Forum Analisis Soal

Forum Analisis Soal

Number of replies: 5

Akhlak-less Itu Bukan Budaya Kita

"Anak zaman sekarang kok pada kurang sopan ya"

Pernah gak sih kalian mendengar kalimat di atas? Pasti pernah kan. Kalau belum pernah, mungkin kalian mainnya kurang jauh nih wkwk. Buat yang udah pernah atau mungkin sering mendengar kalimat seperti itu, bagaimana perasaannya? Kesal atau malah biasa saja?

Anak zaman sekarang kurang sopan, katanya. Namun, nyatanya gak semuanya begitu kok. Masyarakat bisa menyimpulkan seperti itu karena masyarakat melihat dan memperhatikan kita para generasi milenial. Perkataan, perilaku, semuanya dinilai dengan jeli oleh masyarakat.

Masyarakat mengecap negatif anak zaman sekarang bukan tanpa sebab. Pasti ada beragam alasan yang bisa ditemukan. Tidak bisa dipungkiri juga bahwa beberapa dari kita memang berhasil menggambarkan dengan jelas apa yang dimaksud oleh masyarakat.

Coba lihat di sekitar kita. Berapa banyak orang yang dengan mudahnya menghina orang lain, dengan mudahnya melontarkan komentar pedas di media sosial, atau dengan mudahnya berbuat kasar pada orang yang dianggap "berbeda".

Awalnya mungkin kita masih bisa menerima dan menganggap biasa hal-hal kurang baik yang terjadi di sekitar kita. Namun, jika terus-menerus dibiarkan kemudian malah jadi kebiasaan masyarakat, bisa saja kebiasaan ini akan diikuti oleh banyak orang atau bahkan anak-anak. Bagaimana nasib negara ini ke depannya?

"Tapi kan setiap orang berhak melakukan apa yang ingin mereka lakukan"

Memang benar dan sangat benar. Namun, itu berlaku jika hal yang dimaksud tersebut bukanlah hal yang dapat menyakiti orang lain. Jika perbuatan atau perkatan kita telah mampu merendahkan harga diri orang lain atau bahkan meninggalkan bekas luka yang mendalam, seperti hal-hal di atas misalnya, maka sudah tentu hal itu tidak bisa dibiarkan begitu saja.

Manusia bebas melakukan apapun, tetapi ada aturan dan norma yang menjadi batasannya. Bisa dibilang berarti bebas, tapi terbatas. Kita punya kebebasan untuk mengatakan apa saja atau bertindak seperti apa. Dengan catatan itu hal positif dan tidak menyalahi aturan dan norma yang berlaku.

Zaman boleh berubah, tapi bukan berarti semuanya harus berubah. Dampak globalisasi memang begitu kuat dan sulit untuk dihindari. Inilah tugas kita untuk menjaga budaya baik Indonesia agar bisa tetap bertahan. Bukan malah merubahnya dengan cap "akhlak-less" sebagai identitas.

Masyarakat Indonesia terkenal lho dengan budaya sopan santun, ramah-tamah, dan toleransinya yang begitu kuat. Kita yang menjadi bagian di dalamnya patut bangga dengan budaya positif negara ini yang telah mendunia. Akhlak-less bukan budaya kita. Budaya kita itu akhlak plus plus, bermoral baik berlandaskan aturan dan norma.

 

Analisis soal 1

A.    Bagaimanakah pendapatmu mengenai isi artikel tersebut? Hal positif apa yang bisa anda ambil?

B.     Jelaskan bagaimanakah  hubungan antara Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel tersebut?

C.     Sebutkan dan jelaskan berbagai kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila.

D.    Bagaimanakah cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila


In reply to First post

Re: Forum Analisis Soal

by Shofiya Azhar Ramadhani -
Nama : Shofiya Azhar Ramadhani
NPM : 2505101016

A. Pendapat mengenai isi artikel dan hal positif yang dapat diambil
Artikel tersebut menyoroti fenomena perubahan perilaku generasi muda yang dianggap semakin kurang sopan, baik dalam komunikasi sehari-hari maupun di media sosial. Penulis mengkritik perilaku kasar, komentar pedas, hingga tindakan merendahkan orang lain yang kini sering terjadi. Artikel ini mengingatkan bahwa kebebasan berekspresi harus dibatasi oleh norma, nilai moral, dan etika sosial yang berlaku.

Pendapat saya:
Isi artikel sangat relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Globalisasi dan kemajuan teknologi sering membuat generasi muda terlalu bebas berperilaku tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap orang lain. Artikel ini menjadi pengingat penting bahwa sopan santun, empati, dan akhlak adalah bagian dari identitas budaya Indonesia yang tidak boleh hilang karena perubahan zaman.

Hal positif yang bisa diambil:
Pentingnya menjaga sopan santun sebagai ciri khas bangsa Indonesia.
Kesadaran bahwa kebebasan tidak berarti bebas menyakiti orang lain.
Ajakan untuk menjaga budaya positif seperti ramah-tamah dan toleransi.

Penekanan bahwa perubahan zaman harus disikapi secara bijak, bukan dengan menghilangkan moralitas.

B. Hubungan antara Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel
Pancasila dapat berfungsi sebagai sistem etika, karena setiap sila memuat nilai moral yang seharusnya menjadi pedoman dalam bertindak. Isi artikel tersebut sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.

1. Sila I – Ketuhanan Yang Maha Esa
Menjaga akhlak dan sopan santun termasuk bagian dari etika berketuhanan. Manusia yang beragama seharusnya tidak merendahkan atau menyakiti orang lain.

2. Sila II – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Artikel menekankan agar generasi muda tidak menghina atau menyakiti sesama. Ini selaras dengan konsep “beradab”, yaitu menghormati martabat manusia.

3. Sila III – Persatuan Indonesia
Perkataan kasar di media sosial dan perilaku intoleran dapat memecah belah masyarakat. Karena itu, menjaga unggah-ungguh adalah bagian dari menjaga persatuan.

4. Sila IV – Kerakyatan dalam Musyawarah
Sopan santun menjadi dasar komunikasi yang baik. Tanpa etika berbicara yang baik, musyawarah tidak dapat berjalan harmonis.

5. Sila V – Keadilan Sosial
Budaya “akhlak-less” menimbulkan ketidakadilan sosial, terutama kepada pihak yang menjadi korban perundungan verbal. Etika Pancasila menegaskan perlakuan adil terhadap setiap manusia.
Kesimpulannya:
Artikel tersebut memperkuat bahwa etika dalam kehidupan sehari-hari harus berdasarkan nilai Pancasila sebagai pedoman moral bangsa.

C. Contoh kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan etika menurut sila Pancasila
Berikut berbagai kearifan lokal yang mencerminkan nilai etika sesuai sila-sila Pancasila:
1. Sila I – Ketuhanan Yang Maha Esa
Gotong royong membangun rumah ibadah.
Tradisi tahlilan, selamatan, dan kenduri sebagai syukur kepada Tuhan.
Adat Mauludan dan Sekaten yang mengajarkan religiusitas.

2. Sila II – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
Tradisi tolong-menolong / gotong royong.
Saling menghormati tetangga (tepa selira – Jawa).
Sasi (Maluku) yaitu aturan adat menjaga lingkungan demi kesejahteraan bersama.

3. Sila III – Persatuan Indonesia
Upacara adat bersama saat panen (sedekah bumi, pesta panen).
Budaya “Basudara” (Maluku): persaudaraan tanpa membedakan agama/suku.
Minangkabau: “duduak samo randah, tagak samo tinggi”.

4. Sila IV – Kerakyatan dan Musyawarah
Musyawarah adat Minangkabau (Kerapatan Adat).
Rembug desa (Jawa).
Badamai (Kalimantan Selatan) yaitu penyelesaian masalah melalui mufakat.

5. Sila V – Keadilan Sosial
Lumbung padi tradisional (Sasak dan Jawa) untuk membantu warga yang kekurangan.
Arisan / jimpitan sebagai bentuk pemerataan ekonomi masyarakat.
Mapalus (Minahasa) yaitu kerja sama untuk meningkatkan kesejahteraan bersama.

D. Cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal sesuai etika Pancasila
Beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan:
1. Melestarikan melalui pendidikan
Memasukkan nilai budaya daerah ke dalam kurikulum sekolah.
Mengadakan pembelajaran berbasis kearifan lokal, seperti praktik gotong royong dan etika berbicara.

2. Melalui kehidupan sehari-hari
Membiasakan sopan santun saat berkomunikasi, baik langsung maupun di media sosial.
Menghormati adat daerah masing-masing dan menerapkan tepa selira, toleransi, dan empati.

3. Menghidupkan tradisi masyarakat
Mengikuti kegiatan adat seperti sedekah bumi, musyawarah desa, atau kerja bakti.
Mengajarkan kembali tradisi kepada anak-anak melalui contoh nyata.

4. Memanfaatkan teknologi untuk pelestarian
Dokumentasi budaya melalui video, tulisan, dan media sosial.
Mengadakan kampanye digital tentang pentingnya budaya sopan santun.

5. Pemerintah dan masyarakat bekerja sama
Pemerintah mendukung pelestarian adat lewat regulasi dan dana kebudayaan.
Masyarakat menjalankan tradisi tanpa diskriminasi dan tetap selaras dengan perkembangan zaman.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Soal

by windy zahra safutri -
Nama: windy zahra safutri
Npm: 2505101001

A. Pendapat & Hal Positif
Artikel menekankan bahwa perilaku kasar, tidak sopan, dan “akhlak-less” bukan budaya Indonesia. Hal positif yang bisa diambil yaitu ajakan untuk menjaga sopan santun, menghargai orang lain, dan tetap berpegang pada norma meskipun zaman berubah.


B. Hubungan dengan Pancasila sebagai Sistem Etika
Isi artikel sesuai dengan etika Pancasila:
• Sila 1 → moral dan akhlak yang baik.
• Sila 2 → menghargai martabat manusia.
• Sila 3 → menjaga persatuan, bukan saling hina.
• Sila 4 → menghargai pendapat dan bermusyawarah.
• Sila 5 → menjaga keharmonisan dan keadilan sosial.

C. Kearifan Lokal Berdasarkan Sila Pancasila
1. Sila 1 – Ketuhanan Yang Maha Esa
• Tradisi selamatan, tahlilan, nyepi, dan sikap saling menghormati antar pemeluk agama → mencerminkan moral ketuhanan dan toleransi.

2. Sila 2 – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab
• Gotong royong, mapalus (Minahasa), dan nilai siri’ na pacce (Sulsel) → menekankan tolong-menolong, empati, dan penghargaan terhadap martabat manusia.

3. Sila 3 – Persatuan Indonesia
• Pela Gandong (Maluku), upacara adat bersama, serta budaya hidup rukun antar suku dan agama → memperkuat persatuan dan kebersamaan.

4. Sila 4 – Kerakyatan dan Musyawarah
• Rembug desa, musyawarah adat Minangkabau, dan forum mufakat di berbagai daerah → mencerminkan penyelesaian masalah melalui musyawarah.

5. Sila 5 – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia
• Subak (Bali) untuk pembagian air yang adil, Huma Betang (Dayak), dan lumbung padi tradisional → menekankan pemerataan dan keadilan bagi masyarakat.

D. Cara Menjaga & Melestarikan
• Mengajarkan sopan santun dan gotong royong.
• Melestarikan tradisi lokal melalui pendidikan & kegiatan budaya.
• Membiasakan musyawarah dalam menyelesaikan masalah.
• Menghargai perbedaan dan menjaga persatuan bangsa.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Soal

by Akmal Faris Baihaqi -
nama Akmal Faris Baihaqi
npm 2505101003

A. Pendapat mengenai isi artikel dan hal positif yang bisa diambil

Artikel tersebut menyoroti fenomena sosial bahwa sebagian generasi muda dianggap kurang sopan atau kurang beretika. Namun artikel juga menegaskan bahwa tidak semua generasi muda bersikap demikian, dan penilaian masyarakat muncul karena adanya contoh perilaku negatif yang terlihat secara publik, terutama di media sosial.

Pendapat: Isi artikel relevan dengan kondisi masyarakat saat ini. Perubahan zaman serta dampak globalisasi membuat batasan etika menjadi lebih longgar bagi sebagian orang. Artikel ini memberi pengingat bahwa kebebasan harus tetap diiringi tanggung jawab moral dan sosial.

Hal positif yang bisa diambil:

1. Pentingnya menjaga sopan santun dan etika sebagai budaya bangsa.


2. Kesadaran bahwa kebebasan memiliki batas, yaitu tidak boleh merugikan orang lain.


3. Ajakan untuk melestarikan budaya positif Indonesia, seperti ramah tamah, toleransi, dan saling menghormati.


4. Dorongan agar generasi muda menjaga citra dan identitas moral bangsa.


B. Hubungan antara Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel

Artikel ini sangat sesuai dengan konsep Pancasila sebagai sistem etika, yaitu pedoman moral bagi perilaku warga negara Indonesia.

Beberapa hubungan yang terlihat:

1. Etika Ketuhanan (Sila 1)
Mengingatkan kita untuk berperilaku sesuai ajaran agama: tidak menghina, tidak melukai, dan menghormati sesama.


2. Etika Kemanusiaan (Sila 2)
Artikel menekankan pentingnya menghargai martabat manusia. Perilaku menghina, merendahkan, dan melakukan kekerasan verbal merupakan bentuk pelanggaran nilai kemanusiaan yang adil dan beradab.


3. Etika Persatuan (Sila 3)
Sopan santun dan toleransi merupakan unsur penting yang menjaga persatuan. Ketika masyarakat saling melukai atau mencela, potensi perpecahan meningkat.


4. Etika Kerakyatan (Sila 4)
Menjunjung musyawarah, menghargai pendapat, dan tidak menggunakan kata-kata kasar saat berbeda pendapat, termasuk di media sosial.


5. Etika Keadilan (Sila 5)
Mendorong perilaku saling menghormati, berbagi kebaikan, dan tidak merugikan orang lain—baik secara fisik maupun mental.


Kesimpulannya:
Artikel ini sejalan dengan Pancasila sebagai sistem etika karena sama-sama menekankan pentingnya sikap sopan santun, saling menghormati, menjaga moralitas, dan bertanggung jawab dalam kehidupan sosial.

C. Kearifan lokal Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila

Berikut contoh kearifan lokal yang berhubungan dengan etika Pancasila:

1. Sila 1: Ketuhanan Yang Maha Esa

Tradisi tahlilan, selamatan, syukuran → mengajarkan rasa syukur dan doa.

Adat “mangan ora mangan asal kumpul” (Jawa) → mengutamakan nilai kebersamaan dan syukur kepada Tuhan.


2. Sila 2: Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

Gotong royong → wujud kepedulian antar manusia.

Sangkuriang / falsafah Sunda: “silih asah, silih asih, silih asuh” → saling menasihati, menyayangi, dan membimbing.


3. Sila 3: Persatuan Indonesia

Upacara adat daerah (Toraja, Bali, Jawa, Dayak, dsb.) → memperkuat identitas dan persatuan.

Semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” (Jawa Kuno) → dasar hidup bersama meski berbeda budaya.


4. Sila 4: Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan

Musyawarah desa (rembug desa) → tradisi mengambil keputusan bersama.

Tradisi “Bale Mangong” di Bali → forum diskusi masyarakat secara damai.


5. Sila 5: Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

Sistem subak di Bali → pengelolaan air secara adil dan kolektif.

Arisan dan lumbung desa → sarana pemerataan dan saling membantu warga.

D. Cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal terkait sistem etika Pancasila

1. Mengajarkan nilai-nilai kearifan lokal sejak dini kepada anak melalui pendidikan di rumah dan sekolah.


2. Menggunakan media digital untuk mempromosikan budaya positif: video, konten edukasi, cerita lokal, dan kampanye etika.


3. Menerapkan langsung dalam kehidupan sehari-hari, seperti gotong royong, musyawarah, toleransi, dan sopan santun.


4. Menghidupkan kembali tradisi daerah melalui festival budaya, kegiatan adat, dan pembelajaran di masyarakat.


5. Mendorong pemerintah daerah untuk melestarikan budaya melalui regulasi dan dukungan fasilitas.


6. Membangun komunitas pemuda peduli budaya, seperti sanggar seni, kelompok pemuda adat, dan komunitas literasi.


7. Mewujudkan etika Pancasila dalam interaksi digital, misalnya tidak menyebar hoaks, berkomentar sopan, dan menghargai perbedaan pendapat.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Soal

by Muhammad Fiqih Fadilah -

NAMA: Muhammad Fiqih Fadilah

NPM: 2505101021

PRODI: D3 Teknik Mesin


SOAL

Analisis soal 1

A.    Bagaimanakah pendapatmu mengenai isi artikel tersebut? Hal positif apa yang bisa anda ambil?

B.     Jelaskan bagaimanakah  hubungan antara Pancasila sebagai sistem etika dengan isi artikel tersebut?

C.     Sebutkan dan jelaskan berbagai kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila.

D.    Bagaimanakah cara menjaga dan melestarikan kearifan lokal di Indonesia yang terkait dengan sistem etika berdasarkan sila-sila Pancasila

JAWABAN

A. Pendapat terhadap Isi Artikel & Hal Positif yang Dapat Diambil

Pendapat terhadap Isi Artikel:

  • Artikel tersebut sangat relevan dengan kondisi sosial saat ini, khususnya dalam melihat perilaku generasi milenial.

  • Artikel menyoroti menurunnya sopan santun, akhlak, dan kepedulian sosial akibat pengaruh teknologi dan budaya luar.

  • Penulis memberikan gambaran bahwa:

    • Generasi muda saat ini hidup di era yang serba bebas,

    • Tetapi sering kehilangan arah dalam etika dan moral.

  • Artikel juga menunjukkan adanya kesenjangan antara nilai budaya luhur bangsa dengan gaya hidup modern.

Hal Positif yang Bisa Diambil dari Artikel:

  • Menumbuhkan kesadaran akan pentingnya akhlak dan sopan santun.

  • Mengingatkan bahwa:

    • Budaya timur menjunjung tinggi adab, tata krama, dan penghormatan.

  • Mendorong generasi muda untuk:

    • Tidak hanya cerdas secara akademik,

    • Tetapi juga baik secara moral dan etika.

  • Memberikan motivasi agar:

    • Nilai-nilai budaya lokal tetap dijaga,

    • Tidak tergeser oleh budaya asing yang tidak sesuai.


B. Hubungan Pancasila sebagai Sistem Etika dengan Isi Artikel

Hubungan Pancasila dengan isi artikel sangat erat, karena:

  • Sila 1 (Ketuhanan Yang Maha Esa):

    • Artikel membahas tentang akhlak dan moral, yang bersumber dari ajaran agama.

    • Perilaku generasi muda yang menyimpang menunjukkan menurunnya pengamalan sila pertama.

  • Sila 2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab):

    • Lunturnya sopan santun, saling menghargai, dan empati menunjukkan krisis adab dan kemanusiaan.

    • Artikel mengkritik tindakan generasi muda yang sering:

      • Cuex

      • Individualis

      • Kurang empati

  • Sila 3 (Persatuan Indonesia):

    • Masuknya budaya asing tanpa filter melemahkan identitas nasional.

    • Artikel mengingatkan pentingnya menjaga budaya sebagai pemersatu bangsa.

  • Sila 4 (Kerakyatan dan Musyawarah):

    • Media sosial membuat banyak generasi muda:

      • Mudah menghujat,

      • Tidak menghargai pendapat,

      • Tidak menjunjung etika berdiskusi.

  • Sila 5 (Keadilan Sosial):

    • Gaya hidup hedon dan pamer di media sosial menciptakan:

      • Kesenjangan sosial,

      • Rasa iri,

      • Ketidakadilan psikologis di masyarakat.

Maka jelas bahwa artikel tersebut menggambarkan lemahnya pengamalan nilai Pancasila dalam kehidupan generasi muda saat ini.


C. Kearifan Lokal Indonesia yang Terkait dengan Sistem Etika Berdasarkan Sila Pancasila

Sila 1 – Ketuhanan Yang Maha Esa

  • Yasinan

  • Tahlilan

  • Pengajian kampung
    Mengajarkan:

  • Iman

  • Akhlak

  • Kejujuran

  • Tanggung jawab kepada Tuhan


Sila 2 – Kemanusiaan yang Adil dan Beradab

  • Tepo seliro (Jawa)

  • Mapalus (Minahasa)
    Mengajarkan:

  • Empati

  • Tenggang rasa

  • Sopan santun

  • Tolong-menolong


Sila 3 – Persatuan Indonesia

  • Gotong royong

  • Kerja bakti

  • Siskamling
    Mengajarkan:

  • Solidaritas

  • Persatuan

  • Rasa memiliki lingkungan


Sila 4 – Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan

  • Musyawarah desa

  • Rapat adat
    Mengajarkan:

  • Demokrasi

  • Menghargai pendapat

  • Keputusan bersama


Sila 5 – Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia

  • Lumbung desa

  • Bagi hasil panen
    Mengajarkan:

  • Pemerataan

  • Tidak serakah

  • Saling berbagi


D. Cara Menjaga dan Melestarikan Kearifan Lokal & Etika Berdasarkan Pancasila

  • Menanamkan etika dan sopan santun sejak kecil dalam keluarga

  • Memasukkan pendidikan karakter di sekolah

  • Mengaktifkan kembali:

    • Gotong royong

    • Kerja bakti

    • Kegiatan adat

  • Menggunakan media sosial untuk menyebarkan budaya positif

  • Menyaring budaya asing agar tidak merusak nilai bangsa

  • Memberikan teladan etika dari orang tua, guru, dan pemimpin

  • Menghidupkan kembali budaya:

    • Saling menghormati

    • Tidak berkata kasar

    • Tidak meremehkan orang lain


SEKIAN ANALISIS SOAL YANG SAYA JAWAB. Terima kasih....

In reply to First post

Re: Forum Analisis Soal

by rendy tri hamdani -
Nama :Rendy Tri Hamdani
Npm : 2505101005
Prodi : D3 Teknik Mesin

Analisis soal

A. Pendapat dan Hal Positif Artikel ini merupakan kritik sosial yang relevan mengenai pentingnya menjaga etika di era digital tanpa menolak kemajuan. Hal positif yang dapat diambil meliputi: peningkatan kesadaran diri sebelum berkomentar, pemahaman bahwa kebebasan memiliki batasan hak orang lain, pentingnya menjaga identitas bangsa yang santun, serta kemampuan menyaring budaya asing dengan norma lokal.

B. Hubungan dengan Pancasila sebagai Sistem Etika Pancasila berfungsi sebagai pedoman moral (moral compass) untuk mencegah kebebasan yang kebablasan. Artikel ini sangat berkaitan dengan Sila ke-2 (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab), yang menuntut perilaku santun dan memanusiakan orang lain. Etika Pancasila menekankan bahwa moralitas harus dipraktikkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar teori.

C. Kearifan Lokal Terkait Sila Pancasila

Sila 1: Pela Gandong (Maluku), mengajarkan toleransi dan kerukunan antarumat beragama.

Sila 2: Siri' Na Pacce (Sulawesi Selatan) atau Unggah-Ungguh (Jawa), mengajarkan untuk menjaga harga diri, rasa malu berbuat buruk, dan sopan santun.

Sila 3: Gotong Royong (Nasional) atau Mapalus (Minahasa), mengajarkan kerja sama demi kepentingan bersama.

Sila 4: Musyawarah Mufakat (Minangkabau), mengajarkan pengambilan keputusan lewat diskusi damai, bukan pemaksaan.

Sila 5: Subak (Bali), mengajarkan keadilan sosial dalam pembagian sumber daya.

D. Cara Menjaga Kearifan Lokal

• Pendidikan Karakter: Mengajarkan dan mempraktikkan sopan santun di sekolah serta rumah, bukan hanya teori.

• Konten Digital Positif: Membanjiri media sosial dengan konten kreatif yang mengangkat nilai budaya lokal.

• Keteladanan: Orang tua dan tokoh masyarakat wajib memberikan contoh perilaku santun yang nyata.

• Penguatan Aturan: Mengintegrasikan nilai adat ke dalam aturan komunitas agar tetap dipatuhi.