Kiriman dibuat oleh amaradina fatia sari

DMP2025 -> Tugas Individu

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Pendekatan pembelajaran adalah sudut pandang atau landasan filosofis yang menjadi dasar dalam merancang pembelajaran. Pendekatan menjelaskan bagaimana hakikat proses belajar terjadi serta peran guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Ciri-cirinya yaitu, bersifat teoritis dan konseptual, menjadi kerangka berpikir utama dalam pengembangan strategi, model, dan metode, tidak berisi langkah-langkah praktis, tetapi memberi arah umum.
Sedangkan strategi merupakan rencana tindakan menyeluruh yang dirancang berdasarkan pendekatan untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Strategi menjelaskan cara mengatur komponen pembelajaran (tujuan, materi, kegiatan, waktu, media, dan evaluasi). dari strategi tersebut muncul model pembelajaran dan dibagi menjadi dua kerangka yaitu, konseptual dan prosedural yang menggambarkan tahapan kegiatan pembelajaran secara sistematis. Model menjelaskan alur dan sintaks yang digunakan guru untuk mengimplementasikan strategi pembelajaran di kelas. Contohnya ada ,odel Problem-Based Learning (PBL), model Discovery Learning, model Inquiry Learning
Lalu yang terakhir ada teknik pembelajaran, merupakan langkah-langkah spesifik atau tindakan mikro yang dilakukan guru untuk melaksanakan suatu metode. Teknik bersifat fleksibel dan situasional sesuai kebutuhan kelas.

DMP2025 -> Tugas Individu (25 okt 25)

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

1.Deskripsikan desain pembelajaran J. KEMP., (kekurangan dan kelebihanya)
Model desain pembelajaran J. Kemp dikembangkan oleh Jerrold E. Kemp (1977), seorang ahli desain instruksional yang menekankan bahwa perencanaan pembelajaran harus bersifat menyeluruh, fleksibel, dan berpusat pada kebutuhan siswa. Model Kemp dikenal juga dengan nama Kemp Instructional Design Model, dan merupakan salah satu model yang berorientasi sistem (system-oriented model) dalam perencanaan pembelajaran. Model ini menekankan bahwa proses belajar mengajar merupakan sistem yang terdiri dari berbagai komponen yang saling berhubungan dan dapat dimulai dari titik mana pun tidak harus berurutan. Model desain pembelajaran J. Kemp memiliki sejumlah kelebihan yang membuatnya banyak digunakan dalam perencanaan pembelajaran modern, terutama karena bersifat fleksibel, menyeluruh, dan berorientasi pada peserta didik.
1.Fleksibel dan Tidak Linear
Fleksibilitas ini memungkinkan guru untuk menyesuaikan perencanaan pembelajaran secara dinamis, terutama ketika menghadapi perubahan kondisi kelas, waktu, atau karakteristik siswa.
2.Berpusat pada Peserta Didik (Learner-Centered)
Model Kemp menempatkan peserta didik sebagai fokus utama dalam setiap tahap perencanaan. Sebelum menentukan strategi atau materi, guru terlebih dahulu menganalisis karakteristik siswa, seperti kemampuan awal, minat, motivasi, dan gaya belajar.
3.Memandang Pembelajaran sebagai Sistem yang Terpadu
Setiap unsur mulai dari tujuan, isi, strategi, media, hingga evaluasi tidak dapat berdiri sendiri. Semua harus dirancang secara menyeluruh agar menghasilkan pengalaman belajar yang efektif dan bermakna. Pandangan sistemik ini membantu guru membangun keterpaduan antara aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik dalam kegiatan belajar.
4.Adanya Komponen Revisi (Continuous Improvement)
Model Kemp menyediakan ruang bagi guru untuk melakukan evaluasi dan revisi terhadap rencana pembelajaran setelah kegiatan selesai. Hal ini sangat penting agar pembelajaran dapat terus disempurnakan dari waktu ke waktu berdasarkan hasil refleksi, umpan balik siswa, dan hasil evaluasi belajar.
5.Dapat Diterapkan di Berbagai Konteks dan Jenjang Pendidikan
Karena bersifat umum dan tidak terikat pada satu jenis mata pelajaran atau jenjang tertentu, model Kemp dapat diterapkan mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.

Meskipun memiliki banyak kelebihan, model Kemp juga mempunyai beberapa kelemahan atau keterbatasan antara lain:
1.Tidak Memiliki Urutan Langkah yang Jelas
Karena bersifat non-linear, model Kemp kadang dianggap membingungkan oleh guru pemula. Tidak adanya urutan langkah yang tegas membuat beberapa perancang pembelajaran sulit menentukan dari mana proses harus dimulai.
Kondisi ini bisa menyebabkan perencanaan menjadi tidak terarah jika tidak didukung dengan pemahaman yang kuat terhadap konsep desain instruksional.
2.Membutuhkan Analisis yang Mendalam dan Waktu yang Lama
Model Kemp menuntut guru untuk melakukan analisis mendetail terhadap karakteristik siswa, kebutuhan belajar, dan struktur materi.
3.Kurang Cocok untuk Situasi Pembelajaran Darurat atau Terbatas
Dalam kondisi tertentu misalnya waktu pembelajaran singkat, kelas besar, atau keterbatasan sumber daya model Kemp bisa menjadi sulit diterapkan karena membutuhkan proses refleksi, evaluasi, dan revisi berulang.
4.Tidak Menyertakan Unsur Motivasi Secara Spesifik
Model Kemp tidak memiliki komponen yang secara eksplisit membahas strategi peningkatan motivasi belajar siswa. Guru harus menambahkan sendiri unsur motivasi ini agar pembelajaran tetap menarik dan bermakna.
5.Memerlukan Pemahaman Teori Pembelajaran yang Kuat
Untuk menerapkan model Kemp dengan benar, guru atau perancang pembelajaran perlu memiliki pengetahuan mendalam tentang teori belajar, taksonomi tujuan, dan strategi instruksional.

2.Model pembelajaran apa yang sesuai bila desain pembelajaran menggunakan J. Kemp? jelaskan alasanya.
Desain pembelajaran J. Kemp paling sesuai diterapkan bersama model pembelajaran berbasis proyek (Project-Based Learning) atau berbasis masalah (Problem-Based Learning) karena:
- Sama-sama berorientasi pada peserta didik dan mengutamakan keterlibatan aktif.
- Sama-sama bersifat fleksibel dan adaptif terhadap konteks belajar.
- Sama-sama menekankan hubungan sistemik antara tujuan, strategi, media, dan evaluasi.
- Sama-sama mendukung pengembangan kompetensi abad ke-21 seperti berpikir kritis, kolaborasi, dan kreativitas.
- Sama-sama memungkinkan evaluasi reflektif dan perbaikan berkelanjutan.
Dengan demikian, jika desain pembelajaran menggunakan model J. Kemp, maka model pembelajaran berbasis proyek (PjBL) adalah pilihan yang paling relevan dan efektif untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna, kontekstual, dan berorientasi hasil nyata.

DMP2025 -> Tugas Mandiri Pertemuan 11

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

1.Deskripsikan 1 contoh desain pembelajaran abad 21 yang relevan
Abad ke-21 menuntut peserta didik memiliki kemampuan berpikir kritis, kreatif, kolaboratif, dan komunikatif (4C). Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi menempatkan siswa sebagai subjek aktif yang membangun pengetahuan melalui pengalaman nyata. Untuk itu, model Project-Based Learning (PjBL) menjadi salah satu desain pembelajaran yang relevan, karena menggabungkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, kerja sama, dan pemecahan masalah dunia nyata. Langkah - langkah desain pembelajaran anatara lain: (1) Orientasi Masalah, (2) Perencanaan Proyek, (3) Pelaksanaan Proyek (Eksplorasi & Pengumpulan Data), (4) Pengembangan Produk, (5) Presentasi, (6) Refleksi & Evaluasi.
Desain pembelajaran Project-Based Learning berbasis masalah sosial merupakan contoh konkret pembelajaran abad ke-21 yang relevan dan adaptif terhadap tantangan global. Melalui kegiatan ini, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan konseptual, tetapi juga mengembangkan soft skills, karakter, dan literasi digital yang menjadi kebutuhan utama dalam dunia modern.
Desain ini mencerminkan karakteristik pembelajaran abad 21 karena:
- Mengintegrasikan literasi digital dan berpikir kritis dalam konteks nyata.
- Mendorong siswa untuk berpikir reflektif dan inovatif.
- Menumbuhkan tanggung jawab sosial dan empati terhadap lingkungan.
- Menggunakan teknologi informasi sebagai sarana belajar dan publikasi.
- Berbasis pada kolaborasi dan problem solving yang kontekstual.

DMP2025 -> Tugas Mandiri (1 Nop 25)

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Terdapat kasus yang baru-baru ini sangat tranding yaitu kasus perundungan di Universitas Udayana yang mengakibatkan satu korban jiwa (Media Indonesia, 2025). Hal tersebut menunjukkan lemahnya kesadaran sosial, empati, dan kontrol diri di kalangan mahasiswa. Tindakan bullying yang berujung tragis mencerminkan belum sepenuhnya berhasil menumbuhkan karakter sosial dan moral peserta didik. Dalam konteks ini, pendidikan IPS memiliki peran strategis untuk memberikan solusi melalui pembelajaran yang tidak hanya menekankan aspek pengetahuan sosial, tetapi juga membentuk kepribadian, nilai kemanusiaan, dan tanggung jawab sosial peserta didik.

Salah satu desain pembelajaran yang relevan untuk diterapkan adalah pembelajaran berbasis isu sosial (Social Issue-Based Learning). Melalui model ini, guru menghadirkan kasus nyata seperti perundungan di kampus Udayana sebagai bahan diskusi dan analisis di kelas. Peserta didik diajak untuk mengidentifikasi akar masalah bullying, menganalisis dampaknya dari perspektif sosial, budaya, dan moral, serta merumuskan solusi yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini dapat dikombinasikan dengan Problem Based Learning dan Service Learning, di mana siswa tidak hanya memahami masalah, tetapi juga melakukan aksi nyata seperti kampanye anti-bullying di lingkungan sekolah atau media sosial. Dengan demikian, pembelajaran IPS tidak berhenti pada tataran teori, melainkan menjadi sarana pembentukan karakter sosial yang berorientasi pada empati dan kepedulian.
Selain itu, model pembelajaran Humanistik Sosial (Humanistic Social Learning Model) juga sangat relevan untuk mengatasi persoalan ini. Model ini berlandaskan pada gagasan Carl Rogers dan Paulo Freire yang menekankan bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia. Dalam penerapannya, guru berperan sebagai fasilitator yang membantu peserta didik memahami dirinya dan orang lain melalui dialog reflektif, kegiatan menulis jurnal empati, dan diskusi nilai-nilai sosial. Evaluasi pembelajaran tidak hanya berfokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada perkembangan sikap sosial, kemampuan berempati, dan kesadaran moral peserta didik.
Model pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) juga dapat dijadikan pendekatan pelengkap. Melalui kerja kelompok yang heterogen, peserta didik belajar menghargai perbedaan, bekerja sama, dan menyelesaikan tugas secara tanggung jawab bersama. Penilaian diarahkan tidak hanya pada hasil akhir, tetapi juga pada proses interaksi sosial yang mencerminkan nilai gotong royong, toleransi, dan solidaritas. Dengan cara ini, pembelajaran IPS menjadi wahana untuk membangun hubungan sosial yang sehat dan mencegah munculnya perilaku diskriminatif maupun perundungan.

Secara keseluruhan, penerapan desain dan model pembelajaran IPS seperti di atas mampu mengintegrasikan antara pengetahuan, nilai, dan tindakan sosial. Melalui pendekatan kontekstual, reflektif, dan kolaboratif, peserta didik tidak hanya memahami fenomena sosial, tetapi juga terlibat aktif dalam membangun lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan beradab. Dengan demikian, IPS berfungsi bukan hanya sebagai mata pelajaran yang mempelajari masyarakat, tetapi juga sebagai sarana transformasi sosial yang menumbuhkan empati, menghormati keberagaman, serta menegakkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan bersama.