Kiriman dibuat oleh amaradina fatia sari

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Menurut saya, mudah terdegradasinya nilai-nilai sosial pada generasi muda saat ini disebabkan oleh perubahan besar dalam pola interaksi sosial akibat kemajuan teknologi digital dan globalisasi yang begitu cepat. Generasi muda hidup di era di mana teknologi menghadirkan kemudahan, kecepatan, dan keterhubungan tanpa batas, namun di sisi lain, menggeser nilai-nilai kemanusiaan dan sosial seperti empati, kepedulian, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap sesama. Media sosial, misalnya, yang awalnya dimaksudkan untuk mempererat hubungan manusia, sering justru menjadi ruang yang menumbuhkan individualisme, hedonisme, cyberbullying, dan degradasi moral akibat kurangnya literasi digital dan kontrol diri.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa fenomena ini tidak bisa hanya disalahkan pada teknologi, tetapi juga pada kurangnya internalisasi nilai sosial dan moral dalam proses pendidikan. Pendidikan IPS seharusnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan sosial, tetapi harus menjadi wadah untuk pembentukan karakter, kesadaran sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara global. Dalam konteks ini, IPS berperan penting untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, empati, keadilan, dan gotong royong melalui pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual. Solusinya, pembelajaran IPS di era digital harus bertransformasi menjadi pembelajaran yang reflektif, partisipatif, dan humanistik.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 sangatlah penting karena keberhasilan individu tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga oleh kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, berempati, dan beradaptasi dalam lingkungan sosial yang kompleks. Dalam konteks era 4.0, kemajuan teknologi seperti kecerdasan buatan, internet of things, dan otomatisasi menyebabkan banyak aspek kehidupan beralih dari interaksi langsung ke interaksi virtual. Kondisi ini berpotensi menurunkan kemampuan sosial manusia jika tidak diimbangi dengan pembelajaran yang menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan. Oleh karena itu, sekolah tidak cukup hanya mengajarkan literasi digital dan kemampuan akademik, tetapi juga harus menanamkan literasi sosial dan emosional agar peserta didik mampu membangun hubungan yang sehat, menghargai perbedaan, serta bekerja sama secara produktif dalam dunia kerja dan kehidupan masyarakat yang multikultural.

Di tengah kemajuan digital, sekolah perlu mengemas pembelajaran yang kontekstual, kolaboratif, dan berbasis pengalaman nyata, seperti melalui Project-Based Learning, Collaborative Learning, dan Service Learning, agar peserta didik dapat belajar bersosialisasi secara bermakna. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya menghasilkan generasi yang cerdas secara intelektual dan digital, tetapi juga berkarakter sosial, peduli, dan siap menghadapi perubahan global secara bijaksana dan humanis.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina fatia Sari
NPM : 2523031004

perkembangan konsep dasar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) menunjukkan perubahan yang sangat dinamis seiring dengan perkembangan ilmu sosial, kebutuhan pendidikan, dan perubahan masyarakat global. Pada awalnya, IPS lahir dari konsep Social Studies di Amerika Serikat sebagai upaya integrasi berbagai disiplin ilmu sosial untuk membentuk kompetensi kewarganegaraan yakni kemampuan individu untuk berpikir kritis, memahami realitas sosial, serta berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Konsep ini kemudian diadaptasi di Indonesia sejak tahun 1970-an dengan tujuan utama mempersiapkan peserta didik agar menjadi warga negara yang berpengetahuan, bernilai, dan bertanggung jawab sosial.
Dalam konteks pendidikan Indonesia, IPS mengalami perkembangan dari sekadar mata pelajaran yang menyampaikan fakta dan konsep sosial menjadi pendidikan yang membentuk karakter dan kesadaran sosial peserta didik. Menurut para ahli seperti Sapriya (2017) dan Somantri (2001), IPS kini dipahami sebagai bidang pendidikan yang menekankan integrasi antara pengetahuan, keterampilan, nilai, dan tindakan sosial. Artinya, IPS tidak hanya mengajarkan apa yang diketahui tentang masyarakat, tetapi juga bagaimana bersikap dan bertindak secara etis dalam kehidupan sosial yang nyata.
Lebih jauh, di era abad ke-21, IPS berkembang menjadi pendidikan yang berorientasi pada pembelajaran reflektif, kontekstual, dan kolaboratif, yang bertujuan menyiapkan peserta didik agar mampu menghadapi kompleksitas masalah sosial modern seperti globalisasi, perubahan iklim, ketimpangan sosial, serta kemajuan teknologi digital. Oleh karena itu, pembelajaran IPS kini tidak cukup berbasis hafalan, melainkan harus mengembangkan literasi sosial, literasi digital, kemampuan berpikir kritis, kreatif, empatik, dan partisipatif. Dengan demikian, secara keseluruhan dapat disimpulkan bahwa konsep dasar IPS telah berevolusi dari pendekatan disipliner menuju pendekatan interdisipliner dan transformatif. IPS tidak lagi hanya berfungsi untuk mentransfer pengetahuan sosial, tetapi juga sebagai sarana membangun kesadaran kemanusiaan, tanggung jawab kewarganegaraan, serta kemampuan adaptif terhadap perubahan sosial global. Pendidikan IPS yang modern dan relevan adalah pendidikan yang mampu menumbuhkan peserta didik sebagai warga negara yang cerdas, peduli, kritis, dan berkarakter sosial kuat, sehingga mereka dapat berperan aktif dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang adil, demokratis, dan berkeadaban di masa depan.

Sapriya. (2017). Pendidikan IPS: Konsep dan Pembelajaran. Bandung: Remaja Rosdakarya.
Somantri, N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: Remaja Rosdakarya.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh amaradina fatia sari -
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Menyiapkan pendidik profesional di bidang Pendidikan IPS saat ini merupakan tantangan strategis yang sangat penting, mengingat dinamika sosial, teknologi, dan budaya yang terus berubah di era globalisasi dan digitalisasi. Seorang pendidik IPS masa kini tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus memiliki kompetensi pedagogik, sosial, profesional, dan kepribadian yang relevan dengan kebutuhan abad ke-21. Oleh karena itu, upaya menyiapkan pendidik profesional di bidang IPS harus dilakukan secara menyeluruh, terencana, dan berorientasi pada masa depan.
Untuk itu, pengembangan profesional pendidik perlu diarahkan pada peningkatan kompetensi pedagogik, digital, reflektif, dan sosial emosional, agar mampu merancang pembelajaran yang relevan dengan tantangan abad ke-21. Dengan dukungan sistem pendidikan yang mendorong pelatihan berkelanjutan, kolaborasi, dan riset inovatif, pendidik IPS dapat berperan sebagai agen perubahan sosial yang membentuk generasi berkarakter, kritis, dan adaptif terhadap perkembangan zaman.