Posts made by 2515061124 Muhammad Luthfi

Jurnal karya Ika Setyorini mengangkat isu fundamental mengenai posisi Pancasila sebagai dasar nilai dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) di Indonesia. Penulis menegaskan bahwa perkembangan IPTEK tidak boleh dipisahkan dari karakter dasar bangsa yang berakar pada nilai budaya dan religius, sehingga Pancasila menjadi rambu normatif yang harus menyertai seluruh proses ilmiah. Argumen ini dibangun atas kesadaran bahwa ilmu pengetahuan tidak tumbuh dalam ruang kosong, ia selalu dipengaruhi konteks sosial, budaya, dan moral tempat ia dikembangkan. Dalam konteks Indonesia, nilai-nilai Ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah, dan keadilan menjadi fondasi etis yang membedakan arah perkembangan ilmu dari negara-negara lain yang cenderung mengutamakan rasionalitas sekuler.

Setyorini memberikan pemahaman mendalam bahwa Pancasila sebagai sistem nilai terdiri dari nilai dasar, instrumen, dan nilai praksis yang semuanya harus hadir dalam pengembangan IPTEK. Nilai dasar menjadi pedoman filosofis, nilai instrumental hadir melalui kebijakan dan regulasi, sedangkan nilai praksis tercermin dalam implementasi konkrit di masyarakat. Dengan membagi nilai Pancasila ke dalam tiga kategori tersebut, penulis menunjukkan bahwa Pancasila bukan hanya dokumen ideologis, tetapi kerangka kerja yang dapat dioperasionalkan untuk menilai arah dan konsekuensi perkembangan teknologi.

Lebih jauh, jurnal ini menyoroti tantangan etis yang muncul seiring pesatnya perkembangan teknologi. Penulis mengingatkan bahwa tanpa landasan moral, teknologi dapat menimbulkan degradasi martabat manusia, eksploitasi alam, dan ancaman terhadap nilai kemanusiaan. Contoh klasik seperti tragedi bom atom di Hiroshima dan Nagasaki digunakan untuk memperkuat argumen bahwa kemajuan teknologi tanpa nilai-nilai kemanusiaan dapat berdampak lintas generasi. Oleh karena itu, menurut penulis, nilai Pancasila perlu menjadi “perisai moral” untuk memastikan bahwa manfaat IPTEK tetap sejalan dengan harkat kemanusiaan dan kesejahteraan bangsa.

Jurnal ini juga berhasil menyajikan analisis historis tentang kemunculan gagasan integrasi Pancasila dan IPTEK. Setyorini menelusuri latar historis dari Pembukaan UUD 1945, pidato-pidato tokoh nasional seperti Soekarno dan Soeharto, hingga diskursus akademik pada era 1980-an yang mulai secara eksplisit menempatkan Pancasila sebagai orientasi pengembangan ilmu. Pendekatan historis ini memperlihatkan bahwa hubungan antara Pancasila dan ilmu pengetahuan bukan ide baru, tetapi bagian dari refleksi panjang bangsa dalam memaknai modernitas dan kemajuan.

Di sisi sosiologis, penulis menunjukkan bahwa sensitivitas masyarakat Indonesia terhadap isu moral dan kemanusiaan—misalnya penolakan teknologi nuklir di kawasan Muria—mencerminkan hidupnya nilai Pancasila dalam kesadaran publik. Masyarakat menunjukkan bahwa teknologi hanya dapat diterima jika tidak mengancam lingkungan, keselamatan, dan hak-hak sosial. Hal ini memperkuat posisi Pancasila sebagai pedoman yang tidak hanya bersifat legal-politis, tetapi juga mengakar dalam preferensi sosial masyarakat.

Secara politis, penulis menguraikan bagaimana pemerintah dari berbagai periode berupaya memperkuat posisi Pancasila sebagai dasar pengembangan IPTEK. Namun, Setyorini mengkritisi bahwa afirmasi politis tersebut masih bersifat normatif dan belum sepenuhnya diterjemahkan ke dalam kebijakan strategis yang konkret.

Kesimpulan jurnal menegaskan bahwa urgensi penegasan Pancasila sebagai dasar nilai pengembangan IPTEK semakin penting pada era globalisasi. Arus teknologi yang didominasi negara maju membawa konsekuensi sosial dan budaya yang perlu diantisipasi. Tanpa filter nilai, bangsa dapat mengalami disorientasi dan kehilangan jati diri. Dengan demikian, Pancasila diperlukan untuk tiga tujuan utama yaitu memastikan IPTEK selaras dengan nilai bangsa, menjadi faktor internal pembentuk orientasi IPTEK, dan berfungsi sebagai rambu normatif agar perkembangan ilmu tetap berada dalam jalur kemanusiaan, moralitas, dan keadilan sosial.

Secara keseluruhan, jurnal ini memberikan kontribusi penting dalam wacana etika ilmu pengetahuan di Indonesia. Penulis berhasil menyampaikan argumentasi bahwa Pancasila bukan hanya dasar negara, melainkan juga paradigma epistemologis yang harus mengarahkan arah perkembangan ilmu. Analisis yang disajikan bersifat reflektif, kritis, dan relevan bagi perkembangan IPTEK masa kini yang semakin kompleks. Gagasan tersebut penting terutama di saat bangsa Indonesia menghadapi tantangan digitalisasi, globalisasi informasi, dan ketimpangan penguasaan teknologi. Dengan menempatkan Pancasila sebagai dasar nilai, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan ilmu yang tidak hanya maju secara teknis, tetapi juga berkarakter, berkeadilan, dan berorientasi pada kemanusiaan.