Posts made by Khansa Farica 2513034053

Kelas A Hidro -> Analisis Banjir

by Khansa Farica 2513034053 -
Nama : Khansa Farica
NPM : 2513034053

1. Perspektif Geografi terhadap Kejadian Banjir (Analisis Multidimensi)

Seorang geograf tidak hanya melihat banjir sebagai objek statis, melainkan sebagai fenomena dinamis yang melibatkan interaksi ruang dan waktu. Kita menggunakan tiga pendekatan utama:

Pendekatan Keruangan :
Kita menganalisis banjir berdasarkan lokasi dan atribut wilayahnya. Fokusnya adalah pada morfologi sungai, kemiringan lereng (topografi), dan bentuk lahan (landform). Geograf akan bertanya: "Mengapa titik A tergenang sementara titik B tidak?" Analisis ini melibatkan pemetaan zonasi rawan banjir untuk melihat pola distribusi genangan di suatu wilayah.

Pendekatan Kelingkungan :
Banjir dipandang sebagai akibat dari terganggunya keseimbangan ekosistem. Geografi mengkaji bagaimana aktivitas manusia seperti deforestasi di area hulu atau penutupan lahan dengan beton di perkotaan mengurangi kemampuan infiltrasi tanah. Dalam pandangan ini, banjir adalah respons alam terhadap ketidakmampuan lingkungan dalam menyerap curah hujan akibat perubahan penggunaan lahan yang masif.

Pendekatan Kompleks Wilayah :
Ini adalah pandangan yang paling luas, di mana banjir dianggap sebagai permasalahan antarwilayah. Misalnya, banjir di wilayah hilir (seperti Jakarta atau pesisir Lampung) sering kali disebabkan oleh manajemen air yang buruk di wilayah hulu. Oleh karena itu, solusinya tidak bisa hanya dilakukan di satu titik, melainkan harus terintegrasi dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) dari hulu ke hilir.

2. Sumber Data Banjir di Indonesia (Teknis dan Instansional)

Untuk keperluan penelitian atau laporan akademis, data banjir dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis sumber:

A. Data Kejadian dan Dampak (Data Historis):

BNPB (Data Informasi Bencana Indonesia - DIBI): Menyediakan basis data jangka panjang mengenai jumlah kejadian, korban jiwa, pengungsi, serta kerusakan fasilitas sosial dan umum.

BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah): Sumber utama untuk data real-time dan spesifik lokal. BPBD sering kali memiliki catatan detail mengenai tinggi muka air (TMA) di tingkat kelurahan atau desa.

B. Data Pemicu (Hidro-Meteorologi):

BMKG (e-Klimat): Menyediakan data curah hujan harian, bulanan, dan tahunan. Data ini krusial untuk menganalisis hubungan antara intensitas hujan dengan volume banjir.

Kementerian PUPR (SDA): Melalui Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS), kita bisa mendapatkan data debit air sungai, kapasitas tampung bendungan, dan peta kerawanan banjir teknis.

C. Data Spasial dan Pemetaan (Geospasial):

BIG (Ina-Geoportal): Menyediakan Peta Rupabumi Indonesia (RBI) yang digunakan sebagai peta dasar, data DEMNAS (Digital Elevation Model Nasional) untuk analisis ketinggian, serta batas administrasi.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK): Menyediakan data tutupan lahan (land cover) untuk melihat sejauh mana berkurangnya area hutan atau vegetasi yang mempengaruhi run-off (aliran permukaan).

D. Sumber Berbasis Komunitas dan Teknologi Baru:

PetaBencana.id: Platform berbasis partisipasi masyarakat yang memetakan titik banjir secara real-time melalui laporan media sosial, yang sangat berguna untuk pemantauan cepat di lapangan.

Citra Satelit (Sentinel/Landsat): Melalui platform seperti Google Earth Engine, seorang geograf dapat mengolah data penginderaan jauh untuk melihat luasan genangan banjir secara visual dari ruang angkasa.

Dengan menggabungkan data fisik (curah hujan, kelerengan) dan data sosial (kepadatan penduduk, penggunaan lahan), kita dapat menghasilkan analisis Sistem Informasi Geografis (SIG) yang akurat untuk mendukung kebijakan mitigasi bencana.