Nama Rizky Melatama
NPM 2523031005
Bagian 1: Dua Ide Kreatif Model & Pendekatan
Berikut adalah dua ide alternatif yang dapat dipilih Pak Doni:
1. Model: Role-Play Simulation (Simulasi Peran)
Ide: Mengadakan "KTT Globalisasi Siswa". Siswa berperan sebagai delegasi negara, pemilik perusahaan multinasional (seperti CEO teknologi), aktivis lingkungan, dan buruh lokal.
Alasan: Topik globalisasi sering terasa abstrak jika hanya dibaca. Dengan bermain peran, siswa merasakan langsung ketegangan antara keuntungan ekonomi global dan dampaknya terhadap budaya atau lingkungan lokal. Ini mengubah informasi pasif menjadi pengalaman emosional.
2. Model: Flipped Classroom dengan Pendekatan Saintifik
Ide: Siswa diminta mengobservasi "jejak globalisasi" di rumah mereka (makanan di kulkas, merk baju, aplikasi di HP) melalui video pendek sebelum kelas dimulai. Di sekolah, waktu digunakan untuk diskusi kelompok dan debat.
Alasan: Masalah utama Pak Doni adalah ceramah yang membosankan. Dengan memindah penyampaian materi ke luar kelas (via video/artikel menarik), waktu di kelas bisa digunakan sepenuhnya untuk aktivitas berpikir tingkat tinggi (HOTS).
Bagian 2: Rancangan Ide Pembelajaran Inovatif
Saya menyarankan Pak Doni menggunakan model Project-Based Learning (PjBL) dengan pendekatan TPACK (Technology, Pedagogy, and Content Knowledge).
Judul Proyek: "Global-Local Expo: Menjadi Creative Agency"
Pendekatan: Kontekstual (menghubungkan globalisasi dengan kehidupan sehari-hari siswa).
Metode: Diskusi kelompok, riset lapangan (digital/fisik), dan Marketplace Activity.
Teknik: Gallery Walk (Pameran Karya).
Skenario Pembelajaran:
The Challenge: Pak Doni menantang siswa menjadi "Konsultan Branding". Tugas mereka adalah memilih satu produk lokal (misal: jajanan tradisional atau kerajinan khas daerah) dan merancang strategi agar produk tersebut bisa "Go Global" bersaing dengan brand luar negeri.
Investigation: Siswa melakukan riset menggunakan smartphone mereka untuk membandingkan strategi pemasaran brand global (seperti McDonald's atau Samsung) dengan produk lokal pilihan mereka.
Creation: Siswa membuat purwarupa (prototype) berupa desain kemasan baru, poster digital, atau video iklan pendek (TikTok/Reels) yang menunjukkan perpaduan budaya lokal dan tren global.
The Expo: Ruang kelas diubah menjadi area pameran. Setiap kelompok memajang karyanya. Sebagian siswa menjaga stand untuk menjelaskan ide mereka, sebagian lagi berkeliling memberikan "investasi" (berupa stiker bintang) pada ide yang paling kompetitif.
Bagian 3: Teknik Evaluasi yang Mendorong Kreativitas
Dalam rancangan ini,
penilaian tidak lagi menggunakan soal pilihan ganda di LKS, melainkan melalui:
1.
Penilaian Produk Kreatif (Rubrik Multimedia) Pak Doni menilai orisinalitas ide dan kemampuan siswa mengemas pesan globalisasi dalam bentuk visual. Ini mendorong siswa untuk tidak sekadar menyontek teks, tetapi berpikir bagaimana pesan IPS bisa disampaikan secara estetis dan persuasif.
2. Peer-Assessment (
Penilaian Antar Teman) Melalui metode "investasi stiker" di pameran, siswa belajar memberikan apresiasi dan kritik objektif terhadap karya temannya. Hal ini meningkatkan keterlibatan karena suara mereka berharga dalam menentukan keberhasilan proyek teman sekelasnya.
3. Jurnal Refleksi Digital Siswa menuliskan satu hal yang paling mengubah pandangan mereka tentang globalisasi setelah melakukan proyek. Evaluasi ini fokus pada perubahan sikap (afektif), bukan sekadar hafalan definisi