Kiriman dibuat oleh Ahmad Ridwan Syuhada

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

Generasi muda saat ini mudah terdegradasi nilai-nilai sosialnya karena beberapa faktor utama yang saling terkait. Pertama, kemajuan teknologi dan media sosial yang sangat pesat membawa dampak negatif seperti paparan konten yang tidak terkontrol, perilaku hedonistik, budaya instan, serta kemudahan akses terhadap hal-hal yang merusak moral. Kedua, interaksi sosial yang tadinya bersifat tatap muka kini banyak digantikan oleh komunikasi daring yang sering kali membuat generasi muda kurang terlatih untuk empati dan berinteraksi secara nyata, memicu individualisme dan rendahnya kepedulian sosial. Ketiga, fenomena cyberbullying, penggunaan bahasa tidak sopan di media sosial, dan tekanan sosial daring berkontribusi pada penurunan sikap moral dan etika. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, pendekatan yang harus dilakukan adalah memperkuat pendidikan karakter melalui integrasi nilai-nilai sosial yang kontekstual dalam kurikulum IPS. Pendidikan IPS harus memberikan ruang bagi siswa untuk mengembangkan kesadaran sosial, keterampilan berpikir kritis, dan tanggung jawab sebagai warga masyarakat. Metode seperti diskusi kelompok, simulasi, dan proyek kolaboratif dapat menumbuhkan empati, kerja sama, dan sikap peduli terhadap lingkungan sosial. Selain itu, pengembangan literasi digital yang mengedukasi siswa dalam penggunaan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab juga krusial untuk membendung dampak negatif teknologi.

Pandangan ini menyikapi kemajuan teknologi yang canggih namun berbanding terbalik dengan moralitas dengan menekankan perlunya pendampingan dan pemberdayaan siswa agar teknologi menjadi alat yang mendukung pertumbuhan karakter, bukan malah merusaknya. Pendidikan harus mampu menanamkan nilai-nilai yang stabil dan relevan dengan konteks sosial masa kini agar generasi muda tidak terjebak dalam degradasi moral walaupun di tengah kemajuan teknologi. Dengan demikian, solusi dari perspektif pendidikan IPS adalah menggabungkan pembelajaran nilai sosial yang kuat dengan literasi teknologi, serta membangun lingkungan belajar yang inklusif dan suportif untuk perkembangan moral yang sehat bagi generasi muda.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008

Menurut saya, urgensi pengembangan keterampilan sosial di era 4.0 sangat tinggi karena era ini ditandai dengan kehidupan berbasis informasi dan teknologi yang cepat berubah, menuntut individu tidak hanya menguasai kemampuan teknis, tetapi juga kecakapan sosial agar dapat beradaptasi, berkomunikasi efektif, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah dalam interaksi sosial yang semakin kompleks dan dinamis. Keterampilan sosial seperti mengenali diri, mengendalikan emosi, empati, berbagi, dan bekerjasama menjadi sangat penting untuk menghadapi masyarakat multikultur dan global yang penuh persaingan dan tantangan. Di dunia pendidikan, hal ini berarti pembelajaran tidak hanya fokus transfer pengetahuan, tetapi juga pembentukan sikap, kecakapan hidup, dan hubungan sosial yang baik dengan lingkungan belajar sehingga siswa mampu menjadi partisipan aktif dan komunikator yang efektif dalam kelompoknya.

Pembelajaran di sekolah seharusnya dikemas dengan pendekatan yang lebih student-centered, contextual, kolaboratif, serta memanfaatkan teknologi digital agar relevan dengan tuntutan era 4.0 yang penuh dinamika. Metode pembelajaran meliputi learning yang berbasis komunitas, pembelajaran yang mengintegrasikan teknologi seperti pembelajaran daring dan aplikasi interaktif, serta pembelajaran yang mengasah keterampilan berpikir kritis, kreatif, komunikasi, dan kolaborasi. Dengan cara ini, siswa tidak hanya belajar secara individual tapi juga belajar bersama dalam konteks dunia nyata yang aplikatif. Selain itu, fleksibilitas pembelajaran dari segi waktu dan tempat sangat penting untuk diakomodasi agar pendidikan dapat diakses secara luas dan adaptif terhadap kebutuhan siswa dan perubahan zaman

DMP2025 -> Summary Video

oleh Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008
Model ADDIE merupakan kerangka generik yang sering digunakan dalam desain sistem pembelajaran. ADDIE terdiri dari lima tahapan utama: Analysis, Design, Development, Implementation, dan Evaluation.
Pada tahap Analysis, perancang pembelajaran melakukan pra-perencanaan. Analisis bisa mencakup kebutuhan bisnis, kinerja organisasi, kemampuan awal peserta, konteks pembelajaran, hingga estimasi biaya dan waktu. Tujuannya adalah memahami latar belakang dan kebutuhan agar pembelajaran relevan.
Tahap Design berfokus pada perencanaan rinci pembelajaran di atas kertas, seperti menetapkan tujuan, merancang strategi, memilih media, serta menyusun urutan materi. Desain ini memastikan pembelajaran terarah sesuai karakteristik peserta.
Selanjutnya, tahap Development adalah proses mengembangkan materi dan media pembelajaran sesuai desain. Aktivitas bisa berupa pembuatan slide, permainan, modul, instrumen evaluasi, dan aktivitas belajar lain.
Tahap Implementation berarti melaksanakan rancangan ke dalam situasi nyata. Instruksi disampaikan kepada peserta, dilakukan penguatan materi, serta dikelola sesuai rencana pembelajaran.
Tahap terakhir adalah Evaluation, yang mencakup evaluasi formatif dan sumatif. Evaluasi ini dapat menilai hasil belajar sekaligus efektivitas program secara keseluruhan.
Video juga menjelaskan bahwa selain model ADDIE, ada model desain lain, misalnya dari Florida State University yang menekankan analisis pekerjaan, serta model Kemp & Morrison yang bersifat siklik. Ada pula model Integrative Learning Design Framework (ILDF) yang digunakan dalam pengembangan pembelajaran online.
Kesimpulannya, ADDIE memberikan kerangka sistematis dan fleksibel yang dapat diterapkan pada berbagai konteks pembelajaran, baik formal maupun pelatihan profesional.

DMP2025 -> Summary Video

oleh Ahmad Ridwan Syuhada -
Nama: Ahmad Ridwan Syuhada
NPM: 2523031008
Summary Video Model Sistem Desain Pembelajaran - Prof. Dr. R. Benny Agus Pribadi, M.A.

Desain Sistem Pembelajaran (DSP) merupakan kajian penting dalam teknologi pendidikan yang berfokus pada perancangan pembelajaran agar lebih efektif, efisien, dan menarik. Penerapannya tidak terbatas pada sekolah, tetapi juga mencakup pendidikan dan pelatihan di dunia industri maupun lembaga non-formal. DSP disusun melalui langkah-langkah yang sistematis (bertahap) dan sistemik (menyeluruh), sehingga hasilnya sesuai dengan tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Program pembelajaran yang berkualitas ditandai dengan empat indikator utama: peserta menjadi lebih kompeten, memiliki motivasi belajar yang tinggi, mampu mengingat materi dalam jangka panjang (retensi), serta dapat mengaplikasikan hasil belajar dalam kehidupan nyata maupun pekerjaan. Untuk mencapai hal tersebut, DSP menggabungkan disiplin ilmu komunikasi, psikologi, manajemen, dan teori sistem.
Langkah-Langkah Penerapan Model DSP:
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran
2. Melakukan analisis pembelajaran
3. Menganalasis siswa
4. Menentukan penilaian hasil belajar
5. Menentukan strategi pembelajaran
6. Melakukan produksi program pembelajaran
7. Melakukan relevansi
8. Evaluasi
Terdapat beberapa model DSP yang umum digunakan:
1. ADDIE (Analysis, Design, Develop, Implementation, Evaluation) terkenal sederhana dan praktis.
2. ASSURE menekankan identifikasi karakteristik peserta, perumusan tujuan, pemilihan metode dan media, penggunaan bahan ajar, keterlibatan siswa, serta evaluasi dan revisi.
3. Dick and Carey Systematic Design of Instruction bersifat lebih rigid dengan sepuluh langkah terperinci, sangat efektif untuk penelitian dan pengembangan.
Model lain seperti Rapid Instructional Design menawarkan pendekatan lebih cepat, sementara ARCS (Attention, Relevance, Confidence, Satisfaction) menitikberatkan pada motivasi belajar. Menurut Branch, model desain dapat dikelompokkan untuk pembelajaran di kelas, pengembangan produk, serta penerapan dalam sistem besar seperti Universitas Terbuka.
Secara esensial, DSP adalah proses ilmiah yang terstruktur untuk menciptakan program pembelajaran berkualitas, aplikatif, dan berorientasi pada hasil nyata.