Cobalah kemukakan disini prosedur pemeriksaan kas dan setara kas. Apa sajakah yang harus menajdi pertimbangan dalam audit kas dan setara kas. Adakah kaitan antara pemeriksaan kas dan setara kas dengan pemeriksaan piutang? Boleh sertakan contoh empirisnya dari berbagi sumber.
Diskusi
NPM : 2313031034
Pemeriksaan kas dan setara kas mencakup beberapa prosedur utama yang bertujuan memastikan keandalan informasi keuangan. Langkah-langkah ini mencakup pengecekan fisik kas yang dimiliki perusahaan, pencocokan antara catatan kas internal dengan data rekening koran melalui rekonsiliasi bank, serta pengecekan transaksi penerimaan dan pengeluaran untuk memastikan semuanya telah dicatat dengan benar. Selain itu, auditor juga perlu meminta konfirmasi langsung dari pihak bank mengenai saldo kas, guna memastikan bahwa angka yang disajikan dalam laporan keuangan benar adanya.
Dalam proses audit kas dan setara kas, ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan. Misalnya, auditor harus menjaga independensinya, mewaspadai potensi terjadinya kecurangan, menilai sejauh mana pengendalian internal berjalan efektif, dan memperhatikan nilai kas dalam konteks materialitas laporan keuangan secara keseluruhan.
Pemeriksaan terhadap kas dan setara kas juga tidak bisa dilepaskan dari pemeriksaan piutang. Hal ini karena kas yang masuk ke perusahaan umumnya berasal dari pembayaran piutang oleh pelanggan. Jika terdapat ketidaksesuaian antara catatan kas dan piutang, hal ini bisa menjadi tanda adanya masalah, seperti piutang yang belum tertagih atau pencatatan yang keliru. Oleh karena itu, audit terhadap dua pos ini saling melengkapi dan sama-sama penting dalam mengevaluasi kondisi keuangan perusahaan secara menyeluruh.
Adapun contoh empirisnya dalam audit yang dilakukan oleh KAP Kanaka terhadap PT Dealer Kendaraan di Bali, beberapa langkah pemeriksaan kas dan setara kas dilakukan. Salah satunya adalah pengecekan fisik kas, yang mencatat saldo sebesar Rp 151.842.200, sementara hasil pengecekan fisik menunjukkan angka Rp 147.345.100, dengan selisih sebesar Rp 4.497.100. Auditor juga melakukan rekonsiliasi bank untuk memastikan semua transaksi telah dicatat dengan akurat, dan meminta konfirmasi dari pihak bank yang mengonfirmasi bahwa saldo di bank sesuai dengan catatan perusahaan.
Referensi:
Kusuma, A. L. D., & Suryaningrum, D. H. (2024). Analisis prosedur kertas kerja kas setara kas pada PT Dealer Kendaraan di Bali oleh KAP Kanaka. Economic and Business Management International Journal, 6(2), 196-203.
NPM : 2313031057
Menurut saya, prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dalam auditing dilakukan untuk memastikan bahwa saldo kas yang disajikan benar-benar ada, dimiliki perusahaan, dan dicatat secara wajar. Beberapa prosedur yang biasanya dilakukan auditor antara lain: melakukan cash count (perhitungan kas secara langsung), melakukan konfirmasi saldo bank ke pihak bank, melakukan rekonsiliasi bank untuk mencocokkan saldo menurut perusahaan dengan bank, serta memeriksa bukti transaksi seperti bukti penerimaan dan pengeluaran kas. Selain itu, auditor juga melakukan penelusuran (tracing) dan pengecekan (vouching) untuk memastikan transaksi dicatat dengan benar dan lengkap.
Dalam audit kas dan setara kas, terdapat beberapa hal yang perlu menjadi pertimbangan, seperti tingginya risiko kecurangan (fraud) karena kas bersifat paling likuid, efektivitas pengendalian intern atas penerimaan dan pengeluaran kas, serta kemungkinan adanya rekayasa saldo seperti kas fiktif atau saldo bank yang tidak sesuai. Auditor juga harus memperhatikan cut-off transaksi (pemisahan periode), serta keberadaan setara kas seperti deposito jangka pendek apakah memenuhi kriteria sebagai kas.
Terkait dengan hubungan antara pemeriksaan kas dan piutang, menurut saya keduanya sangat berkaitan karena piutang yang ditagih akan berujung pada penerimaan kas. Jika terdapat kesalahan atau kecurangan pada piutang (misalnya piutang fiktif atau tidak tertagih), maka hal tersebut akan berdampak langsung pada saldo kas. Contoh empirisnya, dalam kasus kecurangan perusahaan, sering ditemukan adanya praktik lapping, yaitu penundaan pencatatan penerimaan kas dari pelanggan untuk menutupi piutang lain, sehingga baik akun kas maupun piutang menjadi tidak wajar. Hal ini menunjukkan bahwa auditor perlu memeriksa keduanya secara saling terkait agar dapat mendeteksi kesalahan atau fraud secara lebih efektif.
NPM : 2313031044
Dalam proses Auditing, pemeriksaan kas dan setara kas dilakukan untuk memastikan bahwa saldo kas yang tercantum dalam laporan keuangan benar-benar ada, dimiliki perusahaan, serta dicatat secara benar sesuai prinsip Akuntansi. Prosedur yang biasanya dilakukan auditor antara lain mempelajari sistem pengendalian internal terkait pengelolaan kas, melakukan perhitungan kas secara langsung (cash count), memeriksa rekonsiliasi bank antara catatan perusahaan dengan rekening bank, melakukan konfirmasi saldo ke bank, serta menelusuri bukti transaksi penerimaan dan pengeluaran kas untuk memastikan transaksi tersebut benar-benar terjadi.
Dalam melakukan audit kas dan setara kas, auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal penting. Salah satunya adalah risiko kecurangan yang cukup tinggi, karena kas merupakan aset yang paling mudah dipindahkan atau disalahgunakan. Selain itu auditor juga harus memperhatikan kekuatan sistem pengendalian internal perusahaan, kelengkapan pencatatan transaksi, serta adanya transaksi kas yang tidak biasa atau dalam jumlah besar yang berpotensi menimbulkan kesalahan atau penyimpangan.
Pemeriksaan kas juga memiliki kaitan yang erat dengan pemeriksaan Piutang Usaha. Hal ini karena sebagian besar penerimaan kas perusahaan berasal dari pembayaran piutang oleh pelanggan. Oleh karena itu auditor biasanya mencocokkan penerimaan kas dengan catatan piutang untuk memastikan bahwa pembayaran pelanggan benar-benar dicatat dan mengurangi saldo piutang yang bersangkutan.
Contoh empiris yang sering ditemukan dalam praktik audit adalah kecurangan yang dikenal sebagai lapping. Dalam kasus ini, seorang pegawai menggunakan uang pembayaran dari satu pelanggan untuk menutupi piutang pelanggan lain sehingga penerimaan kas tidak langsung dicatat dengan benar. Auditor biasanya dapat mendeteksi hal tersebut dengan membandingkan catatan penerimaan kas, saldo piutang, serta melakukan konfirmasi kepada pelanggan mengenai pembayaran yang telah mereka lakukan.
NPM : 2313031050
1. Prosedur Pemeriksaan Kas dan Setara Kas
Pemeriksaan kas dan setara kas merupakan bagian penting dalam audit laporan keuangan untuk memastikan keakuratan, keberadaan, dan legalitas transaksi kas yang dicatat. Prosedur ini diawali dengan pemahaman auditor terhadap kebijakan dan prosedur yang diterapkan oleh perusahaan dalam mengelola kas, termasuk sistem pengendalian internal yang berlaku. Auditor kemudian memeriksa dokumen dan catatan akuntansi terkait, seperti buku kas, jurnal penerimaan dan pengeluaran, serta laporan bank untuk memastikan bahwa transaksi yang dicatat sesuai dengan kejadian sebenarnya. Selanjutnya, auditor melakukan rekonsiliasi bank dengan membandingkan saldo kas dalam buku besar perusahaan dengan laporan bank untuk mendeteksi adanya perbedaan yang tidak wajar. Selain itu, auditor juga dapat mengirimkan konfirmasi langsung ke bank guna memverifikasi saldo kas yang tercatat dalam laporan keuangan. Penghitungan kas fisik juga dilakukan, terutama untuk kas kecil, guna memastikan kesesuaian antara jumlah yang tercatat dan jumlah kas yang tersedia secara fisik. Selain itu, auditor juga menerapkan prosedur cut-off untuk memastikan bahwa transaksi penerimaan dan pengeluaran kas dicatat dalam periode yang benar. Semua langkah ini diakhiri dengan evaluasi atas efektivitas sistem pengendalian internal dalam perusahaan, khususnya dalam aspek pemisahan tugas antara penerimaan, pencatatan, dan pengeluaran kas guna meminimalkan risiko fraud.
2. Pertimbangan dalam Audit Kas dan Setara Kas
Dalam pemeriksaan kas dan setara kas, auditor harus mempertimbangkan beberapa aspek penting untuk memastikan kewajaran saldo yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Salah satu pertimbangan utama adalah tingkat risiko dan materialitas, mengingat kas merupakan aset yang sangat likuid dan rentan terhadap penyalahgunaan atau kecurangan. Oleh karena itu, auditor perlu menilai apakah saldo kas yang dilaporkan memiliki dampak material terhadap keseluruhan laporan keuangan perusahaan. Selain itu, auditor juga perlu memastikan keberadaan dan kepemilikan kas yang tercatat, dengan melakukan konfirmasi ke bank atau pihak ketiga yang relevan. Pertimbangan lain yang harus diperhatikan adalah penyajian dan pengungkapan kas dalam laporan keuangan, terutama jika terdapat pembatasan penggunaan kas, seperti kas yang dijadikan jaminan pinjaman. Selain itu, kepatuhan terhadap regulasi juga menjadi faktor penting, mengingat perusahaan harus memastikan bahwa pengelolaan kas telah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku serta peraturan perundang-undangan yang mengatur transaksi keuangan. Dengan mempertimbangkan aspek-aspek tersebut, auditor dapat memastikan bahwa laporan kas dan setara kas yang disajikan benar-benar mencerminkan kondisi keuangan perusahaan secara akurat dan transparan.
3. Kaitan antara Pemeriksaan Kas dan Setara Kas dengan Pemeriksaan Piutang
Pemeriksaan kas dan setara kas memiliki hubungan erat dengan pemeriksaan piutang, mengingat salah satu sumber utama penerimaan kas adalah pembayaran piutang dari pelanggan. Auditor harus memastikan bahwa penerimaan kas yang dicatat dalam laporan keuangan benar-benar berasal dari pembayaran piutang yang sah dan bukan hasil manipulasi. Salah satu cara untuk menguji hal ini adalah dengan menelusuri transaksi penerimaan kas dan mencocokkannya dengan daftar piutang yang telah jatuh tempo. Selain itu, auditor juga perlu mengevaluasi kecukupan penyisihan piutang tak tertagih, terutama jika ditemukan adanya piutang yang sudah lama tidak tertagih, karena hal ini dapat mempengaruhi likuiditas perusahaan secara keseluruhan. Lebih lanjut, audit kas juga dapat membantu mendeteksi adanya kecurangan dalam pencatatan piutang, seperti pengakuan piutang fiktif yang digunakan untuk meningkatkan angka pendapatan perusahaan secara tidak wajar. Oleh karena itu, keterkaitan antara audit kas dan audit piutang sangat penting dalam memastikan bahwa laporan keuangan yang disajikan tidak mengandung unsur mis-representasi atau kecurangan yang dapat menyesatkan pemangku kepentingan.
Adapun contoh empiris yang telah saya baca adalah kasus keuangan yang melibatkan PT Waskita Karya (Persero) Tbk menjadi contoh terbaru yang menunjukkan pentingnya audit kas dan setara kas serta hubungannya dengan pemeriksaan piutang. Pada tahun 2023, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menemukan adanya dugaan kecurangan dalam laporan keuangan perusahaan konstruksi BUMN ini, di mana Waskita Karya diduga menggelembungkan nilai piutang dan mencatatkan penerimaan kas yang tidak valid. Dalam pemeriksaan yang dilakukan oleh auditor, ditemukan bahwa banyak piutang yang sudah jatuh tempo namun belum tertagih, sementara laporan keuangan menunjukkan saldo kas yang lebih besar dari yang seharusnya. Investigasi lebih lanjut mengungkap adanya rekayasa pencatatan transaksi untuk menutupi kondisi keuangan perusahaan yang sebenarnya tidak sehat. Kasus ini memberi pelajaran bahwa betapa pentingnya prosedur audit kas yang ketat, terutama dalam memverifikasi hubungan antara penerimaan kas dan pencatatan piutang, agar laporan keuangan tidak memberikan gambaran yang menyesatkan kepada investor dan pemegang saham.
NPM : 2313031032
Kelas : 2023 B
Ada beberapa prosedur dalam audit kas dan setara kas yaitu:
1. menyiapkan skedjul utama dari kas dan setara kas.
2. lakukan perhitungan kas secara mendadak dan serentak untuk semua jenis kas yang ada diperusahaan serta buatkan berita acara pemeriksaan.
3. Yakinkan bahwa buku kas telah ditutup per tanggal pemeriksaan.
4. Bandingkan saldo kas menurut perhitungan kas dengan saldo buku kas.
5. Lakukan posedur penarikan mundur ke tanggal neraca dan bila dilakukan sebelum tanggal neraca lakukan penarikan maju ketanggal neraca.
6. Bandingkan saldo buku besar dengan saldo perhitungan kas setelah prosedur penarikan per tanggal neraca.
7. Periksa penjumlahan lembaran-lembaran buku kas.
8. Pastikan apabila ada kas yang dalam mata uang asing telah dikonversikan ke dalam kurs yang benar.
9. buat daftar koreksi yang diperlukan.
10. Buat kesimpulan dan komentar hasil pemeriksaan kas yang perlu diketahui oleh para partner serta saran perbaikan kepada pihak manajemen.
Berikut beberapa pertimbangan-pertimbangan dalam audit kas dan setara kas yaitu Materialistis, Resiko Bawaan, Resiko Prosedur Analitis dan Resiko Pengendalian Internal. Sedangkan keterkaitan antara pemeriksaan kas dan setara kas dengan piutang adalah piutang tersendiri masuk di dalam arus transaksi yang dapat mempengaruhi kas pendapat tersebut bisa dibenarkan dengan membaca pengertian ataupun definisi dari kas dan setara kas. Pemeriksaan piutang sendiri bertujuan untuk memeriksa apakah terdapat internal control yang cukup baik atas piutang dan transaksi penjualan, piutang dan penerimaan kas. Dalam konteks ini, pemeriksaan piutang tentu berkaitan dengan penerimaan kas.
NPM: 2313031042
A. Prosedur Pemeriksaan Kas dan Setara Kas
Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dimulai dengan memahami serta mengevaluasi sistem pengendalian internal perusahaan, khususnya terkait pemisahan tugas antara fungsi penerimaan, pencatatan, dan penyimpanan kas. Auditor kemudian melakukan perhitungan fisik kas (cash count), terutama pada kas kecil, untuk memastikan kesesuaian dengan catatan akuntansi. Selanjutnya dilakukan rekonsiliasi bank dengan membandingkan saldo buku dan rekening koran, serta menelusuri perbedaan seperti outstanding checks dan deposit in transit. Auditor juga mengirimkan konfirmasi langsung ke bank untuk memverifikasi saldo dan informasi lainnya. Pengujian cut-off dilakukan untuk memastikan transaksi dicatat pada periode yang tepat. Selain itu, auditor menilai apakah instrumen yang diklasifikasikan sebagai setara kas memenuhi kriteria likuiditas dan jatuh tempo, serta melakukan prosedur analitis untuk mengidentifikasi fluktuasi yang tidak wajar dalam saldo kas.
B. Pertimbangan dalam Audit Kas dan Setara Kas
Dalam audit kas dan setara kas, auditor harus mempertimbangkan beberapa faktor penting, terutama risiko kecurangan karena kas merupakan aset yang paling likuid dan rentan disalahgunakan. Evaluasi efektivitas pengendalian internal menjadi krusial untuk memastikan adanya pengawasan yang memadai. Auditor juga harus memastikan kelengkapan pencatatan seluruh rekening kas, termasuk kemungkinan adanya rekening yang tidak diungkapkan. Selain itu, perlu diperhatikan apakah terdapat pembatasan penggunaan kas (restricted cash) yang harus diungkapkan dalam laporan keuangan. Aspek valuasi dan klasifikasi juga penting, terutama dalam menentukan apakah suatu instrumen benar-benar memenuhi definisi setara kas sesuai standar akuntansi. Terakhir, kondisi kas perusahaan dapat memberikan indikasi terhadap kemampuan kelangsungan usaha (going concern), sehingga perlu dianalisis secara cermat.
C. Kaitan Pemeriksaan Kas dan Setara Kas dengan Pemeriksaan Piutang
Pemeriksaan kas dan setara kas memiliki keterkaitan yang erat dengan pemeriksaan piutang karena keduanya berada dalam satu siklus transaksi, yaitu siklus pendapatan. Piutang timbul dari penjualan kredit, sedangkan kas berasal dari pelunasan piutang tersebut, sehingga kesalahan atau manipulasi pada piutang akan berdampak langsung pada kas. Salah satu risiko utama yang menghubungkan keduanya adalah praktik kecurangan lapping, di mana penerimaan kas dari satu pelanggan digunakan untuk menutupi piutang pelanggan lain. Oleh karena itu, auditor perlu melakukan pengujian cut-off dan memastikan pencatatan transaksi dilakukan pada periode yang tepat. Selain itu, rekonsiliasi antara mutasi piutang dan penerimaan kas juga penting untuk memastikan tidak adanya penyimpangan dalam pencatatan.
Dalam praktik empiris, hasil penelitian oleh menunjukkan bahwa audit kas dan setara kas pada perusahaan dagang PT ASD yang dilakukan oleh KAP Heliantono dan Rekan cabang Semarang telah dilaksanakan sesuai prosedur audit yang berlaku, mulai dari tahap perencanaan, permintaan data, pembuatan kertas kerja, hingga pelaksanaan cash opname dan konfirmasi bank. Auditor melakukan pengecekan antara saldo kas di laporan keuangan dengan buku besar, serta rekonsiliasi dengan rekening koran, dan tidak menemukan adanya selisih yang material. Namun demikian, penelitian tersebut juga mengungkap adanya kendala berupa human error oleh staf perusahaan dalam pencatatan akun kas dan setara kas, yang kemudian diperbaiki melalui penyesuaian (adjustment) oleh auditor. Selain itu, auditor memberikan rekomendasi untuk meningkatkan pengendalian internal dan kualitas sumber daya manusia guna meminimalkan risiko kesalahan di masa mendatang. Temuan ini memperkuat bahwa dalam praktik nyata, audit kas tidak hanya berfokus pada deteksi kecurangan, tetapi juga pada identifikasi kesalahan operasional serta pemberian solusi perbaikan sistem.
Ramdhani, Resti Viana, Hadi Sasana, dan Diah Agustina Prihastiwi. 2024. Analisis Penerapan Prosedur Pelaksanaan Audit Kas dan Setara Kas oleh KAP Heliantono dan Rekan Cabang Semarang pada Perusahaan Dagang PT ASD. Jurnal Akuntansi, Auditing, dan Perpajakan (JAAP), Vol. 6, No. 1. Universitas Tidar.
NPM: 2313031048
Menurut saya, pemeriksaan kas dan setara kas itu termasuk bagian yang paling sensitif dalam audit, karena sifatnya paling likuid dan paling mudah disalahgunakan. Jadi biasanya auditor juga lebih detail dan hati-hati di bagian ini.
1. Prosedur Pemeriksaan Kas dan Setara Kas
Dari yang saya pahami, prosedur audit kas dan setara kas umumnya dilakukan secara bertahap, nggak langsung satu kali cek selesai. Beberapa langkah yang biasanya dilakukan antara lain:
-Memahami sistem pengendalian internal
Auditor biasanya mulai dari sini, misalnya melihat bagaimana sistem penerimaan dan pengeluaran kas di perusahaan. Apakah sudah ada pemisahan tugas atau belum.
-Cash opname (perhitungan fisik kas)
Ini dilakukan untuk memastikan jumlah kas yang ada benar-benar sesuai dengan catatan. Biasanya dilakukan secara mendadak supaya hasilnya lebih objektif.
-Konfirmasi saldo bank
Auditor akan mengirim konfirmasi ke bank untuk memastikan saldo kas di bank sesuai dengan laporan perusahaan.
-Rekonsiliasi bank
Membandingkan catatan perusahaan dengan rekening koran dari bank. Dari sini bisa kelihatan apakah ada selisih, misalnya karena cek belum cair atau kesalahan pencatatan.
-Pengujian transaksi kas
Auditor akan mengecek beberapa transaksi, baik penerimaan maupun pengeluaran kas, untuk memastikan semuanya valid dan didukung bukti.
-Cut-off test
Ini untuk memastikan transaksi dicatat di periode yang benar, terutama di akhir periode laporan.
Menurut saya, prosedur ini penting karena kas itu rawan banget manipulasi, jadi harus dicek dari berbagai sisi, bukan cuma satu metode.
2. Hal-hal yang Perlu Dipertimbangkan dalam Audit Kas dan Setara Kas
Dalam praktiknya, auditor nggak cuma ngecek angka, tapi juga mempertimbangkan beberapa hal penting:
-Risiko kecurangan (fraud)
Kas adalah aset yang paling gampang diselewengkan, jadi risikonya tinggi.
-Sistem pengendalian internal
Kalau sistemnya lemah (misalnya satu orang pegang semua proses), maka risiko salah saji makin besar.
-Materialitas
Walaupun kas biasanya material, auditor tetap mempertimbangkan seberapa besar pengaruhnya terhadap laporan keuangan.
-Kepatuhan terhadap standar akuntansi
Misalnya apakah kas dan setara kas sudah diklasifikasikan dengan benar.
-Akses dan otorisasi
Siapa saja yang bisa mengakses kas juga jadi pertimbangan penting.
Menurut saya, faktor-faktor ini yang menentukan seberapa dalam audit dilakukan.
3. Kaitan antara Pemeriksaan Kas dan Piutang
Kalau dipikir-pikir, kas dan piutang itu sebenarnya saling berhubungan erat, terutama dalam siklus penerimaan.
-Piutang yang ditagih akan berubah menjadi kas
-Jadi kalau ada masalah di piutang, bisa berdampak ke kas juga
Misalnya:
-Piutang fiktif: kas juga bisa “terlihat” seolah-olah ada penerimaan
-Penagihan tidak tercatat: kas bisa diselewengkan (fraud)
Makanya, auditor biasanya menghubungkan pemeriksaan kas dengan:
-Audit piutang (accounts receivable)
-Proses penagihan (collection)
Menurut saya, kalau audit kas dilakukan tanpa melihat piutang, hasilnya bisa kurang lengkap.
4. Contoh Empiris (Sederhana dan Relate)
Kalau ambil contoh yang sering terjadi (baik dari kasus nyata maupun pembelajaran):
-Kasus selisih kas di perusahaan retail
Misalnya ada perbedaan antara kas fisik dengan catatan. Setelah dicek, ternyata ada transaksi penjualan yang tidak dicatat oleh kasir. Ini menunjukkan lemahnya pengendalian internal.
-Kasus piutang tidak tertagih tapi diakui sebagai kas masuk
Perusahaan mencatat seolah-olah sudah menerima pembayaran, padahal belum. Ini bisa bikin laporan keuangan terlihat lebih baik dari kondisi sebenarnya.
-Kasus rekonsiliasi bank tidak dilakukan secara rutin
Akibatnya ada transaksi yang tidak terdeteksi, seperti biaya bank atau cek yang belum dicatat.
Dari contoh-contoh ini, kelihatan kalau masalah kas sering berkaitan langsung dengan pencatatan dan pengelolaan piutang.
NPM: 2313031052
Menurut saya, prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dalam audit dilakukan untuk memastikan bahwa saldo kas benar-benar ada, dimiliki oleh perusahaan, dan disajikan secara wajar dalam laporan keuangan. Auditor biasanya melakukan beberapa langkah seperti menghitung fisik kas (cash count), melakukan konfirmasi saldo bank, menyusun rekonsiliasi bank, serta menelusuri transaksi penerimaan dan pengeluaran kas ke bukti pendukung. Dalam proses ini, auditor juga harus memperhatikan beberapa hal penting seperti tingginya risiko kecurangan karena kas bersifat sangat likuid, pentingnya pemisahan tugas, ketepatan pencatatan terutama terkait cut-off, serta kejelasan kepemilikan kas. Selain itu, pemeriksaan kas juga memiliki kaitan erat dengan pemeriksaan piutang, karena sebagian besar penerimaan kas berasal dari pelunasan piutang. Jika terdapat kesalahan atau kecurangan pada piutang, maka akan berdampak langsung pada kas. Contohnya adalah praktik lapping, di mana penerimaan dari pelanggan baru digunakan untuk menutupi piutang lama, sehingga terlihat seolah-olah tidak ada masalah. Oleh karena itu, menurut saya, audit kas dan setara kas harus dilakukan secara teliti dan juga dikaitkan dengan pemeriksaan piutang agar hasil audit lebih akurat dan dapat dipercaya.
NPM : 2313031037
Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dalam audit dilakukan untuk memastikan keberadaan, kelengkapan, dan kewajaran saldo kas perusahaan. Auditor biasanya memulai dengan memahami sistem pengendalian internal, kemudian melakukan cash count, rekonsiliasi bank, serta pengujian transaksi kas melalui dokumen pendukung seperti bukti penerimaan dan pengeluaran. Selain itu, auditor juga menilai kas kecil dan klasifikasi setara kas seperti deposito jangka pendek.
Dalam audit kas dan setara kas, hal penting yang diperhatikan adalah risiko kecurangan, efektivitas pengendalian internal, likuiditas, serta potensi salah saji karena kas sangat rentan disalahgunakan. Oleh karena itu, auditor perlu mencermati transaksi yang tidak wajar dan perbedaan dalam rekonsiliasi bank.
Pemeriksaan kas juga berkaitan erat dengan piutang karena keduanya berada dalam siklus pendapatan. Piutang yang tidak tertagih akan memengaruhi arus kas masuk. Dalam praktiknya, fraud sering terjadi melalui manipulasi piutang, seperti pengakuan piutang fiktif untuk menutupi kekurangan kas, sehingga auditor perlu menguji penerimaan kas setelah tanggal neraca untuk memastikan piutang benar-benar dapat direalisasikan.
NPM: 2313031040
Pemeriksaan kas dan setara kas merupakan salah satu bagian paling penting dalam proses auditing karena kas adalah aset yang paling likuid dan paling mudah disalahgunakan. Oleh karena itu, auditor harus memberikan perhatian khusus untuk memastikan bahwa saldo kas yang dilaporkan benar-benar ada, dimiliki perusahaan, serta dicatat secara wajar sesuai dengan kondisi sebenarnya. Dalam praktik audit, langkah awal yang dilakukan auditor adalah memahami sistem pengendalian internal atas kas, seperti pemisahan tugas antara pihak yang menerima kas, mencatat transaksi, dan menyimpan kas. Pengendalian internal yang baik menjadi dasar bagi auditor dalam menentukan luas dan kedalaman pengujian audit yang akan dilakukan. Selanjutnya auditor melakukan pemeriksaan fisik kas atau cash opname untuk mencocokkan jumlah kas yang tersedia dengan catatan pembukuan perusahaan. Auditor juga melakukan konfirmasi langsung kepada bank guna memastikan saldo rekening perusahaan sesuai dengan data yang dilaporkan dalam laporan keuangan. Selain itu, rekonsiliasi bank diperiksa untuk melihat apakah perbedaan saldo antara catatan perusahaan dan bank dapat dijelaskan secara wajar, misalnya karena adanya cek beredar atau setoran dalam perjalanan. Auditor juga menelusuri bukti transaksi penerimaan dan pengeluaran kas untuk memastikan setiap transaksi memiliki dokumen pendukung yang sah serta telah mendapatkan otorisasi yang tepat. Untuk setara kas, auditor perlu memastikan bahwa instrumen tersebut benar-benar bersifat sangat likuid dan memiliki jangka waktu jatuh tempo pendek sesuai kriteria standar akuntansi. Dalam audit kas dan setara kas terdapat beberapa pertimbangan penting yang harus diperhatikan auditor, antara lain tingginya risiko kecurangan, efektivitas sistem pengendalian internal, kelengkapan pencatatan transaksi, ketepatan periode pencatatan (cut-off), serta kemungkinan adanya pembatasan penggunaan kas seperti kas yang dijaminkan kepada pihak bank. Auditor juga perlu mewaspadai transaksi kas yang terjadi menjelang akhir periode pelaporan karena sering digunakan untuk memanipulasi posisi keuangan perusahaan. Pemeriksaan kas dan setara kas memiliki hubungan yang sangat erat dengan pemeriksaan piutang. Hal ini disebabkan karena sebagian besar penerimaan kas perusahaan berasal dari pelunasan piutang pelanggan. Auditor biasanya menelusuri apakah pembayaran pelanggan benar-benar diterima dan dicatat dengan benar untuk menghindari praktik kecurangan seperti lapping, yaitu penundaan pencatatan penerimaan kas untuk menutupi pencurian dana. Oleh sebab itu, audit kas tidak dapat dipisahkan dari audit piutang karena keduanya berada dalam satu siklus pendapatan perusahaan.
Secara empiris, hubungan antara audit kas dan piutang dapat terlihat pada kasus pengakuan pendapatan di PT Garuda Indonesia Tbk, di mana pendapatan diakui sebelum kas benar-benar diterima. Kasus tersebut menunjukkan bahwa tanpa pemeriksaan yang terintegrasi antara piutang dan kas, auditor berpotensi gagal mendeteksi salah saji laporan keuangan. Dengan demikian, pemeriksaan kas dan setara kas tidak hanya bertujuan memverifikasi keberadaan kas, tetapi juga memastikan bahwa seluruh proses transaksi penjualan, penerimaan piutang, dan pelaporan keuangan telah berjalan secara transparan dan dapat dipercaya.
NPM : 2313031045
Pemeriksaan kas dan setara kas merupakan salah satu prosedur audit penting yang harus dilakukan auditor. Kas dan setara kas merupakan aset lancar yang likuid dan rentan terhadap penyalahgunaan atau kecurangan. Dalam melakukan audit kas dan setara kas, auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal penting. Pertama, auditor harus memahami sistem pengendalian internal terkait dengan penerimaan dan pengeluaran kas serta pencatatan transaksi kas. Auditor juga harus melakukan pengujian pengendalian untuk memastikan efektivitas pengendalian internal tersebut. Selanjutnya, auditor perlu melakukan pengujian substantif terhadap saldo kas dan setara kas. Ini dapat dilakukan dengan mengamati perhitungan fisik kas yang ada di perusahaan (cash on hand) dan melakukan konfirmasi saldo rekening bank (cash in bank). Auditor juga harus memeriksa kelengkapan dan keakuratan pencatatan transaksi kas, termasuk memastikan bahwa semua penerimaan kas telah dicatat dan semua pengeluaran kas telah didukung dengan bukti yang memadai. Dalam proses audit kas dan setara kas, terdapat kaitan dengan pemeriksaan piutang.
Terdapat hubungan yang erat antara pemeriksaan kas dan setara kas dengan pemeriksaan piutang. Keduanya merupakan bagian dari aset lancar yang berkontribusi pada likuiditas perusahaan. Misalnya, jika sebuah perusahaan ritel memiliki piutang yang tidak tertagih, hal ini akan berdampak pada saldo kas yang dilaporkan. Jika piutang tersebut tidak dicatat dengan benar, maka saldo kas yang terlihat dalam laporan keuangan juga bisa menyesatkan.
Contoh empiris:
PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. (Telkom) adalah salah satu perusahaan telekomunikasi terbesar di Indonesia. Pada tahun 2022, Telkom memiliki saldo kas sebesar Rp 10,3 triliun. Namun, setelah dilakukan audit, ditemukan bahwa terdapat beberapa transaksi kas yang tidak tercatat secara akurat, sehingga saldo kas yang sebenarnya adalah Rp 10,1 triliun.
Pada kasus Telkom, auditor perlu mempertimbangkan kaitan antara pemeriksaan kas dan setara kas dengan pemeriksaan piutang. Misalnya, auditor harus memeriksa apakah terdapat piutang yang tidak terbayar yang terkait dengan transaksi kas yang tidak tercatat secara akurat. Dengan demikian, auditor dapat memperoleh gambaran yang lebih lengkap tentang keadaan keuangan Telkom dan mengidentifikasi potensi risiko yang terkait dengan kas, setara kas, dan piutang.
Sumber:
Laporan Keuangan PT. Telekomunikasi Indonesia Tbk. Tahun 2022
NPM : 2213031071
Audit kas dan setara kas dilakukan untuk memastikan saldo benar, ada, dan sesuai periode. Prosedurnya meliputi cash opname, konfirmasi bank, rekonsiliasi bank, uji cut-off, serta evaluasi pengendalian internal. Auditor perlu mempertimbangkan tingginya risiko kecurangan, kekuatan sistem pengendalian, dan ketepatan penyajian saldo kas.
Audit kas berkaitan erat dengan piutang karena penerimaan kas digunakan untuk membuktikan kebenaran piutang. Hubungan ini juga membantu mendeteksi kecurangan seperti lapping dan kesalahan pencatatan. Contoh kasus menunjukkan bahwa manipulasi kas atau piutang dapat menyebabkan laporan keuangan menjadi tidak andal.
NPM : 2313031033
Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dalam audit mencakup beberapa langkah penting, antara lain: (1) melakukan pengujian terhadap saldo kas di laporan keuangan dengan melakukan konfirmasi bank dan rekonsiliasi bank; (2) melakukan penghitungan fisik kas (cash count) secara mendadak; (3) menelaah transaksi kas untuk mengidentifikasi transaksi tidak biasa; serta (4) menguji kepatuhan terhadap pengendalian internal terkait kas. Dalam audit kas dan setara kas, auditor harus mempertimbangkan risiko kecurangan (fraud risk) yang tinggi karena sifat kas yang sangat likuid dan rawan disalahgunakan. Pemeriksaan kas juga berkaitan erat dengan pemeriksaan piutang, karena penerimaan kas sering kali berasal dari pelunasan piutang. Oleh karena itu, ketidaksesuaian atau kelemahan dalam pengendalian kas dapat memengaruhi akurasi saldo piutang dan sebaliknya. Misalnya, jika terdapat manipulasi penerimaan kas dari pelanggan, maka dapat menimbulkan kesalahan penyajian saldo piutang usaha. Studi oleh Herawaty & Susanto (2009) dalam Jurnal Akuntansi dan Keuangan menunjukkan bahwa efektivitas sistem pengendalian internal terhadap kas memiliki pengaruh signifikan terhadap keandalan laporan keuangan secara keseluruhan, termasuk saldo piutang. Oleh karena itu, integrasi antara audit kas dan piutang sangat penting dalam memastikan kewajaran laporan keuangan perusahaan.
Herawaty, V., & Susanto, A. (2009). "Pengaruh Sistem Pengendalian Internal terhadap Kualitas Laporan Keuangan." Jurnal Akuntansi dan Keuangan Indonesia, Vol. 6, No. 1.
Mulyadi. (2016). Auditing. Jakarta: Salemba Empat.
NPM: 2313031055
Pemeriksaan kas dan setara kas dilakukan untuk memastikan bahwa saldo kas dalam laporan keuangan benar-benar ada, dicatat secara lengkap, dan disajikan sesuai standar akuntansi. Prosedur audit biasanya meliputi pemeriksaan pengendalian internal, cash opname, konfirmasi bank, rekonsiliasi bank, serta pemeriksaan bukti penerimaan dan pengeluaran kas. Auditor juga perlu mempertimbangkan risiko kecurangan, efektivitas pengendalian internal, dan kemungkinan manipulasi laporan keuangan karena kas merupakan aset yang paling mudah disalahgunakan. Pemeriksaan kas dan setara kas juga berkaitan erat dengan pemeriksaan piutang karena sebagian besar penerimaan kas berasal dari pelunasan piutang pelanggan, sehingga auditor biasanya mencocokkan penerimaan kas dengan catatan piutang untuk mendeteksi kemungkinan fraud.
Contoh empiris dapat dilihat pada BAZNAS Ogan Ilir yang mengalami kelemahan dalam sistem penerimaan dan pengeluaran kas, seperti adanya rangkap tugas dan pencatatan yang belum optimal. Kondisi tersebut menyebabkan pengendalian internal terhadap penerimaan kas menjadi kurang efektif dan berpotensi menimbulkan selisih antara pencatatan kas dan transaksi yang sebenarnya. Selain itu, kelemahan dalam pencatatan penerimaan kas juga dapat memengaruhi ketepatan pencatatan piutang, sehingga audit kas dan piutang perlu dilakukan secara bersamaan agar seluruh transaksi tercatat dengan benar dan risiko fraud dapat diminimalkan.
Referensi:
Soleha, S., & Verawaty, V. (2022). Analisis sistem akuntansi penerimaan dan pengeluaran kas pada BAZNAS Ogan Ilir. Jurnal Pendidikan dan Konseling (JPDK), 4(4), 5296–5300.
NPM: 2313031056
Menurut saya, prosedur pemeriksaan kas dan setara kas merupakan bagian audit yang sangat krusial karena kas adalah aset paling likuid dan paling rentan terhadap kecurangan. Dalam praktiknya, auditor biasanya melakukan pemeriksaan kas fisik (cash opname), rekonsiliasi bank, konfirmasi saldo ke bank, serta pemeriksaan bukti transaksi penerimaan dan pengeluaran kas. Selain itu, auditor juga menilai apakah sistem pengendalian internal perusahaan sudah berjalan dengan baik, misalnya adanya pemisahan tugas antara penerima kas dan pencatat transaksi. Hal yang perlu menjadi pertimbangan dalam audit kas dan setara kas adalah tingginya risiko fraud, keaslian bukti transaksi, serta kemungkinan adanya transaksi fiktif atau manipulasi pencatatan. Auditor tidak cukup hanya mencocokkan angka, tetapi juga harus berpikir kritis terhadap pola transaksi yang mencurigakan. Menurut saya, sikap skeptis profesional sangat penting karena kesalahan kecil pada akun kas dapat berdampak besar terhadap kewajaran laporan keuangan. Pemeriksaan kas juga memiliki kaitan erat dengan pemeriksaan piutang. Ketika pelanggan membayar utang atau piutangnya, maka saldo piutang akan berkurang dan kas perusahaan bertambah. Karena itu auditor biasanya mencocokkan data penerimaan kas dengan mutasi piutang pelanggan. Jika terdapat manipulasi pada piutang, besar kemungkinan akun kas juga ikut bermasalah. Contohnya adalah praktik lapping, yaitu penggunaan uang pembayaran pelanggan untuk kepentingan pribadi lalu ditutupi dengan pembayaran pelanggan lain agar tidak terdeteksi. Dari sudut pandang saya sebagai mahasiswa, audit kas dan piutang tidak hanya soal memeriksa dokumen, tetapi juga memahami alur transaksi perusahaan dan mendeteksi kemungkinan penyimpangan yang tersembunyi di balik laporan keuangan.
Sumber: Mulyadi. Auditing. Jakarta: Salemba Empat.
NPM : 2313031035
pemeriksaan kas dan setara kas merupakan salah satu prosedur audit yang sangat penting karena kas adalah aset perusahaan yang paling mudah dipindahkan dan rawan terjadi penyalahgunaan. Dalam pemeriksaannya, auditor biasanya mengecek saldo kas perusahaan dengan membandingkan catatan perusahaan dengan bukti transaksi serta saldo yang ada di bank. Auditor juga dapat melakukan pemeriksaan mendadak terhadap kas, memeriksa bukti transfer, dan memastikan bahwa seluruh transaksi kas sudah dicatat sesuai periode yang benar.
Hal yang perlu dipertimbangkan dalam audit kas dan setara kas yaitu tingkat keamanan penyimpanan kas, sistem pengendalian internal perusahaan, serta kemungkinan adanya transaksi yang belum dicatat atau sengaja disembunyikan. Auditor juga perlu memperhatikan apakah terdapat pembatasan penggunaan kas atau rekening tertentu yang dapat memengaruhi laporan keuangan perusahaan.
Pemeriksaan kas memiliki hubungan dengan pemeriksaan piutang karena sebagian besar penerimaan kas perusahaan berasal dari pelunasan piutang pelanggan. Jika piutang tidak dapat ditagih atau terdapat manipulasi pencatatan piutang, maka saldo kas perusahaan juga dapat menjadi tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Oleh sebab itu, auditor biasanya akan mencocokkan data penerimaan kas dengan daftar piutang pelanggan untuk memastikan transaksi benar-benar terjadi.
Contoh kasus yang dapat dikaitkan yaitu kasus pada Bank Lippo yang pernah mengalami masalah laporan keuangan akibat adanya perbedaan laporan yang dipublikasikan. Kasus tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan kas, piutang, dan pengendalian internal agar laporan keuangan perusahaan tetap akurat dan dapat dipercaya.
NPM :2313031053
Kas dan setara kas merupakan aset yang paling likuid sehingga sangat rentan terhadap kesalahan maupun kecurangan. Oleh karena itu, auditor perlu melakukan pemeriksaan secara teliti untuk memastikan bahwa saldo kas benar-benar ada, lengkap, dan dicatat sesuai kondisi sebenarnya. Audit kas juga bertujuan memastikan seluruh transaksi penerimaan dan pengeluaran kas telah dicatat dengan benar dalam laporan keuangan. Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas biasanya dimulai dengan memahami sistem pengendalian internal perusahaan, seperti pemisahan tugas antara penerima kas dan pencatat transaksi. Setelah itu auditor melakukan cash opname atau pemeriksaan fisik kas untuk mencocokkan jumlah uang tunai dengan catatan perusahaan. Auditor juga melakukan konfirmasi saldo bank serta rekonsiliasi bank guna memastikan kesesuaian antara catatan perusahaan dan rekening koran bank. Selain itu, auditor memeriksa bukti transaksi seperti kuitansi, cek, dan bukti kas masuk maupun keluar.
Dalam audit kas, auditor perlu mempertimbangkan risiko kecurangan karena kas merupakan aset yang paling mudah disalahgunakan. Auditor juga harus memperhatikan efektivitas pengendalian internal dan materialitas saldo kas perusahaan. Semakin lemah pengendalian internal perusahaan, maka semakin besar risiko salah saji dalam laporan keuangan. Pemeriksaan kas memiliki hubungan erat dengan pemeriksaan piutang karena sebagian besar penerimaan kas berasal dari pelunasan piutang pelanggan. Auditor biasanya mencocokkan pembayaran pelanggan dengan pencatatan piutang untuk mendeteksi kemungkinan kecurangan seperti lapping, yaitu penggunaan pembayaran pelanggan lain untuk menutupi kas yang dicuri.
Contoh empiris dapat dilihat pada kasus Enron dan Toshiba yang melibatkan manipulasi laporan keuangan dan lemahnya pengawasan transaksi keuangan. Kasus tersebut menunjukkan pentingnya audit kas dan piutang secara mendalam agar laporan keuangan perusahaan tetap transparan dan dapat dipercaya.
NPM : 2313031036
Kelas : 2023B
Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas dilakukan auditor untuk memastikan bahwa saldo kas dalam laporan keuangan benar-benar ada, dicatat dengan tepat, dan bebas dari kesalahan maupun kecurangan. Dalam pemeriksaannya, auditor biasanya melakukan pemeriksaan fisik kas (cash opname), konfirmasi saldo bank, pemeriksaan rekonsiliasi bank, serta memeriksa bukti transaksi seperti kuitansi, cek, dan bukti transfer. Selain itu, auditor juga menilai apakah sistem pengendalian internal perusahaan terhadap penerimaan dan pengeluaran kas sudah berjalan dengan baik. Hal ini penting karena kas merupakan aset yang paling mudah disalahgunakan sehingga memiliki risiko fraud yang cukup tinggi.
Dalam audit kas dan setara kas, auditor perlu mempertimbangkan beberapa hal seperti risiko kecurangan, keabsahan transaksi, ketepatan pencatatan, serta pemisahan tugas antara penerima, penyimpan, dan pencatat kas. Pemeriksaan kas juga memiliki hubungan yang erat dengan pemeriksaan piutang karena penerimaan pembayaran piutang akan memengaruhi saldo kas perusahaan. Jika terjadi kesalahan atau manipulasi pada piutang, maka saldo kas juga dapat menjadi tidak sesuai. Contohnya, terdapat kasus ketika pembayaran pelanggan diterima oleh pegawai tetapi tidak disetorkan ke kas perusahaan sehingga piutang terlihat belum lunas. Oleh karena itu, auditor perlu mencocokkan data piutang dengan penerimaan kas agar kesalahan maupun kecurangan dapat terdeteksi dengan baik.
Referensi
Susilawati, D., & Estiana, L. (2023). Analisis Penerapan Materialitas dan Risiko Audit terhadap Opini Audit di Masa Pandemi oleh KAP KKSP dan Rekan Jakarta. JPAK: Jurnal Pendidikan Akuntansi dan Keuangan.
Agoes, Sukrisno. (2012). Auditing: Petunjuk Praktis Pemeriksaan Akuntan oleh Akuntan Publik. Jakarta: Salemba Empat.
NPM : 2313031038
KELAS : 2023B
Prosedur pemeriksaan kas dan setara kas mencakup beberapa tahap utama. Prosedur audit substantif atas akun kas dan setara kas meliputi dokumentasi audit berupa lead schedule, rekening koran, surat konfirmasi bank, rekonsiliasi bank, dan cash count, yang keseluruhannya diarahkan untuk memenuhi asersi existence, completeness, cut-off, dan klasifikasi. Penghitungan kas (cash count) dilakukan secara mendadak dan serentak untuk semua jenis kas yang ada di perusahaan, disertai pembuatan berita acara pemeriksaan, serta memastikan buku kas telah ditutup per tanggal pemeriksaan dan semua bukti pengeluaran dan penerimaan telah dibukukan. Pertimbangan utamanya mencakup tingginya risiko bawaan kas sebagai aset paling likuid, klasifikasi setara kas sesuai PSAK 2 (jatuh tempo ≤ 3 bulan), penanganan kas valas dengan kurs penutup, serta pengungkapan restricted cash secara terpisah.
Kaitan antara audit kas dan piutang sangat erat. Lapping dapat dilakukan apabila seseorang memiliki wewenang menerima kas sekaligus menyelenggarakan buku piutang, sehingga auditor harus menilai kemungkinan terjadinya lapping dengan memperoleh pemahaman tentang pemisahan tugas dalam penerimaan dan pencatatan penagihan dari pelanggan. Lapping merupakan teknik kecurangan akuntansi di mana karyawan mengambil pembayaran piutang berikutnya untuk menutupi pencurian sebelumnya, pembayaran pelanggan B diterapkan pada piutang pelanggan A yang belum dibayar, dan seterusnya secara bergulir, dan skema ini biasanya terjadi di perusahaan kecil di mana hanya satu individu yang mengontrol penerimaan kas dan penagihan pelanggan.
Contoh empiris dari kegagalan pengendalian pada titik temu kas dan piutang ini dapat dilihat pada kasus PT Indofarma Tbk. Praktik kecurangan di PT Indofarma Tbk terjadi dalam bentuk manipulasi laporan keuangan, pencatatan transaksi fiktif, piutang bermasalah, serta klaim diskon palsu, yang dipicu oleh lemahnya sistem pengendalian internal, dan audit pada siklus penjualan dan penagihan terbukti berperan penting dalam mengungkap penyimpangan melalui verifikasi pengakuan pendapatan, konfirmasi piutang, dan evaluasi pengendalian internal. Lebih lanjut, Direktur Utama PT Indofarma memanipulasi laporan keuangan tahun 2020 dengan membuat piutang dan uang muka pembelian produk alkes fiktif seolah-olah target perusahaan terpenuhi, sementara Head of Finance diperintahkan membuat klaim diskon fiktif dari beberapa vendor. Kasus ini terungkap setelah BPK menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan Investigatif kepada Jaksa Agung, dengan indikasi kerugian negara sebesar Rp 371,8 miliar.
Referensi :
Putri, F. F., & Suryaningrum, D. H. (2025). Dari prosedur ke praktik: Audit kas dan setara kas. Jurnal Ekonomi Bisnis Manajemen dan Akuntansi (JEBISMA), 3(1).
Agoes, S. (2017). Auditing: Petunjuk praktis pemeriksaan akuntan oleh akuntan publik (Ed. 5). Salemba Empat.
BINUS Accounting. (2022). Lapping and kiting for fraud definition. https://accounting.binus.ac.id
Saridawati, dkk. (2025). Analisis peran audit siklus penjualan dan penagihan dalam mengidentifikasi risiko kecurangan: Studi kasus pada PT Indofarma Tbk. Didaktik: Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang.
CNBC Indonesia. (2024, Mei 25). Audit KAP lapkeu Indofarma temukan fraud & kerugian Rp 371 M.
NPM : 2313031051
NPM 2313031043
Pemeriksaan kas dan setara kas dilakukan untuk memastikan bahwa saldo kas yang tercantum dalam laporan keuangan benar-benar ada, dimiliki perusahaan, dan dicatat secara wajar. Auditor biasanya melakukan pemeriksaan fisik kas, konfirmasi saldo bank, rekonsiliasi bank, serta pengujian atas transaksi penerimaan dan pengeluaran kas. Dalam proses audit, pertimbangan utama yang diperhatikan adalah keberadaan kas, kelengkapan pencatatan, hak kepemilikan, serta risiko kecurangan karena kas merupakan aset yang paling likuid dan paling rentan disalahgunakan.
Audit kas dan setara kas juga memiliki hubungan yang erat dengan audit piutang. Hal ini karena sebagian besar penerimaan kas berasal dari pelunasan piutang pelanggan. Oleh sebab itu, auditor perlu mencocokkan catatan penerimaan kas dengan saldo piutang untuk memastikan tidak terjadi salah saji atau kecurangan, seperti praktik lapping yang dapat memengaruhi kedua akun tersebut sekaligus. Penelitian menunjukkan bahwa audit kas dan piutang berperan penting dalam meningkatkan keandalan laporan keuangan serta memperkuat pengendalian internal perusahaan.
Daftar Pustaka
Anggit Jelita Fisdiana, & Acynthia Ayu Wilasittha. (2025). Audit Kas dan Setara Kas: Evaluasi Prosedur Audit dan Rekomendasi Perbaikan Sistem Kas untuk Perusahaan Balai Lelang. LAND Journal, 6(2).