Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004
Menurut saya, mudah terdegradasinya nilai-nilai sosial pada generasi muda saat ini disebabkan oleh perubahan besar dalam pola interaksi sosial akibat kemajuan teknologi digital dan globalisasi yang begitu cepat. Generasi muda hidup di era di mana teknologi menghadirkan kemudahan, kecepatan, dan keterhubungan tanpa batas, namun di sisi lain, menggeser nilai-nilai kemanusiaan dan sosial seperti empati, kepedulian, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap sesama. Media sosial, misalnya, yang awalnya dimaksudkan untuk mempererat hubungan manusia, sering justru menjadi ruang yang menumbuhkan individualisme, hedonisme, cyberbullying, dan degradasi moral akibat kurangnya literasi digital dan kontrol diri.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa fenomena ini tidak bisa hanya disalahkan pada teknologi, tetapi juga pada kurangnya internalisasi nilai sosial dan moral dalam proses pendidikan. Pendidikan IPS seharusnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan sosial, tetapi harus menjadi wadah untuk pembentukan karakter, kesadaran sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara global. Dalam konteks ini, IPS berperan penting untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, empati, keadilan, dan gotong royong melalui pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual. Solusinya, pembelajaran IPS di era digital harus bertransformasi menjadi pembelajaran yang reflektif, partisipatif, dan humanistik.
NPM : 2523031004
Menurut saya, mudah terdegradasinya nilai-nilai sosial pada generasi muda saat ini disebabkan oleh perubahan besar dalam pola interaksi sosial akibat kemajuan teknologi digital dan globalisasi yang begitu cepat. Generasi muda hidup di era di mana teknologi menghadirkan kemudahan, kecepatan, dan keterhubungan tanpa batas, namun di sisi lain, menggeser nilai-nilai kemanusiaan dan sosial seperti empati, kepedulian, tanggung jawab, dan rasa hormat terhadap sesama. Media sosial, misalnya, yang awalnya dimaksudkan untuk mempererat hubungan manusia, sering justru menjadi ruang yang menumbuhkan individualisme, hedonisme, cyberbullying, dan degradasi moral akibat kurangnya literasi digital dan kontrol diri.
Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, saya memandang bahwa fenomena ini tidak bisa hanya disalahkan pada teknologi, tetapi juga pada kurangnya internalisasi nilai sosial dan moral dalam proses pendidikan. Pendidikan IPS seharusnya tidak berhenti pada transfer pengetahuan sosial, tetapi harus menjadi wadah untuk pembentukan karakter, kesadaran sosial, dan tanggung jawab sebagai warga negara global. Dalam konteks ini, IPS berperan penting untuk menanamkan nilai-nilai kemanusiaan seperti toleransi, empati, keadilan, dan gotong royong melalui pengalaman belajar yang nyata dan kontekstual. Solusinya, pembelajaran IPS di era digital harus bertransformasi menjadi pembelajaran yang reflektif, partisipatif, dan humanistik.