Salam pembelajar,
Pada pekan ini materi ini adalah tentang Sumber daya manusia dalam doktrin ekonomi: konsep sumber daya manusia, identifikasi nilai SDM. Apa yang ada di pikiran kalian tentang SDM?
Mari kita bahas bersama.
Konsep Sumber Daya Manusia dalam Doktrin Ekonomi
Evolusi Pandangan tentang SDM
A. Pandangan Klasik: Manusia sebagai Faktor Produksi
Dalam ekonomi klasik, manusia diposisikan sebagai tenaga kerja (labor), salah satu dari tiga faktor produksi:
- Tanah (land)
- Modal (capital)
- Tenaga kerja (labor)
Tokoh utama:
- Adam Smith
- David Ricardo
Dalam karya The Wealth of Nations (1776), Adam Smith sudah menyadari bahwa keterampilan pekerja adalah bentuk “modal tetap” (fixed capital). Artinya, bahkan dalam ekonomi klasik, kualitas manusia sudah diakui bernilai ekonomi.
Namun, pada tahap ini manusia masih dipandang terutama sebagai input produksi, belum sebagai investasi strategis jangka panjang.
B. Revolusi Human Capital (1960-an)
Perubahan besar terjadi ketika muncul teori Human Capital.
Tokoh penting:
- Theodore W. Schultz
- Gary S. Becker
Mereka menyatakan:
Pendidikan, kesehatan, dan pelatihan adalah investasi yang meningkatkan produktivitas manusia.
SDM tidak lagi sekadar tenaga kerja, tetapi modal produktif yang dapat ditingkatkan nilainya melalui investasi pendidikan dan pelatihan.
Konsep SDM dalam Perspektif Ekonomi Modern
Dalam ekonomi modern, SDM mencakup:
- Pengetahuan (knowledge)
- Keterampilan (skills)
- Kompetensi
- Kesehatan
- Etos kerja
- Kreativitas dan inovasi
Secara sederhana:
SDM = Human Capital + Kompetensi Sosial + Kapasitas Adaptif
Dalam ekonomi berbasis pengetahuan (knowledge-based economy), SDM bahkan lebih penting dibanding modal fisik.
Contoh empiris:
- Negara seperti Korea Selatan dan Singapura minim sumber daya alam, tetapi unggul karena investasi besar dalam pendidikan dan pelatihan.
- Sebaliknya, banyak negara kaya sumber daya alam mengalami “resource curse” karena kualitas SDM rendah.
II. Identifikasi Nilai Sumber Daya Manusia
Pertanyaan penting dalam Ekonomi Pendidikan:
Bagaimana kita mengukur nilai ekonomi manusia?
Nilai SDM dapat diidentifikasi melalui beberapa pendekatan.
Pendekatan Produktivitas dan Pendapatan
Cara paling umum adalah melihat:
- Upah
- Pendapatan seumur hidup (lifetime earnings)
- Produktivitas tenaga kerja
Data Empirik Global
Bank Dunia menunjukkan bahwa:
- Setiap tambahan 1 tahun sekolah meningkatkan pendapatan individu rata-rata sekitar 8–10%.
- Negara dengan rata-rata lama sekolah lebih tinggi memiliki PDB per kapita lebih besar.
Contoh kontekstual Indonesia:
- Rata-rata upah lulusan perguruan tinggi bisa 2–3 kali lipat dibanding lulusan SD.
- Tingkat pengangguran cenderung lebih rendah pada pendidikan menengah dan tinggi (meskipun ada fenomena mismatch).
Artinya: nilai SDM tercermin dalam return to education.
Pendekatan Kontribusi terhadap Pertumbuhan Ekonomi
Dalam model pertumbuhan endogen, seperti yang dikembangkan oleh:
- Paul Romer
SDM menjadi mesin inovasi dan pertumbuhan jangka panjang.
Model ini menjelaskan bahwa:
Pertumbuhan ekonomi tidak hanya berasal dari akumulasi modal fisik, tetapi dari akumulasi pengetahuan.
Data empiris menunjukkan:
- Negara dengan indeks pendidikan tinggi cenderung memiliki pertumbuhan ekonomi lebih stabil.
- Investasi pendidikan dasar dan menengah memiliki dampak signifikan terhadap produktivitas nasional.
Pendekatan Human Development
Nilai SDM tidak hanya ekonomi, tetapi juga sosial.
UNDP mengembangkan Indeks Pembangunan Manusia (IPM/HDI), yang mencakup:
- Pendidikan
- Kesehatan
- Pendapatan
Pendekatan ini dipengaruhi oleh pemikiran:
- Amartya Sen
Menurut Sen:
Manusia bukan alat produksi, tetapi tujuan pembangunan itu sendiri.
Dalam perspektif ini, nilai SDM terletak pada kemampuannya menjalani kehidupan yang bermakna.
III. Perspektif Multi-Teoretis tentang Nilai SDM
Agar tidak terjebak dalam satu sudut pandang, mari kita lihat beberapa perspektif:
Perspektif Neoklasik
- SDM adalah aset ekonomi.
- Nilainya diukur dari produktivitas dan upah.
- Investasi pendidikan dianalisis seperti investasi mesin.
Kelebihan:
✔ Terukur
secara kuantitatif
✔ Relevan
untuk kebijakan ekonomi
Kritik:
Terlalu menyederhanakan manusia menjadi faktor produksi.
Perspektif Sosiologis (Reproduksi Sosial)
Berargumen bahwa:
- Pendidikan tidak selalu meningkatkan mobilitas sosial.
- SDM dipengaruhi latar belakang keluarga dan modal sosial.
Artinya, nilai SDM tidak sepenuhnya ditentukan oleh pendidikan formal, tetapi juga oleh:
- Jaringan sosial
- Budaya
- Status ekonomi keluarga
Perspektif Institusional
Menekankan bahwa kualitas SDM bergantung pada:
- Sistem pendidikan
- Tata kelola
- Institusi pasar tenaga kerja
Contoh:
- Negara dengan sistem pelatihan vokasi kuat (misalnya model dual system di Jerman) memiliki pengangguran muda rendah.
- Negara dengan mismatch tinggi menunjukkan lemahnya koordinasi pendidikan dan industri.
IV. Masalah Aktual dalam Pengembangan SDM
Sebagai calon analis kebijakan pendidikan, saudara perlu memahami persoalan riil:
1. Skill Mismatch
Lulusan tidak sesuai kebutuhan industri.
2. Brain Drain
Tenaga terdidik pindah ke luar negeri.
3. Overeducation
Pendidikan tinggi tidak selalu sejalan dengan peluang kerja.
4. Ketimpangan Kualitas
Perbedaan mutu sekolah kota–desa memengaruhi kualitas SDM nasional.