Kiriman dibuat oleh 2515061044 Keisha Nuriya Parsa

Peran Media Massa dalam Pengawasan Sosial dan Tantangan dalam Penanaman Nilai Pancasila

Dalam konteks hukum pidana, media massa memainkan peran yang signifikan sebagai pendorong kebijakan hukum melalui usaha untuk mengurangi kejahatan. Upaya pencegahannya melalui media massa sangat diperlukan, mengingat bahwa kebijakan pidana memiliki sejumlah batasan, seperti sifat yang terpecah dan kurang bersifat preventif, serta tidak selalu berfungsi sebagai cara utama untuk menurunkan angka kejahatan. Media massa memiliki dampak besar dalam mempengaruhi pemikiran masyarakat tentang hukum. Dari perspektif hukum, fungsi media nasional, yang bagian dari media massa, mencakup penyebaran informasi, pendidikan, hiburan, dan pengawasan sosial, serta berperan dalam aspek ekonomi. Peran pengawasan sosial ini sangat vital untuk mencegah penyalahgunaan kekuasaan, termasuk korupsi, kolusi, dan nepotisme. Selain itu, media nasional juga memiliki kontribusi dalam menegakkan nilai-nilai demokrasi dasar, mendukung supremasi hukum, Hak Asasi Manusia, serta memperjuangkan keadilan dan kebenaran.

Meskipun peran tersebut seharusnya diikuti dengan penerapan nilai-nilai Pancasila dalam kesadaran semua individu di Indonesia, penelitian menunjukkan bahwa penerapan nilai-nilai Pancasila dalam praktik pemberitaan oleh media massa belum berjalan dengan baik. Masih terdapat banyak berita yang diragukan kebenarannya dan dapat merusak tatanan sosial. Media massa kadang-kadang hanya memberikan berita untuk memenuhi kebutuhan informasi tanpa menumbuhkan sikap sosial yang mencerminkan nilai Pancasila.

Kecenderungan media massa untuk mencari profit sering kali mengakibatkan mereka lebih fokus pada isu tertentu, terutama terkait hukum dan kekerasan, secara berlebihan. Ini biasanya terjadi pada media yang dikenal sebagai "koran kuning," yang cenderung memberitakan isu hukum secara berlebihan, menampilkan foto pelaku atau korban, serta memakai judul yang terlalu dramatis dan bahasa yang kurang etis. Pemberitaan yang berlebihan dan tidak beretika ini tidak memberikan pendidikan yang memadai dan malah menimbulkan keraguan apakah ini yang benar-benar diharapkan oleh masyarakat.

Akibat dari menurunnya etika dalam pemberitaan, media massa di Indonesia belum berhasil menginspirasi masyarakat untuk memperbaiki nilai moral dan menerapkan nilai-nilai Pancasila. Hal ini tercermin dari semakin banyaknya orang dengan paham liberal, berkurangnya rasa nasionalisme, dan adanya kepentingan individu atau kelompok yang lebih unggul daripada kepentingan bersama bangsa dan negara. Penerapan nilai Pancasila yang masih lemah terlihat dari banyaknya berita yang menyesatkan dan melanggar nilai-nilai fundamental seperti materialisme, spiritualitas, dan prinsip dasar kehidupan.

Oleh karena itu, penting untuk mengadopsi strategi yang seimbang antara aspek ideal dan komersial dalam dunia pers. Media perlu dapat menyediakan hiburan yang menarik tanpa terjebak dalam sensasi yang dapat menimbulkan emosi negatif. Para jurnalis harus meningkatkan profesionalisme dan keterampilan melalui pelatihan agar memiliki pemahaman yang jelas tentang jurnalisme hukum serta etika dalam pemberitaan. Selain itu, langkah-langkah lain yang dapat memperkuat posisi media massa dalam pengawasan sosial adalah dengan memperbaiki cara pelaporan mengenai pelanggaran hukum, yang harus mempertimbangkan kepentingan korban, pelaku, keluarga korban, penegak hukum, dan masyarakat. Meskipun kolaborasi antara media massa dan lembaga penegak hukum masih terbatas pada pencarian berita oleh media, diperlukan integrasi yang lebih baik untuk memulihkan citra dan kepercayaan masyarakat terhadap semua lembaga penegak hukum.