Nama : Canon moza julia fatma
NPM : 2613022057
Kelas : 26A
1. Metode Penentuan Struktur Dalam Bumi
Gelombang Seismik (Bukti Utama): Gelombang P (primer/longitudinal) dapat menembus zat padat dan cair, sedangkan gelombang S (sekunder/transversal) hanya dapat menembus zat padat. Perubahan kecepatan dan pembelokan (refraksi) gelombang saat melewati kedalaman tertentu membuktikan adanya batas antar-lapisan (seperti zona bayangan gelombang S yang membuktikan inti luar bersifat cair).
Bukti Pendukung Lain: Analisis komposisi meteorit besi-nikel (yang diasumsikan mirip dengan bahan pembentuk inti bumi), pengukuran kerapatan rata-rata bumi (5,5 g/cm³), dan eksperimen tekanan/suhu tinggi laboratorium.
Keandalan: Sangat tinggi. Metode seismik bekerja mirip dengan CT-scan medis dan secara konsisten teruji valid melalui berbagai stasiun pencatat gempa di seluruh dunia.
2. Penyebab Lempeng Padat Berada dan Bergerak di Atas Astenosfer
Lempeng litosfer yang padat dan kaku dapat bergerak karena lapisan astenosfer di bawahnya bersifat plastis/duktil (dapat mengalir perlahan di bawah suhu dan tekanan ekstrem). Faktor penyebab utamanya meliputi:
Arus Konveksi Mantel: Panas dari inti bumi memanaskan material di mantel bawah, membuatnya memuai, berkurang densitasnya, lalu naik. Material dingin di atasnya tenggelam, menciptakan putaran konveksi yang menyeret lempeng di atasnya.
Slab Pull (Tarikan Lempeng): Lempeng samudra yang dingin dan padat menunjam ke dalam mantel di zona subduksi, lalu beratnya menarik sisa lempeng di belakangnya.
Ridge Push (Dorongan Pematang): Material magma baru yang naik di pematang tengah samudra menciptakan elevasi tinggi yang secara gravitasional mendorong lempeng ke samping.
3. Perbedaan Tingkat Risiko Bencana di Wilayah Lempeng Tektonik
Tidak semua wilayah memiliki tingkat risiko yang sama. Risiko gempa dan vulkanisme bervariasi tergantung pada faktor geologi berikut:
Tipe Batas Lempeng: Konvergen (subduksi) memicu gempa megathrust dan gunung api dahsyat. Divergen (retakan) memicu vulkanisme laut dangkal/gempa sedang. Transform (bergeser) memicu gempa dangkal yang merusak tanpa vulkanisme.
Kecepatan & Kedalaman Gempa: Gempa berfokus dangkal (<70 km) jauh lebih merusak di permukaan dibanding gempa dalam.
Karakteristik Batuan Local & Topografi: Tanah aluvial lunak dapat mengalami amplifikasi guncangan dan likuifaksi, sedangkan batuan bersedimen padat lebih stabil.
4. Hubungan Inti Luar, Medan Magnet, dan Dampak Perubahannya
Mekanisme Geodinamo: Rotasi bumi dan aliran konveksi besi-nikel cair di inti luar menghasilkan arus listrik yang menciptakan geodinamomagnet (medan magnet bumi / magnetosfer).
Fungsi Perlindungan: Magnetosfer bertindak sebagai perisai yang membelokkan angin surya (solar wind) dan radiasi kosmik berbahaya dari matahari.
Dampak Jika Aktivitas Inti Luar Melemah/Berubah:
Kerusakan Teknologi: Radiasi tinggi akan menghancurkan satelit komunikasi, sistem GPS, dan melumpuhkan jaringan listrik global.
Erosi Atmosfer: Radiasi matahari secara bertahap dapat mengikis lapisan atmosfer (mirip dengan yang terjadi pada Planet Mars).
Gangguan Biologis: Peningkatan kasus kanker kulit akibat radiasi ultraviolet/kosmik serta disorientasi pada hewan navigatif (burung, paus, penyu).
5. Data yang Perlu Dianalisis Ahli Kebumian untuk Memprediksi Aktivitas Gempa
Kedalaman dan Hiposenter Gempa (Seismisitas): Gempa vulkanik biasanya berpindah semakin dangkal mengikuti pergerakan magma ke permukaan, sedangkan gempa tektonik cenderung terkonsentrasi pada bidang sesar tertentu.
Deformasi Permukaan (Data GPS & InSAR): Mengukur pembengkakan tanah (inflation) akibat desakan magma atau regangan strain pada sesar tektonik.
Emisi Gas Geotermal/Vulkanik (SO₂, CO₂, H₂S): Peningkatan mendadak fluks gas SO₂ menandakan magma semakin mendekati permukaan.
Geokimia Air Tanah & Suhu Geotermal: Perubahan suhu mata air panas dan komposisi kimia menandakan adanya pasokan panas/magma baru dari kedalaman.