CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 13

PT NusantaraTech adalah perusahaan nasional yang bergerak di bidang manufaktur alat elektronik rumah tangga. Selama 20 tahun terakhir, perusahaan ini sukses mendominasi pasar lokal dengan produk berkualitas dan harga terjangkau. Namun, memasuki era Industri 4.0, perusahaan mulai menghadapi tantangan besar.

Sejak 5 tahun terakhir, pasar mulai dibanjiri oleh produk-produk global dari perusahaan seperti XiaomiSamsung, dan LG, yang telah menerapkan teknologi Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI) pada produk mereka. Sementara itu, PT NusantaraTech masih mengandalkan model produksi konvensional dan belum melakukan digitalisasi proses bisnis.

Direksi perusahaan kini mulai mempertimbangkan untuk:

  • Menerapkan otomatisasi dalam proses produksi.
  • Mengembangkan produk berbasis IoT untuk bersaing dengan produk global.
  • Membentuk kerja sama internasional untuk mempercepat inovasi.

Namun, keputusan ini tidak mudah, karena:

  • Perusahaan memiliki keterbatasan SDM yang siap digital.
  • Investasi awal untuk transformasi digital sangat tinggi.
  • Terdapat kekhawatiran akan hilangnya banyak pekerjaan akibat otomatisasi.

 

Pertanyaan:

1. Apa saja tantangan utama yang dihadapi PT NusantaraTech dalam bersaing di era Industri 4.0, khususnya terhadap perusahaan global? Bagaimana tantangan ini berkaitan dengan perilaku bisnis global?

2. Jika Anda menjadi konsultan strategi bisnis untuk PT NusantaraTech, strategi apa yang Anda usulkan untuk menghadapi persaingan global dan memanfaatkan peluang di era 4.0, tanpa mengorbankan keberlanjutan tenaga kerja lokal?

3. Bandingkan pendekatan PT NusantaraTech dengan salah satu perusahaan global (misalnya Samsung, Xiaomi, atau Bosch) dalam merespons era Industri 4.0. Apa pelajaran yang dapat diambil dan diadaptasi oleh perusahaan nasional?


In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rafifa Tu Zakia 2213031044 -
Nama : Rafifa Tu Zakia
NPM : 2213031044

1. PT NusantaraTech menghadapi tantangan besar di era Industri 4.0 karena produk global dari Samsung, Xiaomi, dan LG sudah lebih maju dengan teknologi. Tantangan utamanya adalah keterbatasan sumber daya manusia yang belum siap digital, serta risiko hilangnya pekerjaan akibat otomatisasi. Hal ini berkaitan dengan perilaku bisnis global yang kini sangat mengutamakan inovasi, digitalisasi, dan efisiensi untuk merebut pasar.
2. Jika saya menjadi konsultan, strategi yang bisa ditempuh adalah melakukan transformasi digital secara bertahap. NusantaraTech dapat memulai dengan otomatisasi sederhana di lini produksi, lalu mengembangkan produk melalui kolaboratif dengan universitas atau startup lokal. selain itu untuk menjaga keberlanjutan tenaga kerja, perusahaan perlu memberikan pelatihan ulang (reskilling) agar pekerja mampu mengisi peran baru dalam operasional digital.
3. Jika dibandingkan dengan Samsung, misalnya, perusahaan tersebut berhasil lebih dulu mengintegrasikan digital karena investasi besar pada riset dan pengembangan. Pelajaran penting yang bisa diambil NusantaraTech adalah pentingnya investasi berkelanjutan pada inovasi, kolaborasi lintas pihak, serta membangun SDM yang adaptif terhadap teknologi baru. Dengan pendekatan ini, NusantaraTech tetap bisa bersaing tanpa kehilangan identitas sebagai perusahaan nasional yang peduli pada tenaga kerja lokal.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Agnes Yuhestifiani -
Nama: Agnes Yuhestifiani
NPM: 2213031045

1. Tantangan Utama PT NusantaraTech dalam Menghadapi Era Industri 4.0
PT NusantaraTech menghadapi sejumlah tantangan krusial dalam bersaing di era Industri 4.0, terutama dengan masuknya produk global yang telah mengintegrasikan teknologi canggih seperti Internet of Things (IoT) dan kecerdasan buatan (AI). Perusahaan-perusahaan seperti Xiaomi, Samsung, dan LG telah menetapkan standar baru dalam inovasi dan efisiensi, yang membuat produk konvensional menjadi kurang kompetitif. Tantangan utama NusantaraTech meliputi keterbatasan sumber daya manusia yang belum siap menghadapi digitalisasi, tingginya biaya investasi awal untuk transformasi teknologi, serta kekhawatiran sosial terkait pengurangan tenaga kerja akibat otomatisasi. Tantangan ini mencerminkan pola perilaku bisnis global yang semakin mengutamakan efisiensi, inovasi berkelanjutan, dan adaptasi cepat terhadap perubahan teknologi, yang menuntut perusahaan lokal untuk bertransformasi agar tetap relevan.

2. Strategi Bisnis untuk Menghadapi Persaingan Global dan Menjaga Keberlanjutan Tenaga Kerja
Sebagai konsultan strategi bisnis, pendekatan yang saya usulkan untuk PT NusantaraTech adalah transformasi bertahap yang menggabungkan inovasi teknologi dengan pelatihan dan pemberdayaan tenaga kerja lokal. Perusahaan dapat memulai dengan menerapkan otomatisasi pada proses produksi yang bersifat repetitif dan berisiko tinggi, sambil mengembangkan program pelatihan digital bagi karyawan agar mereka dapat beradaptasi dengan teknologi baru. Pengembangan produk berbasis IoT sebaiknya dilakukan melalui kolaborasi dengan startup teknologi lokal atau mitra internasional, sehingga inovasi dapat berjalan lebih cepat dan efisien. Selain itu, strategi diversifikasi produk dan penciptaan nilai tambah melalui layanan purna jual berbasis digital dapat menjadi daya tarik baru bagi konsumen. Dengan pendekatan ini, PT NusantaraTech tidak hanya mampu bersaing secara global, tetapi juga menjaga keberlanjutan sosial dan ekonomi tenaga kerja lokal.

3. Perbandingan Pendekatan PT NusantaraTech dan Samsung dalam Merespons Industri 4.0
Samsung sebagai perusahaan global telah menunjukkan respons yang agresif dan strategis terhadap era Industri 4.0 dengan mengintegrasikan teknologi AI dan IoT ke dalam hampir seluruh lini produknya, serta membangun ekosistem digital yang saling terhubung. Samsung juga berinvestasi besar dalam riset dan pengembangan, serta membentuk kemitraan global untuk mempercepat inovasi. Sebaliknya, PT NusantaraTech masih berada pada tahap awal transformasi, dengan model produksi yang konvensional dan keterbatasan dalam sumber daya teknologi. Pelajaran penting yang dapat diambil adalah pentingnya investasi berkelanjutan dalam inovasi dan SDM, serta membangun ekosistem kolaboratif yang mendukung pertumbuhan teknologi. PT NusantaraTech dapat mengadaptasi pendekatan Samsung dengan skala yang sesuai, seperti membentuk pusat inovasi lokal, memperkuat kemitraan strategis, dan mengembangkan produk yang relevan dengan kebutuhan pasar domestik yang terus berkembang.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by FAZA AULIA -
FAZA AULIA
2213031046
1. Tantangan utama:
PT NusantaraTech menghadapi keterlambatan transformasi digital, keterbatasan SDM yang siap teknologi, dan tekanan dari produk global seperti Samsung dan Xiaomi yang sudah menerapkan IoT dan AI. Tantangan ini mencerminkan perubahan perilaku bisnis global yang kini berfokus pada inovasi teknologi dan nilai tambah digital, bukan sekadar harga atau efisiensi produksi.

2. Strategi yang disarankan:
Perusahaan perlu melakukan digitalisasi bertahap agar efisien tanpa langsung menggantikan tenaga kerja. Lakukan pelatihan dan peningkatan kompetensi digital karyawan, kerja sama dengan mitra global untuk transfer teknologi, serta pengembangan produk IoT yang sesuai kebutuhan pasar lokal. Dengan strategi ini, NusantaraTech bisa berinovasi tanpa mengorbankan keberlanjutan tenaga kerja.

3. Perbandingan dan pelajaran:
Berbeda dari NusantaraTech, Samsung telah lebih dulu menerapkan konsep Smart Factory dan membangun ekosistem IoT yang terintegrasi. Pelajaran yang bisa diambil adalah pentingnya investasi pada SDM dan budaya inovasi, serta kolaborasi global untuk mempercepat adaptasi teknologi. Dengan langkah tersebut, PT NusantaraTech dapat bersaing di era Industri 4.0 sekaligus mempertahankan peran tenaga kerja lokal.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Selly Ismi Safitri -
Nama ; Selly Ismi Safitri
NPM ; 2213031049

1. PT NusantaraTech menghadapi tantangan utama berupa ketertinggalan teknologi dibandingkan perusahaan global yang telah lebih dulu mengadopsi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan sistem produksi berbasis digital. Ketertinggalan ini menyebabkan produk perusahaan kurang kompetitif dari sisi fitur, efisiensi, dan nilai tambah bagi konsumen. Selain itu, proses produksi yang masih konvensional membuat biaya operasional relatif lebih tinggi dan kurang fleksibel dalam menyesuaikan perubahan permintaan pasar.

Tantangan lain terletak pada keterbatasan sumber daya manusia yang siap menghadapi transformasi digital. Di era bisnis global, perusahaan multinasional cenderung mengandalkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknologi tinggi dan budaya inovasi yang kuat. Hal ini sejalan dengan perilaku bisnis global yang menekankan efisiensi, kecepatan inovasi, serta integrasi teknologi lintas negara. Jika PT NusantaraTech tidak beradaptasi, maka posisinya di pasar akan semakin terdesak oleh produk global yang menawarkan teknologi lebih canggih dengan harga kompetitif.

2. Sebagai konsultan strategi bisnis, langkah pertama yang dapat diusulkan adalah melakukan transformasi digital secara bertahap. Otomatisasi sebaiknya difokuskan pada proses produksi yang berulang dan berisiko tinggi, sementara tenaga kerja dialihkan ke fungsi yang bernilai tambah lebih besar, seperti pengendalian kualitas, desain produk, dan layanan purna jual. Dengan demikian, efisiensi dapat tercapai tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.

Selanjutnya, perusahaan perlu berinvestasi pada peningkatan kompetensi SDM melalui program pelatihan dan reskilling di bidang digital, IoT, dan analisis data. Kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga pelatihan, serta mitra teknologi internasional juga dapat dilakukan untuk mempercepat proses transfer pengetahuan. Di sisi produk, PT NusantaraTech dapat mulai mengembangkan produk IoT yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik, sehingga memiliki keunggulan lokal yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan global.

3. Jika dibandingkan dengan perusahaan global seperti Samsung, terlihat bahwa Samsung telah merespons era Industri 4.0 dengan investasi besar pada riset dan pengembangan, digitalisasi proses produksi, serta pembangunan ekosistem teknologi yang terintegrasi. Samsung juga secara aktif melakukan pelatihan tenaga kerja untuk memastikan kesiapan SDM menghadapi perubahan teknologi.

Pelajaran penting yang dapat diambil oleh PT NusantaraTech adalah bahwa transformasi digital tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pengembangan manusia dan budaya inovasi. Perusahaan nasional dapat mengadaptasi pendekatan ini dengan skala yang lebih sesuai, yaitu menerapkan teknologi secara selektif, memperkuat kompetensi tenaga kerja lokal, serta memanfaatkan pemahaman pasar domestik sebagai keunggulan bersaing. Dengan strategi tersebut, PT NusantaraTech dapat tetap relevan di era Industri 4.0 tanpa mengorbankan keberlanjutan sosial dan ekonomi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Selly Ismi Safitri -
Nama : Selly Ismi Safitri
NPM : 2213031049

1. PT NusantaraTech menghadapi tantangan utama berupa ketertinggalan teknologi dibandingkan perusahaan global yang telah lebih dulu mengadopsi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan sistem produksi berbasis digital. Ketertinggalan ini menyebabkan produk perusahaan kurang kompetitif dari sisi fitur, efisiensi, dan nilai tambah bagi konsumen. Selain itu, proses produksi yang masih konvensional membuat biaya operasional relatif lebih tinggi dan kurang fleksibel dalam menyesuaikan perubahan permintaan pasar.

Tantangan lain terletak pada keterbatasan sumber daya manusia yang siap menghadapi transformasi digital. Di era bisnis global, perusahaan multinasional cenderung mengandalkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknologi tinggi dan budaya inovasi yang kuat. Hal ini sejalan dengan perilaku bisnis global yang menekankan efisiensi, kecepatan inovasi, serta integrasi teknologi lintas negara. Jika PT NusantaraTech tidak beradaptasi, maka posisinya di pasar akan semakin terdesak oleh produk global yang menawarkan teknologi lebih canggih dengan harga kompetitif.

2. Sebagai konsultan strategi bisnis, langkah pertama yang dapat diusulkan adalah melakukan transformasi digital secara bertahap. Otomatisasi sebaiknya difokuskan pada proses produksi yang berulang dan berisiko tinggi, sementara tenaga kerja dialihkan ke fungsi yang bernilai tambah lebih besar, seperti pengendalian kualitas, desain produk, dan layanan purna jual. Dengan demikian, efisiensi dapat tercapai tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.

Selanjutnya, perusahaan perlu berinvestasi pada peningkatan kompetensi SDM melalui program pelatihan dan reskilling di bidang digital, IoT, dan analisis data. Kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga pelatihan, serta mitra teknologi internasional juga dapat dilakukan untuk mempercepat proses transfer pengetahuan. Di sisi produk, PT NusantaraTech dapat mulai mengembangkan produk IoT yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik, sehingga memiliki keunggulan lokal yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan global.

3. Jika dibandingkan dengan perusahaan global seperti Samsung, terlihat bahwa Samsung telah merespons era Industri 4.0 dengan investasi besar pada riset dan pengembangan, digitalisasi proses produksi, serta pembangunan ekosistem teknologi yang terintegrasi. Samsung juga secara aktif melakukan pelatihan tenaga kerja untuk memastikan kesiapan SDM menghadapi perubahan teknologi.

Pelajaran penting yang dapat diambil oleh PT NusantaraTech adalah bahwa transformasi digital tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pengembangan manusia dan budaya inovasi. Perusahaan nasional dapat mengadaptasi pendekatan ini dengan skala yang lebih sesuai, yaitu menerapkan teknologi secara selektif, memperkuat kompetensi tenaga kerja lokal, serta memanfaatkan pemahaman pasar domestik sebagai keunggulan bersaing. Dengan strategi tersebut, PT NusantaraTech dapat tetap relevan di era Industri 4.0 tanpa mengorbankan keberlanjutan sosial dan ekonomi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Selly Ismi Safitri -
Nama : Selly Ismi Safitri
NPM : 2213031049

1. PT NusantaraTech menghadapi tantangan utama berupa ketertinggalan teknologi dibandingkan perusahaan global yang telah lebih dulu mengadopsi Internet of Things (IoT), kecerdasan buatan (AI), dan sistem produksi berbasis digital. Ketertinggalan ini menyebabkan produk perusahaan kurang kompetitif dari sisi fitur, efisiensi, dan nilai tambah bagi konsumen. Selain itu, proses produksi yang masih konvensional membuat biaya operasional relatif lebih tinggi dan kurang fleksibel dalam menyesuaikan perubahan permintaan pasar.

Tantangan lain terletak pada keterbatasan sumber daya manusia yang siap menghadapi transformasi digital. Di era bisnis global, perusahaan multinasional cenderung mengandalkan tenaga kerja yang memiliki kemampuan teknologi tinggi dan budaya inovasi yang kuat. Hal ini sejalan dengan perilaku bisnis global yang menekankan efisiensi, kecepatan inovasi, serta integrasi teknologi lintas negara. Jika PT NusantaraTech tidak beradaptasi, maka posisinya di pasar akan semakin terdesak oleh produk global yang menawarkan teknologi lebih canggih dengan harga kompetitif.

2. Sebagai konsultan strategi bisnis, langkah pertama yang dapat diusulkan adalah melakukan transformasi digital secara bertahap. Otomatisasi sebaiknya difokuskan pada proses produksi yang berulang dan berisiko tinggi, sementara tenaga kerja dialihkan ke fungsi yang bernilai tambah lebih besar, seperti pengendalian kualitas, desain produk, dan layanan purna jual. Dengan demikian, efisiensi dapat tercapai tanpa harus melakukan pemutusan hubungan kerja secara besar-besaran.

Selanjutnya, perusahaan perlu berinvestasi pada peningkatan kompetensi SDM melalui program pelatihan dan reskilling di bidang digital, IoT, dan analisis data. Kerja sama dengan perguruan tinggi, lembaga pelatihan, serta mitra teknologi internasional juga dapat dilakukan untuk mempercepat proses transfer pengetahuan. Di sisi produk, PT NusantaraTech dapat mulai mengembangkan produk IoT yang disesuaikan dengan kebutuhan pasar domestik, sehingga memiliki keunggulan lokal yang tidak sepenuhnya dimiliki oleh perusahaan global.

3. Jika dibandingkan dengan perusahaan global seperti Samsung, terlihat bahwa Samsung telah merespons era Industri 4.0 dengan investasi besar pada riset dan pengembangan, digitalisasi proses produksi, serta pembangunan ekosistem teknologi yang terintegrasi. Samsung juga secara aktif melakukan pelatihan tenaga kerja untuk memastikan kesiapan SDM menghadapi perubahan teknologi.

Pelajaran penting yang dapat diambil oleh PT NusantaraTech adalah bahwa transformasi digital tidak hanya berfokus pada teknologi, tetapi juga pada pengembangan manusia dan budaya inovasi. Perusahaan nasional dapat mengadaptasi pendekatan ini dengan skala yang lebih sesuai, yaitu menerapkan teknologi secara selektif, memperkuat kompetensi tenaga kerja lokal, serta memanfaatkan pemahaman pasar domestik sebagai keunggulan bersaing. Dengan strategi tersebut, PT NusantaraTech dapat tetap relevan di era Industri 4.0 tanpa mengorbankan keberlanjutan sosial dan ekonomi.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by WANTY NURKHOLIFAH 2213031051 -
Wanty Nurkholifah
2213031051

1. Tantangan PT NusantaraTech di Era Industri 4.0

PT NusantaraTech menghadapi tantangan besar dalam bersaing di era Industri 4.0 karena masih menggunakan sistem produksi konvensional, sementara perusahaan global seperti Samsung dan Xiaomi sudah menerapkan teknologi IoT dan kecerdasan buatan. Akibatnya, produk PT NusantaraTech menjadi kurang inovatif dan kalah saing dari segi fitur maupun efisiensi produksi.

Selain itu, perusahaan juga memiliki keterbatasan sumber daya manusia yang siap menghadapi digitalisasi. Banyak tenaga kerja belum memiliki keahlian di bidang teknologi digital, sehingga proses transformasi menjadi lebih sulit. Di sisi lain, investasi untuk otomatisasi dan digitalisasi membutuhkan biaya besar, sementara perusahaan nasional memiliki keterbatasan modal dibanding perusahaan global. Tantangan ini berkaitan dengan perilaku bisnis global yang menuntut kecepatan inovasi, efisiensi, dan kemampuan beradaptasi terhadap teknologi baru.

2. Strategi yang Diusulkan untuk Menghadapi Persaingan Global

Sebagai konsultan strategi bisnis, saya menyarankan agar PT NusantaraTech melakukan transformasi digital secara bertahap. Perusahaan tidak perlu langsung mengganti seluruh proses produksi dengan mesin otomatis, tetapi dapat memulai dari bagian tertentu untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghilangkan banyak tenaga kerja.

Selain itu, perusahaan perlu meningkatkan kualitas tenaga kerja lokal melalui pelatihan dan pengembangan keterampilan digital. Dengan cara ini, tenaga kerja tidak tergantikan oleh teknologi, tetapi justru mampu mengoperasikan dan mengelola teknologi tersebut. PT NusantaraTech juga dapat mengembangkan produk berbasis IoT yang disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat lokal, sehingga tetap kompetitif namun dengan harga terjangkau. Kerja sama internasional dalam bentuk alih teknologi juga dapat dilakukan untuk mempercepat inovasi tanpa harus mengeluarkan biaya yang terlalu besar.

3. Perbandingan dengan Perusahaan Global dan Pelajaran yang Dapat Diambil

Perusahaan global seperti Samsung telah lebih dulu merespons era Industri 4.0 dengan berinvestasi besar pada riset, pengembangan teknologi, dan otomatisasi pabrik. Mereka juga menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki keahlian digital sehingga mampu bersaing di pasar global.

Berbeda dengan Samsung, PT NusantaraTech masih berfokus pada pasar lokal dan produksi konvensional. Namun, pelajaran penting yang dapat diambil adalah bahwa inovasi dan pengembangan SDM merupakan kunci utama untuk bertahan di era Industri 4.0. PT NusantaraTech tidak harus meniru sepenuhnya strategi perusahaan global, tetapi dapat mengadaptasinya sesuai dengan kondisi perusahaan dan tetap menjaga keberlanjutan tenaga kerja lokal.