CASE STUDY

CASE STUDY

Number of replies: 15

SMA Negeri Z berlokasi di wilayah yang mengalami konflik horizontal akibat perbedaan etnis dan budaya. Sekolah tersebut ingin menguatkan pemahaman siswa terhadap nilai-nilai toleransi, keberagaman, dan integrasi sosial melalui pembelajaran IPS. Namun, hasil observasi menunjukkan beberapa permasalahan:

  1. Materi pembelajaran masih bersifat kognitif dan normatif, tidak menyentuh pengalaman langsung siswa.
  2. Pendekatan pembelajaran minim melibatkan siswa dalam kegiatan pemecahan masalah sosial nyata.
  3. Guru belum memiliki pemahaman yang sistematis tentang bagaimana merancang pembelajaran yang kontekstual dan mendorong partisipasi aktif siswa.
  4. Penilaian siswa tidak mencerminkan kompetensi sikap dan keterampilan sosial yang seharusnya dikembangkan dalam IPS.
  5. Sekolah ingin membuat modul pembelajaran IPS berbasis proyek (project-based learning) yang terintegrasi dalam sistem pembelajaran yang sistematis, menggunakan model Dick & Carey.

 

Pertanyaan:

  1. Analisislah kasus di atas dengan menggunakan prinsip dan elemen utama dalam model Dick & Carey! Identifikasi akar masalah dari perspektif sistem pembelajaran dan keterkaitannya dengan desain instruksional.
  2. Jelaskan secara sistematis langkah-langkah dalam Model Dick & Carey yang dapat diterapkan untuk merancang modul pembelajaran IPS bertema “Toleransi dalam Keberagaman Sosial”! Jelaskan juga bagaimana tiap langkah dapat mengatasi permasalahan di sekolah tersebut.
  3. Berikan analisis kritis mengenai kekuatan dan keterbatasan penerapan model Dick & Carey dalam konteks pembelajaran IPS di sekolah yang multikultural. Sejauh mana model ini dapat mendorong pembelajaran holistik?
  4. Susunlah prototipe sederhana dari desain pembelajaran (dalam bentuk ringkasan) berdasarkan Model Dick & Carey untuk topik "Toleransi dalam Keberagaman" yang mencakup:
  • Tujuan Pembelajaran
  • Analisis Instruksional
  • Strategi Pembelajaran
  • Media dan Sumber Belajar
  • Bentuk Evaluasi Otentik

In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ina Yaturrohmah -
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Nama: Ina Yaturrohmah
NPM: 2623031011

1. Analisis Kasus Berdasarkan Prinsip dan Elemen Utama Model Dick & Carey

Berdasarkan kasus SMA Negeri Z, permasalahan utama dalam pembelajaran IPS terletak pada adanya kesenjangan antara tujuan pembelajaran yang diharapkan dengan proses pembelajaran yang berlangsung. Sekolah berada dalam lingkungan yang mengalami konflik horizontal akibat perbedaan etnis dan budaya, sehingga pembelajaran IPS seharusnya tidak hanya memberikan pemahaman konsep tentang keberagaman, tetapi juga mampu membangun sikap toleransi, empati, dan keterampilan sosial peserta didik. Namun, hasil observasi menunjukkan bahwa pembelajaran masih bersifat kognitif dan normatif, kurang menghubungkan materi dengan pengalaman nyata siswa, serta belum banyak melibatkan siswa dalam pemecahan masalah sosial. Dalam perspektif model Dick & Carey, akar masalah tersebut menunjukkan bahwa desain pembelajaran belum sepenuhnya berorientasi pada kebutuhan peserta didik dan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai. Oleh karena itu, diperlukan desain instruksional yang sistematis melalui identifikasi tujuan, analisis kebutuhan siswa, pengembangan strategi pembelajaran, pemilihan media, serta evaluasi untuk memastikan pembelajaran IPS mampu menjawab permasalahan sosial yang terjadi di lingkungan sekolah.

2. Langkah-Langkah Model Dick & Carey untuk Merancang Modul Pembelajaran IPS Tema “Toleransi dalam Keberagaman Sosial”

Penerapan model Dick & Carey dalam merancang modul pembelajaran IPS dapat dilakukan melalui beberapa tahapan. Tahap pertama adalah mengidentifikasi tujuan pembelajaran, yaitu menentukan kompetensi yang harus dicapai siswa, seperti memahami konsep keberagaman sosial, menganalisis penyebab konflik akibat perbedaan budaya, serta menunjukkan sikap toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Tahap kedua adalah melakukan analisis instruksional, yaitu mengidentifikasi kemampuan dan keterampilan yang diperlukan siswa agar mampu mencapai tujuan tersebut, seperti kemampuan berpikir kritis, komunikasi, kerja sama, dan penyelesaian masalah sosial. Tahap ketiga adalah menganalisis karakteristik peserta didik dan konteks pembelajaran, dengan mempertimbangkan latar belakang budaya siswa serta kondisi sekolah yang mengalami konflik sosial sehingga materi lebih relevan dengan kehidupan mereka.

Tahap selanjutnya adalah merumuskan tujuan pembelajaran khusus dan mengembangkan instrumen evaluasi. Evaluasi tidak hanya mengukur aspek pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan sosial melalui penilaian autentik seperti proyek sosial, observasi perilaku toleransi, diskusi kelompok, dan refleksi individu. Setelah itu dilakukan pengembangan strategi pembelajaran, misalnya menggunakan model Project Based Learning yang melibatkan siswa dalam mengidentifikasi masalah keberagaman di lingkungan sekitar dan mencari solusi secara bersama. Tahap berikutnya adalah mengembangkan dan memilih media pembelajaran, seperti modul IPS, video keberagaman budaya, artikel sosial, serta sumber belajar dari lingkungan masyarakat. Tahap terakhir adalah melakukan evaluasi formatif dan sumatif untuk mengetahui efektivitas modul dan melakukan perbaikan agar pembelajaran semakin sesuai dengan kebutuhan peserta didik.

3. Analisis Kritis Kekuatan dan Keterbatasan Model Dick & Carey dalam Pembelajaran IPS Multikultural

Model Dick & Carey memiliki kekuatan karena menyediakan langkah-langkah yang sistematis dalam merancang pembelajaran, mulai dari analisis kebutuhan hingga evaluasi. Model ini membantu guru IPS menyusun pembelajaran yang memiliki tujuan jelas, strategi yang sesuai, serta evaluasi yang mampu mengukur pencapaian kompetensi siswa secara menyeluruh. Dalam konteks sekolah multikultural, model ini dapat mendukung pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan, tetapi juga mengembangkan nilai toleransi, penghargaan terhadap keberagaman, kemampuan berpikir kritis, dan keterampilan sosial melalui kegiatan yang kontekstual.

Namun, model Dick & Carey juga memiliki keterbatasan. Tahapan yang cukup banyak membutuhkan waktu, tenaga, dan perencanaan yang matang sehingga kurang fleksibel apabila diterapkan pada kondisi sosial yang membutuhkan perubahan cepat. Selain itu, model ini cenderung memiliki pendekatan yang sistematis dan terstruktur sehingga guru perlu melakukan penyesuaian agar pembelajaran tetap memberikan ruang bagi kreativitas, pengalaman sosial siswa, serta dinamika budaya yang berkembang di masyarakat. Oleh karena itu, penerapan model Dick & Carey dalam pembelajaran IPS multikultural perlu dikombinasikan dengan pendekatan kontekstual dan berbasis masalah agar pembelajaran lebih holistik.

4. Prototipe Sederhana Desain Pembelajaran Berdasarkan Model Dick & Carey untuk Topik “Toleransi dalam Keberagaman Sosial”

Desain pembelajaran IPS berbasis model Dick & Carey dimulai dengan menentukan tujuan pembelajaran, yaitu siswa mampu memahami konsep keberagaman sosial, menganalisis konflik sosial akibat perbedaan budaya, serta menunjukkan sikap toleransi dalam kehidupan bermasyarakat. Pada tahap analisis instruksional, guru mengidentifikasi kemampuan awal siswa terkait pemahaman budaya, konflik sosial, dan nilai integrasi sosial. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah pembelajaran berbasis proyek dengan kegiatan mengidentifikasi permasalahan keberagaman di lingkungan sekolah, melakukan diskusi kelompok, menyusun solusi, dan mempresentasikan hasil proyek. Media pembelajaran yang digunakan berupa modul IPS, video tentang keberagaman budaya, artikel kasus sosial, serta lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Bentuk evaluasi menggunakan penilaian autentik melalui hasil proyek, presentasi kelompok, observasi sikap toleransi, serta refleksi individu. Melalui desain tersebut, pembelajaran IPS diharapkan mampu membangun kesadaran sosial peserta didik sehingga mereka tidak hanya memahami keberagaman secara konsep, tetapi juga mampu menerapkan nilai toleransi dan integrasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Redo Redo -
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Selamat pagi, ibu dan teman-teman
Nama: Redo
NPM: 2623031016

Izin menjawab beberapa pertanyaan di atas:
1. Analisis Akar Masalah
Dilihat dari perspektif sistem pembelajaran Dick & Carey, keempat masalah di SMA Negeri Z sebenarnya bersumber dari satu akar yang sama, yaitu desain pembelajaran yang tidak sistemik, di mana tujuan, materi, strategi, dan penilaian berjalan sendiri-sendiri tanpa saling terhubung. Materi yang masih kognitif-normatif menunjukkan analisis pembelajaran belum dilakukan dengan tepat; minimnya pemecahan masalah nyata menandakan analisis konteks dan karakteristik siswa belum menjadi dasar rancangan; ketidaksistematisan guru mencerminkan belum adanya strategi pembelajaran yang terstruktur; dan penilaian yang tidak mengukur sikap-keterampilan sosial membuktikan instrumen evaluasi belum selaras dengan tujuan performansi yang sesungguhnya ingin dicapai, yakni toleransi dan integrasi sosial.

2. Langkah-Langkah Dick & Carey untuk Modul
Penerapan model Dick & Carey dimulai dari merumuskan tujuan pembelajaran yang berorientasi sikap (misalnya siswa mampu berkontribusi dalam integrasi sosial), lalu dilanjutkan dengan analisis pembelajaran yang memetakan tahapan dari memahami keberagaman hingga merancang solusi kolaboratif, serta analisis konteks yang menggali pengalaman nyata siswa terhadap konflik horizontal di lingkungannya. Selanjutnya, tujuan performansi yang spesifik dirumuskan sebagai dasar penyusunan instrumen penilaian sikap dan keterampilan sosial, sementara strategi pembelajaran berbasis proyek (observasi lapangan, diskusi lintas kelompok, aksi nyata) dan bahan ajar kontekstual dikembangkan untuk menggantikan materi normatif. Seluruh rancangan ini kemudian diuji melalui evaluasi formatif untuk perbaikan sebelum diterapkan secara luas, dan diakhiri dengan evaluasi sumatif untuk mengukur dampak jangka panjang modul terhadap sikap toleransi siswa—sehingga setiap langkah secara langsung menjawab kelemahan guru dalam merancang pembelajaran yang partisipatif dan bermakna.

3. Analisis Kritis Kekuatan dan Keterbatasan
Kekuatan model Dick & Carey terletak pada strukturnya yang jelas dan terukur, sangat membantu guru yang belum berpengalaman merancang pembelajaran kontekstual, serta evaluasi formatif berulang yang penting agar pendekatan toleransi benar-benar teruji sebelum diterapkan di lingkungan rawan konflik. Namun, keterbatasannya adalah orientasinya yang cenderung behavioristik dan linier membuatnya kurang leluasa mengakomodasi nilai toleransi yang sifatnya kompleks, emosional, dan dinamis, sehingga berisiko mereduksi toleransi menjadi sekadar kompetensi teknis yang "dicapai" bukan nilai yang dihayati; oleh karena itu, model ini baru dapat mendorong pembelajaran yang benar-benar holistik apabila dipadukan dengan pendekatan humanistik dan reflektif yang memberi ruang bagi dialog dan penghayatan emosional siswa.

4. Prototipe Sederhana Desain Pembelajaran
Untuk topik "Toleransi dalam Keberagaman Sosial", tujuan pembelajarannya adalah agar siswa mampu menunjukkan sikap toleran dan merancang solusi kolaboratif atas isu keberagaman melalui proyek sosial lintas kelompok, dengan analisis instruksional yang bergerak dari memahami konsep keberagaman, mengidentifikasi potensi konflik, merancang solusi, melaksanakan aksi nyata, hingga mengomunikasikan hasil. Strategi pembelajaran yang digunakan adalah Project-Based Learning melalui observasi lapangan, diskusi lintas etnis, dan pelaksanaan proyek sosial, didukung media dan sumber belajar berupa studi kasus lokal, video dokumenter budaya, serta narasumber lintas latar belakang; sementara evaluasi otentiknya berbentuk portofolio proyek, rubrik observasi sikap kolaborasi, dan presentasi refleksi akhir siswa atas pengalaman bekerja sama lintas kelompok.
Terima kasih..
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Santa Feni Brigita -
Selamat pagi bu, izin Menjawab bu.
Nama :Santa Feni Brigita
NPM: 2623021005
Berdasarkan materi mengenai
Model Dick & Carey memandang pembelajaran sebagai sebuah sistem. Artinya, tujuan pembelajaran, siswa, guru, materi, strategi, media, dan evaluasi harus saling berhubungan. Jika salah satu komponen tidak sesuai, hasil pembelajaran juga dapat terganggu.
Pada kasus SMA Negeri Z, masalah utamanya bukan hanya pada materi IPS, tetapi pada sistem pembelajaran yang belum dirancang secara terpadu. Materi masih berfokus pada pengetahuan tentang toleransi dan keberagaman, sehingga siswa mengetahui konsepnya tetapi belum tentu mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, siswa belum banyak dilibatkan dalam penyelesaian masalah sosial yang nyata. Guru juga belum memiliki rancangan pembelajaran yang sistematis untuk mengembangkan sikap dan keterampilan sosial. Penilaian lebih banyak mengukur pengetahuan sehingga kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan konflik belum terlihat secara optimal.
Jadi, akar masalahnya adalah ketidaksesuaian antara tujuan, kegiatan pembelajaran, dan evaluasi. Jika tujuan ingin membentuk siswa yang toleran dan mampu bekerja sama, maka kegiatan pembelajaran harus memberikan pengalaman langsung dan evaluasinya juga harus mengukur sikap serta keterampilan tersebut.
________________________________________
2. Langkah-Langkah Model Dick & Carey
a. Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran
Langkah pertama adalah menentukan kemampuan yang ingin dicapai siswa.
Dalam kasus ini, tujuan pembelajaran bukan hanya agar siswa dapat menjelaskan pengertian toleransi, tetapi juga agar siswa mampu menghargai perbedaan etnis dan budaya, bekerja sama dengan teman yang berbeda latar belakang, serta mencari solusi terhadap masalah sosial.
Dengan tujuan yang jelas, pembelajaran menjadi lebih terarah.
b. Melakukan Analisis Instruksional
Guru kemudian menentukan kemampuan apa saja yang harus dimiliki siswa untuk mencapai tujuan tersebut.
Misalnya:
Memahami keberagaman → mengidentifikasi masalah → menganalisis penyebab konflik → berdiskusi → mencari solusi → membuat proyek → mempresentasikan hasil.
Langkah ini mengatasi masalah pembelajaran yang sebelumnya terlalu normatif karena siswa tidak hanya menerima materi, tetapi melakukan proses belajar secara bertahap.
c. Analisis Siswa dan Konteks
Guru perlu memahami karakteristik siswa dan lingkungan sekolah. Karena SMA Negeri Z berada di daerah yang memiliki konflik horizontal, guru perlu mengetahui pengalaman siswa mengenai keberagaman etnis dan budaya.
Hal ini penting agar pembelajaran tidak menggunakan contoh yang terlalu jauh dari kehidupan siswa. Namun, pembahasan konflik harus dilakukan secara hati-hati agar tidak memperkuat prasangka antarkelompok.
d. Merumuskan Tujuan Pembelajaran Khusus
Tujuan harus dibuat lebih spesifik dan dapat diamati.
Contohnya, setelah pembelajaran siswa dapat:
1) menjelaskan bentuk-bentuk keberagaman sosial;
2) mengidentifikasi masalah akibat perbedaan;
3) menunjukkan sikap menghargai pendapat orang lain;
4) bekerja sama dalam kelompok yang beragam;
5) menghasilkan solusi terhadap masalah sosial.
Dengan demikian, tujuan tidak hanya berkaitan dengan pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan.
e. Mengembangkan Instrumen Penilaian
Penilaian harus disesuaikan dengan tujuan. Jika yang ingin dikembangkan adalah toleransi dan keterampilan sosial, maka tidak cukup menggunakan tes tertulis.
Guru dapat menggunakan:
1) observasi sikap;
2) penilaian kerja kelompok;
3) penilaian proyek;
4) presentasi;
5) jurnal/refleksi siswa;
6) penilaian produk.
Dengan cara ini, kemampuan siswa dapat dinilai secara lebih nyata.
f. Mengembangkan Strategi Pembelajaran
Strategi yang sesuai adalah Project-Based Learning (PjBL).
Misalnya siswa dibagi dalam kelompok yang beragam. Setiap kelompok mencari permasalahan mengenai toleransi di lingkungan sekolah, melakukan observasi atau wawancara sederhana, kemudian membuat proyek berupa poster, video kampanye, infografis, atau program sederhana tentang toleransi.
Siswa tidak hanya mendengarkan guru, tetapi aktif mencari informasi, berdiskusi, bekerja sama, dan menghasilkan produk.
g. Mengembangkan dan Memilih Media Pembelajaran
Media harus mendukung kegiatan siswa. Guru dapat menggunakan:
1) video tentang keberagaman;
2) artikel atau berita;
3) gambar dan infografis;
4) modul pembelajaran;
5) lingkungan sekolah sebagai sumber belajar;
6) wawancara dengan warga sekolah.
Media tersebut membuat materi lebih konkret dan dekat dengan kehidupan siswa.
h. Melakukan Evaluasi Formatif
Guru mengevaluasi pembelajaran selama proses berlangsung. Misalnya, guru melihat apakah siswa memahami tugas proyek, apakah kelompok dapat bekerja sama, dan apakah materi dalam modul mudah dipahami.
Jika terdapat masalah, guru dapat memperbaikinya sebelum pembelajaran berikutnya.
i. Melakukan Revisi
Hasil evaluasi digunakan untuk memperbaiki modul. Misalnya, jika siswa kesulitan memahami instruksi proyek, guru dapat menyederhanakan petunjuk. Jika kegiatan terlalu sulit, guru dapat memberikan contoh atau sumber tambahan.
j. Evaluasi Sumatif
Pada tahap akhir, guru menilai apakah keseluruhan pembelajaran telah mencapai tujuan. Penilaian dapat melihat pengetahuan, sikap toleransi, keterampilan bekerja sama, kemampuan komunikasi, dan hasil proyek.
________________________________________
3. Kekuatan dan Keterbatasan Model Dick & Carey
Kekuatan
Kekuatan utama Dick & Carey adalah sistematis. Setiap komponen pembelajaran dirancang berdasarkan tujuan yang ingin dicapai.
Model ini juga membantu guru memastikan bahwa tujuan, kegiatan, media, dan evaluasi saling sesuai. Dalam pembelajaran IPS, hal ini sangat penting karena IPS tidak hanya mengajarkan pengetahuan sosial, tetapi juga nilai dan keterampilan sosial.
Penggunaan proyek membuat siswa dapat belajar dari pengalaman nyata. Mereka belajar bekerja sama, menghargai perbedaan pendapat, berkomunikasi, dan mencari solusi.
Dengan demikian, model ini dapat mendukung pembelajaran yang lebih holistik, yaitu mencakup aspek kognitif, afektif, dan keterampilan.
Keterbatasan
Model Dick & Carey membutuhkan perencanaan yang cukup panjang dan sistematis. Guru harus melakukan analisis siswa, menentukan tujuan, membuat strategi, menyusun instrumen penilaian, dan melakukan evaluasi.
Dalam kondisi sekolah yang memiliki konflik sosial, guru juga harus berhati-hati dalam memilih materi dan kasus agar pembelajaran tidak menimbulkan konflik baru.
Selain itu, keberhasilan model sangat bergantung pada kemampuan guru dalam mengelola kelas dan menciptakan lingkungan belajar yang aman dan menghargai perbedaan.
________________________________________
4. Prototipe Pembelajaran “Toleransi dalam Keberagaman”
Tujuan Pembelajaran
Setelah mengikuti pembelajaran, siswa diharapkan mampu memahami keberagaman sosial, menghargai perbedaan etnis dan budaya, bekerja sama dengan teman yang berbeda latar belakang, serta menghasilkan solusi terhadap masalah toleransi di lingkungan sekitar.
Analisis Instruksional
Pembelajaran dilakukan melalui tahapan:
Memahami konsep keberagaman → mengidentifikasi masalah → menganalisis penyebab → berdiskusi → menentukan solusi → membuat proyek → mempresentasikan hasil → melakukan refleksi.
Strategi Pembelajaran
Guru menggunakan Project-Based Learning. Siswa bekerja dalam kelompok untuk mengidentifikasi masalah toleransi di lingkungan sekolah, mengumpulkan informasi, berdiskusi, kemudian membuat proyek seperti poster, video, infografis, atau kampanye sederhana tentang toleransi.
Media dan Sumber Belajar
Media yang digunakan dapat berupa modul IPS, video, artikel, berita, gambar, internet, lingkungan sekolah, dan narasumber. Sumber belajar tidak hanya berasal dari buku, tetapi juga dari pengalaman dan lingkungan sosial siswa.
Evaluasi Otentik
Evaluasi dilakukan melalui penilaian proyek, observasi sikap, kerja sama kelompok, presentasi, produk yang dihasilkan, dan refleksi individu.
Jadi, siswa tidak hanya
dinilai berdasarkan kemampuan menjawab soal, tetapi juga berdasarkan kemampuan bekerja sama, berkomunikasi, menghargai perbedaan, memecahkan masalah, dan menerapkan nilai toleransi.
Kesimpulan
Penerapan model Dick & Carey pada pembelajaran IPS di SMA Negeri Z dapat membantu sekolah membangun pembelajaran yang lebih terencana, kontekstual, aktif, dan holistik. Pembelajaran tentang toleransi tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dilanjutkan melalui pengalaman nyata dan proyek sosial sehingga siswa dapat mempraktikkan nilai toleransi, keberagaman, kerja sama, dan integrasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Redha Aulia -
Assalamualaikum Wr. Wb.
Nama : Redha Aulia
Npm : 2623031004
Izin menanggapi kasus SMA Negeri Z melalui pendekatan Model Dick & Carey:
1. Akar Masalah (Perspektif Sistem)
Terjadi ketidakselarasan sistemik (misalignment) antar-komponen pembelajaran:
• Tujuan vs Evaluasi: Sekolah menargetkan sikap toleransi (afektif), namun penilaiannya masih bersifat kognitif-normatif.
• Strategi vs Konteks: Strategi mengajar mengabaikan realitas konflik di lingkungan siswa, sehingga materi gagal memicu transfer perilaku nyata (transfer of learning).
2. Langkah Dick & Carey & Solusinya untuk Tema Toleransi dalam Keberagaman Sosial”
berikut ada beberapa Langkah dalam menyelesaikan solusi yaitu : yang pertama ada Identifikasi Tujuan: Menetapkan hasil akhir berupa aksi nyata resolusi konflik (bukan sekadar hafalan). Kedua ada Analisis Instruksional: Memetakan sub-keterampilan (misal: mediasi, komunikasi lintas etnis). Ketiga Analisis Siswa & Konteks: Memetakan latar belakang etnis dan trauma konflik siswa agar materi kontekstual. Keempat Tujuan Performansi: Menyusun target harian yang spesifik berbasis partisipasi aktif siswa. Kelima Instrumen Penilaian: Mengembangkan penilaian otentik (rubrik sikap & kinerja proyek). Keenam Strategi Instruksional: Menerapkan sintaks Project-Based Learning (PjBL) melalui kelompok lintas etnis. Ketujuh Materi Instruksional: Menyusun modul PjBL berisi studi kasus riil konflik lokal. Kedelapan Evaluasi Formatif: Menguji coba modul pada kelompok kecil perwakilan etnis guna memastikan keamanan materi. Kesembilan Revisi Instruksional: Memperbaiki draf modul berdasarkan masukan uji coba. Dan yang terakhir ada Evaluasi Sumatif: Mengukur dampak jangka panjang modul terhadap iklim perdamaian di sekolah.
3. Analisis Kritis
• Kekuatan: Memberikan presisi yang tinggi dan memiliki "katup pengaman" lewat evaluasi formatif agar materi sensitif tidak memicu konflik baru.
• Keterbatasan: Bersifat kaku dan linier, sehingga lambat mengantisipasi jika terjadi eskalasi konflik mendadak di luar sekolah. Model ini juga terlalu mekanistis untuk mengukur aspek psikologis/trauma siswa.
• Dampak Holistik: Mampu mendorong pembelajaran holistik secara struktural (menyinergikan kognitif, afektif, psikomotorik), namun keberhasilan implementasinya di lapangan sangat bergantung pada kreativitas guru.
4. Prototipe Sederhana Desain Pembelajaran
• Tujuan Pembelajaran: Siswa mampu mendemonstrasikan proyek kampanye "Pesta Budaya Damai" untuk mengikis prasangka sosial.
• Analisis Instruksional: Mengidentifikasi akar perbedaan → Komunikasi lintas etnis → Membuat proyek perdamaian.
• Strategi (PjBL): Orientasi masalah → Pembentukan kelompok heterogen lintas etnis → Pengerjaan proyek 4 minggu → Pameran karya → Refleksi.
• Media & Sumber: Logbook proyek, video rekonsiliasi, dan tokoh masyarakat lokal sebagai narasumber.
• Evaluasi Otentik: Rubrik kerja sama kelompok (observasi guru), penilaian antarteman (peer-assessment), dan penilaian produk kampanye damai.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Vilia Ariana -

Assalamualaikum Ibu, Saya Vilia Ariana dengan NPM 2623031010 izin menjawab

1. Analisis kasus berdasarkan model Dick & Carey

Berdasarkan model Dick & Carey, permasalahan di SMA Negeri Z tidak hanya berkaitan dengan materi pembelajaran, tetapi juga menunjukkan bahwa komponen pembelajaran belum dirancang secara terpadu. Tujuan yang ingin dicapai berupa pemahaman tentang toleransi, keberagaman, dan integrasi sosial belum didukung oleh materi yang kontekstual. Kegiatan pembelajaran juga masih kurang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menghadapi persoalan sosial secara langsung. Hal tersebut kemudian berdampak pada penilaian yang lebih menekankan kemampuan kognitif dan belum mengukur sikap serta keterampilan sosial secara optimal.

Jika dilihat sebagai sebuah sistem, terdapat ketidaksesuaian antara kebutuhan siswa, tujuan pembelajaran, strategi, materi, dan evaluasi. Kondisi lingkungan sekolah yang memiliki persoalan perbedaan etnis dan budaya seharusnya menjadi pertimbangan dalam merancang pembelajaran IPS. Siswa perlu diberikan pengalaman untuk mengenali masalah di sekitarnya, berdiskusi dengan kelompok yang berbeda, mencari penyebab masalah, serta menyusun solusi bersama. Dengan demikian, akar permasalahan dalam kasus tersebut adalah desain pembelajaran yang belum kontekstual dan belum mengembangkan kompetensi sosial siswa secara menyeluruh.

2. Langkah-langkah model Dick & Carey

Langkah pertama adalah menentukan tujuan pembelajaran berdasarkan kebutuhan sekolah dan siswa. Dalam tema “Toleransi dalam Keberagaman Sosial”, siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep keberagaman dan toleransi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam menghadapi persoalan sosial. Selanjutnya, guru melakukan analisis instruksional untuk menentukan kemampuan yang perlu dikuasai siswa, mulai dari memahami konsep keberagaman, mengenali masalah sosial, menganalisis penyebab konflik, bekerja sama, sampai merancang solusi. Guru juga perlu melihat karakteristik siswa serta kondisi lingkungan sekolah agar materi dan kegiatan yang dirancang sesuai dengan pengalaman mereka.

Tahap berikutnya adalah merumuskan tujuan yang lebih spesifik dan menentukan bentuk penilaian yang sesuai. Penilaian tidak hanya berupa tes pengetahuan, tetapi juga perlu melihat sikap dan keterampilan sosial. Strategi pembelajaran dapat menggunakan project-based learning, misalnya siswa mengidentifikasi persoalan keberagaman di lingkungan sekolah, melakukan observasi atau wawancara sederhana, mendiskusikan hasilnya, kemudian membuat proyek berupa kampanye toleransi. Media yang digunakan dapat berupa video, berita, artikel, lingkungan sekitar, maupun hasil wawancara. Setelah modul selesai dikembangkan, guru melakukan evaluasi formatif untuk mengetahui bagian yang masih perlu diperbaiki. Selanjutnya, evaluasi sumatif dilakukan untuk mengetahui sejauh mana tujuan pembelajaran telah tercapai.

3. Kekuatan dan keterbatasan model Dick & Carey

Kekuatan model Dick & Carey terletak pada prosesnya yang sistematis sehingga setiap komponen pembelajaran dapat dirancang secara terarah dan saling berhubungan. Model ini dapat membantu guru memastikan bahwa tujuan, materi, kegiatan, media, dan penilaian berada dalam satu arah. Dalam pembelajaran IPS yang berkaitan dengan keberagaman, model ini juga dapat dipadukan dengan project-based learning sehingga siswa tidak hanya memahami konsep toleransi, tetapi memperoleh pengalaman langsung melalui kegiatan kerja sama, diskusi, dan penyelesaian masalah sosial. Hal tersebut dapat mendukung pembelajaran yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan.

Namun, penerapan Dick & Carey juga memiliki keterbatasan karena tahapannya cukup banyak sehingga membutuhkan waktu dan persiapan yang matang. Guru juga perlu memiliki kemampuan dalam melakukan analisis kebutuhan, karakteristik siswa, serta menyusun penilaian yang sesuai. Dalam lingkungan sekolah yang memiliki persoalan perbedaan etnis dan budaya, pemilihan masalah dan aktivitas pembelajaran harus dilakukan secara hati-hati agar tidak menimbulkan prasangka baru. Selain itu, perubahan sikap dan keterampilan sosial tidak selalu mudah diukur sehingga diperlukan penilaian yang beragam dan dilakukan secara berkelanjutan.

4. Prototipe sederhana desain pembelajaran

Pada bagian tujuan pembelajaran, siswa diarahkan untuk memahami makna keberagaman dan toleransi, mampu menganalisis permasalahan sosial yang muncul akibat perbedaan, serta menunjukkan kemampuan bekerja sama dan menghargai perbedaan melalui sebuah proyek.

Untuk analisis instruksional, kemampuan siswa dikembangkan secara bertahap, dimulai dari memahami konsep keberagaman, mengenali perbedaan yang ada di lingkungan sekitar, menemukan masalah yang berkaitan dengan toleransi, menganalisis penyebab dan dampaknya, kemudian menyusun alternatif penyelesaian masalah hingga menghasilkan sebuah proyek.

Strategi pembelajaran menggunakan project-based learning. Siswa dapat memulai dengan mengidentifikasi masalah, melakukan observasi atau wawancara sederhana, berdiskusi dalam kelompok, menyusun proyek, mempresentasikan hasilnya, dan melakukan refleksi. Dalam proses tersebut, guru lebih berperan sebagai fasilitator yang mengarahkan dan mendampingi siswa.

Media dan sumber belajar dapat memanfaatkan video, berita, artikel, buku IPS, lingkungan sekolah, hasil wawancara, serta berbagai sumber lain yang relevan. Sementara itu, **evaluasi otentik** dilakukan melalui penilaian proyek, presentasi, pengamatan selama kerja kelompok, hasil analisis masalah, dan refleksi individu. Penilaian mencakup pemahaman konsep, kemampuan berpikir kritis, kerja sama, komunikasi, sikap toleransi, dan tanggung jawab.

Pada akhirnya, model Dick & Carey dapat digunakan sebagai kerangka untuk memastikan proses pembelajaran dirancang secara sistematis, sedangkan project-based learning dapat digunakan untuk memberikan pengalaman belajar yang lebih nyata. Perpaduan keduanya dapat membuat pembelajaran IPS tidak berhenti pada pemahaman konsep toleransi, tetapi juga memberi ruang kepada siswa untuk mempraktikkan nilai tersebut dalam kehidupan sosial.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by 2623031006 2623031006 -
Assalamualaikum wr wb
Nama : TOPIK SANJAYA
NPM : 26231006
1. Analisis Kasus Berdasarkan Model Dick & Carey
Menurut pendapat saya, masalah utama di SMA Negeri Z bukan hanya terletak pada materi pembelajaran, tetapi pada sistem pembelajaran yang belum terintegrasi. Materi masih berfokus pada pengetahuan dan teori, sedangkan siswa belum banyak diberi pengalaman langsung untuk memahami masalah keberagaman dan toleransi.

Jika dilihat dari model Dick & Carey, terdapat ketidaksesuaian antara tujuan pembelajaran, strategi, aktivitas siswa, dan penilaian. Tujuan seharusnya tidak hanya membuat siswa memahami toleransi, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sosial. Karena itu, pembelajaran perlu dibuat lebih kontekstual melalui diskusi, pemecahan masalah, dan proyek sosial.

2. Langkah Model Dick & Carey
Menurut saya, langkah yang dapat diterapkan adalah:
Menentukan tujuan pembelajaran, yaitu siswa mampu memahami keberagaman, menganalisis konflik sosial, serta menunjukkan sikap toleransi.
Melakukan analisis instruksional, dengan menentukan kemampuan yang diperlukan mulai dari memahami keberagaman sampai mampu membuat solusi.
Menganalisis karakteristik siswa, terutama pengalaman, latar belakang, dan pemahaman mereka terhadap keberagaman.
Merumuskan tujuan khusus yang dapat diamati dan diukur.
Mengembangkan evaluasi, tidak hanya berupa tes, tetapi juga penilaian sikap dan keterampilan sosial.
Menentukan strategi pembelajaran, yaitu Project-Based Learning melalui identifikasi masalah, penelitian sederhana, diskusi, pembuatan proyek, presentasi, dan refleksi.
Menentukan media dan sumber belajar, seperti berita, video, lingkungan sekolah, wawancara, dan internet.
Melakukan evaluasi dan revisi untuk mengetahui kekurangan pembelajaran dan memperbaikinya.

Dengan langkah tersebut, pembelajaran yang sebelumnya normatif dapat menjadi lebih kontekstual dan melibatkan siswa secara aktif.

3. Kekuatan dan Keterbatasan
Menurut pendapat saya, kekuatan model Dick & Carey adalah sistematis dan memiliki keterkaitan yang jelas antara tujuan, materi, strategi, dan evaluasi. Model ini dapat membantu guru merancang pembelajaran yang tidak hanya mengembangkan pengetahuan, tetapi juga sikap dan keterampilan sosial.
Keterbatasannya adalah model ini cukup kompleks dan membutuhkan waktu serta kemampuan guru dalam melakukan analisis. Jika diterapkan terlalu kaku, model ini juga dapat mengurangi fleksibilitas guru dalam menghadapi kondisi kelas. Selain itu, toleransi dan sikap sosial tidak dapat dibentuk hanya melalui satu pembelajaran, tetapi membutuhkan budaya sekolah yang mendukung.

4. Prototipe Sederhana Pembelajaran
Komponen Desain
Tujuan Siswa memahami keberagaman, mampu menganalisis masalah toleransi, dan membuat solusi sosial.
Analisis Instruksional Memahami keberagaman → mengidentifikasi masalah → menganalisis penyebab → mencari solusi → membuat proyek → refleksi.
Strategi Project-Based Learning melalui diskusi, observasi, wawancara, kerja kelompok, presentasi, dan refleksi.
Media/Sumber Buku IPS, berita, video, internet, lingkungan sekolah, dan hasil wawancara.
Evaluasi Otentik Penilaian proyek, presentasi, kerja sama, sikap toleransi, kemampuan memecahkan masalah, dan refleksi individu.

Kesimpulan: Menurut pendapat saya, model Dick & Carey dapat digunakan untuk membuat pembelajaran IPS lebih sistematis dan kontekstual. Jika dipadukan dengan Project-Based Learning, siswa tidak hanya memahami konsep toleransi, tetapi juga mengalami, mempraktikkan, dan merefleksikan nilai toleransi dalam kehidupan nyata.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rejeki Charistias Siregar -
Nama : Rejeki Charistias Siregar
NPM : 2623031019
1. Analisis Kasus dan Identifikasi Akar Masalah (Perspektif Sistem Dick & Carey)
Dari perspektif sistem pembelajaran Dick & Carey, sebuah pembelajaran yang efektif harus memiliki koherensi absolut antara tujuan (apa yang ingin dicapai), kondisi peserta didik, strategi pengajaran, dan instrumen evaluasi. Akar masalah di SMA Negeri Z adalah runtuhnya prinsip keselarasan sistem (system alignment) ini. Sekolah menghendaki output berupa integrasi sosial dan toleransi (ranah afektif dan psikomotorik/sosial), namun input dan prosesnya materi kognitif-normatif dan ketiadaan pelibatan pengalaman langsung sangat tidak relevan dengan tujuan tersebut. Ketidakmampuan guru dalam merancang pembelajaran kontekstual menunjukkan adanya kegagalan pada tahap analisis konteks dan pembelajar (learner and context analysis). Lebih jauh, instrumen evaluasi yang tidak mengukur keterampilan sosial mengonfirmasi bahwa siklus instruksional di sekolah tersebut terputus, di mana tes tidak dirancang berdasarkan tujuan perilaku khusus, melainkan hanya sekadar mengukur hafalan teori belaka.

2. Sistematisasi Langkah Dick & Carey dalam Merancang Modul "Toleransi dalam Keberagaman Sosial"
Penerapan model Dick & Carey untuk merancang modul Project-Based Learning (PjBL) di sekolah ini dapat diurai melalui langkah-langkah yang secara langsung mengintervensi masalah yang ada. Pertama, Mengidentifikasi Tujuan Umum Pembelajaran: menetapkan bahwa siswa mampu menerapkan resolusi konflik dan toleransi dalam kehidupan nyata (mengatasi masalah materi yang terlalu teoretis). Kedua, Melakukan Analisis Instruksional: memetakan hierarki keterampilan yang dibutuhkan siswa, mulai dari memahami perbedaan etnis hingga mengelola dialog antarabudaya. Ketiga, Menganalisis Peserta Didik dan Konteks: mendiagnosis latar belakang etnis siswa, bias kultural yang mungkin mereka bawa dari lingkungan konflik, serta memetakan kondisi psikologis mereka, sehingga modul tepat sasaran. Keempat, Merumuskan Tujuan Performansi Khusus: merumuskan tujuan spesifik berbasis proyek, misalnya "Siswa mampu merancang kampanye damai antaretnis". Kelima, Mengembangkan Instrumen Penilaian Otentik: membuat rubrik observasi sikap dan penilaian produk PjBL untuk mengatasi masalah evaluasi yang selama ini bias kognitif. Keenam & Ketujuh, Mengembangkan Strategi dan Memilih Materi: memilih sintaks PjBL dan menyusun modul yang berisi studi kasus riil konflik horizontal di wilayah mereka untuk memantik pemecahan masalah. Kedelapan hingga Kesepuluh, Evaluasi Formatif, Revisi, dan Evaluasi Sumatif: melakukan uji coba modul dalam kelompok kecil untuk melihat apakah proyek tersebut benar-benar mampu mereduksi prasangka etnis sebelum diterapkan secara massal.

3. Analisis Kritis: Kekuatan, Keterbatasan, dan Dukungan terhadap Pembelajaran Holistik
Secara kritis, kekuatan utama penerapan model Dick & Carey dalam konteks multikultural ini adalah pada presisi dan struktur logisnya. Model ini memaksa guru IPS di SMA Negeri Z untuk keluar dari kebiasaan mengajar sekadar "menyampaikan materi buku", dan menuntut mereka untuk mendesain pembelajaran secara arsitektural di mana setiap penilaian dan aktivitas harus bottom-up dari tujuan resolusi konflik yang telah ditetapkan. Namun, keterbatasan model ini terletak pada akar filosofisnya yang behavioristik dan mekanistis. Dalam pendidikan IPS multikultural, dinamika interaksi antaretnis seringkali memunculkan emosi, spontanitas, dan teachable moments yang tidak selalu bisa dibingkai dalam kotak-kotak tujuan performansi yang kaku. Pembelajaran holistik menuntut fleksibilitas konstruktivistik; oleh karena itu, agar Dick & Carey dapat mendorong pembelajaran yang benar-benar holistik di sekolah konflik tersebut, guru harus berani melakukan adaptasi. Model ini tidak boleh dilihat sebagai dogma prosedural yang kaku, melainkan sebagai blueprint (kerangka dasar) di mana di dalam pelaksanaan fasenya, roh pedagogi kritis dan humanisme tetap dikedepankan.

4. Prototipe Ringkas Desain Pembelajaran (Topik: Toleransi dalam Keberagaman)
Berdasarkan pendekatan Dick & Carey, berikut adalah prototipe sederhana modul PjBL yang dirancang untuk SMA Negeri Z:

Tujuan Pembelajaran (Instructional Goal): Siswa mampu mendesain dan mengeksekusi proyek sosial kolaboratif lintas-etnis yang mempromosikan nilai-nilai toleransi dan resolusi konflik di lingkungan sekolah dan komunitas sekitarnya.

  • Analisis Instruksional: Untuk mencapai tujuan tersebut, keterampilan prasyarat yang dikembangkan meliputi: (1) Mengidentifikasi akar masalah stereotip etnis di masyarakat, (2) Mempraktikkan empati dan komunikasi asertif interkultural, (3) Menyusun draf pemecahan masalah sosial, dan (4) Mempresentasikan solusi ke dalam bentuk karya aksi sosial.
  • Strategi Pembelajaran: Menggunakan sintaks Project-Based Learning terintegrasi. Pembelajaran dimulai dengan inkuiri masalah lokal (misal: analisis berita konflik daerah setempat), dilanjutkan dengan pembentukan kelompok kerja campuran (wajib lintas etnis), perancangan aksi nyata (seperti pembuatan pameran budaya bersama atau video dokumenter persahabatan), hingga pada tahap publikasi dan refleksi proyek.
  • Media dan Sumber Belajar: Modul elektronik interaktif PjBL, artikel jurnal/berita lokal mengenai resolusi konflik, tayangan video dokumenter mengenai rekonsiliasi budaya, dan menghadirkan tokoh adat/agama setempat sebagai human resource (narasumber ahli).
  • Bentuk Evaluasi Otentik: Berfokus pada penilaian proses dan sikap (ranah afektif). Terdiri dari: (1) Jurnal refleksi diri untuk mengukur pergeseran perspektif siswa terhadap etnis lain, (2) Rubrik peer-assessment (penilaian antarteman) untuk mengukur kolaborasi dan sikap toleransi selama bekerja dalam kelompok campuran, dan (3) Penilaian produk PjBL berdasarkan kriteria inovasi, dampak sosial, dan pesan perdamaian yang disampaikan.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dika Yumanda 2623031015 -
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu.
Nama: Dika Yumanda
NPM: 2623031015
Mohon izin memberikan jawaban untuk studi kasus tersebut, ibu. Berikut diberikan link nya ibu.

https://docs.google.com/document/d/1FwpCMpDpEvCQgbcliFcxjxMVcdsCVfyX/edit?usp=drive_link&ouid=110750328446260752040&rtpof=true&sd=true
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Rindi Adya Molis -
Nama : Rindi Adya Molis
NPM : 2623031017

1. Dari kasus yang terjadi di SMA Negeri Z, akar masalah bukan hanya terletak pada kurang menariknya materi IPS, akan tetapi belum terintegrasinya seluruh komponen pembelajaran. Tujuan yang ingin membentuk toleransi dan keterampilan sosial belum didukung oleh materi kontekstual, strategi yang berbasis pengalaman, aktivitas pemecahan masalah, dan penilaian autentik. Oleh karena itu, terkait desain instruksionalnya adalah mengembangkan modul IPS berbasis Project Based Learning dengan menggunakan kerangka Dick dan Carey, sehingga pembelajaran dapat bergerak dari siswa memahami dan mengetahui nilai toleransi menjadi siswa mengalami, mempraktikan, dan merefleksi nilai toleransi dalam kehidupan nyata.

2. Langkah-Langkah dalam model Dick dan Carey
- Mengidentifikasi Tujuan Pembelajaran : Tujuan yang ditentukan tidak hanya mencakup pengetahuan, akan tetapi juga meliputi sikap dan keterampilan sosial
Cara mengatasi masalah di SMA Negeri Z : Dengan tujuan yang mencakup pengetahuan, sikap, keterampilan, maka arah pembelajaran menjadi lebih jelas dan tidak hanya mengejar kemampuan menghapal
- Melakukan Analisis intruksional : tujuan umum diuraikan menjadi kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai siswa
Cara mengatasi masalah : siswa tidak hanya mendengar penjelasan dari guru, tetapi juga dilatih untuk menganalisis masalah dan mencari solusi
- Mengatasi karakteristik siswa
Cara mengatasi masalah : Karena SMA Negeri Z berada di wilayah yang memiliki konflik horizontal, pembelajaran tidak boleh hanya mengambil contoh dari buku. Pengalaman dan lingkungan sosial siswa dapat menjadi konteks pembelajaran, tetapi harus digunakan secara hati-hati agar tidak memperkuat stereotip atau prasangka
- Menjelaskan tujuan performa
Cara mengatasi masalah : Guru memperoleh arah yang jelas mengenai kompetensi apa yang harus dicapai, sehingga pembelajaran tidak berhenti pada penyampaian materi.
- Mengembangkan instrumen penilaian: Penilaian harus disesuaikan dengan tujuan. Karena kompetensinya mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan, maka penilaiannya juga harus beragam.
- Mengembangkan strategi instruksional : Strategi pembelajaran kemudian dirancang berdasarkan tujuan, karakteristik siswa, dan hasil analisis instruksional
- Mengembangkan dan memilih bahan pembelajaran : Guru yang sebelumnya belum memiliki pemahaman sistematis mendapatkan panduan pembelajaran yang terstruktur, sehingga modul dapat menjadi pegangan guru sekaligus siswa
- Melakukan evaluasi formatif: Evaluasi perorangan, kelompok kecil, uji lapangan,
Cara mengatasi masalah : Guru dapat mengetahui kelemahan modul sebelum diterapkan secara luas sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.
- Melakukan revisi pembelajaran
- Evaluasi sumatif

3. - Kekuatan Model Dick dan Carey terdiri dari sistematis dan terstruktur, berorientasi pada kebutuhan siswa, memungkinkan pembelajaran kontekstual, penilaian dirancang lebih komprehensif, dan ada perbaikan berkelanjutan.
- Kelemahan Model Dick dan Carey : cenderung linear dan membutuhkan waktu, terlalu berorientasi pada tujuan yang diukur, tidak secara khusus dirancang untuk kompleksitas budaya, pembelajaran menjadi terlalu teknis, membutuhkan kompetensi guru yang cukup tinggi
Dari model pembelajaran Dick dan Carey dapat mendorong pembelajaran yang lebih holistik yang artinya siswa tidak hanya tahu tentang toleransi, tetapi juga mengalami, merefleksikan, mempraktikkan, dan menerapkan nilai toleransi dalam kehidupan sosial.

4. - Tujuan Pembelajaran
1. menjelaskan pengertian toleransi dan keberagaman
2. mengidentifikasi bentuk keberagaman di lingkungan sekitar
3. menganalisis contoh konflik akibat perbedaan
4. menunjukkan sikap menghargai perbedaan
5. merancang tindakan sederhana untuk membangun toleransi di sekolah

- Analisis Instruksional: Pembelajaran dimulai dari pengetahuan dasar → pemahaman → analisis masalah → penerapan sikap. Siswa terlebih dahulu memahami konsep keberagaman dan toleransi, kemudian mengidentifikasi masalah keberagaman, menganalisis penyebab dan dampaknya, serta menentukan solusi yang mencerminkan sikap toleran.
- Strategi Pembelajaran: Menggunakan problem-based learning dan diskusi kelompok. Guru memberikan kasus tentang konflik akibat perbedaan suku, agama, budaya, atau pendapat. Siswa mengidentifikasi masalah, berdiskusi, mencari alternatif penyelesaian, mempresentasikan hasil, dan melakukan refleksi.
- Media : Video pendek tentang keberagaman, gambar/infografis, PPT, LKPD, papan tulis atau papan interaktif digital.
- Sumber Belajar : Buku IPS, lingkungan sekolah, pengalaman siswa, artikel tentang keberagaman sosial, serta sumber digital yang relevan dan terpercaya.
- Evaluasi Otentik terdiri dari
1. Penilaian proses: observasi sikap menghargai pendapat dan kerja sama.
2. Penilaian produk: siswa membuat poster/kampanye “Sekolah Ramah Keberagaman”
3. Penilaian kinerja: presentasi solusi terhadap kasus konflik keberagaman
4. Refleksi: siswa menulis tindakan nyata yang akan dilakukan untuk menghargai perbedaan
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Dewi Rahayu -
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, ibu.
Nama: Dewi Rahayu
NPM : 2623031014
Mohon izin memberikan jawaban untuk studi kasus tersebut, Ibu. Berikut diberikan link nya Ibu.

https://drive.google.com/file/d/1A_1wARLAO-IrDrAgkysF4PJLmljOOn9Y/view?usp=drive_link
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Nur Rachma Liani -
Assalamuallaikum wr.wb
Nama: Nur Rachma Lini
NPM : 2623031012

1. Analisis Kasus Berdasarkan Prinsip dan Elemen Model Dick & Carey
Berdasarkan kasus SMA Negeri Z, permasalahan utama dalam pembelajaran IPS adalah pembelajaran yang masih berfokus pada aspek kognitif dan belum mampu mengembangkan sikap toleransi, keberagaman, serta integrasi sosial siswa. Jika dilihat dari perspektif model Dick & Carey, masalah tersebut terjadi karena desain pembelajaran belum dirancang sebagai sebuah sistem yang menghubungkan tujuan, materi, strategi, media, dan evaluasi. Akar masalahnya terletak pada kurangnya analisis kebutuhan siswa, sehingga pembelajaran belum sesuai dengan kondisi sosial yang terjadi di lingkungan sekolah.
Dalam model Dick & Carey, pembelajaran harus diawali dengan identifikasi tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Pada kasus ini, tujuan pembelajaran seharusnya tidak hanya membuat siswa memahami konsep keberagaman, tetapi juga mampu menunjukkan sikap toleransi dan menyelesaikan masalah sosial. Selain itu, strategi pembelajaran yang digunakan masih kurang melibatkan siswa dalam aktivitas nyata, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual seperti pembelajaran berbasis proyek. Evaluasi juga menjadi bagian penting karena penilaian tidak cukup hanya mengukur pemahaman materi, tetapi juga harus melihat perkembangan sikap dan keterampilan sosial siswa.

2. Langkah-Langkah Model Dick & Carey dalam Merancang Modul IPS “Toleransi dalam Keberagaman Sosial”
Penerapan model Dick & Carey dalam penyusunan modul IPS dapat dimulai dengan mengidentifikasi tujuan pembelajaran. Pada tahap ini, guru menentukan kemampuan yang ingin dicapai siswa, yaitu memahami keberagaman sosial, memiliki sikap toleransi, serta mampu mencari solusi terhadap konflik sosial di lingkungan sekitar. Tahap ini dapat mengatasi masalah pembelajaran yang sebelumnya hanya berfokus pada teori karena tujuan pembelajaran diarahkan pada perubahan sikap dan keterampilan.
Tahap berikutnya adalah melakukan analisis instruksional untuk menentukan kemampuan yang harus dimiliki siswa agar tujuan tercapai. Guru dapat menyusun materi mulai dari pemahaman konsep keberagaman, faktor penyebab konflik sosial, dampak konflik, hingga cara membangun integrasi sosial. Selanjutnya guru melakukan analisis karakteristik siswa dengan melihat latar belakang budaya, pengalaman, dan kemampuan awal siswa agar pembelajaran lebih sesuai dengan kondisi kelas yang beragam.
Setelah itu, guru merumuskan tujuan khusus pembelajaran yang lebih terukur. Contohnya siswa mampu menjelaskan bentuk keberagaman sosial, memberikan contoh perilaku toleransi, serta membuat proyek sosial sederhana. Kemudian guru menentukan strategi pembelajaran yang sesuai, yaitu menggunakan model Project Based Learning. Melalui strategi ini, siswa dapat melakukan pengamatan terhadap masalah sosial, berdiskusi, membuat solusi, dan mempresentasikan hasil proyeknya.
Tahap selanjutnya adalah mengembangkan media dan bahan pembelajaran. Guru dapat menggunakan video tentang keberagaman, artikel sosial, modul pembelajaran, serta lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Media tersebut membantu siswa memahami materi secara lebih nyata. Setelah proses pembelajaran dilakukan, guru melaksanakan evaluasi menggunakan penilaian autentik seperti observasi sikap, penilaian proyek, presentasi, dan refleksi diri. Tahap terakhir adalah evaluasi formatif dan revisi, yaitu guru melihat kekurangan modul dan memperbaikinya agar pembelajaran lebih efektif.

3. Analisis Kritis Kekuatan dan Keterbatasan Model Dick & Carey
Model Dick & Carey memiliki beberapa kelebihan dalam penerapan pembelajaran IPS di sekolah multikultural. Kelebihan utama model ini adalah langkah-langkahnya yang sistematis sehingga guru dapat merancang pembelajaran secara terstruktur mulai dari menentukan tujuan hingga melakukan evaluasi. Model ini juga membantu guru memastikan bahwa setiap komponen pembelajaran saling berkaitan. Dalam pembelajaran IPS, model ini dapat mendukung pengembangan kemampuan berpikir kritis, kerja sama, dan pemecahan masalah sosial karena pembelajaran dirancang berdasarkan kebutuhan siswa.
Namun, model Dick & Carey juga memiliki keterbatasan. Proses perancangannya membutuhkan waktu yang cukup panjang karena setiap tahap harus dianalisis dengan baik. Selain itu, guru perlu memiliki kemampuan dalam melakukan analisis kebutuhan, menyusun tujuan pembelajaran, dan membuat evaluasi yang sesuai. Model ini juga cenderung bersifat sistematis sehingga terkadang kurang fleksibel ketika menghadapi perubahan kondisi kelas secara langsung.
Meskipun memiliki keterbatasan, model Dick & Carey tetap dapat mendukung pembelajaran holistik apabila diterapkan dengan memperhatikan aspek pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Dalam konteks sekolah yang memiliki keberagaman budaya, model ini dapat membantu menciptakan pembelajaran yang tidak hanya memberikan pemahaman teori, tetapi juga membangun karakter siswa agar mampu hidup berdampingan secara toleran.

4. Prototype Desain Pembelajaran IPS “Toleransi dalam Keberagaman”
Desain pembelajaran IPS dengan topik “Toleransi dalam Keberagaman” dimulai dengan tujuan pembelajaran yaitu siswa mampu memahami konsep keberagaman sosial, menunjukkan sikap toleransi, serta mampu membuat solusi terhadap permasalahan sosial melalui kegiatan proyek. Analisis instruksional dilakukan dengan menyusun materi yang mencakup pengertian keberagaman, penyebab konflik sosial, dampak konflik, dan upaya membangun integrasi sosial.
Berdasarkan karakteristik siswa yang berasal dari latar belakang berbeda, pembelajaran dirancang menggunakan pendekatan Project Based Learning agar siswa dapat belajar melalui pengalaman nyata. Dalam kegiatan pembelajaran, siswa dapat mengidentifikasi masalah sosial yang ada di lingkungan sekitar, melakukan diskusi kelompok, menyusun solusi, dan membuat proyek kampanye toleransi.
Media yang digunakan dalam pembelajaran berupa video keberagaman budaya, berita sosial, modul IPS, serta lingkungan masyarakat sebagai sumber belajar. Evaluasi dilakukan menggunakan penilaian autentik yang mencakup penilaian proyek, sikap kerja sama, kemampuan presentasi, serta refleksi individu. Dengan desain tersebut, pembelajaran IPS tidak hanya meningkatkan pemahaman siswa terhadap materi, tetapi juga membangun kemampuan sosial dan karakter toleransi dalam kehidupan sehari-hari.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by Ucep Saifulloh -
Assalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
Selamat Pagi Ibu, Mohon izin untuk menyelesaikan studi kasus yang sudah disediakan.

Untuk penyelesaian studi kasus di atas, sudah saya siapkan dalam bentuk file di link drive berikut :
https://drive.google.com/file/d/1QukvyIhk0mZeIFvQ5_uRWNolzXBuTL6a/view?usp=sharing

Mohon maaf jika ada kekurangan Ibu,
Terima Kasih
wassalamu'alaikum warohmatullohi wabarokatuh
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by KHATAMI HAMMAM 2623031013 -
1. Analisis Kasus dengan Model Dick & Carey

Menurut saya, masalah utama di SMA Negeri Z adalah pembelajaran IPS masih terlalu menekankan pengetahuan, sementara sikap dan keterampilan sosial belum banyak dikembangkan.

Akar masalahnya adalah:

Materi tentang toleransi masih berupa teori dan belum dikaitkan dengan kehidupan siswa.
Siswa belum banyak dilibatkan dalam menyelesaikan masalah sosial.
Guru belum merancang pembelajaran secara sistematis.
Penilaian masih berfokus pada pengetahuan, bukan sikap dan keterampilan.
Lingkungan sekolah yang memiliki keberagaman belum dimanfaatkan sebagai sumber belajar.

Dalam model Dick & Carey, semua komponen pembelajaran harus saling berhubungan, yaitu tujuan, siswa, materi, strategi, media, dan penilaian. Oleh karena itu, pembelajaran toleransi harus dirancang agar siswa tidak hanya mengetahui arti toleransi, tetapi juga mampu memahami, menerapkan, dan mempraktikkannya.

2. Langkah Model Dick & Carey

Model Dick & Carey dapat diterapkan melalui langkah berikut:

1. Menentukan tujuan

Guru menentukan kemampuan yang harus dimiliki siswa.

Contohnya:

Siswa mampu memahami keberagaman, menghargai perbedaan, dan bekerja sama dengan orang yang berbeda latar belakang.

2. Menganalisis pembelajaran

Guru menentukan kemampuan apa saja yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Misalnya:

memahami keberagaman → menemukan masalah → menganalisis → mencari solusi → membuat proyek.

3. Menganalisis karakteristik siswa

Guru melihat latar belakang, kemampuan, pengalaman, dan kondisi sosial siswa.

4. Menentukan tujuan khusus

Tujuan dibuat lebih jelas dan dapat diamati.

Contohnya:

Siswa mampu memberikan contoh perilaku toleransi dalam kehidupan sehari-hari.

5. Membuat penilaian

Penilaian tidak hanya berupa tes, tetapi juga:

observasi;
proyek;
presentasi;
refleksi;
kerja kelompok.
6. Menentukan strategi pembelajaran

Strategi yang sesuai adalah Project-Based Learning (PjBL).

Siswa diberikan masalah tentang keberagaman kemudian membuat proyek untuk memberikan solusi.

7. Menentukan media dan sumber belajar

Guru dapat menggunakan:

video;
gambar;
internet;
berita;
buku IPS;
lingkungan sekolah.
8. Evaluasi dan perbaikan

Guru melihat kekurangan pembelajaran dan memperbaikinya untuk pembelajaran berikutnya.

3. Kelebihan dan Kekurangan Dick & Carey
Kelebihan

Model Dick & Carey memiliki kelebihan karena:

langkahnya sistematis;
tujuan pembelajaran jelas;
materi, metode, dan penilaian saling berhubungan;
dapat membantu guru merancang pembelajaran yang lebih terarah;
dapat dikombinasikan dengan pembelajaran berbasis proyek.

Model ini cocok untuk pembelajaran IPS karena dapat mengembangkan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sosial.

Kekurangan

Kekurangannya adalah proses perancangannya cukup panjang dan membutuhkan waktu. Selain itu, pembelajaran IPS berkaitan dengan kehidupan sosial yang dinamis sehingga guru tetap harus fleksibel.

Dalam sekolah yang memiliki konflik sosial, guru juga harus berhati-hati dalam memilih contoh dan masalah agar pembelajaran tidak menimbulkan konflik baru.

4. Prototipe Pembelajaran
Tema

Toleransi dalam Keberagaman Sosial

Tujuan

Siswa mampu:

menjelaskan arti keberagaman dan toleransi;
memberikan contoh sikap toleransi;
menganalisis masalah akibat perbedaan;
bekerja sama dengan teman;
membuat solusi untuk meningkatkan toleransi.
Strategi

Model: Project-Based Learning.

Kegiatan:

Mengamati masalah → berdiskusi → mencari informasi → membuat proyek → presentasi → refleksi.

Contoh proyek

Siswa membuat poster atau video kampanye toleransi di sekolah.

Contohnya berisi pesan:

“Berbeda bukan alasan untuk bermusuhan.”

Media dan sumber
buku IPS;
video;
gambar;
internet;
smartphone;
lingkungan sekolah.
Penilaian

Penilaian dilakukan melalui:

tes pengetahuan;
observasi sikap;
kerja kelompok;
proyek;
presentasi;
refleksi.
Peran guru dan siswa

Guru: membimbing, mengarahkan, dan memberikan umpan balik.

Siswa: mencari informasi, berdiskusi, bekerja sama, membuat proyek, dan mempresentasikan hasil.
In reply to First post

Re: CASE STUDY

by anggun anggrani -
Izin menjawab Bu saya Anggun Anggrani (2623031001)
1. Analisis Kasus dan Akar Masalah

Model Dick & Carey memandang pembelajaran sebagai sebuah sistem. Guru, siswa, materi, tujuan, strategi, media, lingkungan, dan penilaian saling terkait, dan hasil belajar hanya tercapai jika semuanya selaras. Prinsip utamanya adalah keselarasan antara tujuan, strategi, dan penilaian, ditambah evaluasi formatif dan revisi yang berulang.

Dengan kacamata itu, empat masalah di SMA Negeri Z dapat dipetakan ke komponen sistem yang berbeda. Materi yang kognitif dan normatif serta tidak menyentuh pengalaman siswa menunjukkan lemahnya analisis kebutuhan dan analisis pembelajar. Tujuan tidak dirumuskan dari realitas konflik horizontal yang dialami siswa, dan latar etnis, budaya, serta pengalaman sosial mereka tidak dijadikan titik tolak. Minimnya keterlibatan siswa dalam pemecahan masalah sosial nyata adalah persoalan strategi pembelajaran, karena kegiatan yang dirancang belum memberi ruang latihan keterampilan sosial. Ketidakpahaman guru dalam merancang pembelajaran kontekstual menandakan tidak adanya prosedur desain yang sistematis sehingga rancangan dibuat secara intuitif. Terakhir, penilaian yang tidak memotret sikap dan keterampilan sosial berarti instrumen tidak diturunkan dari tujuan.

Akar masalahnya, dari perspektif sistem, adalah bahwa pembelajaran IPS di sekolah ini belum dirancang sebagai sistem yang terintegrasi. Tidak ada rantai logis dari kebutuhan ke tujuan, analisis tugas, strategi, penilaian, lalu revisi. Materi, metode, dan penilaian berjalan sendiri-sendiri, sehingga empat gejala di atas sebenarnya bersumber dari satu hal. Ini juga berkaitan langsung dengan desain instruksional. Toleransi termasuk ranah afektif dan keterampilan sosial, sehingga tidak dapat dicapai dengan strategi dan penilaian yang hanya berorientasi kognitif. Jenis tujuan, jenis strategi, dan jenis penilaian harus sejalan.

2. Langkah-langkah Dick & Carey untuk Modul "Toleransi dalam Keberagaman Sosial"

- Langkah pertama, mengidentifikasi tujuan pembelajaran umum.Tujuan umum modul ini adalah siswa mampu menunjukkan sikap toleran dan berpartisipasi dalam menyelesaikan masalah keberagaman di lingkungannya. Langkah ini menggeser arah pembelajaran dari sekadar mengetahui toleransi menjadi mampu bersikap dan bertindak toleran.
- Langkah kedua, melakukan analisis instruksional. Tujuan umum diurai menjadi keterampilan dan pengetahuan bawahan, misalnya mengenali prasangka, berempati, berkomunikasi lintas budaya, bernegosiasi, dan bekerja sama dalam proyek, lalu diklasifikasikan menurut domainnya. Dengan begitu materi yang semula normatif menjadi terstruktur dan mencakup aspek sikap serta keterampilan sosial.
- Langkah ketiga, menganalisis pembelajar dan konteks. Perancang mengidentifikasi latar etnis dan budaya siswa, pengalaman konflik, prasangka yang ada, kemampuan awal, serta sumber daya sekolah dan masyarakat. Langkah inilah yang membuat materi menjadi kontekstual dan menyentuh pengalaman langsung siswa. Analisis ini juga membantu menjaga kepekaan agar kegiatan tidak memicu ketegangan baru.
- Langkah keempat, merumuskan tujuan kinerja khusus. Tujuan ditulis dalam bentuk yang dapat diamati, dengan kondisi, perilaku, dan kriteria yang jelas. Misalnya, dalam proyek kelompok lintas etnis, siswa mampu mewawancarai narasumber dari kelompok berbeda dengan sikap menghargai sesuai rubrik. Rumusan seperti ini membuat sikap dan keterampilan sosial dapat diukur.
- Langkah kelima, mengembangkan instrumen penilaian. Instrumen disusun sebelum strategi, berupa rubrik proyek, lembar observasi sikap, jurnal refleksi, penilaian diri dan antarteman, serta portofolio. Urutan ini menjamin penilaian selaras dengan tujuan dan benar-benar mencerminkan kompetensi sikap dan sosial yang selama ini terabaikan.
- Langkah keenam, mengembangkan strategi pembelajaran. Strategi mencakup kegiatan pendahuluan berupa apersepsi dari kasus nyata, penyajian informasi, partisipasi siswa melalui pembelajaran berbasis proyek, diskusi, simulasi, dan dialog antarkelompok, kemudian penilaian dan tindak lanjut. Di sinilah siswa dilibatkan dalam pemecahan masalah sosial yang nyata.
- Langkah ketujuh, mengembangkan dan memilih bahan ajar.Bahan ajar berupa modul, lembar kerja proyek, studi kasus lokal, panduan guru, video, dan narasumber dari tokoh masyarakat. Perangkat yang sistematis dan siap pakai ini membantu guru yang belum terbiasa merancang pembelajaran.
- Langkah kedelapan, merancang dan melaksanakan evaluasi formatif. Modul diuji melalui uji perorangan, uji kelompok kecil, dan uji lapangan, serta ditelaah oleh ahli IPS, ahli multikultural, dan ahli media. Untuk topik yang sensitif, langkah ini penting agar ketepatan isi dan kepekaan budaya modul dapat dikoreksi sebelum diterapkan secara luas.
- Langkah kesembilan, merevisi pembelajaran. Berdasarkan data evaluasi formatif, perancang memperbaiki tujuan, analisis, strategi, dan bahan ajar. Desain tidak berhenti pada satu kali pembuatan, tetapi terus disempurnakan.
- Langkah kesepuluh, merancang dan melaksanakan evaluasi sumatif. Evaluasi ini menilai efektivitas modul secara keseluruhan, termasuk pencapaian sikap dan keterampilan siswa serta perubahan pola interaksi antarsiswa. Seluruh proses bersifat iteratif, sehingga hasil evaluasi dapat mengembalikan perancang ke langkah-langkah awal.
3. Analisis Kritis: Kekuatan, Keterbatasan, dan Pembelajaran Holistik.
Kekuatan utama model ini terletak pada sifatnya yang sistematis. Bagi guru yang belum berpengalaman merancang pembelajaran, urutan langkah yang jelas langsung menjawab masalah ketiadaan prosedur desain. Keselarasan antara tujuan, strategi, dan penilaian, yang diperkuat dengan penyusunan instrumen sebelum strategi, mencegah ketimpangan antara yang diajarkan dan yang dinilai. Model ini juga menyediakan ruang melalui analisis pembelajar dan konteks untuk memasukkan realitas multikultural dan pengalaman konflik ke dalam desain. Evaluasi formatif dan revisi memungkinkan modul diuji dan diperbaiki bertahap, hal yang sangat penting untuk topik sensitif seperti toleransi. Selain itu, langkah strateginya cukup fleksibel untuk menampung pembelajaran berbasis proyek sehingga proyek tidak berjalan tanpa arah.

Namun ada beberapa keterbatasan yang perlu dicermati. Pertama, model ini cenderung linear dan teknis, dengan akar behavioristik yang menekankan tujuan terukur dan keterampilan yang diurai ke bagian-bagian kecil. Nilai kompleks seperti toleransi berisiko disederhanakan, karena perubahan sikap dan empati sering tumbuh secara emergen, bukan sebagai jumlah dari keterampilan bawahan. Kedua, rancangan yang ditetapkan sejak awal kurang responsif terhadap dinamika kelas, terutama ketika muncul ketegangan atau pengalaman emosional siswa yang tidak terduga. Ketiga, proses analisis yang menyeluruh, pengembangan instrumen, dan uji lapangan membutuhkan waktu dan sumber daya besar, padahal beban kerja guru sudah tinggi. Keempat, perumusan sikap sebagai perilaku teramati dapat melahirkan toleransi performatif, yaitu siswa tampak toleran demi nilai. Kelima, model ini kurang menyoroti struktur sosial dan relasi kuasa, padahal akar konflik etnis bersifat historis dan struktural sehingga tidak dapat diselesaikan hanya melalui desain modul. Terakhir, kepekaan budaya tidak otomatis hadir. Ia bergantung pada kualitas analisis pembelajar dan telaah ahli, karena model tidak memuat langkah khusus untuk menjamin keadilan representasi semua kelompok.

Mengenai sejauh mana model ini mendorong pembelajaran holistik, penilaian saya, Dick & Carey cukup mampu menjadi kerangka pengatur bagi pembelajaran holistik, dengan tiga syarat. Tujuan harus secara sadar mencakup ranah kognitif, afektif, dan keterampilan sosial. Strategi harus benar-benar partisipatif, misalnya melalui proyek, dialog, dan refleksi, bukan sekadar penyampaian materi. Penilaian harus bersifat otentik dan berkelanjutan, misalnya lewat portofolio, observasi, dan refleksi. Tanpa ketiganya, model ini hanya menghasilkan keteraturan administratif. Karena itu, model ini sebaiknya diposisikan sebagai tulang punggung sistematis yang dilengkapi pendekatan humanistik dan kritis, seperti pendidikan multikultural, refleksi dialogis, dan keterlibatan komunitas, agar dimensi nilai dan emosi tidak hilang.

4. Prototipe Desain Pembelajaran: "Toleransi dalam Keberagaman"

Prototipe ini dirancang untuk mata pelajaran IPS kelas X SMA, dengan alokasi sekitar tiga minggu atau enam pertemuan, dan menggunakan pendekatan berbasis proyek.

a. Tujuan Pembelajaran

Tujuan umumnya adalah siswa mampu menunjukkan sikap toleran dan berpartisipasi aktif dalam menyelesaikan masalah keberagaman sosial di lingkungannya. Tujuan khususnya dirumuskan sebagai berikut.

1. Setelah menelaah studi kasus lokal, siswa mampu menjelaskan minimal tiga penyebab prasangka dan konflik antarkelompok dengan tepat.
2. Dalam wawancara dengan narasumber dari kelompok budaya berbeda, siswa mampu mengajukan pertanyaan dan mendengarkan dengan sikap menghargai sesuai rubrik komunikasi.
3. Dalam kerja kelompok lintas etnis, siswa mampu berkolaborasi dan menyelesaikan perbedaan pendapat secara damai, dibuktikan melalui lembar observasi.
4. Siswa mampu merancang dan menyajikan aksi atau solusi kecil untuk masalah keberagaman di sekolah atau lingkungannya.

b. Analisis Instruksional

Pada puncak hierarki terdapat kemampuan berpartisipasi menyelesaikan masalah keberagaman. Kemampuan ini ditopang oleh dua kelompok keterampilan. Yang pertama adalah merancang dan menyajikan solusi atau aksi, yang menuntut kemampuan mengidentifikasi masalah keberagaman di lingkungan melalui observasi dan wawancara, serta berkolaborasi dan bernegosiasi dalam kelompok. Yang kedua adalah bersikap toleran dan empatik, yang menuntut kemampuan mengenali prasangka dan stereotip pada diri sendiri serta memahami perspektif kelompok lain. Keduanya berdiri di atas pemahaman konsep dasar, yaitu keberagaman, toleransi, integrasi sosial, dan konflik. Keterampilan awal yang diasumsikan sudah dimiliki siswa meliputi membaca dan menulis laporan sederhana, berdiskusi, dan pengetahuan dasar tentang masyarakat majemuk. Hal ini perlu dipastikan melalui pra-asesmen singkat.

c. Strategi Pembelajaran

Strategi mengikuti alur pembelajaran berbasis proyek yang diselaraskan dengan komponen strategi Dick & Carey. Pada tahap pra-pembelajaran, guru membuka dengan apersepsi berupa kasus atau cerita nyata dari lingkungan sekolah, melakukan pra-asesmen sikap dan pengetahuan, dan menyepakati aturan kelas yang aman dan saling menghormati. Pada tahap penyajian informasi, guru memberi penjelasan singkat tentang konsep, mengajak siswa mendiskusikan studi kasus, lalu merefleksikan prasangka masing-masing. Pada tahap partisipasi, siswa bekerja dalam kelompok heterogen lintas etnis dan latar belakang untuk mengidentifikasi masalah, mewawancarai narasumber, dan merancang proyek solusi, misalnya kampanye, mural, dialog antarkelompok, atau kegiatan bersama. Hasilnya dipresentasikan dalam gelar karya dengan umpan balik dari teman dan guru. Tahap tindak lanjut berupa aksi nyata kecil di sekolah atau masyarakat dan refleksi akhir. Sepanjang proses, guru berperan sebagai fasilitator dan menjaga agar kegiatan aman secara emosional namun tetap memberi ruang bagi siswa untuk berbagi pengalaman.

d. Media dan Sumber Belajar

Media dan sumber belajar mencakup modul siswa, lembar kerja proyek, dan panduan guru. Bahan kontekstual berupa studi kasus lokal, cerita pengalaman, serta teks, video pendek, atau dokumenter tentang kerukunan. Narasumber dilibatkan langsung, seperti tokoh adat, tokoh agama, pegiat perdamaian, dan alumni dari berbagai latar. Lingkungan sekitar juga dimanfaatkan sebagai sumber belajar, misalnya kunjungan ke tempat ibadah, pasar, atau kegiatan budaya. Untuk pengolahan dan penyajian hasil proyek, siswa dapat memakai media digital seperti presentasi, poster, dan video, dengan rujukan dari sumber yang tepercaya.
e. Bentuk Evaluasi Otentik

Evaluasi dilakukan berkelanjutan dan menyentuh semua ranah. Sikap toleransi, empati, dan sikap menghargai dinilai lewat observasi guru sepanjang proyek, penilaian diri, dan penilaian antarteman, dengan instrumen berupa lembar observasi, skala sikap, dan jurnal refleksi. Keterampilan sosial seperti komunikasi, kolaborasi, dan penyelesaian konflik dinilai melalui penilaian kinerja saat wawancara, diskusi, dan kerja kelompok dengan rubrik kinerja. Pengetahuan diukur dengan tes uraian berbasis kasus. Produk dan partisipasi dinilai melalui rubrik proyek dan presentasi. Perkembangan siswa dari awal hingga akhir dipotret lewat portofolio dan refleksi akhir. Di luar penilaian siswa, modul sendiri dievaluasi secara formatif melalui uji coba pada kelompok kecil dan masukan ahli, kemudian direvisi sebelum diterapkan penuh.