གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ amaradina fatia sari

PKDIPS2025 -> Summary

amaradina fatia sari གིས-
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Fenomena ekonomi dan bisnis pada era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 menunjukkan adanya transformasi besar dalam cara manusia bekerja, berbisnis, dan memenuhi kebutuhan hidup. Jika Industri 4.0 menekankan digitalisasi dan otomatisasi proses ekonomi, maka Society 5.0 mengarahkan teknologi untuk menjadi solusi yang meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan sosial. Kedua era tersebut membuka peluang baru terutama bagi UMKM dan generasi muda namun juga membawa tantangan seperti ketimpangan digital, isu etika bisnis, dan perubahan kompetensi kerja. Dalam konteks pembelajaran IPS, tema ini menjadi sangat penting untuk membentuk peserta didik yang cerdas secara ekonomi, kritis terhadap dampak teknologi, serta mampu beradaptasi dengan dinamika sosial-ekonomi yang terus berkembang.

PKDIPS2025 -> Diskusi

amaradina fatia sari གིས-
Nama : Amaradina Fatia Sari
NPM : 2523031004

Perkembangan IPTEKS tidak pernah bisa dilepaskan dari sektor ekonomi karena teknologi dan inovasi menjadi mesin utama produktivitas, kompetisi, dan transformasi cara produksi serta konsumsi di seluruh dunia. Digitalisasi memungkinkan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) memperluas jangkauan pasar, mempercepat proses transaksi, serta menurunkan biaya operasional, aspek ini terlihat ketika banyak UMKM di Indonesia memanfaatkan e-commerce dan layanan digital untuk meningkatkan daya saingnya. Teknologi seperti platfom daring, sistem pembayaran digital, dan layanan cloud memungkinkan UKM bersaing di level global, melintasi batas geografis, sesuatu yang dulu hanya mungkin bagi perusahaan besar.

Namun, transformasi ini juga menuntut manusia untuk adaptif, bukan sekadar memiliki akses teknologi, tetapi juga menguasai keterampilan baru: literasi digital, manajemen data, pemasaran online, serta kemampuan merancang model bisnis kreatif dan responsif terhadap dinamika pasar. Sebab menurut penelitian, perusahaan kecil dan menengah yang berhasil melalui digitalisasi menunjukkan peningkatan produktivitas, efisiensi, dan daya saing yang nyata. Dengan demikian, adaptasi manusia melalui pembelajaran, peningkatan skill, dan orientasi kewirausahaan menjadi elemen penting agar individu maupun kelompok usaha tidak tersingkir dalam ekonomi digital yang sangat dinamis.

Dalam konteks pendidikan, terutama dalam kerangka pembelajaran IPS, penting untuk merancang kurikulum dan proses pembelajaran yang mencerminkan kondisi ekonomi digital global ini. IPS tidak lagi cukup hanya mengajarkan teori klasik tentang masyarakat, ekonomi, dan politik: ia perlu mengintegrasikan literasi digital, pemahaman ekonomi digital, dan kewirausahaan sosial-ekonomi agar peserta didik mampu memahami perubahan mikro (misalnya UKM lokal go-digital) maupun makro (struktur ekonomi nasional/global, global value chain, kebijakan ekonomi digital). Pendidikan seperti ini akan mempersiapkan generasi muda yang tidak hanya kritis terhadap fenomena sosial-ekonomi, tetapi juga mampu beradaptasi, berpikir kreatif, dan bertindak sebagai agen perubahan ekonomi. Dalam jangka panjang, model pembelajaran IPS semacam itu membantu membentuk warga negara yang produktif, adaptif terhadap teknologi, serta berdaya saing sekaligus menjaga nilai-nilai sosial, demokrasi, dan keadilan dalam transformasi ekonomi.

STIS Ummul Ayman. (2022). Jurnal GoSeJES: Peran UMKM dalam Ekonomi Digital.
BRIN. (2023). Persaingan di Era Globalisasi dan Ekonomi Digital. Badan Riset dan Inovasi Nasional.
World Economic Forum. (2023). Empowering MSMEs through digital connectivity