara menaikkan motivasi belajar:
1. Memberikan motivasi dan apresiasi atas usaha kecil yang dilakukan.
2. Mengaitkan materi dengan minat atau hobi siswa.
3. Memberikan tujuan belajar yang jelas dan bertahap.
4. Menciptakan pembelajaran yang menarik dan variatif.
5. Memberikan dukungan serta komunikasi yang baik dengan siswa dan orang tua.