Wanty Nurkholifah
2213031051
Dalam perspektif Social Construction of Technology (SCP), ketidakefektifan aplikasi pembelajaran daring di daerah terpencil terjadi karena teknologi tersebut dikonstruksi dengan asumsi konteks perkotaan. Aplikasi dirancang berdasarkan kebutuhan, bahasa, dan budaya pengguna di wilayah dengan akses internet stabil dan literasi digital tinggi. Ketika teknologi yang sama diterapkan di daerah pedalaman Papua, Kalimantan, dan Nusa Tenggara, makna teknologi menjadi berbeda. Bagi pengembang dan pemerintah, aplikasi dianggap sebagai solusi pemerataan pendidikan, namun bagi guru dan siswa di daerah terpencil, aplikasi tersebut dipahami sebagai sesuatu yang sulit digunakan, tidak relevan, dan tidak mendukung cara belajar mereka sehari-hari.
Faktor sosial, budaya, dan lokalitas sangat memengaruhi penerimaan teknologi pendidikan. Bahasa pengantar yang tidak sesuai dengan bahasa ibu siswa, contoh materi yang jauh dari kehidupan sehari-hari, serta metode belajar yang tidak selaras dengan budaya lokal membuat teknologi kehilangan makna sosialnya. Guru juga memiliki peran penting dalam konstruksi makna teknologi. Ketika guru tidak dilibatkan dalam perancangan aplikasi dan tidak mendapatkan pendampingan yang memadai, teknologi dipersepsikan sebagai beban tambahan, bukan alat bantu pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa teknologi pendidikan tidak netral, melainkan dibentuk oleh nilai, kebiasaan, dan relasi sosial di lingkungan tempat teknologi digunakan.
Agar aplikasi edtech lebih efektif, pengembangan dan penerapannya harus mempertimbangkan prinsip SCP dan lokalitas. Aplikasi sebaiknya dirancang fleksibel, dapat digunakan secara luring atau dengan koneksi terbatas, serta memungkinkan penggunaan bahasa lokal dan konten kontekstual. Guru perlu dilibatkan sejak awal sebagai co-designer, sehingga aplikasi dapat disesuaikan dengan metode mengajar yang sudah ada. Pendekatan pendampingan juga lebih penting daripada sekadar distribusi aplikasi. Dengan cara ini, teknologi pendidikan tidak lagi dipaksakan dari atas, tetapi dikonstruksi bersama oleh pemerintah, pengembang, guru, dan komunitas lokal, sehingga lebih mudah diterima dan digunakan secara berkelanjutan.