Nama : Rizky Melatama
NPM : 2523031005
1. Deskripsi Desain Pembelajaran Model Jerold E. Kemp
Model Jerold E. Kemp adalah salah satu model desain instruksional yang bersifat siklus dan holistik, berbeda dari model linear seperti ADDIE atau Dick & Carey. Desainnya berbentuk non-linear dan berfokus pada keseluruhan aspek pembelajaran—mulai dari identifikasi masalah sampai evaluasi—dengan pendekatan yang fleksibel dan berkelanjutan. Model ini menekankan bahwa setiap elemen dalam proses pengembangan pembelajaran tetap saling terkait dan dapat direvisi kapan saja sesuai kebutuhan belajar siswa.
Komponen Utama Model Kemp
Model Kemp biasanya mencakup 9 elemen utama, antara lain:
- Identifikasi masalah pembelajaran dan kebutuhan tujuan
- Analisis karakteristik peserta didik
- Analisis tugas / konten pembelajaran
- Perumusan tujuan pembelajaran
- Pengurutan konten secara logis
- Perancangan strategi instruksional
- Perancangan pesan atau materi pembelajaran
- Pengembangan materi / sumber belajar
- Pengembangan instrumen evaluasi untuk menilai pencapaian tujuan
2. Kelebihan Model Kemp
Berikut beberapa kelebihan yang sering dikemukakan dalam literature tentang model Kemp:
a. Fleksibel dan Tidak Linear
Model Kemp memungkinkan perancang instruksi untuk memulai dari elemen mana saja tanpa harus mengikuti tahapan tertentu secara berurutan. Ini memberi kebebasan dan fleksibilitas sehingga desain dapat disesuaikan dengan kebutuhan kontekstual pembelajaran.
b. Fokus pada Siswa sebagai Pusat Perancangan
Kemp menekankan analisis karakteristik peserta didik dan kebutuhan belajar mereka sejak awal, sehingga pembelajaran dirancang lebih relevan dan bermakna bagi siswa.
c. Pendekatan Holistik dan Sistematik
Model ini memperhatikan berbagai aspek desain pembelajaran secara terintegrasi—tujuan, strategi, media, pengembangan materi, dan evaluasi—sehingga menciptakan pengalaman belajar yang lebih komprehensif.
d. Iteratif dengan Evaluasi Berkelanjutan
Model Kemp memasukkan mekanisme evaluasi formatif dan sumatif yang memungkinkan perbaikan berkelanjutan pada desain instruksional berdasarkan umpan balik.
3. Kekurangan Model Kemp
Meskipun memiliki banyak keunggulan, model ini juga memiliki beberapa keterbatasan:
a. Kompleks dan Memakan Waktu
Karena terdiri dari banyak elemen yang harus dipertimbangkan dan sering direvisi, model Kemp dapat menjadi kompleks dan memakan waktu untuk diimplementasikan, terutama oleh desainer instruksional atau guru yang belum berpengalaman.
b. Tidak Memberikan Urutan Langkah yang Ketat
Fleksibilitas bisa menjadi dua sisi mata pisau: meskipun memberi kebebasan, bagi pemula yang belum terbiasa dengan desain instruksional hal ini bisa membuat mereka bingung atau kurang tahu harus mulai dari mana.
c. Butuh Kompetensi Tinggi Desainer
Model Kemp memerlukan perancang yang cukup berpengalaman untuk mengelola desain yang non-linear ini secara efektif. Tanpa pengalaman atau pelatihan, model ini bisa sulit diterapkan secara konsisten.
d. Panduan Evaluasi Bisa Kurang Terinci
Beberapa sumber menyatakan bahwa model ini tidak menjelaskan secara rinci bagaimana menyiapkan dan mengimplementasikan evaluasi secara praktis dibanding model lain yang lebih fokus pada evaluasi.
4. Model Pembelajaran yang Sesuai bila Menggunakan Desain Pembelajaran J. Kemp
Model pembelajaran yang sangat sesuai dengan desain instruksional Kemp adalah pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning / PjBL) atau pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning), dan berikut alasannya:
a. Sesuai dengan Pendekatan Holistik Kemp
Kedua model ini menuntut perancangan yang mempertimbangkan banyak aspek sekaligus—tujuan kilat terpadu, karakteristik siswa, konten yang harus dianalisis, strategi, media, serta evaluasi autentik. Ini selaras dengan pendekatan holistik dan sistematik yang dilakukan dalam model Kemp.
b. Memerlukan Analisis Karakteristik Siswa
Model seperti PjBL dan kooperatif menempatkan siswa sebagai pusat proses pembelajaran, sehingga penting untuk memahami karakteristik belajar individu dan kelompok, seperti yang dianjurkan oleh model Kemp.
c. Iterasi dan Evaluasi Lingkup Luas
Dalam PjBL atau pembelajaran kooperatif, desain perlu diperbaiki berdasarkan umpan balik dan proses refleksi sepanjang proyek berjalan, sejalan dengan filosofi evaluasi berkelanjutan dan revisi model Kemp.
d. Menunjang Keterampilan Abad 21
Model pembelajaran seperti PjBL maupun kooperatif membantu siswa mengembangkan keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan komunikasi yang dapat lebih mudah diukur melalui evaluasi autentik—diperlukan perancangan komprehensif, bukan sekadar linear, seperti yang menjadi ciri model Kemp.
5. Kesimpulan
Model Jerold E. Kemp adalah desain instruksional yang fleksibel, berorientasi siswa, dan holistik, cocok untuk merancang pembelajaran yang kompleks dan dinamis. Ia menonjolkan analisis karakteristik peserta didik, integrasi semua komponen pembelajaran, serta evaluasi berkelanjutan. Namun, model ini juga cukup kompleks dan membutuhkan pengalaman perancang instruksional, sehingga tidak selalu ideal bagi pemula atau ketika waktu dan sumber daya terbatas. Model pembelajaran yang paling cocok dengan desain Kemp adalah Project-Based Learning atau pembelajaran kooperatif, karena keduanya menuntut perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi yang holistik serta responsif terhadap kebutuhan peserta didik.