Kiriman dibuat oleh Maria Ulfa Rara Ardhika

DMP2025 -> Tugas Mandiri (1 Nop 25)

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM: 2523031009

Di SMP Negeri 1 Pardasuka, Kabupaten Pringsewu, guru-guru terus berupaya meningkatkan kualitas pembelajaran agar siswa lebih aktif dan termotivasi dalam belajar. Namun, pada praktiknya, masih ditemukan berbagai kendala, khususnya dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS). Berdasarkan pengamatan di kelas serta hasil refleksi bersama guru mata pelajaran, teridentifikasi bahwa motivasi belajar siswa terhadap mata pelajaran IPS masih rendah.

Banyak siswa yang menganggap IPS sebagai pelajaran yang penuh hafalan dan kurang menarik. Mereka sering merasa sulit memahami materi yang bersifat konseptual, seperti interaksi sosial dan kegiatan ekonomi masyarakat. Dalam kegiatan belajar mengajar, siswa cenderung pasif, hanya mendengarkan penjelasan guru dan mencatat tanpa menunjukkan antusiasme atau rasa ingin tahu yang tinggi. Proses diskusi kelompok sering kali tidak berjalan efektif karena siswa belum terbiasa berpikir kritis dan menyampaikan pendapatnya.

Salah satu penyebab utama rendahnya motivasi ini adalah karena pembelajaran IPS masih banyak menggunakan metode konvensional seperti ceramah dan pemberian tugas individu. Selain itu, materi pelajaran belum dikaitkan secara langsung dengan kehidupan nyata di sekitar siswa, padahal lingkungan sosial dan ekonomi masyarakat Pardasuka sebenarnya kaya akan potensi untuk dijadikan sumber belajar yang kontekstual dan bermakna.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan perubahan desain pembelajaran yang lebih inovatif dan berpusat pada siswa. Salah satu solusi yang tepat adalah menerapkan model pembelajaran Project Based Learning (PjBL) berbasis lingkungan sosial lokal. Model ini dirancang agar siswa tidak hanya menerima pengetahuan, tetapi juga terlibat aktif dalam menemukan, meneliti, dan menyimpulkan sendiri konsep-konsep IPS melalui kegiatan proyek nyata yang ada di lingkungan sekitar mereka.

Dalam penerapannya, guru dapat mengangkat tema tentang aktivitas ekonomi masyarakat Pardasuka, seperti kegiatan pertanian, perdagangan lokal, hingga usaha kecil menengah (UMKM) yang berkembang di wilayah tersebut. Proses pembelajaran dimulai dengan menumbuhkan rasa ingin tahu siswa melalui pertanyaan mendasar, misalnya: “Bagaimana cara masyarakat Pardasuka mengembangkan kegiatan ekonomi berbasis potensi lokal agar tetap menjaga kelestarian lingkungan?”

Selanjutnya, siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta merancang proyek kecil untuk menjawab pertanyaan tersebut. Mereka dapat melakukan observasi atau wawancara dengan pelaku usaha lokal, mendokumentasikan kegiatan ekonomi yang dilakukan masyarakat, lalu menganalisisnya berdasarkan konsep produksi, distribusi, dan konsumsi dalam IPS. Setelah proyek selesai, setiap kelompok mempresentasikan hasilnya dalam bentuk laporan, poster, atau video dokumenter yang menampilkan potret nyata kehidupan sosial ekonomi di lingkungan mereka.

Selama proses berlangsung, guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing, memantau kemajuan kelompok, dan membantu siswa mengaitkan hasil pengamatan dengan teori yang dipelajari di kelas. Melalui kegiatan ini, siswa belajar memahami bahwa IPS bukan sekadar teori, melainkan ilmu yang membantu mereka memahami kehidupan sosial yang sebenarnya.

Hasil penerapan model Project Based Learning ini terbukti mampu meningkatkan motivasi belajar siswa. Mereka menjadi lebih aktif, kreatif, dan antusias dalam mengikuti pelajaran. Siswa juga menunjukkan peningkatan kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, serta lebih menghargai potensi ekonomi lokal di daerah mereka.

Dengan demikian, penerapan model pembelajaran PjBL berbasis lingkungan sosial lokal menjadi solusi yang efektif untuk mengatasi rendahnya motivasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS di SMP Negeri 1 Pardasuka. Melalui pendekatan ini, pembelajaran menjadi lebih hidup, bermakna, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa, sekaligus menumbuhkan rasa cinta terhadap lingkungan sosial dan budaya lokal di Kabupaten Pringsewu.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria ulfa rara ardhika
NPM : 2523031009

Izin menjawab, mempelajari dimensi dan struktur pendidikan IPS sangat pengeting karena, karena keduanya berfungsi sebagaia fondasi bagi guru untuk merancag pembelajaran yang utuh dan bermakna. Agar pengajaran tidak sekedar transfer kata-kata atau hafalan saja, melainkan untuk membentuk siswa yang cerdas, berfikir kritis, peduli dan bertanggungjawab. Dengan tujuan utama Pendidikan IPS, yaitu mengembangkan potensi peserta didik agar peka terhadap masalah sosial dan terampil memecahkannya, dapat tercapai secara sistematis dan komprehensif.

Berikut Model masing-masing dimensi IPS dalam konteks pembelajaran IPS di sekolah :
1. Dimensi pengetahuan pemahaman tentang konsep, fakta, prinsip sosial. guru bisa menggunakan discovery learning :Siswa mencari contoh globalisasi di sekitar mereka (misalnya: makanan cepat saji, media sosial, budaya populer Korea).
2. Ketrampilan : diskusi kelompok: “Apa dampak positif dan negatif globalisasi bagi pelajar di Indonesia?”
3. dimensi nilai ; siswa diajak memilih sikap ketika dihadapkan pada pilihan antara budaya lokal vs budaya luar.
4. Dimensi Tindakan : Proyek mini: Membuat poster digital atau video kampanye dengan tema “Bangga Produk Lokal”.

dengan guru merancang pembelajaran yang menghubungkan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan tindakan dalam satu siklus dapat menjadikan peserta didik memiliki keempat dimensi tersebut. dengan cara itu IPS di sekolah dasar maupun menengah tidak hanya menghasilkan sisiwa yang hafal materi tetapi juga paham konsep sosial, mampu menganalisis masalah, yang berpegang pada nilai kemanusian dan kebajikan serta bisa bertindak nyata bagaimana sebgai warga neraga aktif.

DMP2025 -> Brainstorming

oleh Maria Ulfa Rara Ardhika -
Nama : Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM : 2523031009

Izin berpendapat tentang teori-teori belajar yang mendasari desain dan model Pembelajaran. menurut saya teori-teori ini adalah kerangka kerja konseptual yang menjelaskan bagaimana informasi diserap, diproses, dan disimpan selama proses belajar. Memahami teori-teori ini sangat penting bagi kita sebagai seorang pendidik, karena teori-teori tersebut dapat kita jadikan landasan untuk merancang metode pengajaran dan kurikulum yang efektif dan mencapai tujuan pembelajaran. seperti apabila kita dapat memahami perbedaan setiap teori yang ada
1. behaviorisme dengan fokus utama prilaku yang teramati, proses belajar respon terhadap stimulus, peran pembelajaran pasif merespon, peran mengajar ; memberi stimulus dan penguatan dengan contoh model latihan dan penguatan.
2). kognitivisme fokus utama adalah proses mental dan pikiran, proses belajar pengolaan informasi, Peran pembelajaran aktif merespon, peran pengajar mengorganisir informasi dan contoh model peta konsep serta analogi.
3). Konstruktivisme fokus utama Konstruksi pengetahuan, proses belajar Interpretasi & kreasi makna, peran pembelajaran Aktif, mengkonstruksi, peran pengajar Fasilitator & rekan belajar, ocntoh model pembelajaran berbasis proyek.
4)Humanisme fokus pada potensi dan pertumbuhan individu, proses belajar aktualisasi diri, peran pembelajar Aktif, menentukan arah, peran pengajar Fasilitator, pendukung, contoh model Pembelajaran Mandiri
5) konektivisme fokus utama jaringan dan koneksi, proses belajar terhubungke sumber informasi, peran pengajar fasilitator dan rekan jaringan, contoh model PJJ

dengan memahami teori ini semua menurut saya kita bisa menentukan kearahmana kita bisa merancang desain dan model pembelajaran yang akan di terapkan.