Nama : Ahmad Ridwan Syuhada
NPM :2523031008
Izin memberikan pandangan mengenai teori belajar yang mendasari desain dan model pembelajaran
Teori belajar menjadi landasan filosofis dalam merancang pembelajaran yang efektif. Pendekatan behavioristik menekankan stimulus–respons dan penguatan untuk membentuk perilaku, masih berguna bagi keterampilan dasar meski terbatas dalam mengembangkan berpikir tingkat tinggi.
Teori kognitif menyoroti proses mental dan struktur kognitif individu. Konsep scaffolding Vygotsky serta teori beban kognitif Sweller memberi panduan agar desain pembelajaran sesuai kapasitas dan tahap perkembangan peserta didik.
Konstruktivisme melihat peserta didik sebagai pembangun aktif pengetahuan, sehingga pembelajaran dirancang berbasis eksplorasi, diskusi, dan refleksi. Model problem-based learning dan inquiry-based learning menjadi contoh penerapan dengan guru sebagai fasilitator.
Dalam era digital, teori konektivisme menekankan peran jaringan dan koneksi dalam pembelajaran modern, mendorong integrasi teknologi sebagai sarana kolaborasi pengetahuan, bukan sekadar alat bantu.
Teori humanistik memberikan dimensi yang berbeda dengan menempatkan aspek emosional, motivasi, dan aktualisasi diri sebagai pusat pembelajaran. Pendekatan ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif secara psikologis, dimana peserta didik merasa dihargai, aman, dan termotivasi untuk mengeksplorasi potensi dirinya. Carl Rogers dan Abraham Maslow menekankan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika kebutuhan dasar peserta didik terpenuhi dan mereka merasa bebas untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi
NPM :2523031008
Izin memberikan pandangan mengenai teori belajar yang mendasari desain dan model pembelajaran
Teori belajar menjadi landasan filosofis dalam merancang pembelajaran yang efektif. Pendekatan behavioristik menekankan stimulus–respons dan penguatan untuk membentuk perilaku, masih berguna bagi keterampilan dasar meski terbatas dalam mengembangkan berpikir tingkat tinggi.
Teori kognitif menyoroti proses mental dan struktur kognitif individu. Konsep scaffolding Vygotsky serta teori beban kognitif Sweller memberi panduan agar desain pembelajaran sesuai kapasitas dan tahap perkembangan peserta didik.
Konstruktivisme melihat peserta didik sebagai pembangun aktif pengetahuan, sehingga pembelajaran dirancang berbasis eksplorasi, diskusi, dan refleksi. Model problem-based learning dan inquiry-based learning menjadi contoh penerapan dengan guru sebagai fasilitator.
Dalam era digital, teori konektivisme menekankan peran jaringan dan koneksi dalam pembelajaran modern, mendorong integrasi teknologi sebagai sarana kolaborasi pengetahuan, bukan sekadar alat bantu.
Teori humanistik memberikan dimensi yang berbeda dengan menempatkan aspek emosional, motivasi, dan aktualisasi diri sebagai pusat pembelajaran. Pendekatan ini menekankan pentingnya menciptakan lingkungan belajar yang kondusif secara psikologis, dimana peserta didik merasa dihargai, aman, dan termotivasi untuk mengeksplorasi potensi dirinya. Carl Rogers dan Abraham Maslow menekankan bahwa pembelajaran efektif terjadi ketika kebutuhan dasar peserta didik terpenuhi dan mereka merasa bebas untuk mengekspresikan diri tanpa takut dihakimi