གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Ahmad Ridwan Syuhada

PKDIPS2025 -> Diskusi

Ahmad Ridwan Syuhada གིས-
Ahmad Ridwan Syuhada
2523031008

IPS bukanlah konsep baru dan telah mengalami evolusi panjang sejak awal abad ke-20. Konsep Social Studies pertama muncul di Amerika Serikat sebagai respons terhadap kompleksitas kehidupan modern akibat industrialisasi. Sebelumnya, mata pelajaran sosial diajarkan terpisah dan berorientasi hafalan, namun pada 1916 National Education Association merekomendasikan integrasi berbagai disiplin ilmu sosial untuk mempersiapkan warga negara yang cerdas dan kritis.
Di Indonesia, transformasi terjadi lebih lambat. Pada masa kolonial, mata pelajaran sosial dipisahkan secara rigid dengan fokus yang menguntungkan penjajah. Setelah kemerdekaan hingga 1975, mata pelajaran masih diajarkan terpisah sebagai Ilmu Bumi, Ilmu Sejarah, Ilmu Ekonomi, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Titik balik terjadi pada 1975 ketika pemerintah resmi memperkenalkan IPS sebagai mata pelajaran terintegrasi hasil studi para ahli pendidikan Indonesia yang mengkaji Social Studies dari berbagai negara.

Landasan filosofis IPS bertumpu pada tiga aspek fundamental. Secara ontologis, IPS memandang realitas sosial sebagai kenyataan yang kompleks dan dinamis melibatkan interaksi individu, kelompok, dan lingkungan dalam konteks ruang dan waktu. Dari perspektif epistemologis, IPS menggunakan pendekatan multidisipliner dalam memahami realitas sosial melalui sintesis berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi. Secara aksiologis, IPS berorientasi pada pengembangan warga negara yang memiliki kesadaran sosial, keterampilan sosial, dan komitmen terhadap nilai-nilai demokratis. Berbagai disiplin ilmu seperti geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan psikologi sosial memberikan kontribusi unik dalam membentuk pemahaman holistik tentang fenomena sosial.
IPS dalam perspektif komprehensif dan multidimensi memiliki karakteristik sebagai synthetic discipline yang mengintegrasikan berbagai perspektif untuk memahami fenomena sosial secara holistik. Perkembangannya menunjukkan evolusi dari paradigma multidisipliner hingga transdisipliner transformatif, dengan lima tradisi utama: transmisi kewarganegaraan, social sciences, reflective inquiry, kritik sosial, dan pengembangan pribadi. Pendekatan ini memungkinkan IPS mengkaji masalah sosial dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan solusi yang komprehensif, seperti dalam memahami masalah kemiskinan yang melibatkan dimensi ekonomi, sosiologi, geografi, sejarah, antropologi, dan psikologi sosial secara bersamaan.
Evolusi konsep IPS terus berlanjut dari paradigma multidisipliner pada awal pengembangannya hingga paradigma transdisipliner transformatif pada era Kurikulum 2013 dan saat ini. Perkembangan ini tidak hanya mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sosial, tetapi juga menghubungkannya dengan disiplin ilmu lain seperti sains, teknologi, seni, dan spiritualitas untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, revolusi digital, globalisasi ekonomi, dan konflik multikultural. Era globalisasi dan revolusi digital telah menghadirkan tantangan baru yang menuntut siswa tidak hanya memahami konteks lokal dan nasional, tetapi juga konteks global dengan isu-isu kontemporer yang semakin kompleks dan saling terkait.

PKDIPS2025 -> Diskusi

Ahmad Ridwan Syuhada གིས-
AHMAD RIDWAN SYUHADA
2523031008

Menurut saya, untuk menyiapkan pendidik profesional di bidang IPS yang adaptif terhadap perkembangan masa depan, diperlukan transformasi menyeluruh dalam pendekatan pembinaan guru. Berdasarkan UU 14/2005 tentang Guru dan Dosen, guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikat pendidik, serta kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional dengan kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial dan profesional PPG bagi Guru. Namun standar ini perlu diperluas dengan mengintegrasikan literasi digital dan kemampuan pedagogik abad 21.
Pengembangan strategi pembelajaran yang perlu dilakukan mencakup program pelatihan komprehensif yang menggabungkan teknologi dengan metode pembelajaran kontekstual. Guru profesional harus menjadi teladan dalam menjalankan proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dan mengembangkan lingkungan belajar untuk mewujudkan profil pelajar Pancasila. Ini berarti pendidik IPS masa depan harus mahir dalam menggunakan platform digital untuk menganalisis fenomena sosial kontemporer, mampu mengajarkan literasi media untuk melawan hoaks dan misinformasi, serta terampil dalam mengembangkan pembelajaran yang mengintegrasikan kearifan lokal dengan perspektif global.

DMP2025 -> Brainstorming

Ahmad Ridwan Syuhada གིས-
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

Izin menyampaikan pendapat mengenai perspektif pembelajaran sukses. Menurut saya, pembelajaran sukses adalah ketika seseorang benar-benar merasakan manfaat dari proses belajar itu sendiri. Nilai atau angka hanyalah salah satu cara mengukur, tetapi lebih penting jika hasil belajar bisa mengubah cara berpikir, menambah keterampilan, dan meningkatkan rasa percaya diri. Pandangan ini sejalan dengan teori lifelong learning yang menekankan bahwa belajar tidak berhenti di ruang kelas, melainkan berlangsung terus sepanjang kehidupan. Dengan begitu, sukses belajar berarti mampu membawa ilmu menjadi bekal menghadapi berbagai situasi nyata, bukan hanya sekadar hafalan.

Selain itu, keberhasilan belajar juga tidak lepas dari peran guru. Menurut teori konstruktivisme Vygotsky, guru berfungsi sebagai scaffolding yang membantu siswa membangun pengetahuan baru melalui bimbingan dan interaksi. Guru yang mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan siswa akan membuat proses pembelajaran lebih bermakna. Di sisi lain, teori self-regulated learning menegaskan pentingnya mendorong siswa agar mandiri dalam mengatur strategi belajarnya. Dengan kombinasi bimbingan guru dan kemandirian siswa, maka pembelajaran bisa benar-benar sukses: tidak hanya melahirkan prestasi akademik, tetapi juga karakter, kemandirian, dan kemampuan beradaptasi dalam kehidupan nyata.

DMP2025 -> Summary Video

Ahmad Ridwan Syuhada གིས-
Nama : Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

Pembelajaran sebagai sistem adalah proses terstruktur yang menghubungkan berbagai komponen untuk mencapai tujuan pendidikan. Komponen utama meliputi tujuan pembelajaran, pendidik, peserta didik, serta media, metode, materi, strategi, dan evaluasi. Pendidik berperan mengembangkan potensi peserta didik melalui desain pembelajaran, sementara peserta didik menjadi subjek aktif dalam proses belajar.
Interaksi antar komponen menghasilkan output berupa hasil belajar, perubahan perilaku, dan pencapaian kompetensi. Evaluasi berfungsi sebagai umpan balik agar pembelajaran terus diperbaiki dan disesuaikan dengan kebutuhan serta perkembangan zaman.
Dengan pendekatan sistem, pembelajaran tidak hanya menekankan penyampaian materi, tetapi juga keterpaduan faktor pendukung, sehingga tercipta proses belajar yang efektif, efisien, holistik, dan bermakna bagi peserta didik.