2523031008
IPS bukanlah konsep baru dan telah mengalami evolusi panjang sejak awal abad ke-20. Konsep Social Studies pertama muncul di Amerika Serikat sebagai respons terhadap kompleksitas kehidupan modern akibat industrialisasi. Sebelumnya, mata pelajaran sosial diajarkan terpisah dan berorientasi hafalan, namun pada 1916 National Education Association merekomendasikan integrasi berbagai disiplin ilmu sosial untuk mempersiapkan warga negara yang cerdas dan kritis.
Di Indonesia, transformasi terjadi lebih lambat. Pada masa kolonial, mata pelajaran sosial dipisahkan secara rigid dengan fokus yang menguntungkan penjajah. Setelah kemerdekaan hingga 1975, mata pelajaran masih diajarkan terpisah sebagai Ilmu Bumi, Ilmu Sejarah, Ilmu Ekonomi, dan Pendidikan Kewarganegaraan. Titik balik terjadi pada 1975 ketika pemerintah resmi memperkenalkan IPS sebagai mata pelajaran terintegrasi hasil studi para ahli pendidikan Indonesia yang mengkaji Social Studies dari berbagai negara.
Landasan filosofis IPS bertumpu pada tiga aspek fundamental. Secara ontologis, IPS memandang realitas sosial sebagai kenyataan yang kompleks dan dinamis melibatkan interaksi individu, kelompok, dan lingkungan dalam konteks ruang dan waktu. Dari perspektif epistemologis, IPS menggunakan pendekatan multidisipliner dalam memahami realitas sosial melalui sintesis berbagai disiplin ilmu yang saling melengkapi. Secara aksiologis, IPS berorientasi pada pengembangan warga negara yang memiliki kesadaran sosial, keterampilan sosial, dan komitmen terhadap nilai-nilai demokratis. Berbagai disiplin ilmu seperti geografi, sejarah, sosiologi, antropologi, ekonomi, dan psikologi sosial memberikan kontribusi unik dalam membentuk pemahaman holistik tentang fenomena sosial.
IPS dalam perspektif komprehensif dan multidimensi memiliki karakteristik sebagai synthetic discipline yang mengintegrasikan berbagai perspektif untuk memahami fenomena sosial secara holistik. Perkembangannya menunjukkan evolusi dari paradigma multidisipliner hingga transdisipliner transformatif, dengan lima tradisi utama: transmisi kewarganegaraan, social sciences, reflective inquiry, kritik sosial, dan pengembangan pribadi. Pendekatan ini memungkinkan IPS mengkaji masalah sosial dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan solusi yang komprehensif, seperti dalam memahami masalah kemiskinan yang melibatkan dimensi ekonomi, sosiologi, geografi, sejarah, antropologi, dan psikologi sosial secara bersamaan.
Evolusi konsep IPS terus berlanjut dari paradigma multidisipliner pada awal pengembangannya hingga paradigma transdisipliner transformatif pada era Kurikulum 2013 dan saat ini. Perkembangan ini tidak hanya mengintegrasikan berbagai disiplin ilmu sosial, tetapi juga menghubungkannya dengan disiplin ilmu lain seperti sains, teknologi, seni, dan spiritualitas untuk menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim, revolusi digital, globalisasi ekonomi, dan konflik multikultural. Era globalisasi dan revolusi digital telah menghadirkan tantangan baru yang menuntut siswa tidak hanya memahami konteks lokal dan nasional, tetapi juga konteks global dengan isu-isu kontemporer yang semakin kompleks dan saling terkait.