Silakan diunggah jawaban anda disini.
Penyerahan Jawaban Kasus 2
Npm : 24131079
Jika dibandingkan dengan metode kalkulasi biaya persediaan FIFO, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat karena LIFO menggunakan harga pembelian terbaru (yang lebih tinggi) untuk menghitung harga pokok penjualan, sehingga biaya lebih tinggi dan laba bersih menurun. Sebaliknya, selama periode penurunan harga, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO karena harga pembelian terbaru yang lebih rendah digunakan untuk harga pokok penjualan, sehingga biaya lebih rendah dan laba bertambah. Secara komparatif, perbedaan laba bersih ini mencerminkan bagaimana metode persediaan mempengaruhi laporan keuangan sesuai dengan arah perubahan harga pasar.
Npm : 2413031086
Kelas : 24C
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO (Last In, First Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat. Hal ini terjadi karena dalam metode LIFO, persediaan yang terakhir dibeli yang memiliki harga lebih tinggi akibat inflasi akan dikeluarkan terlebih dahulu untuk dicatat sebagai harga pokok penjualan (HPP). Akibatnya, HPP menjadi lebih besar dan laba kotor perusahaan menurun. Sebaliknya, metode FIFO (First In, First Out) menggunakan harga perolehan lama yang lebih rendah sebagai dasar HPP, sehingga menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi ketika harga barang naik. Dengan demikian, perbedaan metode ini sangat memengaruhi besar kecilnya laba yang dilaporkan perusahaan.
Namun, selama periode penurunan harga (deflasi), dampaknya akan berbalik arah. Metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Ketika harga menurun, HPP yang dihasilkan oleh metode LIFO berasal dari persediaan terbaru dengan harga yang lebih rendah. Hal ini membuat beban HPP lebih kecil dan laba kotor meningkat. Sebaliknya, pada metode FIFO, harga pokok penjualan masih menggunakan biaya lama yang lebih tinggi, sehingga laba bersih cenderung lebih rendah. Situasi ini memperlihatkan bahwa metode penilaian persediaan tidak hanya memengaruhi laporan laba rugi, tetapi juga dapat memberikan gambaran berbeda tentang kinerja keuangan perusahaan.
Secara komparatif, perbedaan antara kedua metode ini menunjukkan pentingnya pemilihan metode akuntansi yang sesuai dengan kondisi ekonomi. Pada saat harga meningkat, perusahaan yang menggunakan LIFO dapat menampilkan laba yang lebih konservatif dan beban pajak yang lebih rendah karena laba yang diakui lebih kecil. Sebaliknya, dalam masa penurunan harga, metode ini dapat memberikan gambaran laba yang lebih besar, walaupun tidak selalu mencerminkan kekuatan keuangan jangka panjang. Dengan demikian, pemahaman terhadap implikasi metode LIFO dan FIFO menjadi penting dalam menilai performa keuangan dan strategi pelaporan laba perusahaan secara objektif.
NPM: 2413031081
Kelas: 2024 C
Perbandingan dampak FIFO dan LIFO terhadap laba bersih dan dampak utama dari metode penillaian persediaan adalah pada harga pokok penjualan, yang pada akhirnya memengaruhi laba kotor dan laba bersih.
Periode kenaikan harga, selama periode kenaikan harga atau inflasi, harga pembelian barang akan terus meningkat.
Metode FIFO, biaya yang pertama masuk (biaya lama/rendah) dan HPP diibaratkan keluar pertama menjadi HPP, dan dalam hal ini HPP akan rendah kemudian laba bersih akan lebih tinggi. Pada LIFO biaya yang terakhir masuk diasumsikan keluar pertama. Kemudian hpp akan tinggi, dan laba bersih akan leebih rendah. Maka jika dibandingkan antara kedua metode ini, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat atau inflasi dan hal ini disebabkan LIFO menggunakan biaya perolehan yang lebih tinggi untuk HPP yang mengurangi laba kotor dan laba bersih.
Periode penurunan harga atau deflassi, pada periode penururnan harga pembelian barang dan jasa akan terus menurun.
Metode FIFO biaya yang pertama masuk siasumsikan keluar pertama menjadi hpp, dan nilai HPP akan tinggi dan laba bersih akan lebih rendah. Sedangkan pada metode LIFO, biaya yang terakhir masuk diasumsikan keluar pertama dan menjadi hpp, nilai hpp akan rendah dan laba bersih akan lebih tinggi. Jadi kesimpulannya Pengaruh komparatif terhadap laba bersih selama periode penururnan harga akan berkebalikan dari periode kenaikan harga dalam kondisi penurunan harga.
2413031090
Dalam sistem akuntansi persediaan, metode FIFO (First In, First Out) dan LIFO (Last In, First Out) memiliki pengaruh yang berbeda terhadap besarnya laba bersih, terutama ketika terjadi perubahan harga barang. Pada saat harga-harga meningkat, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan metode FIFO. Hal ini terjadi karena LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli — dengan harga yang lebih tinggi — dijual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) menjadi lebih besar, sehingga laba bersih perusahaan berkurang.
Sebaliknya, metode FIFO mengasumsikan bahwa barang yang dibeli lebih dulu — dengan harga yang lebih rendah — dijual terlebih dahulu. Karena HPP lebih kecil, laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih besar. Dengan demikian, saat periode inflasi atau kenaikan harga, metode FIFO akan memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan LIFO.
Namun, kondisi ini akan berbalik ketika harga menurun. Dalam periode penurunan harga, LIFO menggunakan harga perolehan terbaru yang lebih rendah untuk menghitung HPP, sehingga laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih tinggi dibandingkan FIFO. Sebaliknya, FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena masih menggunakan harga lama yang lebih mahal.
Secara keseluruhan, dapat disimpulkan bahwa metode LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah saat harga meningkat dan lebih tinggi saat harga menurun, sedangkan FIFO menunjukkan pola yang berlawanan. Perbedaan ini menunjukkan bahwa pilihan metode penilaian persediaan dapat memengaruhi laporan laba perusahaan secara signifikan tergantung pada kondisi perubahan harga pasar.
NPM: 2413031073
Jika dibandingkan dengan metode kalkulasi biaya persediaan FIFO, metode LIFO pada umumnya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga meningkat. Hal ini dikarenakan metode LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli (dengan harga yang lebih tinggi saat inflasi) adalah yang pertama dijual, sehingga biaya barang terjual menjadi lebih tinggi dan laba bersih lebih rendah. Sebaliknya, metode FIFO menggunakan biaya persediaan paling awal (biasanya lebih rendah selama inflasi), sehingga menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi.
Namun, selama periode harga menurun, pengaruhnya berbalik. Metode LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi daripada FIFO karena biaya barang terjual dihitung berdasarkan harga pembelian sebelumnya yang lebih tinggi, sedangkan persediaan akhir dicatat dengan harga yang lebih rendah. Jadi, laba bersih pada metode FIFO bisa lebih rendah selama deflasi. Secara komparatif, pilihan metode ini memengaruhi laporan laba rugi dan posisi keuangan perusahaan secara signifikan tergantung pada tren harga di pasar.
Npm : 2453031007
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah ketika harga barang meningkat (inflasi). Hal ini karena LIFO menganggap barang yang terakhir dibeli—yang harganya lebih mahal—dijual terlebih dahulu, sehingga biaya pokok penjualan (HPP) lebih tinggi dan laba bersih menjadi lebih kecil. Sebaliknya, FIFO menggunakan harga lama yang lebih murah, menyebabkan HPP lebih rendah dan laba lebih besar.
Namun, saat harga menurun (deflasi), pengaruhnya berbalik. Metode LIFO justru menghasilkan laba lebih tinggi karena barang terakhir yang dijual memiliki harga perolehan lebih rendah, sementara FIFO menghasilkan laba lebih rendah karena barang lama dengan harga lebih tinggi dijual terlebih dahulu.
Jadi, secara umum, LIFO menurunkan laba saat harga naik, dan menaikkan laba saat harga turun, sedangkan FIFO sebaliknya.
Re: Penyerahan Jawaban Kasus 2
Nama : Grescie Odelia Situkkir
NPM : 2413031088
Kelas : 2024 C
NPM : 2413031071
Perbandingan Laba Bersih Metode LIFO dan FIFO pada Perubahan Harga
Pada periode harga meningkat:
Metode LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah dibanding FIFO. Hal ini karena biaya pokok penjualan (HPP) dihitung dari harga barang terakhir yang cenderung lebih tinggi, sehingga HPP naik dan laba menurun.
Metode FIFO menggunakan harga barang pertama yang biasanya lebih rendah, menghasilkan HPP yang lebih kecil dan laba bersih lebih tinggi.
Pada periode harga menurun:
LIFO justru menghasilkan laba bersih lebih tinggi daripada FIFO, karena harga pokok penjualan dihitung dari harga pembelian terakhir yang sekarang lebih rendah.
FIFO memakai harga awal yang lebih tinggi, sehingga laba bersih relatif lebih rendah.
Implikasi tambahan:
LIFO cenderung menghasilkan persediaan akhir dengan nilai lebih rendah selama inflasi, sehingga pajak yang harus dibayar lebih kecil.
FIFO menampilkan nilai persediaan dan laba yang lebih besar dalam kondisi harga naik, cocok jika ingin menonjolkan nilai aset lebih baik.
Jadi secara komparatif, selama harga naik LIFO laba lebih rendah dan selama harga turun laba LIFO lebih tinggi dibanding FIFO.
NPM: 2453031008
Kelas: 2024 C
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO (Last In, First Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah ketika harga barang sedang naik. Hal ini terjadi karena dalam metode LIFO, barang yang paling baru dibeli (yang harganya lebih mahal) dianggap dijual lebih dulu. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih tinggi, dan laba bersih yang tersisa jadi lebih kecil.
Sebaliknya, saat terjadi penurunan harga, metode LIFO justru bisa menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Ini karena barang yang dijual memiliki harga pokok yang lebih rendah, sementara barang yang tersisa di gudang masih dinilai dengan harga yang lebih tinggi dari periode sebelumnya.
Jadi kesimpulannya, saat harga naik, FIFO menunjukkan laba lebih besar, tapi saat harga turun, LIFO bisa memberikan laba yang lebih tinggi. Namun, perbedaan ini hanya terjadi karena cara pencatatan biaya, bukan karena perubahan nyata pada jumlah barang yang dijual.
NPM : 2413031093
Dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), metode LIFO (Last In, First Out) biasanya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah ketika harga barang meningkat. Hal ini disebabkan karena LIFO menganggap persediaan terakhir yang dibeli dengan harga yang lebih tinggi sebagai barang yang dijual terlebih dahulu. Akibatnya, harga pokok penjualan meningkat dan laba bersih menurun. Sebaliknya, pada saat harga menurun, metode LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan FIFO.
Hal ini terjadi karena persediaan yang baru dibeli dengan harga lebih rendah diakui terlebih dahulu, sehingga harga pokok penjualan menjadi lebih kecil dan laba bersih meningkat. Dengan demikian, arah perubahan harga sangat memengaruhi hasil laba: ketika harga naik, LIFO menurunkan laba, sedangkan saat harga turun, LIFO meningkatkan laba dibandingkan metode FIFO.
NPM: 2413031091
Kelas: 2024 C
Kalau dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO biasanya menghasilkan laba bersih yang lebih rendah saat harga barang meningkat. Hal ini terjadi karena LIFO menganggap barang yang terakhir dibeli dijual lebih dulu, sementara barang terakhir biasanya sudah memiliki harga yang lebih tinggi ketika harga pasar sedang naik. Akibatnya, harga pokok penjualan (HPP) jadi lebih besar, dan otomatis laba bersih yang dilaporkan jadi lebih kecil. Sebaliknya, metode FIFO memakai harga barang yang dibeli lebih dulu (yang biasanya lebih murah), sehingga HPP nya lebih rendah dan laba bersih tampak lebih tinggi.
Namun, kalau situasinya harga barang justru menurun, keadaannya berbalik. LIFO bisa menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi, karena barang terakhir yang dibeli harganya lebih murah, sehingga HPP lebih kecil. Sedangkan FIFO akan memakai harga barang lama yang lebih mahal, jadi laba bersihnya terlihat lebih rendah.
Secara sederhana, bisa disimpulkan bahwa saat harga naik, FIFO lebih menguntungkan, tapi saat harga turun, LIFO yang lebih menguntungkan. Pilihan metode ini juga bisa memengaruhi bagaimana perusahaan terlihat secara keuangan, apakah ingin menunjukkan laba besar untuk menarik investor, atau laba lebih kecil untuk mengurangi beban pajak.
Nama : Nuraini Naibaho
Npm : 2413031076
Kelas : 24 C
Apabila dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), penggunaan metode LIFO (Last In, First Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah pada periode ketika harga barang mengalami kenaikan. Hal ini karena metode LIFO mengasumsikan bahwa barang yang terakhir dibeli dengan harga yang lebih tinggi dijual terlebih dahulu, sehingga harga pokok penjualan meningkat. Akibatnya, laba yang diperoleh perusahaan menjadi lebih kecil dibandingkan metode FIFO yang menggunakan harga pokok dari pembelian lama dengan harga lebih rendah.
Kondisi ini membuat metode FIFO tampak lebih menguntungkan saat terjadi inflasi atau kenaikan harga bahan baku. Pada metode ini, nilai persediaan akhir akan lebih tinggi karena mencerminkan harga pembelian terbaru. Sementara metode LIFO memberikan gambaran yang lebih realistis terhadap biaya yang benar-benar terjadi di pasar, meskipun menyebabkan laba yang dilaporkan lebih rendah. Dengan demikian, perbedaan utama keduanya terletak pada bagaimana keduanya mencerminkan perubahan harga terhadap laba perusahaan.
Namun, saat harga-harga mengalami penurunan, hasilnya justru berbalik arah. Metode LIFO akan menunjukkan laba bersih yang lebih tinggi, karena barang yang dijual berasal dari pembelian terakhir dengan harga yang lebih murah. Sebaliknya, metode FIFO akan menampilkan laba bersih yang lebih kecil karena barang yang dijual masih menggunakan harga lama yang lebih tinggi. Oleh karena itu, pengaruh komparatif antara kedua metode tersebut bergantung pada kondisi perubahan harga metode FIFO menguntungkan saat harga naik, sedangkan LIFO lebih menguntungkan ketika harga menurun.
Npm : 2413031094
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO (Last In First Out) memberikan hasil yang berbeda tergantung kondisi harga:
Saat harga meningkat, LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah dibanding FIFO karena barang yang terakhir dibeli (lebih mahal) dianggap dijual terlebih dahulu. Akibatnya, HPP lebih tinggi dan laba bersih menurun. Namun kelebihannya, beban pajak juga ikut lebih rendah.
Sebaliknya, ketika harga menurun, LIFO justru menghasilkan laba lebih tinggi karena HPP yang dihitung dari pembelian terakhir (lebih murah).
Pengaruh komparatifnya, FIFO memberikan laba lebih tinggi saat harga naik, sedangkan LIFO lebih konservatif karena mencerminkan biaya terkini pada laporan laba rugi.
Kesimpulannya, pilihan metode tergantung tujuan perusahaan: kalau mau tampilan laba tinggi untuk menarik investor, pakai FIFO; tapi kalau mau efisiensi pajak dan laporan laba lebih realistis di saat inflasi, LIFO lebih cocok.
Npm : 2413031070
Kelas : 2024C
Ketika harga barang meningkat atau terjadi inflasi, perbedaan antara metode FIFO dan LIFO akan memberikan dampak yang berbeda terhadap laba bersih perusahaan.
Pada metode FIFO (First In First Out), barang yang pertama kali dibeli dianggap pertama kali dijual. Artinya, barang yang dijual masih menggunakan harga pokok lama yang lebih rendah dibandingkan harga sekarang. Karena harga pokok penjualan lebih rendah, laba kotor dan laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih tinggi. Selain itu, nilai persediaan akhir di neraca juga akan tampak lebih besar karena menggunakan harga pembelian terbaru yang lebih mahal.
Sedangkan pada metode LIFO (Last In First Out), barang yang terakhir dibeli dianggap dijual terlebih dahulu. Dalam kondisi harga meningkat, harga barang yang dijual menggunakan harga terbaru yang lebih tinggi. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih besar, sehingga laba kotor dan laba bersih menjadi lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO. Nilai persediaan akhir juga akan lebih kecil karena masih terdiri dari barang yang dibeli dengan harga lama yang lebih murah.
Dengan demikian, pada periode harga meningkat (inflasi), metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah daripada metode FIFO, sebab biaya yang digunakan untuk menghitung harga pokok penjualan lebih tinggi.
Sebaliknya, pada periode harga menurun (deflasi), kondisi tersebut akan berbalik. Pada saat harga barang turun, metode LIFO akan menggunakan harga terbaru yang lebih rendah sebagai dasar perhitungan harga pokok penjualan. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih kecil, sehingga laba kotor dan laba bersih menjadi lebih besar dibandingkan metode FIFO. Sementara metode FIFO dalam kondisi harga menurun justru akan menghasilkan laba yang lebih rendah karena harga pokok penjualannya dihitung berdasarkan harga lama yang lebih tinggi.
Oleh karena itu, selama harga meningkat, LIFO memberikan laba bersih yang lebih rendah daripada FIFO, sedangkan selama harga menurun, LIFO memberikan laba bersih yang lebih tinggi daripada FIFO.
Secara komparatif, perbedaan hasil laba antara kedua metode ini disebabkan oleh perbedaan dalam cara penentuan harga pokok penjualan. FIFO lebih mencerminkan nilai persediaan yang aktual di neraca, sedangkan LIFO lebih mencerminkan laba operasional riil karena biaya yang dicatat sesuai dengan harga terkini. Namun, perlu diketahui bahwa di Indonesia dan di bawah standar pelaporan keuangan internasional (IFRS), metode LIFO sudah tidak diperbolehkan lagi karena dapat menyebabkan nilai persediaan di neraca tidak mencerminkan harga sebenarnya di pasar.
Npm: 2413031092
Kelas: 2024 C
Selama periode harga meningkat (inflasi), metode FIFO (First In, First Out) cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan metode LIFO (Last In, First Out). Hal ini karena FIFO mengasumsikan bahwa barang yang pertama dibeli adalah yang pertama dijual, sehingga harga pokok penjualan (HPP) didasarkan pada biaya lama yang lebih rendah. Sementara itu, penjualan dicatat dengan harga yang lebih tinggi sesuai kondisi pasar saat ini. Akibatnya, selisih antara pendapatan dan HPP lebih besar, sehingga laba bersih meningkat.
Sebaliknya, metode LIFO menggunakan biaya pembelian terakhir yang lebih tinggi untuk menghitung HPP, sehingga laba bersih tampak lebih rendah. Meski begitu, LIFO sering dianggap lebih realistis untuk mencerminkan biaya penggantian persediaan dalam kondisi inflasi dan bisa memberikan keuntungan pajak karena laba yang lebih kecil.
Namun, saat harga menurun (deflasi), efeknya berbalik: LIFO menghasilkan laba yang lebih tinggi karena HPP lebih rendah, sementara FIFO menurunkan laba akibat HPP yang didasarkan pada harga lama yang lebih tinggi. Dengan demikian, pilihan metode akan memengaruhi besarnya laba bersih dan nilai aktiva di neraca, serta mencerminkan strategi perusahaan dalam menghadapi fluktuasi harga pasar.
NPM : 2413031095
Jawaban Kasus 2
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO (Last In First Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode harga naik. Hal ini terjadi karena LIFO mengakui biaya persediaan terakhir yang biasanya lebih mahal, sehingga harga pokok penjualan lebih tinggi dan laba bersih lebih rendah. Sebaliknya, jika harga menurun, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO karena biaya persediaan terakhir yang diakui lebih murah. Pengaruh komparatif dari kedua metode ini menyebabkan laba bersih berfluktuasi tergantung pada harga, FIFO lebih menguntungkan saat harga naik, sedangkan LIFO menguntungkan saat harga turun.
NPM: 2413031078
Selama periode harga meningkat, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO. Hal ini terjadi karena metode LIFO mengasumsikan barang yang dibeli terakhir (dengan harga yang lebih tinggi) adalah barang yang pertama dijual, sehingga biaya pokok penjualan atau HPP akan mencatat biaya yang lebih terkini dan lebih mahal. Dengan HPP yang lebih tinggi, laba kotor dan laba bersih otomatis akan menjadi lebih rendah. Sebaliknya, ketika metode FIFO menggunakan biaya harga barang yang pertama kali dibeli (dengan harga yang lebih rendah) sebagai HPP, maka akan menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba bersih yang lebih tinggi.
Kemudian selama metode penurunan harga, pengaruhnya justru akan berkebalikan. Metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan dengan FIFO. Alasannya, dalam keadaan harga turun, barang yang terakhir dibeli memiliki harga yang lebih murah, saat biaya barang murah ini diakui sebagai HPP under LIFO, maka HPP menjadi lebih rendah. Dengan HPP yang lebih rendah, laba bersih yang dihasilkan menjadi lebih tinggi, dan metode FIFO sebaliknya. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa dampak metode FIFO dan LIFO terhadap laba bersih sangat bergantung pada tren harga yang berlaku. LIFO menghasilkan laba yang lebih rendah saat harga naik, tetapi lebih tinggi saat harga turun, dibandingkan dengan FIFO.
Npm: 2413031083
Ketika nilai persediaan mengalami kenaikan (inflasi), penggunaan metode LIFO (Last-In, First-Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO. Ini disebabkan karena LIFO menghitung biaya perolehan terbaru (yang lebih tinggi) untuk Harga Pokok Penjualan (HPP), sedangkan FIFO menggunakan biaya yang lebih lama (yang lebih rendah) untuk HPP. Dengan demikian, HPP LIFO tidak sebanding dan laba yang dihasilkan juga lebih kecil. Sebaliknya, pada saat harga menurun (deflasi), situasi ini akan berbalik. Metode LIFO akan menghitung biaya perolehan terbaru (yang kini lebih rendah) untuk HPP, sementara FIFO akan menggunakan biaya yang lebih lama (yang kini lebih tinggi). Maka, pada periode deflasi, metode LIFO akan menunjukkan laba bersih yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan FIFO. Untuk menyimpulkan, dalam situasi baik peningkatan maupun penurunan harga, metode LIFO selalu memberikan HPP yang mendekati biaya saat ini, yang menyebabkan laba bersihnya lebih rendah daripada FIFO saat harga meningkat dan lebih tinggi daripada FIFO saat harga menurun.
Npm: 2413031082
Apabila dibandingkan dengan metode FIFO (First In, First Out), penggunaan metode LIFO (Last In, First Out) cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah pada saat harga-harga mengalami kenaikan. Hal ini disebabkan karena barang yang terakhir dibeli dengan harga lebih tinggi dijual terlebih dahulu, sehingga biaya pokok penjualan meningkat dan laba bersih menurun.
Namun, ketika terjadi penurunan harga (deflasi), metode LIFO dapat memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan metode FIFO, karena harga pokok penjualan berasal dari pembelian dengan harga yang sebelumnya lebih tinggi.
Dengan demikian, FIFO lebih menguntungkan dalam kondisi harga naik, sedangkan LIFO lebih menguntungkan saat harga turun.
Npm: 2413031098
kelas 24C
jika dibandingkan dengan metode kalkulasi, saat harga naik(inflasi):
LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah di bandingkan dengan FIFO.
FIFO akan menghailkan laba bersih lebih tinggi, tapi juga menunjukan persediaan akhir a yang lebih besar di neraca. dan sebalik nya.
NPM : 2413031087
Kelas : 24C
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, penggunaan metode LIFO memberikan pengaruh yang berbeda terhadap laba bersih ketika harga-harga mengalami perubahan. Pada saat harga meningkat (inflasi), LIFO cenderung menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibanding FIFO. Hal ini terjadi karena LIFO menggunakan biaya persediaan terbaru yang lebih tinggi sebagai dasar perhitungan HPP, sehingga laba menjadi lebih kecil. Sebaliknya, FIFO memakai biaya lama yang lebih murah, sehingga laba terlihat lebih tinggi. Namun saat harga menurun (deflasi), kondisinya berbalik: LIFO akan menghasilkan laba yang lebih tinggi karena harga terbaru yang digunakan sebagai HPP lebih rendah dibanding harga lama. Sementara itu, FIFO menghasilkan laba lebih rendah karena HPP didasarkan pada harga lama yang lebih tinggi. Dengan demikian, perbedaan kedua metode tersebut terutama terletak pada bagaimana mereka merespons perubahan harga, dan hal ini berpengaruh langsung terhadap besar kecilnya laba bersih yang dilaporkan perusahaan.
NPM : 2413031084
Kelas : 2024 C
Ketika harga persediaan terus meningkat (inflasi), penggunaan metode LIFO (Last-In, First-Out) akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO (First-In, First-Out). Hal ini disebabkan oleh asumsi LIFO bahwa unit persediaan yang dibeli terakhir (yang memiliki biaya lebih tinggi di periode inflasi) adalah yang dijual pertama. Biaya persediaan yang lebih tinggi tersebut akan tercatat sebagai Harga Pokok Penjualan (HPP) yang juga lebih tinggi, yang pada akhirnya akan mengurangi laba kotor dan laba bersih. Sebaliknya, metode FIFO mengambil biaya persediaan yang paling awal (yang lebih rendah) untuk HPP, sehingga menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba bersih yang lebih tinggi.
Namun, pada saat harga persediaan menurun (deflasi), situasinya akan berubah. Metode LIFO justru akan memberikan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Dalam kondisi deflasi, unit persediaan yang dibeli terakhir memiliki biaya yang lebih rendah. Dengan LIFO, biaya yang lebih rendah ini akan dimasukkan sebagai HPP, sehingga HPP menjadi lebih rendah dan laba bersih menjadi lebih tinggi. Sementara itu, metode FIFO menggunakan biaya yang lebih lama (yang lebih tinggi) untuk HPP, yang akan mengarah pada HPP yang lebih tinggi dan laba bersih yang lebih rendah.
NPM : 2413031072
Dampak perbandingan antara LIFO dan FIFO terhadap laba bersih sangat bergantung pada tren harga. Selama masa inflasi (harga naik), metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena menggunakan biaya perolehan terbaru dan termahal untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP). Sebaliknya, FIFO menggunakan biaya lama yang lebih murah, sehingga menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi. Namun, dalam situasi deflasi (harga turun), efeknya berbalik: LIFO justru akan menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi karena membebankan biaya perolehan terbaru yang lebih murah, sedangkan FIFO akan menghasilkan laba bersih yang lebih rendah karena masih menggunakan biaya lama yang lebih mahal untuk HPP.
NPM: 2413031080
Kelas: 24C
Jika dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah pada periode harga meningkat. Hal ini terjadi karena LIFO membebankan biaya persediaan yang paling baru, yang harganya lebih tinggi, ke harga pokok penjualan. Akibatnya, harga pokok penjualan menjadi lebih besar dan laba bersih menjadi lebih kecil dibandingkan FIFO.
Sebaliknya, FIFO menggunakan biaya persediaan yang lebih lama dan lebih rendah sebagai harga pokok penjualan pada saat harga meningkat. Dampaknya, harga pokok penjualan lebih kecil dan laba bersih yang dilaporkan menjadi lebih tinggi.
Pada periode penurunan harga, pengaruhnya berbalik. LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO, karena biaya persediaan terbaru yang lebih rendah dibebankan ke harga pokok penjualan. Sementara itu, FIFO akan membebankan biaya persediaan lama yang lebih tinggi, sehingga harga pokok penjualan lebih besar dan laba bersih lebih rendah. Analisis ini menjelaskan bahwa perbedaan metode penilaian persediaan memengaruhi waktu pengakuan laba, bukan arus kas aktual perusahaan.
npm = 2413031085
Saat harga-harga mengalami kenaikan atau inflasi, penggunaan metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang relatif LEBIH KECIL dibandingkan metode FIFO. Hal ini disebabkan karena harga pokok penjualan dihitung berdasarkan nilai persediaan yang terbaru, yang cenderung lebih mahal, sehingga menekan perolehan laba.
Sebaliknya, saat harga-harga mengalami penurunan atau deflasi, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang relatif LEBIH BESAR dibandingkan metode FIFO. Hal ini terjadi karena harga pokok penjualan dihitung berdasarkan biaya terbaru yang lebih murah, sehingga meningkatkan laba. Sementara itu, FIFO menggunakan biaya lama yang lebih tinggi sehingga laba berkurang.
NPM: 2413031097
Perbandingan FIFO dan LIFO dalam Periode Harga Meningkat:
- LIFO (Last In, First Out):
- Biaya yang lebih tinggi (harga terbaru) dibebankan ke COGS (Cost of Goods Sold).
- Laba bersih lebih rendah karena COGS lebih tinggi.
- FIFO (First In, First Out):
- Biaya yang lebih rendah (harga lama) dibebankan ke COGS.
- Laba bersih lebih tinggi karena COGS lebih rendah.
Jadi, selama periode harga meningkat, LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan FIFO.
Perbandingan FIFO dan LIFO dalam Periode Harga Menurun:
- LIFO:
- Biaya yang lebih rendah (harga terbaru) dibebankan ke COGS.
- Laba bersih lebih tinggi karena COGS lebih rendah.
- FIFO:
- Biaya yang lebih tinggi (harga lama) dibebankan ke COGS.
- Laba bersih lebih rendah karena COGS lebih tinggi.
Jadi, selama periode harga menurun, LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO.
Pengaruh Komparatif:
- Inflasi (Harga Meningkat): LIFO menghasilkan laba bersih lebih rendah, cocok untuk mengurangi beban pajak.
- Deflasi (Harga Menurun): LIFO menghasilkan laba bersih lebih tinggi, kurang menguntungkan untuk pajak.
NPM : 2413031089
Dibandingkan dengan metode FIFO, metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih rendah selama periode kenaikan harga. Hal ini karena, dengan metode LIFO, persediaan yang paling baru diperoleh (yang umumnya memiliki harga lebih tinggi) dicatat terlebih dahulu sebagai harga pokok penjualan. Akibatnya, harga pokok penjualan lebih tinggi, sehingga menghasilkan laba kotor dan laba bersih yang lebih rendah dibandingkan dengan metode FIFO. Sebaliknya, metode FIFO menggunakan persediaan yang lebih lama dan berharga lebih rendah sebagai harga pokok penjualan, sehingga menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi.
Namun, selama periode penurunan harga, efeknya berbalik. Metode LIFO menghasilkan laba bersih yang lebih tinggi daripada metode FIFO karena harga pokok penjualan berasal dari persediaan yang paling baru dan berbiaya lebih rendah. Di sisi lain, metode FIFO mencatat persediaan tertua dan berbiaya lebih tinggi sebagai beban, sehingga menghasilkan laba bersih yang lebih rendah. Secara komparatif, perbedaan laba bersih antara FIFO dan LIFO terutama dipengaruhi oleh variasi harga persediaan. FIFO lebih akurat mencerminkan nilai persediaan, lebih mendekati harga pasar saat ini, sedangkan LIFO lebih kuat dalam mengkorelasikan biaya dengan pendapatan. Oleh karena itu, pilihan metode persediaan akan sangat memengaruhi laba bersih yang dilaporkan, terutama selama periode fluktuasi harga.