NAMA: Maria Ulfa Rara Ardhika
NPM; 2523031009
Perkembangan konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) telah mengalami perjalanan panjang dan dinamis sejak awal abad ke-20. Awal mula terbentuknya IPS berkaitan erat dengan perkembangan Social Studies di Amerika Serikat yang muncul sebagai konsep kurikulum terpadu untuk memenuhi kebutuhan pendidikan kewarganegaraan. Pada tahap awal ini, IPS dirancang untuk membentuk peserta didik agar menjadi warga negara yang baik, memiliki karakter kuat, dan mampu memahami nilai-nilai demokrasi (Barr, Barth, & Shermis, 1977). Pendidikan sosial dianggap sebagai sarana pembinaan moral dan karakter, sehingga penekanannya lebih banyak pada nilai-nilai etika, kemasyarakatan, dan perilaku warga negara.
Memasuki tahun 1950–1970-an, perkembangan IPS bergerak ke arah integrasi berbagai disiplin ilmu sosial. Para ahli kurikulum menyadari bahwa fenomena sosial tidak dapat dipahami melalui satu cabang ilmu saja, sehingga muncullah pendekatan interdisipliner. IPS menjadi bidang studi yang menggabungkan konsep dari geografi, sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan politik menjadi kurikulum terpadu yang memudahkan siswa mempelajari realitas sosial secara komprehensif. Fenton (1966) menyebut pendekatan ini sebagai upaya “merangkum dunia sosial ke dalam struktur kurikulum yang lebih teratur dan aplikatif”. Pada periode ini, IPS mulai dipahami bukan sekadar kumpulan materi, tetapi sebagai suatu konstruksi pemikiran yang membantu siswa memahami hubungan antar-variabel sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Pada dekade 1970–1990-an terjadi perubahan paradigma besar dalam pengembangan IPS melalui munculnya gerakan New Social Studies yang menekankan pentingnya pembelajaran inkuiri, pemecahan masalah, dan analisis isu sosial. Pendekatan ini menggeser IPS dari pola hafalan menuju pembelajaran yang menekankan kemampuan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Siswa tidak hanya mengingat konsep, tetapi dilatih meneliti, mengolah data, mengambil keputusan, dan memberikan solusi atas masalah sosial aktual (Banks, 1990). Gerakan ini memengaruhi banyak negara, termasuk Indonesia, terutama dalam upaya reformasi pendidikan sosial.
Di Indonesia sendiri, perkembangan konsep dasar IPS sangat dipengaruhi kebijakan kurikulum nasional. Pada era Kurikulum 1975 hingga Kurikulum 1994, IPS diposisikan sebagai mata pelajaran integratif yang memadukan unsur sejarah, geografi, dan ekonomi. Namun, pengajarannya masih bersifat informatif dan berfokus pada hafalan. Perubahan semakin terlihat pada Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) tahun 2004, Kurikulum 2013, hingga Kurikulum Merdeka. Pada kurikulum-kurikulum ini, IPS dipahami sebagai mata pelajaran yang kontekstual, interdisipliner, serta mampu menumbuhkan kesadaran sosial dan karakter kewarganegaraan.
Menurut Susanto (2016), IPS di Indonesia bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk memahami realitas sosial serta berperan aktif dalam kehidupan masyarakat berbasis nilai, etika, dan kebinekaan. Kurikulum Merdeka memperkuat peran IPS sebagai penggerak literasi sosial dan literasi global, dengan pendekatan yang memberikan ruang pada eksplorasi isu-isu sosial di lingkungan sekitar, seperti perubahan sosial, keberagaman budaya, problematika ekonomi, hingga dinamika lingkungan.
Secara keseluruhan, konsep dasar IPS telah berkembang dari pendekatan normatif dan hafalan menuju pendekatan yang lebih analitis, kritis, dan kontekstual. Perubahan tersebut mencerminkan tantangan sosial yang semakin kompleks dan tuntutan pendidikan abad 21 yang mengharuskan generasi muda memiliki literasi sosial yang kuat, kemampuan berpikir kritis, serta kesadaran sebagai warga negara global yang bertanggung jawab. Dengan demikian, perkembangan konsep dasar IPS menunjukkan bahwa mata pelajaran ini tidak hanya mengajarkan pengetahuan sosial, tetapi juga membentuk kepekaan sosial dan kompetensi sikap yang esensial bagi kehidupan bermasyarakat.
Referensi:
Banks, J. A. (1990). Teaching Strategies for the Social Studies: Inquiry, Valuing, and Decision-Making. Longman.
Barr, R., Barth, J. L., & Shermis, S. S. (1977). Defining the Social Studies. National Council for the Social Studies.
Fenton, E. (1966). Teaching the New Social Studies. Holt, Rinehart, and Winston.
Susanto, A. (2016). Teori Belajar dan Pembelajaran di Sekolah Dasar. Jakarta: Kencana.
NCSS (National Council for the Social Studies). (2010). National Curriculum Standards for Social Studies.