CASE STUDY

CASE STUDY

Jumlah balasan: 27

Seorang peneliti ingin meneliti pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap motivasi kerja guru di sekolah menengah atas negeri di kota X. Ia berencana menggunakan pendekatan kuantitatif dan ingin memperoleh data dari sebanyak mungkin responden agar hasil penelitiannya bisa digeneralisasi.

Peneliti merancang angket untuk diisi oleh para guru, yang terdiri dari dua bagian utama:

  • Bagian A: Data demografis (usia, jenis kelamin, lama mengajar, tingkat pendidikan)
  • Bagian B: Pernyataan-pernyataan tentang gaya kepemimpinan kepala sekolah dan tingkat motivasi kerja guru, diukur menggunakan skala Likert 1–5.

Setelah mengumpulkan data dari 120 guru, peneliti ingin mengetahui:

  • Apakah ada pengaruh antara gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja?
  • Apakah ada perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru?

 

Pertanyaan:

1. Evaluasilah apakah teknik pengumpulan data yang digunakan sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Jelaskan alasan Anda!
2. Apa kelebihan dan kelemahan menggunakan angket dalam penelitian ini?
3. Teknik analisis statistik apa yang paling tepat untuk menjawab dua tujuan penelitian di atas? Jelaskan alasan Anda!
4. Apa saja potensi bias atau masalah validitas yang mungkin timbul dari metode pengumpulan data ini, dan bagaimana cara mengatasinya?


Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Diah Arum Sari Nawang Ulan -
Nama : Diah Arum Sari Nawang Ulan
NPM : 2313031021

1. Kesesuaian Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data menggunakan angket (kuesioner) sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif, karena data yang dihasilkan bersifat numerik dan dapat diolah secara statistik. Skala Likert 1- 5 memungkinkan peneliti mengukur variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja secara terukur. Pendekatan ini cocok untuk menjawab pertanyaan penelitian yang bersifat hubungan (correlational) dan perbedaan (comparative).

2. Kelebihan dan Kelemahan Angket
Kelebihan:
a. Dapat menjangkau banyak responden dalam waktu singkat.
b. Efisien dari segi biaya dan waktu.
c. Memberikan data kuantitatif yang mudah dianalisis.

Kelemahan:
a. Responden bisa menjawab tidak jujur (bias sosial).
b. Tidak semua responden memahami pertanyaan dengan sama.
c. Sulit menggali alasan di balik jawaban responden.

3. Teknik Analisis Statistik
Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, analisis yang tepat adalah regresi linier sederhana, karena mengukur pengaruh satu variabel bebas terhadap satu variabel terikat. Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan, analisis yang digunakan adalah uji ANOVA satu arah (One-Way ANOVA), karena membandingkan rata-rata motivasi kerja dari beberapa kelompok tingkat pendidikan yang berbeda.

4. Potensi Bias dan Cara Mengatasinya
Potensi bias yang mungkin muncul antara lain:
a. Bias respon sosial, di mana responden menjawab untuk menyenangkan peneliti.
b. Masalah validitas konstruk, jika item angket tidak benar-benar mengukur variabel yang dimaksud.
c. Kesalahan pengisian data, akibat ketidaktelitian responden.

Cara mengatasinya antara lain dengan uji validitas dan reliabilitas instrumen (misalnya uji Pearson dan Cronbach’s Alpha), menggunakan pernyataan netral dan jelas, serta menjaga anonimitas responden agar mereka menjawab dengan jujur.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Desmala Az-Zahra -
Nama : Desmala Az Zahra ]
NPM : 2313031002

1. Teknik pengumpulan data menggunakan angket (kuesioner) dengan skala Likert sepenuhnya sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif bertujuan mengukur variabel secara objektif, memungkinkan analisis statistik terhadap data numerik yang diperoleh dari banyak responden. Angket terstruktur memberikan data yang dapat dikodekan menjadi angka dan diproses secara statistik, sehingga mendukung generalisasi hasil penelitian bila sampel mencukupi dan representatif.

2. Kelebihan:
- Efisien untuk mengumpulkan data dari banyak responden dalam waktu singkat.
- Dapat membandingkan respon antar berbagai kelompok (misal: berdasarkan tingkat pendidikan).
- Hasilnya mudah dianalisis secara statistik dan obyektif.
Kelemahan:
- Ketergantungan pada interpretasi responden, berpotensi pada kesalahan pengisian atau kesalahpahaman makna pernyataan.
- Tidak dapat menggali informasi mendalam seperti motivasi atau alasan di balik jawaban.
- Risiko jawaban tidak jujur karena bias sosial atau ingin terlihat baik.

3. - Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja:
Regresi linier sederhana atau korelasi Pearson sangat tepat, karena pengaruh dua variabel numerik (gaya kepemimpinan sebagai variabel prediktor dan motivasi kerja sebagai variabel terikat) dapat diukur secara statistik.
Jika ingin mengetahui kontribusi lebih dari satu gaya kepemimpinan (misal, transformasional vs transaksional), gunakan regresi linier berganda.
- Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru:
Analisis varians (ANOVA satu arah) adalah pilihan yang sesuai, karena ingin melihat apakah terdapat perbedaan rata-rata motivasi kerja antar kelompok tingkat pendidikan guru.
Jika hanya dua kelompok (misal sarjana vs pascasarjana), uji t independen bisa digunakan.

Alasannya: Teknik-teknik di atas memungkinkan pengujian statistik hubungan dan perbedaan antar variabel dengan tingkat signifikansi yang jelas sesuai prinsip kuantitatif.

4. Potensi bias/masalah:
- Bias sosial (social desirability bias): Guru cenderung memilih jawaban yang dinilai positif atau diharapkan sekolah.
- Bias pengambilan sampel: Jika 120 responden tidak mewakili populasi guru di seluruh SMA negeri kota X, hasilnya sulit digeneralisasi.
- Masalah validitas konstruk: Pernyataan-pernyataan dalam angket mungkin tidak sepenuhnya mewakili konsep “gaya kepemimpinan” atau “motivasi kerja” yang dimaksud ilmuwan.
- Masalah reliabilitas: Skala Likert rentan terhadap jawaban tengah ("netral") tanpa pencerminan sikap sebenarnya.

Cara mengatasinya:
- Anonimkan angket atau jamin kerahasiaan agar responden merasa bebas menjawab.
- Pastikan uji validitas dan reliabilitas angket sebelum digunakan, misal dengan uji validitas isi bersama ahli, serta uji reliabilitas (Cronbach Alpha).
- Gunakan teknik random sampling untuk pemilihan guru agar sampel representatif.
- Sertakan instruksi jelas dan, jika mungkin, lakukan pilot test ke sebagian kecil responden sebelum survei utama.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Dela Novita -
Nama :Dela Novita
NPm:2313031023

1. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif karena menggunakan angket dengan skala Likert untuk mengukur variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja. Angket memungkinkan peneliti untuk mengumpulkan data dari banyak responden dan menganalisisnya secara statistik.

2. Kelebihan dan Kelemahan Angket
Kelebihan:
- Dapat mengumpulkan data dari banyak responden
- Mudah dianalisis secara statistik
- Dapat mengukur variabel yang tidak dapat diobservasi langsung

Kelemahan:
- Responden mungkin tidak menjawab dengan jujur
- Responden mungkin tidak memahami pertanyaan
- Data yang diperoleh mungkin tidak mendalam

3. Teknik Analisis Statistik
Untuk menjawab tujuan penelitian:
- Apakah ada pengaruh antara gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja? → Analisis Regresi Linear
- Apakah ada perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru? → Analisis ANOVA atau Uji T

Alasan: Analisis Regresi Linear dapat mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, sedangkan Analisis ANOVA atau Uji T dapat mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru.

4. Potensi Bias dan Masalah Validitas
Potensi bias:
- Bias responden (tidak menjawab dengan jujur)
- Bias peneliti (dalam menyusun pertanyaan)
- Bias sampel (tidak representatif)

Cara mengatasi:
- Menggunakan pertanyaan yang jelas dan tidak ambigu
- Menggunakan skala Likert yang valid dan reliabel
- Menguji validitas dan reliabilitas angket sebelum digunakan
- Menggunakan sampel yang representatif dan acak
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Annisa Luthfiyyah -

Nama : Annisa Luthfiyyah 

NPM : 2313031010

1. Evaluasi teknik pengumpulan data

Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah angket (kuesioner) yang diisi oleh guru. Menurut saya, teknik ini sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif karena: peneliti ingin mengumpulkan data numerik yang dapat diukur (misal skor gaya kepemimpinan dan motivasi kerja).

Skala Likert 1–5 memungkinkan data diolah secara statistik untuk mengetahui hubungan atau perbedaan antar variabel.

Penggunaan angket memudahkan pengumpulan data dari banyak responden (120 guru), sehingga hasilnya bisa digeneralisasi.

2. Kelebihan dan kelemahan menggunakan angket

Kelebihan: Bisa mengumpulkan data dari banyak responden secara efisien. Data yang diperoleh terstruktur dan mudah dianalisis. Responden bisa mengisi secara mandiri, sehingga menghemat waktu dan biaya.

Kelemahan: Responden mungkin tidak jujur atau menebak jawaban yang dianggap “baik”.Tidak bisa menggali jawaban mendalam atau alasan di balik jawaban. Ada risiko tidak semua pertanyaan dipahami sama oleh responden.

3. Teknik analisis statistik yang tepat

a. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja:

Gunakan regresi linier sederhana atau korelasi Pearson (jika data Likert dianggap interval) karena keduanya dapat mengukur hubungan pengaruh variabel independen (gaya kepemimpinan) terhadap variabel dependen (motivasi kerja).

b. Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru:

Gunakan ANOVA satu arah (One-way ANOVA) karena variabel dependen (motivasi kerja) berskala interval/rasio dan variabel bebas (tingkat pendidikan) berskala kategorik lebih dari dua kategori.

4. Potensi bias dan masalah validitas

Potensi bias / masalah validitas:Respon sosial (social desirability bias): guru menjawab sesuai yang dianggap “baik” bukan apa yang sebenarnya dirasakan. Interpretasi berbeda: beberapa responden bisa salah paham pertanyaan atau skala Likert.

Non-response bias: jika ada guru yang tidak mengisi angket, data bisa kurang representatif.

Cara mengatasinya:Jelaskan instruksi dan tujuan penelitian dengan jelas sebelum pengisian. Jamin kerahasiaan jawaban untuk mengurangi jawaban “sesuai harapan”. Gunakan pre-test atau uji coba angket untuk memastikan pertanyaan mudah dipahami. Usahakan mengikuti seluruh populasi atau mengambil sampel representatif agar data tetap valid.

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Rieke Nindita Sari - -
Nama : Rieke Nindita Sari
NPM : 2313031019

1. Teknik pengumpulan data menggunakan angket sudah sangat sesuai dengan pendekatan kuantitatif karena menghasilkan data numerik yang terstruktur, mudah diukur, dan memungkinkan analisis statistik untuk melihat hubungan dan perbedaan antarvariabel.

2. Kelebihannya bisa menjangkau banyak responden dengan waktu singkat, biaya relatif murah, dan data yang diperoleh mudah diolah secara statistik. Sedangkan kelemahannya yaitu responden bisa menjawab tidak jujur, interpretasi setiap item bisa berbeda antarresponden, serta tidak memberi penjelasan mendalam seperti wawancara.

3. Untuk melihat pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, teknik yang tepat adalah regresi linier sederhana, karena ingin mengetahui hubungan sebab-akibat antara satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru, teknik yang sesuai adalah ANOVA satu arah, karena membandingkan rata-rata motivasi kerja antara beberapa kelompok tingkat pendidikan.

4. Bias yang mungkin muncul antara lain bias sosial (responden cenderung menjawab “aman”), bias interpretasi item angket, dan masalah validitas konstruk jika pernyataannya kurang jelas; cara mengatasinya adalah dengan uji validitas–reliabilitas angket, memberi instruksi yang jelas, menjamin anonimitas responden, serta melakukan pilot test sebelum angket utama disebarkan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Tria Meilisma -

Nama: Tria Meilisma 

NPM: 2313031029

1.Teknik pengumpulan data dengan angket sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif karena angket memungkinkan pengukuran variabel secara sistematis dan kuantitatif, melalui pertanyaan-pertanyaan yang terstruktur dan menggunakan skala Likert. Ini memungkinkan data yang diperoleh berupa angka yang dapat dianalisis secara statistik untuk menguji hubungan antara gaya kepemimpinan dan motivasi kerja guru

2. Kelebihan angket dalam penelitian meliputi:

-  Efisien dan praktis untuk mengumpulkan data dalam jumlah besar.

-  Memungkinkan responden menjawab secara anonim dan leluasa

-  Mempermudah pengolahan data secara statistic.

Kelemahan:

-  Angket kaku dan tidak fleksibel untuk menjawab variasi atau detail yang subjektif

-  Risiko responden tidak jujur atau kurang teliti dalam menjawab

- Sulit mendapat penjelasan jika ada pertanyaan yang kurang jelas

3. Teknik analisis statistik yang paling tepat:

- Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, analisis regresi linier atau regresi linier berganda dapat digunakan karena mengukur hubungan dan pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

- Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru, analisis varians (ANOVA) lebih tepat karena membandingkan rata-rata motivasi kerja di antara kelompok kategori pendidikan yang berbeda

4. Potensi bias dan masalah validitas:

- Bias respons, seperti jawaban tidak jujur atau sosial desirabilitas, dapat muncul

-  Validitas pertanyaan angket bisa kurang jika tidak dirancang dengan baik atau tidak diuji coba

-  Responden mungkin tidak mengerti semua pertanyaan sehingga data kurang akurat

Cara mengatasinya:

- Menggunakan angket yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya

- Memberikan instruksi jelas dan anonim untuk meminimalkan bias respons

-  Melakukan uji coba angket (pilot test) sebelum pengumpulan data utama

Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Najwa Ayudia Aura Rachim -
Nama: Najwa Ayudia Aura Rachim
NPM: 2313031027
Kelas: A

1. Evaluasi Teknik pengumpulan data menggunakan angket sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Alasannya Angket memungkinkan pengumpulan data dari sampel besar (120 guru), sehingga hasil dapat digeneralisasi, Skala Likert pada Bagian B menghasilkan data numerik yang dapat dianalisis secara statistic dan Data demografis (Bagian A) bersifat objektif dan mudah diukur.

2. Kelebihan menggunakan Angket Adalah efisien untuk mengumpulkan data dari banyak responden, anonimitas responden dapat meningkatkan kejujuran jawaban dan mudah dianalisis secara statistic sedangkan Kelemahannya yaitu responden mungkin tidak memahami pertanyaan atau menjawab asal-asalan, bias sosial (social desirability bias) bisa terjadi dan juga Keterbatasan dalam menggali jawaban mendalam.

3. Teknik Analisis Statistik
> Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja dengan menggunakan Regresi Linear (Simple Linear Regression). Alasanya menguji hubungan antara variabel independen (gaya kepemimpinan) dan dependen (motivasi kerja).
> Perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat Pendidikan menggunakan ANOVA One-Way. Alasannya Membandingkan rata-rata motivasi kerja di lebih dari dua kelompok (misalnya, S1, S2, S3).

4. Potensi Bias dan Cara Mengatasi Adalah
1. Bias Responden:
- Masalah: Jawaban tidak jujur atau asal-asalan.
- Solusi: Pastikan anonimitas, gunakan bahasa sederhana, dan uji coba angket sebelum distribusi.
2. Bias Pengukuran:
- Masalah: Pertanyaan ambigu atau tidak mencakup semua aspek.
- Solusi: Validasi instrumen (uji validitas dan reliabilitas, misalnya Cronbach’s Alpha).
3. Bias Seleksi:
- Masalah: Sampel tidak representatif.
- Solusi: Gunakan teknik sampling acak dan pastikan ukuran sampel cukup besar.
4. Bias Sosial:
- Masalah: Responden menjawab sesuai ekspektasi.
- Solusi: Tekankan bahwa tidak ada jawaban "benar/salah" dan data dirahasiakan.

Jadi lakukan pretest angket pada beberapa responden untuk memastikan kejelasan, gunakan software statistik (SPSS, Excel) untuk analisis data dan interpretasikan hasil dengan hati-hati dan hindari klaim kausalitas jika desain penelitian tidak eksperimental.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Ni Wayan Vara Wulandari -
Nama: Ni Wayan Vara Wulandari
NPM: 2313031017

1. Teknik pengumpulan data yang digunakan sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif karena peneliti menggunakan angket terstruktur yang berisi pernyataan dengan skala Likert. Angket adalah instrumen standar dalam penelitian kuantitatif karena menghasilkan data numerik yang dapat dianalisis secara statistik untuk menjelaskan hubungan antarvariabel. Selain itu, penggunaan data demografis juga sesuai karena dapat diubah menjadi data angka yang mendukung analisis kuantitatif.
2. Kelebihan: Penggunaan angket dapat menjangkau banyak responden dengan waktu yang relatif singkat, biaya lebih murah, dan memungkinkan data diperoleh secara seragam karena semua responden menerima pertanyaan yang sama.
Kekurangan: Angket memiliki kelemahan karena jawaban sangat bergantung pada kejujuran responden, bisa terjadi salah paham terhadap pernyataan, dan kualitas data bergantung pada seberapa baik pernyataan disusun. Selain itu, responden mungkin menjawab secara asal atau tidak teliti.
3. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, analisis yang tepat adalah regresi linier sederhana, karena peneliti ingin melihat hubungan pengaruh antara satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru, teknik yang tepat adalah uji ANOVA satu arah, karena peneliti membandingkan rata-rata motivasi kerja pada kelompok guru dengan tingkat pendidikan yang berbeda.
4. Potensi bias yang mungkin muncul adalah bias respon, yaitu guru menjawab tidak jujur karena ingin menampilkan kondisi yang baik. Bisa juga terjadi bias interpretasi, di mana responden salah memahami isi angket. Selain itu, validitas konstruk bisa terganggu jika pernyataan dalam angket tidak benar-benar mewakili konsep gaya kepemimpinan dan motivasi kerja. Untuk mengatasinya, peneliti dapat melakukan uji coba angket (pilot test), memastikan pernyataan jelas dan mudah dipahami, menjaga anonimitas agar responden merasa aman menjawab jujur, serta melakukan uji validitas dan reliabilitas sebelum angket digunakan secara luas.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Suci Tri Wahyuni 2313031012 -
Nama: Suci Tri Wahyuni
Npm: 2313031012
Kelas: A

1. Evaluasi kesesuaian teknik pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif
Teknik pengumpulan data menggunakan angket (kuesioner) skala Likert sangat sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Alasannya karena angket menghasilkan data numerik yang dapat dihitung dan dianalisis secara statistik. Selain itu, penelitian kuantitatif menekankan pengukuran variabel secara objektif, dan skala Likert mampu mengukur variabel gaya kepemimpinan dan motivasi kerja dalam bentuk skor angka sehingga memudahkan proses analisis statistik.

2. Kelebihan dan kelemahan penggunaan angket dalam penelitian ini
Kelebihannya:
• Mampu mengumpulkan data dari banyak responden dengan waktu yang relatif cepat dan efisien.
• Responden dapat menjawab secara mandiri tanpa tekanan langsung dari peneliti sehingga dianggap lebih objektif.
• Data yang diperoleh bersifat kuantitatif sehingga mudah diolah secara statistik.

Kelemahannya:
• Jawaban responden mungkin tidak mencerminkan kondisi sebenarnya karena bisa muncul kecenderungan jawaban sosial yang diharapkan (social desirability bias).
• Interpretasi setiap pernyataan bisa berbeda antara responden jika pernyataannya kurang jelas.
• Tidak dapat menggali alasan, pandangan mendalam, atau penjelasan rinci seperti yang bisa diperoleh melalui wawancara.

3. Teknik analisis statistik yang tepat
Untuk menjawab tujuan penelitian, teknik yang sesuai adalah:

a. Menguji pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja
Analisis yang tepat adalah regresi linear sederhana (jika hanya satu variabel bebas) atau regresi linear berganda (jika gaya kepemimpinan diukur melalui beberapa indikator yang diperlakukan sebagai variabel bebas).
Regresi tepat karena mampu menunjukkan hubungan pengaruh (predictive influence) antara variabel X (gaya kepemimpinan) dan Y (motivasi kerja).

b. Menguji perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru
Analisis yang tepat adalah ANOVA satu arah (One-Way ANOVA) karena ingin membandingkan rata-rata motivasi kerja dari beberapa kelompok pendidikan (misalnya S1, S2, D3). ANOVA digunakan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan antara tiga atau lebih kelompok.

4. Potensi bias atau masalah validitas serta cara mengatasinya
Beberapa potensi bias dan masalah validitas yang mungkin muncul:

• Bias keinginan sosial (social desirability): guru mungkin memberi jawaban positif karena tidak ingin terlihat menilai kepala sekolah secara negatif.
Solusi: menjamin kerahasiaan jawaban dan menegaskan bahwa penelitian anonim (tidak meminta nama).

• Bias interpretasi pernyataan: responden mungkin memahami pernyataan secara berbeda.
Solusi: melakukan uji coba angket (try out) untuk memastikan kejelasan bahasa dan perbaikan item yang ambigu.

• Masalah reliabilitas instrumen: pernyataan dalam angket mungkin tidak konsisten mengukur variabel.
Solusi: melakukan uji reliabilitas (misalnya Cronbach’s Alpha) dan memperbaiki item yang kurang konsisten.

• Masalah validitas konstruk: pernyataan mungkin tidak mewakili seluruh konsep gaya kepemimpinan atau motivasi kerja.
Solusi: menyusun indikator berdasarkan teori ilmiah dan melakukan uji validitas isi melalui expert judgment (pakar).
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Saqila Rahma Andini -
Nama : 2313031020
Npm : 2313031020

1. Evaluasi teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti, yaitu angket, sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Hal ini karena pendekatan kuantitatif menekankan pengumpulan data numerik yang dapat diukur dan dianalisis secara statistik (Creswell, 2014). Angket dengan skala Likert 1–5 memungkinkan peneliti untuk mengubah persepsi responden tentang gaya kepemimpinan dan motivasi kerja menjadi skor numerik yang dapat dianalisis untuk menguji hubungan atau perbedaan antarvariabel. Selain itu, angket memungkinkan pengumpulan data dari banyak responden secara efisien sehingga hasilnya dapat digeneralisasi.
Referensi
Creswell, J. W. (2014). Research Design: Qualitative, Quantitative, and Mixed Methods Approaches(4th ed.). Sage Publications.
2. Kelebihan dan kelemahan menggunakan angket
- Kelebihan
Angket memungkinkan pengumpulan data dari banyak responden dalam waktu relatif singkat dan biaya lebih rendah. Skala Likert mempermudah pengukuran variabel psikologis seperti motivasi dan persepsi terhadap kepemimpinan secara kuantitatif. Selain itu, data yang diperoleh mudah dianalisis dengan metode statistik (Sekaran & Bougie, 2016).
- Kelemahan
Data yang diperoleh bersifat subjektif karena bergantung pada jawaban responden, sehingga ada risiko ketidakjujuran atau jawaban sosial-desirability (responden menjawab sesuai yang dianggap baik). Selain itu, pertanyaan yang kurang jelas dapat menimbulkan interpretasi berbeda antarresponden.
Referensi
Sekaran, U., & Bougie, R. (2016). Research Methods for Business: A Skill-Building Approach(7th ed.). Wiley.
3. Teknik analisis statistik yang tepat
Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja
Teknik yang paling tepat adalah analisis regresi linier sederhana. Hal ini karena variabel gaya kepemimpinan berfungsi sebagai variabel independen, sedangkan motivasi kerja sebagai variabel dependen. Analisis regresi memungkinkan peneliti mengukur seberapa besar pengaruh satu variabel terhadap variabel lainnya (Hair et al., 2019).
Referensi
Hair, J. F., Black, W. C., Babin, B. J., & Anderson, R. E. (2019). Multivariate Data Analysis (8th ed.). Cengage.
Gravetter, F. J., & Wallnau, L. B. (2017). Statistics for the Behavioral Sciences (10th ed.). Cengage.
4. Potensi bias atau masalah validitas dan cara mengatasinya
- Potensi bias
1. Bias sosial-desirability Responden mungkin memberikan jawaban yang dianggap “baik” daripada jawaban jujur.
2. Bias non-respons Beberapa guru mungkin tidak mengisi angket secara lengkap atau tidak menanggapinya sama sekali.
3. Bias interpretasi pertanyaan Responden bisa menafsirkan pernyataan angket secara berbeda.
- Cara mengatasinya
1. Menjamin anonimitas dan kerahasiaan agar responden lebih jujur.
2. Memberikan petunjuk jelas dan contoh jawaban untuk setiap pertanyaan.
3. Melakukan uji validitas dan reliabilitas angket sebelum disebarkan, sehingga pertanyaan yang ambigu dapat diperbaiki (Creswell, 2014).
4. Mengingatkan responden untuk mengisi angket secara lengkap dan teliti, serta menindaklanjuti non-respon.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Yesi Novia Pitriani -
Nama: Yesi Novia Pitriani
NPM: 2313031006

1. Kesesuaian Teknik Pengumpulan Data KuantitatifTeknik pengumpulan data melalui angket terstruktur sangat sesuai untuk pendekatan kuantitatif. Alasannya, angket memungkinkan data diubah ke dalam bentuk numerik misalnya, skor pada skala Likert, sehingga analisis statistik dapat dilakukan untuk menemukan hubungan antar variabel atau membandingkan kelompok responden berdasarkan karakteristik tertentu seperti tingkat pendidikan. Data demografis juga penting untuk pengelompokan dan analisis selanjutnya.

2. Kelebihan dan Kelemahan
Kelebihan penggunaan angket dalam penelitian ini adalah kemampuan untuk mengumpulkan data dari banyak guru dalam waktu relatif singkat dengan prosedur yang terstandar, sehingga memudahkan peneliti mengubah respons menjadi angka dan melakukan analisis statistik secara objektif. Selain itu, angket memungkinkan responden menjawab secara lebih jujur karena sifatnya yang anonim dan tidak menuntut interaksi langsung dengan peneliti, sehingga dapat mengurangi rasa sungkan ketika menilai gaya kepemimpinan kepala sekolah atau mengungkap tingkat motivasi kerja. Di sisi lain, angket memiliki kelemahan karena setiap guru mungkin menafsirkan pernyataan dengan cara yang berbeda, sehingga dapat menurunkan ketepatan makna data yang diperoleh. Angket juga kurang mampu menggali informasi yang bersifat mendalam, seperti alasan psikologis atau pengalaman spesifik yang memengaruhi motivasi kerja, dan terdapat risiko jawaban tidak akurat jika responden mengisi secara terburu-buru, asal pilih, atau sekadar menyesuaikan dengan jawaban yang dianggap “aman” secara sosial.

3. Teknik Analisis Statistik yang Tepat
• Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja digunakan teknik regresi linier sederhana (bila variabel gaya kepemimpinan dianggap sebagai satu skor keseluruhan) atau regresi linier berganda (bila terdiri dari beberapa dimensi kepemimpinan).
• Untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru digunakan teknik uji ANOVA satu arah (one-way ANOVA), karena membandingkan mean motivasi kerja dari lebih dari dua kelompok pendidikan.

4. Potensi Bias/Validitas dan Cara Mengatasinya
• Bias sosial (social desirability bias): Guru bisa memilih jawaban yang dianggap ‘baik’ atau aman. Cara mengatasi: Anonimitas diperkuat dan instruksi menekankan kerahasiaan.
• Validitas konstruk: Pernyataan pada angket harus benar-benar mencerminkan teori variabel yang diukur. Cara mengatasi: Uji validitas isi dengan meminta ahli menelaah item, lakukan uji coba (try-out) dan analisis validitas.
• Bias nonrespons: Tidak semua guru yang diberi angket mengisinya, sehingga data tidak representatif. Cara mengatasi: Pastikan distribusi angket merata dan lakukan follow-up pada responden.
• Reliabilitas skala: Pastikan konsistensi internal antar butir pernyataan dengan uji reliabilitas (misalnya menggunakan Cronbach’s Alpha).
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh LIS TIARA PUTRI -
Nama : Lis Tiara Putri
NPM : 2213031001

1. Kesesuaian Teknik Pengumpulan Data dengan Pendekatan Kuantitatif
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Penggunaan angket dengan skala Likert memungkinkan peneliti memperoleh data numerik yang dapat dianalisis secara statistik untuk mengetahui hubungan dan perbedaan antar variabel. Selain itu, data demografis yang dikumpulkan melalui pertanyaan terstruktur juga mendukung analisis kuantitatif karena dapat dikodekan dalam bentuk angka. Dengan demikian, teknik ini memenuhi karakteristik utama penelitian kuantitatif yaitu terukur, terstandar, objektif, dan dapat dianalisis menggunakan uji statistik inferensial.

2. Kelebihan dan Kelemahan Menggunakan Angket
Kelebihan angket dalam penelitian ini adalah mampu menjangkau responden dalam jumlah besar dengan waktu dan biaya yang lebih efisien, sehingga mendukung tujuan generalisasi penelitian. Responden dapat menjawab secara mandiri tanpa tekanan, dan penskalaan Likert memberikan variasi data yang memadai untuk analisis statistik. Namun, kelemahannya adalah kemungkinan responden memberikan jawaban yang tidak mencerminkan kondisi sebenarnya (bias sosial), adanya keterbatasan pemahaman terhadap pernyataan, serta tidak adanya kesempatan menggali jawaban lebih dalam seperti pada wawancara. Selain itu, tingkat respons dapat bervariasi dan dapat memengaruhi validitas data jika banyak instrumen tidak terisi dengan lengkap.

3. Teknik Analisis Statistik yang Tepat
Untuk menjawab tujuan penelitian yang pertama, yaitu mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, teknik analisis yang tepat adalah analisis regresi linier sederhana. Hal ini karena gaya kepemimpinan berperan sebagai variabel bebas dan motivasi kerja sebagai variabel terikat, keduanya diukur secara kuantitatif menggunakan skala Likert. Sementara itu, untuk menjawab tujuan kedua mengenai perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru, teknik yang sesuai adalah uji ANOVA satu arah (One-Way ANOVA) karena variabel motivasi kerja berbentuk data numerik, sedangkan tingkat pendidikan merupakan variabel kategori dengan lebih dari dua kelompok. Kedua teknik ini memungkinkan peneliti melakukan pengujian hipotesis secara inferensial sesuai tujuan yang dirumuskan.

4. Potensi Bias dan Masalah Validitas serta Cara Mengatasinya
Metode pengumpulan data melalui angket dapat menimbulkan beberapa bias, seperti social desirability bias, yaitu guru mungkin menjawab lebih positif untuk menjaga citra kepala sekolah atau kenyamanan hubungan kerja. Selain itu, terdapat risiko bias pemahaman jika item kurang jelas atau multitafsir. Dari sisi validitas, instrumen harus benar-benar mengukur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja sesuai teori; jika tidak, bisa terjadi masalah validitas konstruk. Untuk mengatasinya, peneliti perlu melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen sebelum penyebaran penuh, memberikan instruksi yang jelas, menjamin kerahasiaan jawaban, serta menghindari penggunaan pernyataan yang terlalu sensitif. Juga disarankan untuk memastikan tingkat respons yang tinggi melalui monitoring dan follow-up agar data yang diperoleh lebih representatif.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Dwi Apriyana -
Nama: Dwi Apriyana
Npm: 2313031022


1. Teknik pengumpulan data sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif, karena pendekatan kuantitatif menekankan pada pengukuran variabel secara objektif menggunakan instrumen terstruktur, dan angket merupakan instrumen yang digunakan. Angket memungkinkan peneliti memperoleh data berupa angka, ketika menggunakan skala likert, sehingga data mudah dianalisis secara statistik.

2. Kelebihan dan kelemahan penggunaan angket
Kelebihan: Mampu mengumpulkan data dari banyak responden dalam waktu relatif singkat, lebih efisien dari segi biaya dan tenaga, responden dapat mengisi angket secara mandiri tanpa kehadiran peneliti dan data mudah dikonversi ke bentuk angka dan dianalisis secara statistik.

Kelemahan: Responden dapat memberikan jawaban tidak jujur, pemahaman responden terhadap item angket bisa berbeda-beda, tidak dapat menggali informasi mendalam seperti pada wawancara dan item yang kurang valid dapat menghasilkan data yang tidak akurat.

3. Teknik analisis statistik yang tepat untuk menjawab tujuan penelitian
a. Untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, teknik analisis yang tepat adalah analisis regresi linear sederhana. Teknik ini digunakan ketika peneliti ingin melihat apakah satu variabel independen (gaya kepemimpinan) berpengaruh terhadap satu variabel dependen (motivasi kerja).
b. Untuk mengetahui apakah ada perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan, teknik yang tepat adalah uji ANOVA satu arah. ANOVA digunakan untuk melihat perbedaan rata-rata motivasi kerja pada lebih dari dua kelompok tingkat pendidikan (misalnya S1, S2, dan lainnya).

4. Potensi bias dan masalah validitas dari metode pengumpulan data ini serta cara mengatasinya
a. Bias sosial atau social desirability bias. Responden mungkin memberikan jawaban yang terlihat baik dan sesuai harapan, terutama karena topik menyangkut kepala sekolah. Cara mengatasi: menjamin kerahasiaan responden dan menggunakan pernyataan netral.
b. Kesalahan pemahaman terhadap item angket. Responden dapat salah menafsirkan makna pernyataan tertentu.
Cara mengatasi: melakukan uji coba angket (try out) dan revisi berdasarkan hasil uji validitas dan reliabilitas.
c. Bias respon karena kejenuhan. Jika angket panjang, responden bisa mengisi asal-asalan.
Cara mengatasi: membuat angket ringkas namun tetap mewakili indikator variabel.
d. Masalah validitas instrumen. Pernyataan yang tidak sesuai indikator dapat menghasilkan data yang tidak mencerminkan variabel sebenarnya.
Cara mengatasi: menyusun angket berdasarkan indikator teoritis yang jelas dan melakukan uji validitas konstruk.
e. Bias karena keterbatasan sampel. Meskipun 120 responden cukup, jika sampel tidak mewakili populasi (misalnya hanya dari beberapa sekolah), maka generalisasi akan lemah.
Cara mengatasi: melakukan sampling secara proporsional dari semua SMA negeri di kota X.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Syifa Hesti Pratiwi -
Nama: Syifa Hesti Pratiwi
NPM: 2313031003

1. Kesesuaian teknik pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif
Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti, yaitu angket ber-skala Likert, sudah sepenuhnya sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif membutuhkan data berupa angka yang dapat dianalisis secara statistik, dan skala Likert 1–5 adalah salah satu bentuk instrumen yang paling umum digunakan untuk mengukur persepsi, sikap, serta konstruk psikologis seperti gaya kepemimpinan dan motivasi kerja. Angket memungkinkan peneliti memperoleh data dalam jumlah besar secara cepat dan terstandar, sehingga hasilnya dapat digeneralisasi ke populasi guru SMA negeri di kota X. Selain itu, bagian data demografis juga sesuai dengan karakteristik penelitian kuantitatif, karena menghasilkan data numerik atau kategorikal yang dapat digunakan untuk melakukan analisis perbandingan.

2. Kelebihan dan kelemahan penggunaan angket dalam penelitian ini
Penggunaan angket memiliki beberapa kelebihan. Pertama, angket mampu menjangkau banyak responden dalam waktu singkat, sehingga efektif untuk penelitian dengan populasi besar seperti guru SMA negeri. Kedua, angket memberikan standar pertanyaan yang sama untuk semua responden, sehingga meningkatkan konsistensi data. Ketiga, angket Likert mudah dianalisis secara statistik, terutama untuk mengukur variabel seperti motivasi dan persepsi kepemimpinan. Namun, angket juga memiliki kelemahan. Responden mungkin memberikan jawaban yang tidak mencerminkan keadaan sebenarnya (bias sosial), terlebih ketika pertanyaannya menyangkut kepemimpinan kepala sekolah. Selain itu, angket tidak dapat menggali secara mendalam alasan atau konteks di balik jawaban, sehingga peneliti kehilangan data kualitatif yang mungkin penting. Kelemahan lainnya adalah adanya kemungkinan responden tidak membaca pernyataan dengan cermat dan menjawab secara asal hanya untuk menyelesaikan angket.

3. Teknik analisis statistik yang paling tepat
Untuk menjawab pertanyaan apakah ada pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja, teknik analisis yang paling tepat adalah regresi linier sederhana, karena penelitian melibatkan satu variabel bebas (gaya kepemimpinan) dan satu variabel terikat (motivasi kerja), keduanya diukur secara kuantitatif. Regresi memungkinkan peneliti melihat kekuatan, arah, dan signifikansi pengaruh. Untuk menjawab tujuan kedua, yaitu apakah terdapat perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru, teknik yang paling sesuai adalah ANOVA satu arah (One-Way ANOVA). Ini karena tingkat pendidikan merupakan variabel kategorikal dengan lebih dari dua kelompok (misalnya S1, S2, dan S3), sedangkan motivasi kerja diukur dalam bentuk skor numerik. ANOVA memungkinkan peneliti membandingkan rata-rata motivasi dari tiap kelompok pendidikan untuk melihat apakah terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik.

4. Potensi bias atau masalah validitas dan cara mengatasinya
Beberapa potensi bias dapat muncul dalam penelitian ini. Yang pertama adalah social desirability bias, yaitu kecenderungan responden memberikan jawaban positif tentang kepemimpinan kepala sekolah karena takut jawaban mereka diketahui pihak sekolah. Hal ini dapat diatasi dengan memberikan jaminan anonimitas dan kerahasiaan sebelum responden mengisi angket. Yang kedua adalah response bias, seperti jawaban yang sama untuk semua item (straight-lining) atau ketidakseriusan responden. Cara mengatasinya adalah dengan memasukkan beberapa item bersifat reverse (pernyataan negatif) untuk menguji konsistensi jawaban. Selain itu, terdapat potensi validitas konstruk yang lemah jika butir angket tidak benar-benar mengukur gaya kepemimpinan atau motivasi kerja. Untuk mengatasi hal ini, peneliti perlu melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen sebelum penelitian utama, termasuk validitas isi melalui ahli. Terakhir, sampling bias juga dapat muncul jika guru yang berpartisipasi hanya berasal dari sekolah tertentu. Hal ini dapat dicegah dengan memastikan distribusi angket merata ke semua SMA negeri di kota X.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh TAZKI ALFIKRI -
Nama: Tazki Alfikri
NPM: 2313031028

1. Metode pengumpulan data berupa angket dengan skala Likert sangat sesuai untuk pendekatan kuantitatif karena memungkinkan pengukuran variabel secara numerik dan objektif. Data yang diperoleh dari angket dapat dianalisis secara statistik untuk menilai hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru secara tepat.

2. Penggunaan angket memiliki keunggulan, antara lain mampu mengumpulkan data dari banyak responden secara efisien, pertanyaan yang seragam memudahkan analisis, dan memudahkan pengukuran variabel secara kuantitatif. Namun, kelemahannya termasuk risiko jawaban tidak jujur, keterbatasan informasi mendalam karena tidak ada interaksi langsung, serta kemungkinan responden salah memahami pertanyaan.

3. Untuk menganalisis pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja guru, teknik statistik yang cocok adalah regresi linier sederhana atau analisis korelasi, karena kedua variabel bersifat numerik. Sedangkan untuk menilai perbedaan motivasi berdasarkan tingkat pendidikan guru, uji ANOVA atau uji beda rata-rata lebih tepat karena melibatkan variabel kategorik dan numerik.

4. Beberapa potensi bias dan masalah validitas dalam penggunaan angket meliputi jawaban yang dipengaruhi keinginan untuk terlihat baik, ketidaktelitian pengisian, serta perbedaan interpretasi pertanyaan antar responden. Untuk mengatasinya, peneliti dapat menjamin anonimitas responden, melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen, memberikan petunjuk pengisian yang jelas, serta melakukan pre-test sebelum pengumpulan data utama.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh IRFAN A SUKI -
Nama : Irfan A Suki
Npm : 2313031013

1. Kesesuaian Teknik Pengumpulan Data dengan Pendekatan Kuantitatif

Penggunaan angket sangat cocok untuk penelitian kuantitatif karena menghasilkan data angka yang dapat diolah secara statistik. Selain itu, kuesioner memungkinkan peneliti mengumpulkan informasi dari banyak responden dengan cara yang seragam dan efisien.

2. Kelebihan dan Kelemahan Penggunaan Angket
Kelebihan:

  • Cepat dan praktis untuk menjangkau banyak guru.
  • Data mudah dianalisis secara numerik.
  •  Anonimitas membantu responden menjawab lebih jujur.
  •  Biaya relatif rendah.

Kelemahan:

  • Jawaban bergantung pada kejujuran responden.
  • Ada risiko salah tafsir terhadap isi pernyataan.
  • Tidak memungkinkan pendalaman seperti wawancara.
  • Potensi munculnya jawaban yang ingin terlihat baik.

3. Teknik Analisis Statistik yang Paling Tepat

a. Pengaruh gaya kepemimpinan → motivasi kerja
Regresi linier sederhana, karena kedua variabel diukur dengan skala Likert dan dapat diperlakukan sebagai data interval.

b. Perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan
ANOVA satu arah, karena membandingkan rata-rata motivasi dari beberapa kelompok pendidikan.
Jika data tidak normal, dapat menggunakan Kruskal–Wallis.

4. Potensi Bias dan Cara Mengatasinya

  • Bias ingin terlihat baik → cegah dengan menjamin kerahasiaan jawaban.
  • Salah memahami item angket → lakukan uji coba instrumen terlebih dahulu.
  • Kecenderungan memilih jawaban tengah/positif → gunakan variasi pernyataan positif dan negatif.
  •  Instrumen belum mewakili variabel secara penuh → lakukan validasi ahli dan uji reliabilitas.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Selvidar Armalia -
Nama : Selvidar Armalia
NPM : 2313031014


1. Kesesuaian teknik pengumpulan data dengan pendekatan kuantitatif
Teknik yang digunakan sudah sesuai, karena pendekatan kuantitatif memerlukan data berupa angka.
Angket dengan skala Likert menghasilkan data numerik yang bisa dihitung, dianalisis secara statistik, dan cocok untuk menguji pengaruh antar variabel. Data demografis juga mudah diubah menjadi angka.
2. Kelebihan dan kelemahan penggunaan angket
Kelebihan:
• Bisa menjangkau banyak responden secara cepat.
• Data mudah diolah karena berbentuk angka.
• Biaya lebih murah dibanding wawancara atau observasi.
• Responden dapat menjawab dengan nyaman karena sifatnya anonim.
Kelemahan:
• Jawaban bisa kurang jujur atau asal-asalan.
• Tidak bisa menggali informasi mendalam.
• Responden bisa salah paham karena tidak bisa bertanya langsung.
• Tingkat pengembalian angket kadang rendah (jika tidak diberikan langsung).
3. Teknik analisis yang paling tepat
Untuk menjawab tujuan penelitian:
(a) Pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja
Gunakan regresi linier sederhana.
Alasannya:
• Gaya kepemimpinan = variabel bebas (X)
• Motivasi kerja = variabel terikat (Y)
• Skala Likert dapat dianalisis dengan regresi dalam penelitian kuantitatif.
(b) Perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan
Gunakan uji ANOVA satu arah.
Alasannya:
• Tingkat pendidikan terdiri dari beberapa kelompok (S1, S2, dst.).
• Motivasi kerja berupa skor.
• ANOVA digunakan untuk membandingkan rata-rata motivasi dari beberapa kelompok pendidikan.
4. Potensi bias atau masalah validitas dan cara mengatasinya
Potensi masalah:
a. Bias jawaban sosial (social desirability)
Guru bisa menjawab terlalu positif agar terlihat baik.
b. Salah paham terhadap pernyataan angket
Bisa membuat skor tidak akurat.
c. Bias pengisian cepat / asal tanda
Karena ingin cepat selesai.
d. Masalah validitas konstruk
Item angket mungkin belum benar-benar menggambarkan gaya kepemimpinan atau motivasi.
e. Masalah reliabilitas
Skala Likert harus konsisten pada setiap item.
Cara mengatasinya:
• Lakukan uji validitas dan reliabilitas sebelum menyebarkan angket secara penuh.
• Gunakan bahasa yang jelas dan sederhana.
• Edarkan angket secara anonim agar responden lebih jujur.
• Berikan instruksi yang jelas.
• Lakukan uji coba (pilot test) pada sebagian kecil responden.
• Hindari pertanyaan yang memojokkan atau menuntut jawaban tertentu.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Intan Ruliana -
Nama: Intan Ruliana
NPM: 2313031016

1. Menurut saya, teknik pengumpulan data yang dipakai sudah cocok dengan pendekatan kuantitatif. Soalnya, peneliti menggunakan angket skala Likert, yang memang umum dipakai untuk mengukur variabel numerik seperti gaya kepemimpinan dan motivasi kerja. Selain itu, data yang terkumpul nantinya bisa dihitung secara statistik, jadi sesuai dengan pendekatan kuantitatif.

2. Kelebihan:
• Bisa mengumpulkan data dari banyak guru dalam waktu cepat.
• Jawabannya lebih terstruktur dan mudah diolah secara statistik.
• Biayanya murah dan praktis.

Kelemahan:
• Responden kadang menjawab tidak jujur (sekadar “aman”).
• Ada kemungkinan guru kurang memahami item angket.
• Tidak bisa menggali alasan lebih dalam seperti wawancara.

3.1. Pengaruh gaya kepemimpinan → motivasi kerja
Cocoknya pakai regresi linier sederhana, karena ada satu variabel bebas dan satu variabel terikat.

2. Perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan
Yang paling pas adalah uji ANOVA satu arah, karena mau membandingkan motivasi pada beberapa kelompok pendidikan (misalnya S1, S2, dst.

4.Potensi bias:
• Guru bisa menjawab “asal” atau terlalu positif (social desirability bias).
• Pernyataan angket mungkin kurang jelas, sehingga ditafsirkan beda oleh tiap guru.
• Hanya memakai angket, jadi datanya bisa kurang mendalam.

Cara mengatasi:
• Uji coba angket dulu (pilot test) sebelum dibagikan.
• Gunakan pernyataan yang jelas dan tidak multitafsir.
• Yakinkan responden bahwa jawaban mereka anonim, supaya lebih jujur.
• Lakukan uji validitas dan reliabilitas untuk memastikan instrumen benar-benar layak.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Aulya Syifa Zulkarnaen -
Nama : Aulya Syifa Zulkarnaen
NPM : 2313031009

1. Kesesuaian Teknik Pengumpulan Data dengan Pendekatan Kuantitatif
Teknik pengumpulan data menggunakan angket terstruktur dengan skala Likert sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif menekankan pengukuran variabel secara objektif, penggunaan data numerik, serta analisis statistik untuk menguji hubungan atau pengaruh antarvariabel. Angket memungkinkan peneliti memperoleh data dalam bentuk angka dari jumlah responden yang relatif besar, sehingga hasil penelitian dapat dianalisis secara statistik dan memiliki potensi untuk digeneralisasi pada populasi yang lebih luas.

2. Kelebihan:
  • Memungkinkan pengumpulan data dari banyak guru dalam waktu relatif singkat.
  • Pertanyaan yang sama diberikan kepada seluruh responden sehingga data bersifat konsisten dan dapat dibandingkan.
  • Skala Likert memudahkan pengukuran tingkat kepemimpinan kepala sekolah dan motivasi kerja guru secara kuantitatif.
  • Data yang diperoleh mudah diolah menggunakan perangkat statistik.
Kelemahan:
  • Guru mungkin memberikan jawaban yang terlalu positif terhadap kepemimpinan kepala sekolah karena khawatir berdampak pada hubungan kerja.
  • Angket tidak mampu menggali alasan mendalam di balik jawaban responden.
  • Perbedaan pemahaman terhadap item pernyataan dapat memengaruhi keakuratan jawaban.

3. Teknik Analisis yang Tepat
Regresi linear sederhana:
 o Digunakan untuk menjawab pertanyaan: apakah gaya kepemimpinan kepala sekolah berpengaruh terhadap motivasi kerja guru.
 o Variabel gaya kepemimpinan sebagai variabel bebas dan motivasi kerja sebagai variabel terikat.
 o Analisis ini dapat menunjukkan arah (positif/negatif) dan besar pengaruh kepemimpinan terhadap motivasi.
Uji ANOVA satu arah (One-Way ANOVA):
 o Digunakan untuk menjawab pertanyaan: apakah terdapat perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru.
 o Cocok karena tingkat pendidikan terdiri dari lebih dari dua kelompok (misalnya S1, S2, dan S3).
 o Apabila asumsi statistik tidak terpenuhi, dapat digunakan uji Kruskal–Wallis sebagai alternatif.

4. Potensi Bias dan Masalah Validitas serta Cara Mengatasinya
Potensi bias yang mungkin muncul adalah bias jawaban sosial, karena guru cenderung memberikan jawaban positif tentang kepemimpinan kepala sekolah. Selain itu, penilaian terhadap kepemimpinan dan motivasi kerja juga bersifat subjektif, sehingga bisa berbeda antarresponden. Masalah lain yang mungkin terjadi adalah instrumen angket yang kurang valid, misalnya pernyataan tidak jelas atau tidak sesuai dengan indikator variabel.
Untuk mengatasinya, peneliti perlu menjamin kerahasiaan dan anonimitas responden agar mereka menjawab dengan jujur. Angket juga harus diuji lebih dahulu melalui uji validitas dan reliabilitas sebelum digunakan. Selain itu, pernyataan angket perlu dibuat jelas, sederhana, dan tidak menimbulkan makna ganda agar data yang didapat lebih akurat.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Rizka Mufidah -
Nama: Rizka Mufidah
NPM: 2313031001

1. Kesesuaian Teknik Pengumpulan Data dengan Pendekatan Kuantitatif
Teknik pengumpulan data yang digunakan berupa angket dengan skala Likert sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif. Pendekatan kuantitatif tekanan pengukuran variabel secara objektif dan numerik, sehingga data dapat dianalisis secara statistik. Penggunaan angket memungkinkan peneliti memperoleh data dari banyak responden dalam waktu yang relatif singkat, serta mengubah persepsi guru tentang gaya kepemimpinan dan motivasi kerja menjadi skor angka yang dapat diolah secara statistik. Selain itu, data demografi pada bagian A mendukung analisis deskriptif dan komparatif dalam penelitian kuantitatif.

2. Kelebihan dan Kelemahan Penggunaan Angket
Kelebihan:
  1. Mampu menjaring responden dalam jumlah besar sehingga mendukung generalisasi hasil penelitian.
  2. Data mudah dikodekan dan dijelaskan secara statistik.
  3.  Menghemat waktu dan biaya dibandingkan wawancara atau observasi.
  4. Memberikan keseragaman pertanyaan kepada seluruh responden sehingga meningkatkan konsistensi data.

Kelemahan:
  1. Responden mungkin tidak menjawab secara jujur, terutama pada topik sensitif seperti kepemimpinan kepala sekolah.
  2. Peneliti tidak dapat menggali jawaban secara mendalam seperti pada wawancara.
  3. Risiko salah tafsir terhadap pernyataan dalam angket.
  4. Tingkat respons dan keseriusan pengisian tidak dapat dikontrol sepenuhnya.

3. Teknik Analisis Statistik yang Paling Tepat
Untuk menjawab tujuan penelitian, teknik analisis statistik yang tepat adalah:
1. Analisis regresi linier sederhana atau korelasi Pearson
Digunakan untuk mengetahui pengaruh atau hubungan antara gaya kepemimpinan (variabel independen) terhadap motivasi kerja guru (variabel dependen). Analisis ini sesuai karena kedua variabel diukur menggunakan skala Likert yang diperlakukan sebagai interval data dan dianalisis secara kuantitatif.
2. Uji beda rata-rata (uji t atau ANOVA)
Digunakan untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru.
Jika tingkat pendidikan terdiri dari dua kelompok, digunakan uji t independen.
Jika terdiri dari lebih dari dua kelompok, digunakan ANOVA satu arah.

4. Potensi Bias dan Masalah Validitas serta Cara Mengatasinya
Beberapa potensi bias dan masalah validitas yang mungkin timbul antara lain:
1. Bias sosial (social desirability bias)
     Responden cenderung memberikan jawaban yang dianggap aman atau positif.
     Cara mengatasinya: Menjamin anonimitas dan kerahasiaan responden.
2. Bias instrumen
     Pernyataan Angket tidak valid atau tidak reliabel.
     Cara mengatasinya: Melakukan uji validitas dan reliabilitas instrumen sebelum digunakan secara luas.
3. Response set bias
    Responden menjawab secara monoton tanpa membaca pernyataan.
    Cara mengatasinya: Menyusun pernyataan yang jelas, bervariasi, dan tidak terlalu panjang.
4. Bias metode umum
     Data diperoleh dari sumber dan metode yang sama.
     Cara mengatasinya: Mengombinasikan data angket dengan data pendukung lain atau pengujian statistik tambahan.

Kesimpulan
Penggunaan angka dalam penelitian ini sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif dan tujuan penelitian. Dengan pemilihan teknik analisis statistik yang tepat serta pengendalian potensi bias, penelitian dapat menghasilkan temuan yang valid, reliabel, dan dapat digeneralisasikan.
Sebagai balasan Kiriman pertama

Re: CASE STUDY

oleh Malik Fajar -
Nama : Malik Fajar
NPM : 2213031090

1. Teknik pengumpulan data
Teknik pengumpulan data yang digunakan, yaitu angket dengan skala Likert 1–5, sudah sesuai dengan pendekatan kuantitatif karena menghasilkan data numerik yang dapat diukur dan dianalisis secara statistik. Bagian A angket yang memuat data demografis (usia, jenis kelamin, lama mengajar, tingkat pendidikan) juga dapat dikodekan secara kuantitatif, sementara bagian B mengukur gaya kepemimpinan dan motivasi kerja guru secara sistematis. Dengan angket, peneliti dapat mengumpulkan data dari banyak responden (120 guru) secara efisien, sehingga hasil penelitian dapat dianalisis untuk mengetahui pengaruh variabel dan digeneralisasi sesuai tujuan penelitian kuantitatif.

2. kelebihan dan kelemahan
Kelebihan menggunakan angket:
1. Efisiensi pengumpulan data: Angket memungkinkan peneliti mengumpulkan data dari banyak guru (120 responden) secara cepat dan seragam.
2. Standarisasi jawaban: Skala Likert memudahkan pengukuran gaya kepemimpinan dan motivasi kerja secara konsisten.
3. Kemudahan analisis kuantitatif: Data numerik dari angket mudah diolah dengan statistik untuk mengetahui hubungan atau perbedaan antar variabel.
Kelemahan menggunakan angket:
1. Terbatas pada jawaban yang tersedia: Responden hanya menjawab sesuai pilihan yang disediakan, sehingga tidak menangkap nuansa atau alasan di balik jawaban.
2. Risiko bias responden: Jawaban bisa dipengaruhi keinginan terlihat baik atau salah persepsi terhadap pertanyaan.
3. Keterbatasan interaksi: Peneliti tidak dapat menggali informasi tambahan secara langsung seperti dalam wawancara atau observasi.

3. Teknik analisis statistik
Teknik analisis statistik yang paling tepat untuk penelitian ini adalah regresi linear sederhana untuk mengetahui pengaruh gaya kepemimpinan terhadap motivasi kerja guru, karena kedua variabel diukur secara kuantitatif dan analisis ini dapat menunjukkan besarnya pengaruh serta signifikansi hubungan. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan motivasi kerja berdasarkan tingkat pendidikan guru, ANOVA satu arah paling sesuai, karena variabel tingkat pendidikan bersifat kategorik sedangkan motivasi kerja bersifat numerik, sehingga ANOVA dapat membandingkan rata-rata motivasi antar kelompok pendidikan dan menentukan apakah perbedaan tersebut signifikan secara statistik.

4. potensi bias atau masalah validitas
Beberapa potensi bias dari angket antara lain responden memberikan jawaban yang dianggap “benar” (bias sosial), salah memahami pertanyaan, atau menyesuaikan jawaban agar terlihat lebih positif. Cara mengatasinya adalah dengan menyusun pertanyaan jelas, melakukan uji coba angket, menjamin anonimitas responden, dan menggunakan instrumen yang valid serta reliabel agar data mencerminkan kondisi sebenarnya.