Forum Analisis Jurnal 2

Forum Analisis Jurnal 2

Number of replies: 22

Lampirkan analisis anda mengenai jurnal diatas, dengan menyertakan identitas diri seperti nama dan NPM.

In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Nela Azkia -
Nama: Nela Azkia
Npm: 2513053188

Artikel ini membahas perkembangan moral siswa SD dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg. Penelitian dilakukan pada 10 siswa kelas VI yang berusia 11–12 tahun. Siswa diberikan kasus dilema moral, kemudian jawaban mereka dianalisis berdasarkan alasan yang digunakan dalam mengambil keputusan.

Menurut saya, cara penelitian ini cukup menarik karena peneliti tidak hanya melihat keputusan yang dibuat oleh siswa, tetapi juga melihat alasan di balik keputusan tersebut. Hal ini penting karena tindakan yang sama belum tentu menunjukkan tingkat perkembangan moral yang sama. Misalnya, anak memilih untuk menepati janji karena takut disebut pembohong tentu berbeda dengan anak yang menepati janji karena mempertimbangkan perasaan temannya. Dalam teori Kohlberg, alasan seperti inilah yang menunjukkan perkembangan penalaran moral seseorang.
Dari hasil penelitian, sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional. Sebanyak 90% siswa cenderung mengambil keputusan karena takut mendapat hukuman atau mendapat penilaian buruk dari orang lain. Hanya satu siswa yang menunjukkan tahap perkembangan lebih tinggi karena sudah mempertimbangkan keadaan orang lain dalam mengambil keputusan.

Menurut saya, hasil tersebut menunjukkan bahwa anak usia SD masih membutuhkan bimbingan dalam mengembangkan penalaran moralnya. Anak mungkin sudah tahu bahwa suatu tindakan itu benar atau salah, tetapi belum tentu memahami alasan yang lebih dalam dari tindakan tersebut. Karena itu, dalam pembelajaran guru dapat memberikan contoh masalah atau situasi sederhana yang membuat siswa berpikir tentang pilihan dan alasan dari tindakan yang mereka ambil.
Hal yang juga perlu diperhatikan adalah perkembangan moral setiap anak tidak selalu sama. Walaupun usia dan kelasnya sama, cara berpikir mereka dalam menghadapi masalah moral bisa berbeda. Penelitian ini memang hanya dilakukan pada 10 siswa sehingga belum bisa menggambarkan semua siswa SD, tetapi hasilnya menunjukkan bahwa perkembangan moral anak dapat berbeda sesuai dengan cara mereka mempertimbangkan suatu masalah.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Risma Calista Putri -
Risma Calista Putri 2513053179

Jurnal “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” membahas perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun dengan menggunakan teori perkembangan moral Kohlberg. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan moral siswa melalui kemampuan mereka dalam mengambil keputusan ketika menghadapi dilema moral. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan memberikan angket terbuka kepada 10 siswa kelas VI, kemudian jawaban mereka dianalisis berdasarkan tahap perkembangan moral Kohlberg.
Dalam teori Kohlberg, perkembangan moral dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tingkat pra-konvensional, khususnya tahap 1. Pada tahap ini, siswa cenderung menentukan benar atau salah berdasarkan hukuman dan konsekuensi yang akan diterima. Dari 10 responden, sebanyak 90% masih berada pada tingkat pra-konvensional, sedangkan satu siswa menunjukkan perkembangan moral yang lebih tinggi karena sudah mempertimbangkan kepentingan dan perasaan orang lain dalam mengambil keputusan.
Jurnal ini juga menunjukkan bahwa perkembangan moral tidak cukup dilihat dari tindakan yang dilakukan siswa, tetapi perlu dilihat dari alasan atau pertimbangan yang mendasari tindakan tersebut. Contohnya, beberapa siswa memilih menepati janji karena takut dianggap berbohong atau mendapat hukuman, sedangkan Khansa mempertimbangkan perasaan temannya dan keselamatan adiknya. Perbedaan alasan tersebut menunjukkan adanya perbedaan tingkat penalaran moral meskipun tindakan yang dilakukan terlihat hampir sama.
Menurut saya, jurnal ini penting bagi guru SD karena menunjukkan bahwa perkembangan moral setiap siswa tidak selalu sama, meskipun berada pada usia dan kelas yang sama. Guru perlu memahami alasan di balik perilaku siswa dan memberikan pengalaman yang dapat melatih mereka untuk mempertimbangkan akibat, kepentingan orang lain, serta nilai yang benar dalam mengambil keputusan. Dengan begitu, perkembangan moral siswa tidak hanya didasarkan pada rasa takut terhadap hukuman, tetapi dapat berkembang menjadi kesadaran moral yang lebih baik.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Syifa olivia -
Nama: Syifa Olivia
NPM: 2513053183

Jurnal “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” karya Enung Hasanah membahas perkembangan moral siswa SD berdasarkan teori Kohlberg. Dalam jurnal ini terlihat bahwa cara berpikir moral siswa masih berbeda-beda. Ada siswa yang lebih memikirkan akibat dari perbuatannya, seperti takut dihukum, dimarahi, atau mendapat penilaian yang tidak baik dari orang lain. Ada juga yang sudah mulai memikirkan perasaan orang lain dan hubungan dengan orang di sekitarnya. Jadi, anak bisa saja sama-sama memilih tindakan yang benar, tetapi alasan di balik pilihannya berbeda.

Menurut saya, bagian ini penting karena kadang kita hanya melihat hasil akhirnya saja. Misalnya, ada anak yang tidak berbohong karena takut dihukum, sedangkan anak lain tidak berbohong karena tidak ingin menyakiti orang lain. Dari luar memang terlihat sama, tetapi cara berpikirnya sudah berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan moral bukan hanya tentang anak tahu mana yang benar dan salah, tetapi juga tentang alasan yang membuat anak memilih suatu tindakan.
Kalau dikaitkan dengan pendidikan SD, guru juga perlu memperhatikan hal seperti ini. Ketika siswa melakukan kesalahan, guru tidak hanya perlu memberikan tahu bahwa tindakannya salah, tetapi juga bisa mengajak siswa memahami alasan kenapa tindakan tersebut tidak baik dan bagaimana dampaknya terhadap orang lain. Dengan begitu, anak tidak hanya melakukan sesuatu karena takut mendapat hukuman.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Nayla Salsa Ramadhani -
Nayla Salsa Ramadhani 2513053167
Jurnal tersebut membahas tentang perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg. penelitian ini dilakukan kepada 10 siswa kelas VI yang berusia 11-12 tahun. nah siswa diberikan pertanyaan terbuka berupa dilema moral lalu jawaban mereka itu dianalisis berdasarkan alasan yang mereka gunakan dalam mengambil keputusan. menurut saya, dari sini terlihat bahwa perkembangan moral anak itu tidak cukup dilihat hanya dari tindakannya saja tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. nah dalam teori Kohlberg juga perkembangan moral itu dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. pada tahap awal, anak itu cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum atau mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan. nah setelah berkembang, pertimbangannya itu mulai berkaitan dengan kepentingan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, aturan, sampai prinsip moral. jadi menurut saya, yang membedakan perkembangan moral seseorang bukan hanya dari apa yang dilakukan tetapi alasan kenapa dia melakukan hal tersebut.
hal ini terlihat dari dilema yang diberikan kepada siswa tentang Ardi yang harus memilih antara pergi mengerjakan tugas kelompok atau tinggal di rumah untuk menjaga adiknya. nah sebagian besar siswa itu memilih tetap pergi karena takut dianggap sebagai pembohong, takut mendapat hukuman, atau takut ketinggalan pelajaran. namun ada satu siswa yaitu Khansa yang memberikan alasan berbeda. Khansa tetap ingin pergi belajar, tetapi ia juga memikirkan teman-temannya yang menunggu dan adiknya yang tidak ada yang menjaga, karena itu perkembangan moral Khansa itu dinilai sudah lebih tinggi dibandingkan teman-temannya. hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 90% siswa masih berada pada tingkat pra-konvensional sedangkan 10% atau satu siswa yaitu Khansa sudah berada pada tingkat yang lebih tinggi. dari sini saya memahami bahwa anak yang usianya sama belum tentu memiliki perkembangan moral yang sama juga. sebagian anak itu masih berpikir berdasarkan hukuman atau akibat yang akan diterima, sementara sebagian lainnya sudah mulai mempertimbangkan keadaan dan perasaan orang lain. menurut saya, hal yang bisa diterapkan dalam pendidikan adalah guru tidak hanya melihat apakah siswa itu melakukan sesuatu yang benar atau salah, tetapi juga perlu melihat alasan di balik perilakunya. guru bisa memberikan masalah sederhana kepada siswa dan meminta mereka menjelaskan alasan dari pilihan yang mereka buat. dari sini saya memahami bahwa perkembangan moral anak itu masih terus berkembang, sehingga guru itu perlu memahami cara berpikir setiap siswa dan tidak menyamakan perkembangan moral semua anak.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Gracella Pelita Utomo -
Gracella Pelita Utomo
2513053178

Jurnal ini menjelaskan cara anak-anak SD berusia 11 hingga 12 tahun membuat keputusan ketika menghadapi masalah moral. Dalam kurikulum atau kehidupan sosial, moral tidak hanya tentang tahu mana yang baik dan buruk, tetapi juga tentang alasan yang mendasari setiap keputusan yang diambil. Penulis menguji 10 siswa kelas VI SD dengan menggunakan skenario dilema moral, yaitu kasus Ardi yang bingung memilih antara pergi belajar kelompok atau mengurus adiknya karena ibunya harus pergi mendadak. Mayoritas anak berusia 11 hingga 12 tahun masih memprioritaskan patuh kepada orang tua atau guru agar tidak mendapat sanksi. Meski begitu, faktor lingkungan dan cara orang tua mendidik tetap memberi kesempatan bagi anak untuk tumbuh menjadi lebih dewasa secara moral lebih cepat (seperti contoh Khansa). Penelitian ini sangat membantu sebagai acuan awal dalam menyusun strategi pendidikan karakter di tingkat sekolah dasar.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Siti Zahra Ramadhani -
Nama: Siti Zahra Ramadhani
Npm: 2513053189

Jurnal ini membahas perkembangan moral siswa SD berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian dilakukan pada 10 siswa kelas VI berusia 11–12 tahun menggunakan metode kualitatif dan soal dilema moral. Teori Kohlberg sendiri menjelaskan bahwa perkembangan moral terbagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahwa mayoritas siswa masih dalam tahap pra-konvensional, khususnya tahap 1, yakni ketaatan dan hukuman. Siswa cenderung mengambil tindakan tertentu karena takut akan hukuman, takut dianggap tidak jujur, atau takut mendapat penilaian negatif dari orang lain. Hanya seorang siswa yang menunjukkan alasan yang lebih memperhatikan perasaan dan hubungan dengan orang lain sehingga mencapai tahap 3.

Menurut saya, penelitian ini menunjukkan bahwa usia siswa tidak selalu menjadi faktor penentu kematangan moralnya, karena yang diperhatikan bukan hanya perilaku siswa, melainkan juga alasan di balik perilaku itu. Oleh karena itu, guru perlu membantu siswa mengembangkan penalaran moral melalui pembiasaan, keteladanan, diskusi, dan pemberian situasi yang membuat siswa belajar mempertimbangkan alasan serta dampak dari tindakannya, bukan hanya bertindak karena takut mendapat hukuman.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Arista Klara Setianingrum -
Arista Klara Setianingrum
2513053170

Jurnal membahas perkembangan moral pada siswa sekolah dasar berdasarkan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg. Peneliti memiliki tujuan untuk mengetahui tingkat perkembangan moral siswa SD yang berusia 11-12 tahun pada siswa kelas IV. Menurut teori Kohlberg perkembangan moral dibagi kedalam tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. Tingkat pra meliputi tahap ketaatan dan hukuman. Tahap konvensional meliputi orientasi hubungan interpersonal dan menjaga ketertiban sosial. Tingkat pasca meliputi kontrak sosial dan hak individu serta prinsip-prinsipetika universal.

Dari penelitian jurnal menunjukkan siswa usia 11-12 tahun berada pada tingkat pra-konvensional. Sebagian besar siswa menentukan tindakan berdasarkan konsekuensi yang mungkin diterima,seperti takut dianggappembohong, takut dimarahi, takut mendapat hukuman, atau takut mengalami kerugian. Dari hal tersebut dapat dilihat bahwa keputusan moral sebagian besar siswa dipengaruhi oleh aturan dan konsekuensi dari suatu tindakan. Namun terdapat satu siswa yang menunjukkan penalaran moral yang lebih tinggi dibandingkan responden yang lain. berdasarkan hal tersebut dapat diartikan bahwa lingkungan, pengalaman, hubungan sosial, serta kemampuan mempertimbangkan kepentingan orang lain dapat mempengaruhi perkembangan penalaran moral seseorang.

Guru berperan tidak hanya mengajarkan aturan mengenai perilaku baik dan buruk, tetapi memberikan pemahaman alasan dibalik suatu tindakan. Guru juga perlu menciptakan pembelajaran yang memberikan pengalaman yang mendorong siswa berfikir kritis, berdiskusi, mempertimbangkan konsekuensi, memahami perasaan orang lain, dan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by syafina aulia -
Syafina Aulia
2513053164

Menurut saya, jurnal ini membahas perkembangan moral siswa SD berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian dilakukan pada 10 siswa kelas VI yang berusia 11–12 tahun dengan memberikan mereka pertanyaan tentang dilema moral. Hasilnya menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional, yaitu cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum atau takut mendapat akibat yang tidak baik.

Menurut saya, hal yang menarik dari jurnal ini adalah perkembangan moral anak tidak bisa hanya dilihat dari tindakan yang mereka lakukan, tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. Misalnya, siswa sama-sama memilih menepati janji, tetapi ada yang melakukannya karena takut disebut pembohong dan ada yang melakukannya karena peduli kepada orang lain. Jadi, guru perlu memahami alasan siswa dalam mengambil keputusan agar pembinaan moral bisa disesuaikan dengan perkembangan mereka.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Sindi Aulia -
Nama: Sindi Aulia
Npm: 2513053171

Menurut saya, jurnal ini membahas tentang perkembangan moral siswa SD berdasarkan teori Kohlberg. Yang menarik, perkembangan moral anak tidak hanya dilihat dari tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari alasan mereka melakukan tindakan tersebut. Dalam penelitian terhadap 10 siswa kelas VI, sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional. Mereka cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum atau takut mendapat akibat yang tidak menyenangkan. Misalnya, beberapa siswa memilih tetap menepati janji karena takut dianggap berbohong oleh teman. Dari jurnal ini dapat dipahami bahwa setiap anak memiliki perkembangan moral yang berbeda. Hal ini terlihat dari Khansa yang sudah mempertimbangkan perasaan teman dan kondisi adiknya ketika mengambil keputusan. Jadi, menurut saya guru tidak cukup hanya mengajarkan aturan benar dan salah, tetapi juga perlu membimbing siswa agar memahami alasan di balik suatu tindakan dan belajar mempertimbangkan orang lain.

Kesimpulannya, perkembangan moral siswa perlu diperhatikan dalam proses pendidikan. Anak diharapkan tidak hanya berbuat baik karena takut dihukum, tetapi perlahan dapat memahami nilai dan alasan mengapa suatu tindakan itu baik atau buruk.
In reply to Sindi Aulia

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by AULIA TAZKIA ANNAAFI -
Nama: Aulia Tazkia Annnaafi
Npm: 2513053165
Kelas: 3G


Jurnal Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg membahas perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori perkembangan moral Kohlberg. Penelitian dilakukan terhadap 10 siswa kelas VI dengan menggunakan dilema moral untuk melihat bagaimana siswa memberikan alasan dalam menentukan suatu tindakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tingkat perkembangan moral pra-konvensional, meskipun terdapat perbedaan perkembangan antara satu siswa dengan siswa lainnya.
Menurut analisis saya, hasil tersebut menunjukkan bahwa perkembangan moral siswa tidak cukup dilihat dari perilaku yang mereka tunjukkan, tetapi juga dari alasan di balik perilaku tersebut. Siswa yang melakukan tindakan baik belum tentu memiliki alasan yang sama. Ada yang melakukan karena takut mendapat hukuman, sedangkan yang lain karena memahami bahwa tindakan tersebut memang baik dan bermanfaat bagi orang lain. Karena itu, guru perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk berdiskusi dan menjelaskan alasan dari pilihan mereka ketika menghadapi suatu masalah moral.

Jurnal ini berkaitan dengan kehidupan nyata karena siswa sering menghadapi pilihan moral dalam kehidupan sehari-hari, seperti menaati aturan, bersikap jujur, membantu teman, dan bertanggung jawab. Melalui pengalaman dan bimbingan yang tepat, siswa dapat mengembangkan cara berpikir moral secara bertahap.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by anggun pratistia -

Nama: Anggun Andhita Pratistia

NPM: 2513053174

Penelitian ini mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD berusia 11–12 tahun menggunakan teori Kohlberg, dengan menelaah alasan keputusan mereka terhadap dilema janji menjaga adik dan berkumpul bersama teman. Hasilnya menunjukkan 90% siswa masih berada pada tahap pra-konvensional bertindak benar terutama karena takut dihukum atau dinilai buruk orang lain, belum didasari kesadaran akan nilai kebaikan itu sendiri dan hanya satu siswa yang sudah mempertimbangkan kepentingan orang lain, masuk ke tahap konvensional. Hal mengindikasikan bahwa pada usia tersebut penalaran moral siswa masih didominasi pertimbangan akibat eksternal, bukan penghayatan nilai yang tumbuh dari dalam. Menurut pendapat saya, temuan ini mengingatkan bahwa pendidikan moral tidak boleh sekadar menekankan ketaatan pada aturan atau ketakutan sanksi, melainkan perlu menumbuhkan kemampuan memahami alasan di balik nilai, empati, dan tanggung jawab, sehingga siswa secara bertahap berkembang menuju keputusan moral yang didasari kesadaran, bukan sekadar menghindari hukuman.

In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Santri Ariska -
Nama: santri ariska
Npm:2513053180

Jurnal "Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg" ini meneliti tingkat perkembangan moral anak SD usia 11-12 tahun. Penelitinya memberi 10 siswa kelas VI sebuah soal dilema moral, yaitu tokoh Ardi yang sudah janji kerja kelompok, tapi tiba-tiba harus menjaga adiknya di rumah. Dari jawaban siswa, peneliti melihat alasan di balik pilihan mereka, lalu dicocokkan dengan tahap-tahap teori Kohlberg. Hasilnya, 9 dari 10 siswa masih ada di tingkat pra-konvensional. Mereka memilih tetap ikut kerja kelompok bukan karena peduli pada temannya, tapi karena takut dicap pembohong atau takut dihukum. Bahkan banyak yang tidak memikirkan nasib adiknya sama sekali. Hanya satu anak, yaitu Khansa, yang alasannya sudah lebih tinggi karena dia merasa kasihan pada teman yang menunggu dan pada adiknya kalau tidak ada yang jaga. Yang menarik, tindakan mereka hampir sama semua, tapi alasannya beda. Jadi menurut saya benar kata Kohlberg, kematangan moral itu tidak bisa dinilai hanya dari perbuatan yang kelihatan.
Menurut saya, hasil ini wajar untuk anak seusia itu, tapi tetap jadi catatan penting buat calon guru SD. Kalau anak baru patuh karena takut dihukum, berarti guru jangan hanya mengandalkan aturan dan hukuman. Guru perlu mengajak anak berpikir kenapa suatu tindakan itu baik atau buruk, misalnya lewat diskusi kasus sederhana, supaya mereka mulai memikirkan perasaan orang lain, bukan cuma takut kena marah. Kekurangannya, penelitian ini cuma melibatkan 10 siswa, jadi hasilnya belum bisa dianggap mewakili semua anak SD. Tapi sebagai gambaran awal tentang cara berpikir moral anak, menurut saya jurnal ini sudah cukup membantu.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by khansa a zalfaa aathifah -
Nama: khansa'a zalfaa aathifah
Npm: 2513053169
Teori perkembangan moral yang diajukan oleh Lawrence Kohlberg adalah salah satu kerangka penting yang digunakan untuk menilai tingkat cara seseorang berpikir dan berkembang secara moral ketika menghadapi dilema moral. Penelitian yang dilakukan oleh Enung Hasanah bertujuan untuk memahami sejauh mana perkembangan moral siswa Sekolah Dasar yang berusia 11 hingga 12 tahun, berdasarkan tahapan dalam teori Kohlberg.Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif, hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum siswa usia 11-12 tahun masih berada pada tahap prakonvensional. Lebih lanjut, tahapan yang paling utama adalah tahap 1/2, kemudian diikuti oleh tahap 2 dan tahap 2/3. Anak-anak dalam usia ini umumnya melakukan tindakan atau perbuatan karena terdorong oleh rasa takut akan sanksi atau hukuman yang akan diterima jika mereka melanggar aturan, bukan karena memahami secara matang nilai-nilai moral atau memiliki motivasi untuk mendapatkan hasil yang positif.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by M. Iqbal al havid -

Nama : M. Iqbal Al Havid

Npm : 2513053182

Berdasarkan penelitian Enung Hasanah, perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun umumnya masih berada pada tingkat pra-konvensional dalam teori Kohlberg. Pada tahap ini, anak cenderung menentukan benar atau salah berdasarkan akibat yang akan diterima, terutama karena takut mendapat hukuman atau penilaian buruk dari orang lain. 

Hal tersebut terlihat dari hasil penelitian terhadap 10 siswa kelas VI. Sebanyak 9 siswa memberikan alasan yang berhubungan dengan takut dianggap berbohong, takut dimarahi, atau takut mendapat konsekuensi. Sementara itu, 1 siswa, yaitu Khansa, menunjukkan perkembangan moral yang lebih tinggi karena mempertimbangkan perasaan dan kepentingan orang lain, bukan hanya memikirkan dirinya sendiri.

Menurut saya, hasil ini menunjukkan bahwa perkembangan moral anak tidak hanya dapat dilihat dari tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. Karena itu, guru dan orang tua perlu membantu anak memahami alasan mengapa suatu tindakan dianggap baik atau buruk, bukan hanya membuat anak patuh karena takut dihukum. Dengan begitu, perkembangan moral anak dapat berkembang secara bertahap menuju kesadaran yang lebih mandiri.

In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Nisrina Alya Ramadina -
Nama: Nisrina Alya Ramadina
Npm: 2513053185

Pada jurnal ini membahas perkembangan moral siswa SD usia 11–12 tahun berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan memberikan soal berupa dilema moral kepada 10 siswa kelas VI. Dari penelitian tersebut, terlihat bahwa sebagian besar siswa masih berada pada tahap pra-konvensional, yaitu cenderung melakukan sesuatu karena takut mendapat hukuman atau mendapat penilaian buruk dari orang lain. Hal yang menurut saya menarik adalah Kohlberg melihat perkembangan moral bukan hanya dari tindakan yang dilakukan seseorang, tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. Misalnya, seseorang bisa saja melakukan hal yang benar, tetapi alasannya berbeda. Dalam penelitian ini, sebagian besar siswa memilih untuk menepati janji karena takut disebut pembohong atau takut mendapat hukuman. Namun, ada satu siswa yaitu Khansa yang menunjukkan perkembangan moral lebih tinggi karena mempertimbangkan perasaan temannya dan adiknya. Jadi, yang membedakan tingkat perkembangan moral bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi bagaimana seseorang mempertimbangkan alasan dari tindakannya.

Menurut saya, jurnal ini menunjukkan bahwa perkembangan moral anak membutuhkan proses dan tidak bisa langsung terbentuk hanya melalui aturan atau nasihat. Anak perlu diberi kesempatan untuk menghadapi masalah, memahami akibat dari pilihannya, dan belajar mempertimbangkan kepentingan orang lain. Guru juga perlu memahami tahap perkembangan moral siswa agar pembelajaran karakter yang diberikan sesuai dengan kondisi mereka. Dengan begitu, siswa tidak hanya melakukan sesuatu karena takut dihukum, tetapi perlahan dapat memahami alasan mengapa suatu tindakan dianggap baik atau buruk.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Alya Puti Wita Prasayu -
Nama : Alya Puti Wita Prasayu
NPM : 2513053175

Dalam Jurnal “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg Oleh Enung Hasanah” dijelaskan bahwa kematangan tindakan seseorang tidak dinilai dari wujud fisiknya semata, melainkan dari sejauh mana alasan di balik keputusan tersebut mempertimbangkan dampak dan kesejahteraan orang lain. Hasil penelitian dari jurnal ini menunjukkan bahwa 90% siswa berada pada Tingkat I (Pra-konvensional), Tahap 1 (Orientasi Ketaatan dan Hukuman). Nilai moral yang melandasi keputusan mereka masih didominasi oleh motif egosentris dan rasa takut akan sanksi, seperti takut dicap pembohong, takut dimarahi orang tua, atau takut tertinggal pelajaran. Cara berpikir seperti ini tergolong rendah dalam skala nilai moral karena mereka hanya berfokus meminimalkan kerugian pribadi tanpa memikirkan nasib atau keselamatan sang adik. Sebaliknya, terdapat 1 siswa (10%) bernama Khansa yang berhasil mencapai Tingkat II (Konvensional), Tahap 3 (Orientasi Interpersonal). Khansa memilih membawa adiknya ikut belajar kelompok karena merasa kasihan jika teman-temannya menunggu dan kasihan jika adiknya tidak ada yang menjaga. Dari perspektif nilai moral, pertimbangan ini jauh lebih matang karena dilandasi empati, tenggang rasa, serta upaya menjaga kesejahteraan bersama (common good) agar tidak ada pihak yang dirugikan. Secara keseluruhan, temuan ini menegaskan bahwa mayoritas anak SD masih mengambil keputusan atas dasar rasa takut dihukum ketimbang kesadaran moral yang murni. Oleh karena itu, pendidikan nilai di sekolah tidak boleh berhenti pada aturan dogmatis atau sanksi fisik, melainkan harus melatih siswa memperhitungkan konsekuensi nyata dari setiap tindakan agar mampu mengambil keputusan yang tidak hanya aman bagi diri sendiri, tetapi juga bermanfaat bagi orang lain.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Alif Laila Fadillah -
Nama :Alif Laila Fadillah
Npm :2513053168

Dalam Jurnal "Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” bertujuan mengukur tingkat perkembangan moral siswa SD berusia 11-12 tahun menurut teori Kohlber mengenai pandangan bahwa perkembangan moral penting bagi siswa, terutama di Indonesia yang masyarakatnya religius, dan bahwa guru perlu memahami cara berpikir moral peserta didiknya. Dalam jurnal menjelaskan bahwa Kohlberg menilai kematangan moral dari alasan di balik suatu tindakan, bukan dari tindakan atau pernyataan benar-salahnya. Teori ini membagi perkembangan moral menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional (tahap 1 dan 2), konvensional (tahap 3 dan 4), dan pasca-konvensional (tahap 5 dan 6). Anak usia 10-13 tahun umumnya berada pada tingkat pra-konvensional, ketika perilaku didorong oleh keinginan menghindari hukuman dan memenuhi kepentingan sendiri. Setelah dilakukan penelitian kepada 10 siswa kelas VI lewat angket berisi dilema moral tentang Ardi, yang harus memilih antara menepati janji belajar kelompok atau tetap di rumah menjaga adiknya.Hasilnya, 9 dari 10 siswa milih tetap pergi karena takut dicap pembohong atau takut ketinggalan pelajaran, jadi mereka masuk tahap pra-konvensional (tahap 1). Cuma satu siswa, Khansa, yang masuk tahap 3 karena dia mikirin perasaan teman yang nunggu dan adiknya yang nggak ada yang jaga. Nah, yang menarik, keputusan mereka sama-sama tetap pergi, tapi yang bikin tingkat moralnya beda itu alasannya. Jadi setelah menganalisis menurut saya anak usia 11-12 tahun umumnya masih berada pada tahap pra-konvensional dan cenderung bertindak karena takut dihukum, meskipun pada kasus tertentu ada anak yang perkembangan moralnya lebih tinggi atau lebih rendah.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Zaskia Syifa Aulia Syifa -
Nama: Zaskia Syifa Aulia
NPM:2513053176
Jurnal ini membahas perkembangan moral siswa SD berdasarkan teori Kohlberg. Penelitian dilakukan pada 10 siswa kelas VI dengan memberikan soal berupa dilema moral, kemudian jawaban mereka dianalisis berdasarkan alasan yang digunakan dalam mengambil keputusan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa usia 11–12 tahun masih berada pada tahap moral pra-konvensional, yaitu cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum, takut dianggap salah, atau mendapat penilaian buruk dari orang lain. Namun, ada satu siswa yang menunjukkan perkembangan moral lebih tinggi karena mempertimbangkan perasaan dan kepentingan orang lain.

Menurut saya, jurnal ini cukup menarik karena menunjukkan bahwa perkembangan moral anak tidak bisa hanya dilihat dari tindakan yang dilakukan, tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. Hal ini penting bagi guru agar tidak hanya menilai perilaku siswa, tetapi juga memahami cara berpikir mereka ketika menghadapi suatu masalah.

Kesimpulannya, setiap anak memiliki perkembangan moral yang berbeda, walaupun berada pada usia yang sama. Karena itu, guru perlu memberikan pembiasaan dan pengalaman yang dapat membantu siswa belajar mengambil keputusan dengan mempertimbangkan aturan, orang lain, dan akibat dari tindakannya.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by M.Satria Ramadhan -
Nama : M.Satria Ramadhan
NPM : 2513053166
jurnal "perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg" membahas gimana tingkat penalaran moral anak usia 11-12 tahun (kelas VI sd) diukur ketika mereka dihadapkan pada situasi dilema moral. penelitian kualitatif ini menguji apakah keputusan anak-anak tersebut diambil atas dasar kesadaran diri atau sekadar dorongan eksternal sesuai tingkatan penalaran moral Kohlberg

di situ dibilang bahwa kematangan moral seorang anak tidak bisa hanya dinilai dari tindakan atau perilaku luar yng tampak, melainkan dari alasan di balik keputusan yang mereka ambil.
ini juga jadi pengingat bagi para pendidik dan orang tua bahwa pendidikan karakter harus berfokus pada pembentukan alasan atau kesadaran moral di dalam diri anak, bukan sekadar menanamkan rasa takut akan hukuman
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Malaya Zahratu Seroja -
Malaya Zahratu Seroja 2513053186

Analisis Jurnal ilmiah berjudul Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg karya Enung Hasanah
‎
‎Jurnal ini membahas tentang cara mengukur tingkat penalaran moral anak-anak. Penulis menjelaskan bahwa di abad ke-21 ini, anak-anak tidak hanya harus pintar secara akademik, tetapi juga perlu memiliki kecakapan sosial, emosional, dan moral yang kuat. Memahami tingkat perkembangan moral anak menjadi sangat penting bagi guru dan orang tua agar mereka bisa memberikan bimbingan karakter yang tepat dan sesuai dengan usia anak. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melibatkan sepuluh orang siswa kelas VI Sekolah Dasar yang berusia antara 11-12 tahun. Untuk mengambil data, penulis memberikan sebuah angket terbuka berisi cerita tentang seorang anak bernama Ardi yang bingung memilih antara menjaga adiknya yang masih kecil atau pergi kerja kelompok. Melalui jawaban jujur dari anak-anak tersebut, peneliti menganalisis alasan di balik keputusan mereka untuk menentukan ada di tingkat mana moralitas mereka berdasarkan teori psikologi Kohlberg.
‎
‎Hasil penelitian menunjukkan bahwa 90% siswa (9 dari 10 anak) masih berada pada Tingkat I (Pra-konvensional) Tahap 1, yaitu orientasi ketaatan dan hukuman. Anak-anak pada tahap ini memilih tindakan mereka semata-mata karena takut dihukum, takut dimarahi orang tua, atau takut dicap buruk oleh temannya, bukan karena mereka tulus memahami nilai tanggung jawab tersebut. Menariknya, hanya ada satu siswa bernama Khansa yang berhasil mencapai tingkat lebih tinggi (Tahap 3), di mana keputusannya didasari oleh rasa empati dan kasihan melihat adiknya serta teman kelompoknya. Secara keseluruhan, keunggulan jurnal ini adalah penggunaan cerita yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari anak, sehingga jawaban yang diberikan menjadi sangat alami. Namun, kekurangan utamanya terletak pada jumlah sampel yang terlalu sedikit yaitu hanya 10 siswa, sehingga hasilnya tidak bisa dianggap mewakili seluruh anak usia SD di Indonesia. Jurnal ini menyimpulkan bahwa anak usia 11-12 tahun umumnya patuh pada aturan hanya demi menghindari hukuman fisik atau sosial, sehingga peran pendidik masih sangat krusial untuk membantu mereka naik ke tahap moral yang lebih dewasa.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Delvy Ananta -
Nama: Delvy Ananta
NPM: 2513053163

Jurnal ini meneliti tahap perkembangan moral anak SD usia 11-12 tahun memakai teori Kohlberg. Penulis memberi satu cerita dilema kepada 10 siswa kelas VI, yaitu Ardi yang sudah berjanji kerja kelompok tetapi harus menjaga adiknya. Hasilnya, 9 dari 10 anak berada di tahap 1 karena patuh semata-mata takut dihukum, misalnya takut dicap pembohong, sedangkan satu anak (Khansa) sudah di tahap 3 karena alasannya kasihan pada teman dan adiknya.

Kelebihan jurnal ini, penulis paham bahwa Kohlberg menilai alasan di balik tindakan, bukan tindakannya. Contoh Khansa menunjukkan hal itu dengan jelas, karena tindakannya sama dengan teman-temannya tetapi alasannya berbeda. Kelemahannya, sampel hanya 10 anak dari satu kelas dengan satu soal, jawaban siswa sangat pendek tanpa wawancara lanjutan, dan ada ketidakcocokan data. Abstrak menyebut tahap 2 padahal di hasil tidak ada anak yang masuk tahap itu, dan analisis Nia tidak sesuai dengan jawabannya di tabel.

Jadi, jurnal ini cukup berguna sebagai gambaran awal penerapan teori Kohlberg, tetapi hasilnya belum bisa dipakai untuk menyimpulkan semua anak usia 11-12 tahun. Agar lebih kuat, penelitian perlu responden lebih banyak, beberapa dilema, dan wawancara lanjutan.
In reply to First post

Re: Forum Analisis Jurnal 2

by Ni'matul Khoiriyyah -
Dari jurnal yang berjudul “Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Berdasarkan Teori Kohlberg” yang ditulis oleh Enung Hasanah tahun 2019.
Jurnal ini membahas tentang perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori perkembangan moral Lawrence Kohlberg. Penelitian ini dilakukan kepada 10 siswa kelas VI yang berusia 11–12 tahun. Untuk mengetahui perkembangan moral siswa, peneliti memberikan sebuah cerita tentang dilema moral, kemudian siswa diminta menentukan pilihan dan menjelaskan alasan dari pilihannya.

Masalah yang dibahas dalam jurnal ini yaitu masih perlunya pemahaman tentang bagaimana perkembangan moral anak pada usia sekolah dasar. Anak tidak hanya perlu tahu mana yang benar dan salah, tetapi juga perlu memahami alasan mengapa suatu tindakan dianggap benar atau salah. Menurut teori Kohlberg, tingkat perkembangan moral seseorang dapat dilihat dari alasan yang digunakan ketika mengambil keputusan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar siswa usia 11–12 tahun masih berada pada tingkat pra-konvensional. Mereka cenderung melakukan sesuatu karena takut mendapatkan hukuman, dimarahi, atau mendapat penilaian buruk dari orang lain. Namun, ada juga siswa yang mulai mempertimbangkan perasaan, kepentingan, dan hubungan dengan orang lain. Hal ini menunjukkan bahwa perkembangan moral setiap anak dapat berbeda.

Menurut saya, jurnal ini memberikan pemahaman bahwa perilaku anak tidak selalu menunjukkan tingkat perkembangan moralnya. Misalnya, anak sama-sama memilih untuk tidak berbohong, tetapi alasannya bisa berbeda. Ada yang tidak berbohong karena takut dihukum, ada juga yang tidak berbohong karena memahami bahwa berbohong dapat merugikan atau menyakiti orang lain. Dari alasan tersebut dapat dilihat perkembangan penalaran moral anak. Dalam penerapannya di sekolah, guru sebaiknya tidak hanya memberikan aturan atau nasihat tentang perilaku baik dan buruk. Guru dapat mengajak siswa membahas dilema atau masalah yang dekat dengan kehidupan mereka, kemudian meminta siswa menjelaskan alasan dari pilihannya. Dengan cara tersebut, siswa dapat belajar berpikir sebelum mengambil keputusan dan memahami dampak dari tindakan yang mereka lakukan.

Menurut saya, pendidikan moral juga perlu dilakukan melalui pembiasaan dan keteladanan. Guru dan orang tua dapat memberikan contoh tentang kejujuran, tanggung jawab, menghargai orang lain, disiplin, dan kepedulian. Dengan begitu, perkembangan moral anak tidak hanya berhenti pada pengetahuan, tetapi dapat berkembang menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari.