Nama : Darmawan Tri Admaja
NPM : 2515012035
Kelas : B
A. Sistem Etika Perilaku Politik Saat Ini dan Kesesuaiannya dengan Pancasila
Sistem etika politik saat ini sedang berada dalam masa transisi yang penuh tantangan. Jika merujuk pada artikel tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika perilaku politik saat ini masih belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Analisis Ketidaksesuaian:
1.) Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Masih banyak birokrat yang belum menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat. Sikap kasar dan tidak acuh (seperti yang disebutkan dalam artikel) bertentangan dengan prinsip keberadaban.
2.) Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan): Kepentingan politik patron atau kelompok (vested interest) sering kali mengalahkan kepentingan rakyat. Hal ini mengaburkan prinsip "hikmat kebijaksanaan" yang seharusnya mengutamakan kemaslahatan umum.
3.) Sila Kelima (Keadilan Sosial): Lemahnya impartiality (ketidakberpihakan) dalam pelayanan publik menunjukkan bahwa keadilan sosial belum merata. Pelayanan sering kali hanya menguntungkan pihak-pihak dengan identitas atau koneksi politik tertentu.
Secara keseluruhan, politik kita masih terjebak pada budaya birokrasi lama (paternalistik) yang koruptif dan tidak efisien, padahal Pancasila menuntut tata kelola yang transparan, jujur, dan berintegritas.
B. Etika Generasi Muda dan Solusi Dekadensi Moral
Kondisi Etika Generasi Muda di Sekitar:
Secara umum, etika generasi muda saat ini bersifat ambivalen. Di satu sisi, banyak pemuda yang sangat progresif, peduli isu sosial, dan kreatif. Namun, di sisi lain, pengaruh globalisasi yang tanpa filter menyebabkan terjadinya pergeseran nilai (dekadensi moral), seperti:
• Berkurangnya tata krama komunikasi (sopan santun) baik di dunia nyata maupun media sosial.
• Cenderung individualis dan mulai meninggalkan budaya gotong royong.
• Adanya gaya hidup instan yang terkadang menabrak norma-norma tradisional Indonesia.
Apakah mencerminkan nilai bangsa?
Sebagian masih memegang teguh, namun sebagian besar lainnya mulai mengalami pengikisan nilai akibat "akhlak-less" (seperti pada artikel pertama) demi mengikuti tren atau kebebasan tanpa batas.
Solusi Mengenai Dekadensi Moral:
Untuk mengatasi kemerosotan moral ini, diperlukan langkah strategis yang menyentuh akar permasalahan:
1. Revolusi Mental & Mindset (Internalisasi): Seperti yang disarankan artikel, perlu ada gerakan untuk mengubah pola pikir dari "ingin dilayani" menjadi "semangat melayani". Bagi generasi muda, ini berarti menggeser fokus dari "kebebasan tanpa batas" menjadi "kebebasan yang bertanggung jawab".
2. Pendidikan Etika berbasis Pancasila yang Aplikatif: Pendidikan moral tidak boleh hanya menjadi hafalan teori. Harus ada praktik nyata, misalnya melalui pengabdian masyarakat atau proyek sosial yang menumbuhkan rasa empati.
3. Penguatan Sistem Merit dan Reward: Di lingkungan apapun (sekolah maupun kerja), kejujuran dan integritas harus diberi apresiasi tinggi. Jika orang jujur dihargai, maka generasi muda akan termotivasi untuk berperilaku baik.
4. Literasi Digital dan Etika Berinternet: Memberikan pemahaman bahwa Code of Conduct (kode etik) juga berlaku di dunia digital. Ruang digital harus dipandang sebagai ruang publik yang memerlukan kesopanan yang sama dengan ruang fisik.
5. Keteladanan (Leading by Example): Dekadensi moral anak muda sering kali merupakan cermin dari perilaku orang dewasa/pejabat. Solusi utama adalah perbaikan etika di tingkat elit politik agar menjadi contoh yang layak diikuti oleh generasi muda.
NPM : 2515012035
Kelas : B
A. Sistem Etika Perilaku Politik Saat Ini dan Kesesuaiannya dengan Pancasila
Sistem etika politik saat ini sedang berada dalam masa transisi yang penuh tantangan. Jika merujuk pada artikel tersebut, dapat disimpulkan bahwa etika perilaku politik saat ini masih belum sepenuhnya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila.
Analisis Ketidaksesuaian:
1.) Sila Kedua (Kemanusiaan yang Adil dan Beradab): Masih banyak birokrat yang belum menempatkan diri sebagai pelayan masyarakat. Sikap kasar dan tidak acuh (seperti yang disebutkan dalam artikel) bertentangan dengan prinsip keberadaban.
2.) Sila Keempat (Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan): Kepentingan politik patron atau kelompok (vested interest) sering kali mengalahkan kepentingan rakyat. Hal ini mengaburkan prinsip "hikmat kebijaksanaan" yang seharusnya mengutamakan kemaslahatan umum.
3.) Sila Kelima (Keadilan Sosial): Lemahnya impartiality (ketidakberpihakan) dalam pelayanan publik menunjukkan bahwa keadilan sosial belum merata. Pelayanan sering kali hanya menguntungkan pihak-pihak dengan identitas atau koneksi politik tertentu.
Secara keseluruhan, politik kita masih terjebak pada budaya birokrasi lama (paternalistik) yang koruptif dan tidak efisien, padahal Pancasila menuntut tata kelola yang transparan, jujur, dan berintegritas.
B. Etika Generasi Muda dan Solusi Dekadensi Moral
Kondisi Etika Generasi Muda di Sekitar:
Secara umum, etika generasi muda saat ini bersifat ambivalen. Di satu sisi, banyak pemuda yang sangat progresif, peduli isu sosial, dan kreatif. Namun, di sisi lain, pengaruh globalisasi yang tanpa filter menyebabkan terjadinya pergeseran nilai (dekadensi moral), seperti:
• Berkurangnya tata krama komunikasi (sopan santun) baik di dunia nyata maupun media sosial.
• Cenderung individualis dan mulai meninggalkan budaya gotong royong.
• Adanya gaya hidup instan yang terkadang menabrak norma-norma tradisional Indonesia.
Apakah mencerminkan nilai bangsa?
Sebagian masih memegang teguh, namun sebagian besar lainnya mulai mengalami pengikisan nilai akibat "akhlak-less" (seperti pada artikel pertama) demi mengikuti tren atau kebebasan tanpa batas.
Solusi Mengenai Dekadensi Moral:
Untuk mengatasi kemerosotan moral ini, diperlukan langkah strategis yang menyentuh akar permasalahan:
1. Revolusi Mental & Mindset (Internalisasi): Seperti yang disarankan artikel, perlu ada gerakan untuk mengubah pola pikir dari "ingin dilayani" menjadi "semangat melayani". Bagi generasi muda, ini berarti menggeser fokus dari "kebebasan tanpa batas" menjadi "kebebasan yang bertanggung jawab".
2. Pendidikan Etika berbasis Pancasila yang Aplikatif: Pendidikan moral tidak boleh hanya menjadi hafalan teori. Harus ada praktik nyata, misalnya melalui pengabdian masyarakat atau proyek sosial yang menumbuhkan rasa empati.
3. Penguatan Sistem Merit dan Reward: Di lingkungan apapun (sekolah maupun kerja), kejujuran dan integritas harus diberi apresiasi tinggi. Jika orang jujur dihargai, maka generasi muda akan termotivasi untuk berperilaku baik.
4. Literasi Digital dan Etika Berinternet: Memberikan pemahaman bahwa Code of Conduct (kode etik) juga berlaku di dunia digital. Ruang digital harus dipandang sebagai ruang publik yang memerlukan kesopanan yang sama dengan ruang fisik.
5. Keteladanan (Leading by Example): Dekadensi moral anak muda sering kali merupakan cermin dari perilaku orang dewasa/pejabat. Solusi utama adalah perbaikan etika di tingkat elit politik agar menjadi contoh yang layak diikuti oleh generasi muda.