Nayla Salsa Ramadhani 2513053167
Jurnal tersebut membahas tentang perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg. penelitian ini dilakukan kepada 10 siswa kelas VI yang berusia 11-12 tahun. nah siswa diberikan pertanyaan terbuka berupa dilema moral lalu jawaban mereka itu dianalisis berdasarkan alasan yang mereka gunakan dalam mengambil keputusan. menurut saya, dari sini terlihat bahwa perkembangan moral anak itu tidak cukup dilihat hanya dari tindakannya saja tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. nah dalam teori Kohlberg juga perkembangan moral itu dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. pada tahap awal, anak itu cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum atau mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan. nah setelah berkembang, pertimbangannya itu mulai berkaitan dengan kepentingan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, aturan, sampai prinsip moral. jadi menurut saya, yang membedakan perkembangan moral seseorang bukan hanya dari apa yang dilakukan tetapi alasan kenapa dia melakukan hal tersebut.
hal ini terlihat dari dilema yang diberikan kepada siswa tentang Ardi yang harus memilih antara pergi mengerjakan tugas kelompok atau tinggal di rumah untuk menjaga adiknya. nah sebagian besar siswa itu memilih tetap pergi karena takut dianggap sebagai pembohong, takut mendapat hukuman, atau takut ketinggalan pelajaran. namun ada satu siswa yaitu Khansa yang memberikan alasan berbeda. Khansa tetap ingin pergi belajar, tetapi ia juga memikirkan teman-temannya yang menunggu dan adiknya yang tidak ada yang menjaga, karena itu perkembangan moral Khansa itu dinilai sudah lebih tinggi dibandingkan teman-temannya. hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 90% siswa masih berada pada tingkat pra-konvensional sedangkan 10% atau satu siswa yaitu Khansa sudah berada pada tingkat yang lebih tinggi. dari sini saya memahami bahwa anak yang usianya sama belum tentu memiliki perkembangan moral yang sama juga. sebagian anak itu masih berpikir berdasarkan hukuman atau akibat yang akan diterima, sementara sebagian lainnya sudah mulai mempertimbangkan keadaan dan perasaan orang lain. menurut saya, hal yang bisa diterapkan dalam pendidikan adalah guru tidak hanya melihat apakah siswa itu melakukan sesuatu yang benar atau salah, tetapi juga perlu melihat alasan di balik perilakunya. guru bisa memberikan masalah sederhana kepada siswa dan meminta mereka menjelaskan alasan dari pilihan yang mereka buat. dari sini saya memahami bahwa perkembangan moral anak itu masih terus berkembang, sehingga guru itu perlu memahami cara berpikir setiap siswa dan tidak menyamakan perkembangan moral semua anak.
Jurnal tersebut membahas tentang perkembangan moral siswa sekolah dasar berdasarkan teori Kohlberg. penelitian ini dilakukan kepada 10 siswa kelas VI yang berusia 11-12 tahun. nah siswa diberikan pertanyaan terbuka berupa dilema moral lalu jawaban mereka itu dianalisis berdasarkan alasan yang mereka gunakan dalam mengambil keputusan. menurut saya, dari sini terlihat bahwa perkembangan moral anak itu tidak cukup dilihat hanya dari tindakannya saja tetapi juga dari alasan di balik tindakan tersebut. nah dalam teori Kohlberg juga perkembangan moral itu dibagi menjadi tiga tingkat, yaitu pra-konvensional, konvensional, dan pasca-konvensional. pada tahap awal, anak itu cenderung melakukan sesuatu karena takut dihukum atau mendapatkan akibat yang tidak menyenangkan. nah setelah berkembang, pertimbangannya itu mulai berkaitan dengan kepentingan diri sendiri, hubungan dengan orang lain, aturan, sampai prinsip moral. jadi menurut saya, yang membedakan perkembangan moral seseorang bukan hanya dari apa yang dilakukan tetapi alasan kenapa dia melakukan hal tersebut.
hal ini terlihat dari dilema yang diberikan kepada siswa tentang Ardi yang harus memilih antara pergi mengerjakan tugas kelompok atau tinggal di rumah untuk menjaga adiknya. nah sebagian besar siswa itu memilih tetap pergi karena takut dianggap sebagai pembohong, takut mendapat hukuman, atau takut ketinggalan pelajaran. namun ada satu siswa yaitu Khansa yang memberikan alasan berbeda. Khansa tetap ingin pergi belajar, tetapi ia juga memikirkan teman-temannya yang menunggu dan adiknya yang tidak ada yang menjaga, karena itu perkembangan moral Khansa itu dinilai sudah lebih tinggi dibandingkan teman-temannya. hasil penelitian juga menunjukkan bahwa 90% siswa masih berada pada tingkat pra-konvensional sedangkan 10% atau satu siswa yaitu Khansa sudah berada pada tingkat yang lebih tinggi. dari sini saya memahami bahwa anak yang usianya sama belum tentu memiliki perkembangan moral yang sama juga. sebagian anak itu masih berpikir berdasarkan hukuman atau akibat yang akan diterima, sementara sebagian lainnya sudah mulai mempertimbangkan keadaan dan perasaan orang lain. menurut saya, hal yang bisa diterapkan dalam pendidikan adalah guru tidak hanya melihat apakah siswa itu melakukan sesuatu yang benar atau salah, tetapi juga perlu melihat alasan di balik perilakunya. guru bisa memberikan masalah sederhana kepada siswa dan meminta mereka menjelaskan alasan dari pilihan yang mereka buat. dari sini saya memahami bahwa perkembangan moral anak itu masih terus berkembang, sehingga guru itu perlu memahami cara berpikir setiap siswa dan tidak menyamakan perkembangan moral semua anak.