Ada tensi atau potensi konflik antara fungsi sastra sebagai 'senjata' untuk perubahan sosial dan sebagai 'pelarian' hiburan, tetapi keduanya dapat dipandang sebagai fungsi yang saling melengkapi dalam karya sastra. Sastra bukan hanya media hiburan yang menghidupkan imajinasi dan memicu emosi, tetapi juga alat yang efektif untuk mengkritik sosial, membangkitkan kesadaran, dan mendokumentasikan realitas sosial. Di Indonesia, sastra sering menjadi cermin masyarakat yang kaya budaya dan tradisi, mengangkat isu-isu seperti ketidakadilan sosial, perjuangan kelas, hingga perubahan nilai budaya, sekaligus menyediakan ruang refleksi dan pelarian dari kenyataan hidup yang berat.
Contoh dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang mengangkat tema berat seperti rezim Orde Baru dan penghilangan aktivis, penulis berhasil menyeimbangkan fungsi didaktis dan hiburan dengan menyajikan konflik sosial dalam narasi yang penuh emosi dan estetika. Pendekatan penceritaan yang hidup dan karakter yang kuat membuat pesan sosial tersampaikan tanpa terkesan menggurui. Ini memungkinkan pembaca terhanyut dalam cerita sekaligus merenungkan isu serius di baliknya.
Penulis dapat menyeimbangkan kedua fungsi ini dengan:
Mengemas cerita dengan gaya bahasa dan narasi yang menarik dan estetis sehingga memberikan hiburan yang bermakna.
Menggunakan simbolisme dan karakter yang memunculkan empati sekaligus kritik sosial yang dalam.
Memberikan ruang bagi pembaca merasakan pengalaman tokoh, bukan hanya menyampaikan fakta atau ide, sehingga pesan sosial tidak kehilangan kedalaman.
Keseimbangan ini penting agar karya sastra tetap memiliki kualitas artistik dan daya tarik yang membuat pembaca mau membuka diri terhadap pesan sosial. Tanpa keseimbangan, karya bisa terlalu berat dan sulit dinikmati, atau sebaliknya tanpa makna mendalam jika hanya sekadar hiburan. Keharmonisan fungsi hiburan dan perubahan sosial dalam sastra memperkaya pengalaman membaca dan memperkuat peran sastra sebagai medium transformasi sosial dan estetika.
Singkatnya, konflik fungsi sastra hanya terjadi jika salah satu fungsi terlalu dominan. Penulis yang baik memadukan hiburan dan pesan sosial sehingga karya menjadi indah sekaligus bermakna, menggugah sekaligus menghibur.
Contoh dari novel Laut Bercerita karya Leila S. Chudori yang mengangkat tema berat seperti rezim Orde Baru dan penghilangan aktivis, penulis berhasil menyeimbangkan fungsi didaktis dan hiburan dengan menyajikan konflik sosial dalam narasi yang penuh emosi dan estetika. Pendekatan penceritaan yang hidup dan karakter yang kuat membuat pesan sosial tersampaikan tanpa terkesan menggurui. Ini memungkinkan pembaca terhanyut dalam cerita sekaligus merenungkan isu serius di baliknya.
Penulis dapat menyeimbangkan kedua fungsi ini dengan:
Mengemas cerita dengan gaya bahasa dan narasi yang menarik dan estetis sehingga memberikan hiburan yang bermakna.
Menggunakan simbolisme dan karakter yang memunculkan empati sekaligus kritik sosial yang dalam.
Memberikan ruang bagi pembaca merasakan pengalaman tokoh, bukan hanya menyampaikan fakta atau ide, sehingga pesan sosial tidak kehilangan kedalaman.
Keseimbangan ini penting agar karya sastra tetap memiliki kualitas artistik dan daya tarik yang membuat pembaca mau membuka diri terhadap pesan sosial. Tanpa keseimbangan, karya bisa terlalu berat dan sulit dinikmati, atau sebaliknya tanpa makna mendalam jika hanya sekadar hiburan. Keharmonisan fungsi hiburan dan perubahan sosial dalam sastra memperkaya pengalaman membaca dan memperkuat peran sastra sebagai medium transformasi sosial dan estetika.
Singkatnya, konflik fungsi sastra hanya terjadi jika salah satu fungsi terlalu dominan. Penulis yang baik memadukan hiburan dan pesan sosial sehingga karya menjadi indah sekaligus bermakna, menggugah sekaligus menghibur.