Kiriman dibuat oleh Thara khairunisa imama

PP PBL 2A -> Tugas Diskusi -> Tugas Diskusi -> Re: Tugas Diskusi

oleh Thara khairunisa imama -
NAMA: THARA KHAIRUNISA IMAMA
NPM: 2553046007
KELAS: 2A
MATKUL: PSIKOLOGI PENDIDIKAN
PRODI: PENDIDIKAN BAHASA LAMPUNG

1. Penjelasan Tiga Ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik
a. Ranah Kognitif
Ranah kognitif merupakan aspek yang berkaitan dengan kemampuan intelektual atau proses berpikir peserta didik. ranah ini mencakup kegiatan seperti mengingat, memahami, menganalisis, hingga mengevaluasi suatu materi pembelajaran.
Contoh: Dalam pembelajaran aksara lampung, guru menjelaskan bentuk dan nama huruf, kemudian siswa diminta untuk mengingat dan menyebutkan kembali huruf-huruf tersebut.
b. Ranah Afektif
Ranah afektif berhubungan dengan sikap, nilai, minat, dan perasaan peserta didik terhadap suatu pembelajaran. ranah ini menunjukkan bagaimana respon emosional siswa, seperti ketertarikan atau motivasi dalam belajar.
Contoh: Siswa menunjukkan semangat saat belajar aksara lampung, misalnya dengan aktif bertanya atau menunjukkan rasa bangga dalam mempelajari budaya daerah.
c. Ranah Psikomotorik
Ranah psikomotorik berkaitan dengan keterampilan fisik atau kemampuan praktik peserta didik dalam melakukan suatu aktivitas.
Contoh: Siswa mempraktikkan cara menulis aksara lampung di buku tulis dengan bentuk yang benar dan rapi.
2. Analisis Studi Kasus
A. Identifikasi Ranah
1. Ranah Kognitif
Terlihat pada saat guru menjelaskan bentuk huruf dan cara penulisan aksara lampung di papan tulis. Kegiatan ini melibatkan proses berpikir siswa dalam memahami materi yang disampaikan.
2. Ranah Afektif
Pada kasus ini, ranah afektif hampir tidak terlihat karena tidak ada kegiatan yang mendorong minat, motivasi, atau keterlibatan emosional siswa dalam pembelajaran.
3. Ranah Psikomotorik
Terlihat pada saat siswa diminta untuk menyalin huruf-huruf aksara lampung ke dalam buku tulis. Kegiatan ini melibatkan keterampilan motorik siswa dalam menulis.
B. Analisis Dominasi Ranah
Berdasarkan studi kasus tersebut, dapat disimpulkan bahwa:
Ranah yang paling dominan adalah ranah kognitif, karena pembelajaran lebih berfokus pada penjelasan materi oleh guru dan aktivitas memahami informasi.
Ranah psikomotorik cukup berkembang, karena siswa melakukan kegiatan menulis, meskipun masih sebatas menyalin tanpa variasi.
ranah afektif merupakan ranah yang paling kurang berkembang, karena tidak terdapat upaya untuk meningkatkan minat, motivasi, maupun partisipasi aktif siswa dalam pembelajaran.

PP PBL 2A -> Diskusi 1 -> Diskusi 1 -> Re: Diskusi 1

oleh Thara khairunisa imama -
assalamualaikum wr.wb sikam Thara khairunisa imama dengan npm 2553046007 anjak kls 2A izin nyelesaiko tugas anjak ibu Mei Fatmila Sari
Pada pertemuan ini, saya belajar bahwa psikologi pendidikan adalah ilmu yang sangat penting bagi calon guru. Dari materi yang dipresentasikan, saya memahami bahwa psikologi pendidikan membahas tentang bagaimana proses belajar terjadi serta bagaimana hubungan antara guru dan siswa dalam kegiatan pembelajaran. Ilmu ini membantu kita memahami perilaku siswa, cara mereka berpikir, serta faktor-faktor yang memengaruhi keberhasilan belajar. Saya juga semakin paham bahwa pendidikan bukan hanya soal menyampaikan materi, tetapi tentang mengembangkan potensi siswa secara menyeluruh, baik dari segi pengetahuan, sikap, maupun keterampilan. Setiap siswa memiliki latar belakang, kemampuan, dan karakter yang berbeda-beda. Karena itu, guru tidak bisa menggunakan satu cara yang sama untuk semua siswa. jadi pentingnya psikologi pendidikan, yaitu agar guru bisa menyesuaikan metode pembelajaran sesuai kebutuhan dan tahap perkembangan siswa. Selain itu, saya mempelajari ruang lingkup psikologi pendidikan yang cukup luas. Ada kajian biologis yang menjelaskan bahwa perkembangan otak dan kondisi fisik berpengaruh pada proses belajar. Ada juga kajian behaviorisme yang menekankan pentingnya stimulus, respons, serta penguatan dalam membentuk perilaku siswa. Kemudian, kajian kognitif menjelaskan bahwa siswa adalah individu aktif yang berpikir dan memproses informasi. Sementara itu, pendekatan psikoanalitik membantu kita memahami bahwa emosi dan pengalaman masa lalu juga dapat memengaruhi perilaku belajar.
Hal yang menurut saya paling penting adalah peran psikologi pendidikan dalam menciptakan interaksi edukatif yang efektif. Guru tidak hanya bertugas mengajar, tetapi juga harus memahami karakter, minat, dan kondisi emosional siswa. Dengan begitu, pembelajaran bisa lebih interaktif, tidak membosankan, dan mampu meningkatkan motivasi belajar siswa.
Dari pertemuan ini, saya menyadari bahwa psikologi pendidikan menjadi dasar penting bagi seorang calon guru. Tanpa memahami aspek psikologis siswa, proses belajar bisa kurang maksimal. Oleh karena itu, mempelajari psikologi pendidikan sangat membantu kita agar nantinya mampu menjadi guru yang profesional, bijaksana, dan mampu menciptakan suasana belajar yang nyaman serta kondusif.
Neghima nihan wassalamu'alaikum wr.wb