NAMA : Wildan Wahyu Zanjabilla
NPM :2513032037
NAMA : Wildan Wahyu Zanjabilla
NPM :2513032037
NAMA : Wildan Wahyu Zanjabilla
NPM : 2513032037
Terdapat Dua kelompok utama aliran pendidikan yaitu:
Aliran Konvensional
Aliran Baru
Empat Aliran Konvensional:
1.Empirisme (Locke) Anak lahir seperti kertas putih; lingkungan sepenuhnya membentuk kepribadian.
Pandangan optimis terhadap pendidikan.
2.Nativisme (Schopenhauer) Sifat manusia ditentukan sejak lahir; pendidikan tidak bisa mengubah pembawaan.Pandangan pesimis terhadap pendidikan.
3.Naturalisme (Rousseau) Anak lahir dengan sifat baik, tetapi bisa rusak karena pengaruh lingkungan dan pendidikan yang salah.
Pendidikan negatif, biarkan anak berkembang alami.
4.Konvergensi (William Stern) Gabungan antara pembawaan dan lingkungan; keduanya saling menentukan.
Pandangan realistis dan positif terhadap pendidikan.
Aliran Baru (Gerakan aliran baru ): Fokusnya bukan pada apakah anak bisa dididik, tapi bagaimana pendidikan dilakukan agar berhasil.
1.Pengajaran Alam Sekitar (Evelyn & Jankowski)
2.Pengajaran Pusat Perhatian (Decroly)
3.Sekolah Kerja (Kerschensteiner)
4.Pengajaran Proyek (John Dewey & Kilpatrick)
Pembawaan dan lingkungan secara seimbang mempengaruhi perkembangan anak secara seimbang. . Pendidikan sangat penting jika metode dapat disesuaikan dengan kebutuhan, keinginan, dan pengalaman nyata siswa atau peerta didik.
Aliran baru menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya bergantung pada teori, tetapi pada praktik lapangan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan bermakna bagi siswa.
Nama : Wildan Wahyu Zanjabilla
npm : 2513032037
Hadis merupakan segala sesuatu perbuatan Nabi Muhammad SAW, baik berupa ucapan, perbuatan, ketetapan, maupun sifat beliau. Hadis memiliki adalah sebagai sumber hukum Islam kedua setelah Al-Qur’an, fungsinya menjelaskan, menguatkan, melengkapi, serta menetapkan hukum yang tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an.
Hadis sendiri terbagi menjadi beberapa bentuk, yaitu qauliyah fi’liyah, dan taqririyah. Dari segi kualitasnya, hadis bisa shahih, hasan, dha‘if, hingga mawḍu‘ (palsu), dengan penilaian melalui penelitian sanad dan matan. Oleh karena itu, penting adanya disiplin ilmu hadis untuk menyeleksi keotentikan suatu riwayat.