གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Fransiska Anggi Romauli Br. Sibarani 2551011020

Case and Problem Based 

1. Fransiska Anggi Romauli Br. Sibarani 2551101020

2. Rani Umi'ah 2511011029

3. Kalila Aliffia Arieza 2511011021

4. April Liana Ayu Elita 2511011058

5. Alfarhan Taqiyuddin Khalid 2511011122

6. ⁠Christian Siswoyo 2551011043

7. ⁠Muhamad Rafi Kurnia Fitra 2511011105

8. ⁠Bintang Satriyani Putri 2551011022

9. ⁠Kgs.Fahri Hidayatullah 2511011045


1. Pengaruh Bisnis Internasional terhadap MSDM
Pertumbuhan bisnis internasional meningkatkan kompleksitas MSDM karena HR harus mengelola tenaga kerja yang multikultural (karyawan asing dan lokal), mengurus administrasi lintas negara (visa dan pajak), serta menyeimbangkan antara standardisasi kebijakan kantor pusat dengan kepatuhan terhadap regulasi ketenagakerjaan di negara tujuan.
2. Faktor Paling Berpengaruh di Pasar Internasional
Faktor utamanya adalah budaya (memengaruhi gaya komunikasi dan kepemimpinan), ekonomi (memengaruhi standar upah dan biaya hidup), hukum/politik (memiliki aturan legal terkait undang-undang ketenagakerjaan dan serikat pekerja), serta sistem pendidikan (menentukan kualitas dan ketersediaan talenta lokal).
3. Pengaruh Perbedaan Antarnegara terhadap Perencanaan HR
Perbedaan ini memaksa HR menyesuaikan strategi pengisian posisi kunci—apakah menggunakan ekspatriat (etnosentris), warga lokal (polisentris), atau talenta global terbaik (geosentris)—serta menuntut perencanaan yang fleksibel dalam meramal pasokan tenaga kerja guna mengantisipasi risiko perubahan regulasi imigrasi dan politik lokal.
4. Cara Memilih dan Melatih SDM Global
Perusahaan memilih SDM berdasarkan kompetensi teknis, kecakapan bahasa, adaptasi budaya, dan kesiapan keluarga kandidat; kemudian melatih mereka melalui program pra-keberangkatan (pre-departure training) yang mencakup pengenalan budaya setempat, pelatihan bahasa, dan orientasi lapangan untuk mencegah culture shock.
5. Tantangan Manajemen Kinerja dan Kompensasi Karyawan Asing
Tantangan kinerja terletak pada jarak, perbedaan zona waktu, dan potensi bias penilaian dari kantor pusat yang kurang paham situasi lokal; sedangkan tantangan kompensasi adalah rumitnya menghitung tunjangan ekspatriat agar daya belinya tetap stabil (balance sheet approach) tanpa menimbulkan kecemburuan sosial bagi karyawan lokal.
6. Persiapan Tugas Internasional dan Kepulangan (Repatriasi)
Persiapan tugas dilakukan dengan memberikan orientasi target bisnis serta dukungan logistik pindahan; sementara untuk kepulangan (repatriasi), perusahaan harus menyiapkan jaminan jalur karier yang jelas di kantor pusat, konseling penyesuaian kembali, dan wadah untuk membagikan pengalaman global mereka kepada organisasi.
1. Peran serikat pekerja dan hubungan perburuhan dalam organisasi
Serikat pekerja berfungsi sebagai wadah bagi pekerja untuk menyampaikan pendapat, memperjuangkan hak, dan membantu melindungi kesejahteraan karyawan. Sementara itu, hubungan perburuhan berperan menjaga kerja sama antara pekerja dan perusahaan agar suasana kerja tetap baik dan konflik dapat diselesaikan dengan cara yang tepat.
2. Tujuan hubungan perburuhan dari perspektif manajemen, serikat pekerja, dan masyarakat
Bagi manajemen, hubungan perburuhan bertujuan menjaga kelancaran kerja dan meningkatkan produktivitas perusahaan. Dari sisi serikat pekerja, tujuannya untuk memperoleh hak dan perlakuan yang adil bagi pekerja. Sedangkan bagi masyarakat, hubungan perburuhan yang baik dapat menciptakan kondisi kerja yang aman dan membantu menjaga stabilitas sosial maupun ekonomi.
3. Hukum dan regulasi yang mempengaruhi hubungan perburuhan
Hubungan perburuhan dipengaruhi oleh aturan ketenagakerjaan yang dibuat pemerintah, seperti aturan tentang upah, jam kerja, keselamatan kerja, dan hak pekerja untuk berserikat. Aturan tersebut dibuat agar hubungan antara perusahaan dan pekerja berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
4. Proses organisasi serikat pekerja
Pembentukan serikat pekerja biasanya dimulai dari kesamaan kepentingan para pekerja. Setelah itu dibentuk kepengurusan, menentukan tujuan organisasi, lalu melakukan pendaftaran secara resmi. Setelah terbentuk, serikat pekerja menjalankan kegiatan seperti menyampaikan aspirasi pekerja dan melakukan kerja sama dengan pihak perusahaan.
5. Proses negosiasi kontrak antara manajemen dan serikat pekerja
Negosiasi dilakukan melalui diskusi antara pihak perusahaan dan serikat pekerja mengenai hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaan, seperti gaji, tunjangan, atau jam kerja. Kedua pihak berusaha mencari kesepakatan yang dianggap menguntungkan dan dapat diterima bersama.
6. Proses administrasi kontrak kerja
Administrasi kontrak kerja meliputi penyusunan dan penyimpanan dokumen perjanjian kerja, pengecekan isi kontrak, serta memastikan hak dan kewajiban kedua pihak berjalan sesuai kesepakatan. Proses ini penting agar tidak terjadi kesalahpahaman di kemudian hari.
7. Pendekatan baru dalam hubungan perburuhan dan manajemen
Saat ini hubungan perburuhan lebih mengutamakan komunikasi dan kerja sama dibanding konflik. Banyak perusahaan mulai melibatkan pekerja dalam pengambilan keputusan serta menggunakan teknologi untuk mempermudah komunikasi dan pengelolaan pekerjaan.
Nama: Fransiska Anggi Romauli Br. Sibarani
NPM: 2551011020
1. Asas keadilan dalam penetapan gaji berarti perusahaan harus memberikan upah yang sesuai dengan tanggung jawab, kemampuan, dan kontribusi karyawan. Keadilan internal dilihat dari perbandingan gaji antarjabatan di dalam perusahaan, sedangkan keadilan eksternal dilihat dari kesesuaian gaji dengan standar pasar atau perusahaan lain.

2. Kepatuhan hukum dalam penetapan struktur gaji dilakukan dengan mengikuti peraturan ketenagakerjaan, seperti upah minimum, jam kerja, tunjangan, dan hak karyawan. Perusahaan juga harus memastikan tidak ada diskriminasi dalam pemberian gaji agar sesuai dengan hukum yang berlaku.

3. Struktur gaji yang efektif dibuat dengan mempertimbangkan nilai jabatan, kemampuan perusahaan, kinerja karyawan, dan kondisi pasar kerja. Struktur gaji juga harus jelas, transparan, dan mampu memotivasi karyawan agar produktivitas meningkat.
Nama: Fransiska Anggi Romauli Br. Sibarani 
Npm:2551011020
1. Pengembangan memiliki hubungan yang erat dengan pelatihan dan karier karena ketiganya saling mendukung dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pelatihan lebih berfokus pada peningkatan kemampuan teknis untuk kebutuhan pekerjaan saat ini, sedangkan pengembangan bertujuan mempersiapkan karyawan menghadapi tantangan dan posisi yang lebih besar di masa depan. Oleh karena itu, pengembangan tidak hanya membantu organisasi memperoleh tenaga kerja yang kompeten, tetapi juga membantu individu membangun arah karier yang lebih jelas dan berkelanjutan.

2. Organisasi dapat mengidentifikasi metode pengembangan karyawan dengan melihat kebutuhan perusahaan, perubahan lingkungan kerja, serta kompetensi yang dibutuhkan di masa depan. Metode yang digunakan biasanya tidak hanya berupa pelatihan formal, tetapi juga rotasi jabatan, mentoring, coaching, project assignment, hingga pembelajaran digital. Pemilihan metode yang tepat penting karena setiap karyawan memiliki gaya belajar, kemampuan, dan kebutuhan pengembangan yang berbeda.

3. Organisasi menggunakan asesmen tipe kepribadian, perilaku kerja, dan kinerja pekerjaan sebagai dasar untuk memahami potensi serta karakter setiap karyawan. Dengan asesmen tersebut, perusahaan dapat menentukan apakah seseorang lebih cocok menjadi pemimpin, bekerja dalam tim, atau menangani tugas tertentu. Selain itu, hasil penilaian membantu organisasi menyusun program pengembangan yang lebih efektif dan tidak hanya berdasarkan asumsi atau senioritas semata.

4. Pengalaman kerja menjadi salah satu cara paling efektif dalam mengembangkan keterampilan karena karyawan belajar langsung dari situasi nyata. Melalui pengalaman, seseorang tidak hanya memperoleh kemampuan teknis, tetapi juga kemampuan berpikir kritis, komunikasi, adaptasi, dan penyelesaian masalah. Bahkan, tantangan dan kesalahan dalam pekerjaan sering kali memberikan pembelajaran yang lebih mendalam dibandingkan teori atau pelatihan formal.

5. Program mentoring yang sukses harus dibangun atas dasar komunikasi yang terbuka, kepercayaan, serta tujuan yang jelas antara mentor dan mentee. Mentor tidak hanya berperan sebagai pemberi arahan, tetapi juga sebagai pendukung dalam pengembangan karier dan pola pikir mentee. Selain itu, organisasi juga perlu memastikan bahwa mentoring dilakukan secara konsisten dan memberikan manfaat nyata, bukan sekadar formalitas program perusahaan.

6. Manajer dan rekan kerja dapat mengembangkan karyawan melalui coaching dengan memberikan arahan, evaluasi, dan umpan balik secara langsung terhadap pekerjaan yang dilakukan. Coaching yang efektif bukan hanya memberi kritik, tetapi juga membantu karyawan menemukan solusi dan meningkatkan kepercayaan dirinya. Dalam praktiknya, hubungan kerja yang suportif sering kali lebih berpengaruh terhadap perkembangan karyawan dibandingkan aturan perusahaan yang terlalu kaku.

7. Proses manajemen karier dimulai dari penilaian diri terhadap kemampuan, minat, dan tujuan pribadi. Setelah itu, individu menetapkan target karier, menyusun rencana pengembangan, mengikuti pelatihan atau pengalaman yang relevan, lalu mengevaluasi perkembangan yang telah dicapai. Manajemen karier penting karena tanpa perencanaan yang jelas, seseorang cenderung sulit berkembang dan hanya bekerja secara monoton tanpa arah jangka panjang.

8. Organisasi menghadapi tantangan seperti “glass ceiling,” perencanaan suksesi, dan manajer disfungsional dengan membangun sistem kerja yang lebih adil dan transparan. Glass ceiling dapat diatasi dengan memberikan kesempatan promosi berdasarkan kompetensi, bukan gender atau kedekatan tertentu. Dalam perencanaan suksesi, perusahaan perlu mempersiapkan calon pemimpin sejak dini agar regenerasi berjalan baik. Sementara itu, manajer disfungsional perlu dievaluasi dan dikembangkan karena gaya kepemimpinan yang buruk dapat menurunkan motivasi, produktivitas, bahkan loyalitas karyawan.