Forum Diskusi

Forum Diskusi

Number of replies: 10

Mahasiswa semua silahkan tuliskan pendapat kalian mengenai perkembangan dan perubahan kurikulum di Indonesia pada masa orde lama dan apa saja karakteristik masing-masing kurikulum dan bagaimana proses implementasinya pada masa rentang waktu diberlakukannya kurikulum. 

In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Murniyati . -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, saya Murniyati dengan NPM 2013033025 izin menjawab pertanyaan.
Pada masa pemerintahan Orde Lama, dengan berlakunya Manipol Usdek maka kurikulum harus diubah untuk memasukkan pikiran-pikiran yang ada pada Manipol Usdek. Hal tersebut secara tegas dinyatakan dalam Instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan nomor 2 tahun 1961. Dengan instruksi Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan pada tahun 1961 tersebut maka dunia pendidikan Indonesia mengenal mata pelajaran baru yang dinamakan Civics untuk membentuk manusia Indonesia baru, manusia Indonesia yang sesuai dengan ajaran Manipol Usdek. Mata pelajaran ini kemudian menjadi mata pelajaran wajib di setiap jenjang pendidikan di Indonesia. Kebijakan ini kembali memperlihatkan bahwa kurikulum tidak dapat dilepaskan dari pengaruh politik.

Perubahan politik yang mendasar terjadi lagi di Indonesia yaitu pada tahun 1965. Ajaran Manipol serta ajaran komunis dilarang dan kurikulum sekolah harus bebas dari ajaran-ajaran tersebut. Untuk itu maka pemerintah menetapkan bahwa Pendidikan Pancasila merupakan pendidikan yang diarahkan untuk menangkal ajaran komunisme. Termasuk dalam Pendidikan Pancasila ini adalah Pendidikan Moral Pancasila (PMP).

Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani.

Setelah “Rentjana Pelajaran 1947”, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya menunjukkan secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran, (Djauzak Ahmad, Dirpendas periode1991-1995).

Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.

Demikian jawaban dari saya, mohon maaf jika terdapat kesalahan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Alfiani Rhamadani -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Izin memperkenalkan diri nama saya Alfiani Rhamadani dengan NPM 2013033043.
Kurikulum sejarah Indonesia dimulai dari kementerian PPK. Dimana filosofi pengembangan kurikulum sejarah ini lebih banyak mengarah pada pembahasan materi dan topik yang berkaitan dengan periode pergerakan nasional. Kurikulum ini lebih banyak mengharapkan guru Sejarah agar menekankan pengajaran pada proses penanaman nilai nasionalisme, persatuan dan kesatuan di antara keanekaragaman, toleransi dan saling menghargai. hal ini dijelaskan dalam Instruksi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan nomor 2 tahun 1961.

Pada kurikulum 1947 dibentuk kepanitiaan sejarah Indonesia yang diketuai oleh Prijono dengan anggotanya yang merupakan sejarawan UI dan sejarawan Belanda yang bekerja di UI dan dinas ke purbakalaan. Kepanitiaan ini dibentuk karena pandangan terhadap pelajaran sejarah Indonesia sebagai tempat yang strategis untuk membentuk watak atau karakter. Dalam kurikulum ini materi pelajaran sudah berorientasi pada kebutuhan hidup para siswa, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna ketika ditengah masyarakat. setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka memiliki keuntungan untuk lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih baik, dari pada mengajar berbagai mata pelajaran.

Pada kurikulum 1952 pelajaran sejarah mengarah kepada pendidikan nasional yang dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari dan juga sejarah masuk ke dalam rumpun ilmu pengetahuan sosial dan menganut Indonesia sentris. dalam kurikulum ini juga guru hanya mengajarkan satu pelajaran karena kurikulum ini juga disebut dengan kurikulum pelajaran terurai.

dalam kurikulum 1964, memusatkan ke dalam pancawardhana yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keterampilann, dan jasmani. dan pelajaran sejarah masuk ke dalam bidang pengetahuan. pembelajaran sejarah saat ini didapatkan dalam naskah Soekarno yang berideologi sosialisme.
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Rizky Pahlevi -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin memperkenalkan diri nama saya Rizky Pahlevi dengan NPM 2013033023. Izin menjawab ibu

Kurikulum sejarah masa orde lama ini lebih berorientasi sejarah yang mana penanaman sikap dan semangat patriotisme bertujuan untuk mengorbankan semangat kemerdekaan dan semangat juang generasi muda agar muncul keberanian dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Pada masa pemerintahan orde lama yang menjadi dasar pengembangan pendidikan nasional seperti yang tertuang dalam Undang-Undang pendidikan No.4 tahun 1950 dijelaskan dalan pendidikan nasional telah menempatkan kurikulum sejarah Indonesia pada posisi terhormat yang mana dalam pengajaran sejarah mampu membalikkan situasi dan pengajaran Eropa yang selama ini dibodohkan, pra-kolonialisme dan lambat laun mengikis budaya feodal. Kurikulum sejarah diharapkan diaplikasikan pembelajaran yang mencerdaskan rasa nasionalisme.
1. Kurikulum 1947 “Rentjana Pelajaran 1947”
Pelaksanaan kurikulum 1947 tidak menekankan pada aspek kognitif namun hanya mengutamakan pendidikan karakter seperti membangun rasa nasionalisme. Aspek selanjutnya yang menjadi tujuan utama dalam kurikulum Rentjana pelajaran 1947. Struktur program dalam Rentjana pelajaran 1947 dibagi menjadi dua bagian, yaitu struktur program menggunakan bahasa daerah dan bahasa Indonesia. Adapun struktur mata pelajaran pada kurikulum Rentjana pelajaran 1947 bersifat terpisah-pisah atau dalam konteks kurikulum disebut dengan separated curriculum. Kurikulum yang berjalan pada masa itu dikenal dengan nama "Rencana Pelajaran 1947" yang dilaksanakan pada 1950 yang mana rencana pembelajaran 1947 mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bermasyarakat dan bernegara dengan siswa diarahkan untuk bersosialisasi dengan masyarakat yang sangat kental dengan keseharian. Pengadaan pembelajaran kesenian dan pendidikan jasmani merupakan aspek afektif dan psikomotorik, sehingga yang paling penting dalam rencana pembelajaran 1947 yaitu menumbuhkan kesadaran dalam membela negara Indonesia.

2. Kurikulum 1952 (Kurikulum Rentjana Peladjaran Terurai 1952)
Rencana pembelajaran terurai 1952 lebih terperinci dalam setiap mata pelajaran dengan silabus mata pelajaran yang jelas dan seorang pendidik mengajar satu mata pelajaran. Dalam kurikulum rencana pembelajaran terurai 1952 peserta didik masih memiliki posisi yang sama yaitu sebagai objek karena pendidik menjadi subjek sentral dalam mentransfer ilmu pengetahuan. Pendidik dapat menentukan apa yang diperbolehkan peserta didik di kelas dan pendidik juga yang menentukan standar-standar keberhasilan peserta didik dalam proses pembelajaran. Pelajaran Terurai 1952, mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi, yaitu :
• Moral
• Kecerdasan
• Emosionalistik atau artistik
• Keterampilan
• Jasmani

3. Kurikulum 1964 (Rentjana Peladjaran 1964)
Pada kurikulum tahun 1964 difokuskan pada pengembangan daya cipta, karya, rasa, moral (panca Wardhana) dan karsa. Mata pelajaran diidentifikasikan dalam 5 kelompok bidang studi yaitu kecerdasan, moral, emosional atau artistik, keterampilan dan jasmani. Pada kurikulum ini pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional yang praktis dan pengarahan pendidikan dimulai melalui lingkup praksis yang mana bahwa setiap pembelajaran yang diajarkan di sekolah dapat terealisasikan dengan baik dan berkorelasi secara positif.

Sekian jawaban dari saya, mohon maaf jika terdapat kesalahan.
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Octari Tauvita -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Izin berpendapat ibu. Pada masa orde lama perkembangan serta perubahan kurikulum terlihat sangkut paut pada politis yang masa itu di pimpin Soekarno. Dimana kebijakan kurikulum masa itu beberapa tahun sekali berganti dan disesuaikan pada prioritas apa dan ditentukan mengarah pada apa, sesuai dengan kebijakan pemimpin. Orde lama kurikulum nya berganti 3 kali, dan memiliki karakteristik sendiri.
Seperti pada kurikulum 1947, yang pendidikannya mengarah pada pembentukan karakter masyarakat Indonesia yang berdaulat dan semangat akan nasionalisme, dan sejarah menjadi wadah yang pas untuk pembentukan karakter. Lalu masuk pada kurikulum 1952, yang sistem pendidikannya sudah mengarah ke nasional walaupun belum merata, dan guru mulai di pindahkan untuk satu mata pelajaran saja, dan materi pelajarannya diberikan untuk pelajaran hidup saat itu tidak menjangkau atau memikirkan masa depan, masa ini sejarah sudah masuk dalam rumpun IPS dan mulai lebih diakui serta ditingkatkan. 
Dan yang terakhir kurikulum 1964, yang mana berousat pada pancawardhana yakni peserta didik difokuskan untuk mengembangkan daya cipta, rasa, karsa, karya dan moral, pada kurikulum ini materi sejarah berorientasi pada manispol-usdek dan materi nya dari pidato-pidato soekarno. Pengimplementasian kurikulum tersebut contohnya pada kurikulum 1964 yang mana pelajaran hanya 9 dan masih sentralistik yakni diatur pemerintah.

Terima kasih. Mohon maaf jika terdapat kesalahan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Destania Melina Putri -
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Izin memperkenalkan diri :
Nama : Destania Melina Putri
NPM : 2013033013
Kurikulum 1947, “Rentjana Pelajaran 1947” berkembang dan dilaksanakan pada tahun 1950 dengan membuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya serta garis-garis besar pengajaran. Pada saat ini kurikulum masih dipengaruhi dengan pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah digunakan sebelumnya. Karena suasana kehidupan yang masih dalam masa semangat berjuang merebutkan kemerdekaan maka pada saat itu pendidikan menekankan pada suatu pembentukan karakter manusia yang diutamakan adalah pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani. Untuk mata pelajaran sejarah dibentuk sebuah kepanitiaan yang dibentuk karena pandangan terhadap pelajaran sejarah Indonesia. Maka pembelajaran sejarah diharapkan mampu mencerdaskan dan dapat mewujudkan nasionalisme generasi muda terhadap bangsa Indonesia.
Kurikulum 1952, “Rentjana Pelajaran Terurai 1952” sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya menunjukkan secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Pada kurikulum ini mata pelajaran sejarah masuk dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang sama dengan ilmu bumi. Dan materi nya lebih ke arah mengenai sejarah Indonesia dan diajarkan dari sudut indonesiasentris yang mana diharapkan bisa membangun semangat nasional siswa kala itu, juga semangat belajar agar membalikan situasi masyarakat yang kurang dalam hal pendidikan.
Kurikulum 1964, “Rentjana Pendidikan 1964” memiliki pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana begitu pula pada pembelajaran sejarah yang masuk dalam kategori inteligensi (pengetahuan). Pada kurikulum ini pelajaran lain termasuk sejarah berorientasi pada Manipol-Usdek dan materi sejarah dikumpulkan dari naskah presiden Soekarno. Hal tersebut penting karena Manipol-Usdek ini harus menjadi pedoman kegiatan hidup termasuk di dalamnya sebagai dasar penafsiran sejarah.
Sekian dari saya apabila ada kesalahan dan kekurangan mohon diperbaiki. Terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Lussy Safitri -

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh, izin memperkenalkan diri nama saya Lussy Safitri dengan NPM 2013033009. Izin menjawab ibu terkait pertanyaan yang telah diberikan.

Filosofi kurikulum masa awal kemerdekaan lebih berorientasi pada penanaman sikap dan semangat patriotisme yang bertujuan untuk mengobarkan semangat kemerdekaan dan komitmen sikap yang selalu mengutamakan persatuan serta kesatuan bangsa Indonesia di atas kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan. Nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila dijadikan landasan dan filosofi dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara yang telah dikemukakan secara jelas oleh presiden pertama Indonesia, yaitu Ir. Soekarno. Kurikulum sejarah Indonesia lebih banyak mengharapkan guru-guru sejarah agar menekankan pengajaran pada proses penanaman nilai-nilai nasionalisme, persatuan dan kesatuan di antara pluralisme atau keanekaragaman, toleransi dan saling menghargai. Adapun Kurikulum yang berlaku pada masa orde lama yaitu:

1) Kurikulum 1947, “Rentjana Pelajaran 1947” : Kurikulum yang berjalan saat itu dikenal dengan sebutan “Rentjana Pelajaran 1947”, yang baru dilaksanakan pada tahun 1950. Rencana pelajaran ini belum difokuskan pada ranah kognitif, namun diutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat, materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan jasmani. Pada masa ini dibentuknya kepanitiaan yang Sejarah Indonesia yang diketuai oleh Prijono dengan keanggotaan sejarawan UI dan sejarawan Belanda yang bekerja di UI dan Dinas Kepurbakalaan. Kepanitiaan tersebut dibentuk karena pandangan terhadap pelajaran sejarah Indonesia sebagai wahana yang strategis dalam rangka membentuk watak, karakter dan kepribadian warga negara kearah yang lebih baik melalui pengajaran sejarah.

2) Kurikulum 1952, “Rentjana Pelajaran Terurai 1952” : Pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”. Kurikulum ini sudah mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Silabus mata pelajarannya juga sudah cukup jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran. Pada kurikulum ini mata pelajaran sejarah masuk dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang sama dengan ilmu bumi. Dan materi nya lebih ke arah mengenai sejarah Indonesia dan diajarkan dari sudut Indonesiasentris yang mana diharapkan bisa membangun semangat nasional siswa kala itu, juga semangat belajar agar membalikkan situasi masyarakat yang kurang dalam hal pendidikan.

3) Kurikulum 1964, “Rentjana Pendidikan 1964” : Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964. Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana begitu pula pada pembelajaran sejarah yang masuk dalam kategori inteligensi (pengetahuan), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional atau artistik, keprigelan, dan jasmani. Pada kurikulum ini pelajaran lain termasuk sejarah berorientasi pada Manipol-Usdek dan materi sejarah dikumpulkan dari naskah presiden Soekarno.Selain Ideologi Pancasila dan Manipol-USDEK dunia pendidikan termasuk kurikulum sejarah di instruksikan untuk mengampanyekan ideologi marhaenisme, ideologi ini di sosialisasikan oleh kelompok nasionalis.

Demikian yang dapat saya jawab mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam menjawab ibu, wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Mia Nurlita 2013033011 -
assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh, sebelumnya terima kasih ibu atas pertanyaan nya,, izin memperkenalkan diri ibu,,
Nama: ,Mia Nurlita
Npm: 2013033011
izin menjawab ibu,,
pada kurikulum masa orde lama terbagi menjadi 3 yaitu :
1) Kurikulum 1947
Dikenal dengan sebutan Rentjana Pelajaran 1947, diterapkan pada tahun 1950 Bentuknya memuat dua hal pokok:
a. Daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya,
b. Garis-garis besar pengajaran.
Kurikulum 1947 peran pendidikan lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain. Orientasi Rencana Pelajaran tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari.

2) Kurikulum 1952
kurikulum 1952 merupakan kurikulum pertama yang memiliki dasar hukum operasional. setelah tahun 1950 undang-undang pendidikan yang dikenal dengan Undang-undang No. 4 Tahun 1950 disahkan pada tahun 1954 sebagai UU No. 12 Tahun 1954. Dari situlah dikenal undang-undang pendidikan yang pertama kali, yaitu No. 4 Tahun 1950 jo. No. 12 Tahun 1954. Pada Kurikulum 1952, materi pelajaran sudah berorientasi pada kebutuhan hidup para siswa, sehingga hasil pembelajaran dapat berguna ketika ditengah masyarakat. setiap guru mengajar satu mata pelajaran, maka memiliki keuntungan untuk lebih menguasai bidang pengajarannya dengan lebih baik, dari pada mengajar berbagai mata pelajaran.
Pada masa kurikulum 1952 dibentuk kelas Masyarakat. Yaitu sekolah khusus bagi lulusan Sekolah Rendah 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.

3) Kurikulum 1964
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keterampilann, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral.
Kurikulum 1964 Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi:
a. moral,
b. kecerdasan,
c. emosional/artistik,
d. keprigelan (keterampilan),
e. dan jasmaniah.
sekian ibu dari saya kurang lebihnya saya mohon maaf wassalamu'alaikum wr. wb. ibu....
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Hesti Ovallia -
Assalamualikum warahmatulahi wabrakatuh
nama : Hesti Ovallia
NPM : 2013033035
1. Kurikulum 1947, “Rentjana Pelajaran 1947”
Pada saat itu, kurikulum pendidikan di Indonesia masih dipengaruhi sistem
pendidikan kolonial Belanda dan Jepang, sehingga hanya meneruskan yang pernah
digunakan sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947 boleh dikatakan sebagai pengganti
sistem pendidikan kolonial Belanda. Karena suasana kehidupan berbangsa saat itu masih
dalam semangat juang merebut kemerdekaan maka pendidikan sebagai development
conformism lebih menekankan pada pembentukan karakter manusia Indonesia yang
merdeka dan berdaulat dan sejajar dengan bangsa lain di muka bumi ini. Orientasi
Rencana Pelajaran 1947 tidak menekankan pada pendidikan pikiran. Yang diutamakan
adalah: pendidikan watak, kesadaran bernegara dan bermasyarakat. Materi pelajaran
dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian dan pendidikan
jasmani.
2. Kurikulum 1952, “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”
Setelah “Rentjana Pelajaran 1947”, pada tahun 1952 kurikulum di Indonesia
mengalami penyempurnaan. Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang kemudian diberi nama “Rentjana Pelajaran Terurai 1952”. Kurikulum ini sudah
mengarah pada suatu sistem pendidikan nasional. Yang paling menonjol dan sekaligus ciri dari kurikulum 1952 ini bahwa setiap rencana pelajaran harus memperhatikan isi pelajaran yang dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Silabus mata pelajarannya menunjukkan secara jelas bahwa seorang guru mengajar satu mata pelajaran.
3. Kurikulum 1964, “Rentjana Pendidikan 1964”
Usai tahun 1952, menjelang tahun 1964, pemerintah kembali menyempurnakan
sistem kurikulum di Indonesia. Kali ini diberi nama Rentjana Pendidikan 1964.
Pokok-pokok pikiran kurikulum 1964 yang menjadi ciri dari kurikulum ini adalah
bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan
akademik untuk pembekalan pada jenjang SD, sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana, yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosional/ artistik, keprigelan, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
4. Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis, mengganti Rencana Pendidikan 1964
yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Dari segi tujuan pendidikan, Kurikulum
1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Dalam kurikulum ini tampak dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Mata pelajaran dikelompokkan menjadi 9 pokok. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. "Hanya memuat mata pelajaran pokok saja," . Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tidak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan. Isi pendidikan diarahkan pada kegiatan mempertinggi kecerdasan dan keterampilan, serta mengembangkan fisik yang sehat dan kuat.
5. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efektif dan
efisien. latar belakangi lahirnya kurikulum ini adalah pengaruh konsep di bidang
manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu," Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI), yang dikenal dengan istilah "satuan pelajaran", yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci menjadi : tujuan instruksional umum (TIU), tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibuat sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
6. Kurikulum 1984, “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”.
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan
pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering
disebut "Kurikulum 1975 yang disempurnakan". Posisi siswa ditempatkan sebagai
subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga
melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active
Leaming (SAL). Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolahsekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Akhiran penolakan CBSA bermunculan.
7. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 merupakan hasil upaya untuk memadukan kurikulum-kurikulum
sebelumnya, terutama kurikulum 1975 dan 1984. Sayang, perpaduan antara tujuan
dan proses belum berhasil. Sehingga banyak kritik berdatangan, disebabkan oleh beban belajar siswa dinilai terlalu berat, dari muatan nasional sampai muatan lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompokkelompok masyarakat juga mendesak agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Akhirnya, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi pelajaran saja.
8. Kurikulum 2004, “KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi)”
Sebagai pengganti kurikulum 1994 adalah kurikulum 2004, yang disebut
dengan Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)6. Suatu program pendidikan berbasis kompetensi harus mengandung tiga unsur pokok, yaitu: pemilihan kompetensi yang sesuai; spesifikasi indikator-indikator evaluasi untuk menentukan keberhasilan pencapaian kompetensi; dan pengembangan pembelajaran. KBK memiliki ciri-ciri sebagai berikut : Menekankan pada ketercapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal, berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman. Kegiatan pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi, sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi. Struktur kompetensi dasar KBK ini dirinci dalam komponen aspek, kelas dan semester. Keterampilan dan pengetahuan dalam setiap mata pelajaran, disusun dan dibagi menurut aspek dari mata pelajaran tersebut. Pernyataan hasil belajar ditetapkan untuk setiap aspek rumpun pelajaraN pada setiap level. Perumusan hasil belajar adalah untuk menjawab pertanyaan, “Apa yang harus siswa ketahui dan mampu lakukan sebagai hasil belajar mereka pada level ini?”. Hasil belajar mencerminkan keluasan, kedalaman, dan kompleksitas kurikulum dinyatakan dengan kata kerja yang dapat diukur dengan berbagai teknik penilaian. Setiap hasil belajar memiliki seperangkat indikator
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by RISKI RISMAWATI -
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, Saya Riski Rismawati dengan NPM 2013033029 izin menjawab pertanyaan.
mengenai perkembangan dan perubahan kurikulum di Indonesia pada masa orde lama dan apa saja karakteristik masing-masing kurikulum dan bagaimana proses implementasinya pada masa rentang waktu diberlakukannya kurikulum.
Kurikulum pada masa Orde Lama
1. Kurikulum 1947
Pada awal kemerdekaan istilah kurikulum dikenal dalam Bahasa Belanda yaitu “Leer Plan” yang artinya rencana pelajaran. Dalam kurikulum ini terdapat dua hal pokok yaitu daftar mata pelajaran, jam pengajaran serta Garis-Garis Besar Program Pengajaran (GBPP).
ciri-ciri kurikulum 1947:
  • Sifat kurikulum mata pelajaran yang terpisah (1946-1947). 
  • Menggunakan Bahasa Indonesia sebagai Bahasa pengantar di sekolah. 
  • Dalam jenjang Pendidikan memiliki jumlah mata pelajaran yang berbeda: Sekolah Rakyat (SR) – 16 bidang studi, SMP-17 bidang studi dan SMA jurusan B-19 bidang studi.
2. Kurikulum 1952 (Kurikulum Rentjana Peladjaran Terurai 1952)
Pada tahun ini system Pendidikan dan pengajaran diubah agar lebih sesuai dengan keinginan dan cita-cita bangsa Indonesia pada saat itu, yaitu dengan dibentuknya Panitia Penyelidik Pengajaran untuk mengubah kurikulum pada semua tingkat Pendidikan yang diorientasikan kepada kepentingan colonial diubah dengan kebutuhan bangsa yang merdeka. Pada kurikulum ini system Pendidikan dan pengajaran disesuaikan dengan cita-cita bangsa Indonesia pada saat itu. Kurikulum 1952 memusatkan pada program Pancawardhana yang mencakup daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral. Mata pelajaran pada kurikulum 1952 sudah disajikan dengan cukup jelas. kurikulum ini menerapkan kurikulum yang berorientasi pada masyarakat sehingga setelah menyelesaikan pendidikan mereka langsung dapat bekerja.
 
3. Kurikulum 1964
Perkembangan kurikulum ini sudah dapat dikatakan sempurna karena sudah menyentuk ketiga aspek penting perserta didik yakni perkembangan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dalam kurikulum 1964 sudah ada upaya lebih dalam pengembangan potensi serta Pendidikan yang sifatnya praktis bukan lagi hanya sekedar teori Mata pelajaran pun sudah diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi yaitu, moral, kecerdasan, emosional, keperigelan, keterampilan, dan jasmaniah.
Sekian jawaban saya, mohon maaf apabila terdapat kesalahan.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
In reply to First post

Re: Forum Diskusi

by Devi ayu lestari -
Assalamualaikum Pak Buu izin menanggapi saya Devi Ayu Lestari npm 2013033005.
pengembangan moral, kecerdasan, emosional/artistik, keterampilann, dan jasmani. Ada yang menyebut Panca wardhana berfokus pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral.
Kurikulum orde lama Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi:
moral,
kecerdasan,
emosional/artistik,
keprigelan (keterampilan),
dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
Sekian jawaban saya kurang lebihnya saya mohon maaf wassalamu'alaikum