Kiriman dibuat oleh Rizky Melatama

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Rizky Melatama -
Rizky Melatama
2523031005

Dimensi dan struktur pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) penting sekali untuk dipelajari karena IPS tidak hanya memberikan pengetahuan tentang fakta sosial, tetapi juga membantu peserta didik mengembangkan keterampilan berpikir, memahami nilai-nilai sosial, serta mampu bertindak dalam konteks kehidupan nyata. IPS berperan dalam membentuk warga negara yang berpikiran kritis, bertanggung jawab, dan mampu menyelesaikan masalah sosial yang kompleks di masyarakat.

Empat dimensi IPS yaitu dimensi pengetahuan, dimensi keterampilan, dimensi nilai dan sikap, serta dimensi tindakan harus dipahami agar pembelajaran menjadi komprehensif dan terarah. Dimensi pengetahuan mencakup fakta, konsep, dan generalisasi sehingga peserta didik memahami fenomena sosial secara ilmiah. Dimensi keterampilan menjadikan siswa mampu berpikir kritis, meneliti, berpartisipasi sosial, dan berkomunikasi. Dimensi nilai dan sikap membentuk karakter positif seperti toleransi dan kejujuran, sedangkan dimensi tindakan memampukan siswa mengaplikasikan pengetahuan dan keterampilan dalam kegiatan nyata di masyarakat.

Dalam konteks sekolah dasar dan menengah, model pembelajaran yang digunakan harus sesuai dengan karakter masing-masing dimensi itu. Untuk mengembangkan dimensi pengetahuan, guru bisa menggunakan pendekatan inkuiri dan diskusi yang menantang siswa untuk memahami konsep secara lebih dalam dan mengaitkannya dengan pengalaman mereka sehari-hari.

Untuk dimensi keterampilan, model pembelajaran berbasis proyek atau problem based learning sangat efektif karena memberi ruang bagi siswa untuk mengumpulkan informasi, menganalisis data, bekerja sama dalam kelompok, serta menyampaikan hasilnya melalui presentasi atau laporan. Pendekatan seperti ini juga mengasah keterampilan berpikir kritis dan komunikasi.

Untuk dimensi nilai dan sikap, pembelajaran kontekstual yang melibatkan refleksi kelompok, simulasi peran, atau studi kasus tentang isu moral dan sosial dapat membantu siswa memahami dan menginternalisasi nilai-nilai sosial serta menerapkannya dalam kehidupan mereka sendiri. Integrasi pendidikan karakter dalam kegiatan pembelajaran IPS juga mendorong siswa menjadi pribadi yang bertanggung jawab dan peduli terhadap orang lain.

Untuk dimensi tindakan, kegiatan nyata seperti kegiatan layanan masyarakat, simulasi pengambilan keputusan, diskusi tentang isu lokal atau global, dan kerja sama dengan komunitas dapat memberikan pengalaman langsung kepada siswa untuk bertindak berdasarkan pengetahuan dan nilai yang mereka pelajari. Dimensi ini penting agar peserta didik tidak hanya berpikir, tetapi juga bertindak sebagai warga negara yang aktif.

Dengan menerapkan model pembelajaran yang tepat sesuai dengan masing-masing dimensi, peserta didik tidak hanya akan memiliki pengetahuan, tetapi juga keterampilan sosial, nilai yang kuat, serta kemampuan bertindak di masyarakat. Pembelajaran IPS yang demikian menjadi relevan dan bermakna bagi kehidupan siswa baik di sekolah maupun di lingkungan sosial mereka nanti.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Rizky Melatama -
Rizky Melatama
2523031005

Untuk menjadi pendidik profesional di bidang IPS yang mampu menjawab tantangan masa depan — terutama di era Society 5.0, digitalisasi, dan kebutuhan kompetensi abad ke-21 — ada beberapa strategi penting yang harus diperhatikan :

1. Penguasaan Kompetensi Utama Guru Profesional
Guru profesional bukan hanya memiliki gelar, tetapi juga menguasai kompetensi inti: pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial. Kompetensi tersebut mencakup:
1. Kedalaman penguasaan materi IPS** secara luas dan mendalam.
2. Kemampuan didaktik–metodik** untuk merancang, melaksanakan, dan mengevaluasi proses belajar mengajar.
3. Ketrampilan berpikir kritis dan kreatif serta kemampuan untuk melakukan refleksi terhadap praktik pembelajaran yang dilakukan. 

2. Pendidikan Profesi Guru (PPG) Sebagai Jalan Utama
Pendidikan Profesi Guru merupakan prasyarat legal dan profesional bagi calon guru untuk dipandang sebagai tenaga profesional sejati. PPG membekali calon pendidik dengan:
1. Praktik langsung di sekolah formal (internship),
2. Supervisi dan pembimbingan sistematis,
3. Penguatan kompetensi pedagogik dan profesional secara terintegrasi. 
Program ini penting karena menjembatani teori dan praktik nyata dalam konteks belajar mengajar IPS.

3. Integrasi Teknologi dalam Pembelajaran dan Profesionalisme
Guru IPS masa depan harus mampu mengintegrasikan teknologi dan pedagogi:
1. Pemanfaatan AI, IoT, dan media digital untuk mengembangkan pembelajaran yang menarik.
2. Kompetensi literasi digital yang kuat agar dapat memanfaatkan data, sumber belajar digital, dan platform pembelajaran modern.
Ini penting karena siswa masa kini sangat familiar dengan teknologi, sehingga pendidik juga harus responsif terhadap perkembangan tersebut.

4. Pembelajaran Berbasis Komunitas dan Kolaborasi
Pengembangan profesional tidak berhenti saat sertifikat didapat. Guru perlu:
1. Berpartisipasi dalam **komunitas belajar profesional** untuk tukar pengalaman, praktik terbaik, dan solusi terhadap tantangan pembelajaran IPS.
2. Mengikuti seminar, workshop, kursus, dan pelatihan berkala sebagai bagian dari pembelajaran seumur hidup.
Kolaborasi seperti ini memperkuat jaringan profesional dan membantu guru terus meng-update kompetensinya.

5. Keterampilan Abad ke-21 (4C Skills)
Guru profesional harus membekali diri sendiri dan siswa dengan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan masa depan, seperti:
1. Critical thinking (berpikir kritis),
2. Communication (komunikasi),
3. Collaboration (kolaborasi),
4.Creativity (kreativitas).

6. Refleksi dan Riset Tindaka
Guru profesional harus terus melakukan:
1. Riset tindakan kelas,
2. Refleksi terhadap praktik pembelajaran,
3. Pengembangan materi dan metode yang kontekstual dan inovatif.
Ini akan menjadikan proses pengajaran lebih efektif, adaptif terhadap perubahan, dan relevan dengan dunia nyata.

7. Menyiapkan pendidik profesional di bidang IPS masa depan melibatkan:
1. Kualifikasi formal melalui PPG,
2. Penguasaan kompetensi inti profesi guru,
3. Integrasi teknologi dan inovasi pembelajaran,
4. Partisipasi aktif dalam komunitas profesional,
5. Penguatan keterampilan abad ke-21,
6. Praktik reflektif dan riset tindakan.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Rizky Melatama -
Rizky Melatama
2523031005

Konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) pada hakikatnya bukanlah sesuatu yang baru. IPS berkembang seiring dengan kebutuhan manusia untuk memahami realitas sosial, interaksi antarindividu, serta hubungan manusia dengan lingkungannya. Pada awal perkembangannya, IPS lahir dari pengintegrasian berbagai disiplin ilmu sosial seperti sejarah, geografi, ekonomi, sosiologi, antropologi, dan ilmu politik yang disederhanakan untuk tujuan pendidikan.

Secara historis, perkembangan konsep dasar IPS dapat ditelusuri dari pendekatan subject-centered menuju integrated social studies. Pada tahap awal, pembelajaran IPS masih bersifat terpisah-pisah sesuai dengan disiplin ilmu induknya. Namun, seiring perkembangan pemikiran pendidikan dan tuntutan masyarakat yang semakin kompleks, IPS berkembang menjadi kajian yang bersifat interdisipliner dan kontekstual, dengan fokus pada pemecahan masalah sosial nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, IPS berkembang sebagai mata pelajaran dan bidang kajian yang berorientasi pada pembentukan warga negara yang memiliki kesadaran sosial, nilai, sikap, serta keterampilan sosial. Konsep dasar IPS tidak hanya menekankan penguasaan pengetahuan (knowledge), tetapi juga keterampilan berpikir kritis (social inquiry), sikap sosial, dan nilai-nilai kemanusiaan. Hal ini sejalan dengan paradigma IPS sebagai wahana pendidikan karakter dan kewarganegaraan dalam masyarakat demokratis.

Pada perkembangan mutakhir, konsep dasar IPS semakin bersifat multidimensi dan komprehensif, mencakup dimensi ruang, waktu, nilai, dan keberlanjutan. Isu-isu global seperti globalisasi, perubahan iklim, ketimpangan sosial, konflik, serta perkembangan teknologi digital menjadi bagian penting dalam kajian IPS. Pendekatan problem-based learning, critical pedagogy, dan pemanfaatan teknologi informasi semakin memperkuat peran IPS dalam membekali peserta didik agar adaptif, reflektif, dan bertanggung jawab secara sosial.

Sebagai mahasiswa pascasarjana, pemahaman terhadap perkembangan konsep dasar IPS menjadi sangat penting agar mampu berkontribusi secara nyata di masyarakat. IPS tidak hanya dipahami sebagai kumpulan materi, tetapi sebagai cara berpikir dan bertindak sosial yang humanis. Di era digital dan robotik, IPS justru berperan strategis dalam menjaga nilai kemanusiaan, etika, dan kesadaran sosial, sehingga manusia tidak kehilangan jati dirinya di tengah kemajuan teknologi.

Dengan demikian, perkembangan konsep dasar IPS menunjukkan pergeseran dari pendekatan disipliner menuju pendekatan integratif, dari hafalan menuju pemecahan masalah, serta dari transfer pengetahuan menuju pembentukan manusia yang kritis, peduli, dan berkarakter.

Referensi singkat:
1. Banks, J. A. (2008). *Diversity and Citizenship Education*. San Francisco: Jossey-Bass.
2. Sapriya. (2017). *Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran*. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
3. NCSS (National Council for the Social Studies). (2010). *National Curriculum Standards for Social Studies

DMP2025 -> Tugas Mandiri (1 Nop 25)

oleh Rizky Melatama -
Nama : Rizky Melatama
NPM : 2523031005

Masalah: Siswa kurang aktif dan kurang memahami konsep sosial karena pembelajaran IPS masih bersifat teoritis dan guru sering mengajar dengan metode ceramah sehingga siswa hanya menghafal materi tanpa mampu memecahkan masalah sosial nyata.
Contoh nyata di banyak sekolah adalah ketika guru memberikan materi IPS secara normatif dari buku teks saja tanpa mengaitkannya dengan masalah di lingkungan siswa. Akibatnya siswa menunjukkan keterlibatan rendah, kurang berpikir kritis, dan tidak mampu menerapkan pengetahuan IPS dalam konteks kehidupan nyata. Hal ini sejalan dengan penelitian yang menunjukkan bahwa pendekatan konvensional membuat siswa kurang terlibat aktif dalam pembelajaran IPS sehingga pemahaman konseptual dan keterampilan berpikir kritis kurang berkembang

Solusi dengan Desain dan Model Pembelajaran IPS yang Sesuai
Desain Pembelajaran IPS yang Direkomendasikan
Pilih isu sosial nyata di lingkungan sekolah atau komunitas (misalnya masalah sampah, kemacetan, ketidakadilan distribusi air, migrasi penduduk). Hal ini menjadikan pembelajaran relevan dengan kehidupan siswa sehingga mereka tidak hanya menghafal tetapi memahami fenomena secara nyata.
Guru tidak hanya ceramah tetapi membimbing siswa dalam menyelidiki masalah, mengumpulkan data, berdiskusi, dan merumuskan solusi. Ini membuat siswa aktif secara intelektual.
PBL mendorong kerja kelompok sehingga siswa belajar berkolaborasi, berpikir kritis, serta berkomunikasi — keterampilan sosial dan abad 21.
Siswa menghasilkan produk nyata seperti poster solusi, laporan temuan, peta sosial, atau kampanye komunitas tentang isu yang dianalisis. Ini memperkuat keterampilan berpikir dan aplikasi.
Solusi yang efektif adalah menerapkan desain pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning / PBL) yang terencana dengan baik:

  • Fokus pada masalah kontekstual

  • Guru sebagai fasilitator

  • Kolaborasi dan diskusi kelompok

  • Output nyata atau produk

Kelebihan Model Problem Based Learning dalam Konteks IPS
Meningkatkan keterampilan berpikir kritis dan pemecahan masalah, karena siswa dilatih menghadapi situasi nyata. Pembelajaran kontekstual dan relevan dengan kehidupan siswa, sehingga tidak hanya hafalan tetapi pemahaman yang mendalam. Kolaborasi dan komunikasi antar siswa meningkat karena kerja kelompok. 
Motivasi belajar meningkat karena siswa terlibat langsung dalam proses menemukan solusi bukan sekedar menerima informasi

Masalah pembelajaran IPS di sekolah sering berkaitan dengan pembelajaran teoritis, siswa pasif, dan kurangnya keterkaitan dengan isu nyata. Solusi yang tepat adalah desain pembelajaran berbasis masalah yang terstruktur menggunakan model Problem Based Learning (PBL). Model ini menempatkan siswa sebagai aktor utama dalam proses pembelajaran, membangun pemahaman kontekstual, keterampilan berpikir kritis, kolaborasi, dan aplikasi nyata dalam kehidupan sosial mereka. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak hanya meningkatkan pengetahuan tetapi juga membentuk keterampilan dan sikap sosial siswa.