Kiriman dibuat oleh HabibahHusnul 2523031006

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Menanggapi kemajuan teknologi yang semakin canggih, sebagai seorang guru perlunya menyesuaikan pembelajran dengan memanfatkan perkembangan zaman, namun tetap memperhatikan keterampilan sosial. Pengembangan keterampilan sosial menjadi sangat penting karena kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan, dan otomatisasi tidak dapat menggantikan kemampuan manusia dalam berkomunikasi, berkolaborasi, berempati, serta memecahkan masalah sosial. Individu yang hanya unggul secara teknis namun lemah dalam kemampuan sosial akan kesulitan beradaptasi dalam lingkungan kerja dan masyarakat yang dinamis. Oleh karena itu, pembelajaran di sekolah harus dikemas secara kolaboratif dan kontekstual, seperti melalui pembelajaran berbasis proyek (project-based learning), kolaboratif, dan reflektif yang menekankan interaksi sosial, kerja sama tim, serta empati. Pendidikan karakter dan literasi sosial-digital perlu diintegrasikan agar siswa mampu berperilaku bijak di dunia nyata maupun digital. Dengan demikian, sekolah berperan penting dalam menyiapkan generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kecerdasan sosial, adaptif terhadap perubahan, dan mampu bersaing secara manusiawi di tengah kehidupan global yang semakin dinamis.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama : Habibah Husnul Khotimah
NPM : 2523031006

Konsep dasar IPS dikembangkan melalui konsep ilmu-ilmu sosial yang nyata sebagai pemenuh kebutuhan materi yang diperlukan untuk proses pembelajaran Latar belakang IPS masuk dalam kurikulum sekolah di Indonesia tidak terlepas dari situasi kacau termasuk dalam bidang pendidikan sebagai akibat pemberontakan G30S/PKI. Pada Replita 1 (1969-1974) tim Peneliti Nasional di bidang pendidikan menemukan lima masalah dalam bidang pendidikan. Perkembangan IPS di indonesia banyak mengambil ide-ide dasar dari berbagai pendapat yang dikembangkan oleh Amerika Serikat, kemudia disesuaikan dengan tujuan nasional dan aspirasi masyarakat indonesia. Hal ini dilakukan karena kajian IPS di indonesia tidak sama dengan negara-negara lain. Istilah IPS (Ilmu Pengetahuan Sosial), untuk pertama kalinya muncul dalam Seminar Nasional tentang civic education tahun 1927 di Tawangmangu Solo. Konsep IPS pertama kali masuk ke dunia pendidikan pada tahun 1972-1973 yaikni dalam kurikulum Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) IKIP Bandung. Pada kurikulum SD 8 tahun PPSP digunakan istilah pendidikan kewarganegaraan/social studies sebagai mata pelajaran rofes terpadu. Menurut Paul Mathis dalam bukunya The Teacher Handbook for Social Studies, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) dipahami sebagai kajian mengenai manusia dalam masyarakat pada masa lalu, masa kini, dan masa depan. IPS dipandang sebagai salah satu mata pelajaran penting yang perlu diajarkan di sekolah. Barr (1987:197) menegaskan bahwa pendidikan nasional menjadi landasan dalam merumuskan tujuan pendidikan IPS. Secara umum, pembelajaran IPS bertujuan untuk mempersiapkan peserta didik agar mampu menjadi warga negara yang baik, memiliki kemampuan berpikir, serta mampu melanjutkan dan mengembangkan kebudayaan bangsa. Sementara itu, Clark dalam bukunya Social Studies in Secondary School: A Handbook menekankan bahwa IPS berfokus pada pembentukan individu yang mampu memahami lingkungan sosial, kegiatan manusia, dan interaksi di dalamnya. Melalui pembelajaran IPS, siswa diharapkan dapat tumbuh menjadi anggota masyarakat yang produktif, berpartisipasi dalam kehidupan bermasyarakat yang demokratis, memiliki tanggungjawab, saling menolong, serta mampu mengembangkan nilai dan gagasan dalam masyarakat. Selain itu, Hartono dan Arnicun Aziz (1990:3) menyatakan bahwa tujuan IPS adalah membentuk pengetahuan serta keterampilan intelektual peserta didik.

Sumber:
Astawa, Ida Bagus Made. 2017. Pengantar Ilmu Sosial. Depok: Rajagrafindo Persada
Nurjannah Laila, Sri H, Rudy G. Konsep Dasar Ilmu Pengetahuan Sosial Dalam Dunia Pendidikan. 2021. Jakarta: Chronologia.

DMP2025 -> Summary Video

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006
Tugas Summary Video Pembelajaran

Model Sistem Desain Pembelajaran Bersama Prof. Dr. R. Benny Agus Pribadi, M.A.
Prof Benny menjelaskan bahwa desain sistem pembelajaran (DSP) adalah kajian atau bidang ilmu dalam teknologi pendidikan yang digunakan untuk mendesain atau merancang program pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik. DSP berisi langkah-langkah yang sistematik untuk menciptakan program pembelajaran berkualitas. Penerapan DSP dengan menggunakan langkah-langkah sistematik yang terpola. Dengan digunakannya desain pembelajaran diharapkan dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diingin.
Komponen keilmuan desain sistem pembelajaran:
1. Ilmu komunikasi
2. Ilmu prikologi
3. Ilmu managemen
4. Teori sistem
Indikator pembelajaran berkualitas:
1. Mampu membuat siswa menjadi kompoten
2. Mampu memotivasi siswa untuk belajar
3. Mampu membuat siswa mengingat substansi
4. Hasilnya dapat digunakan untuk mengimplemntasikan hasil belajar
Langkah-langkah menerapkan model DSP:
1. Mengidentifikasi tujuan pembelajaran
2. Melakukan analisis pembelajaran
3. Menganalasisi siswa
4. Menentukan penilaian hasil belajar
5. Menentukan strategi pembelajaran
6. Melakukan produksi program pembelajaran
7. Melakukan relevansi
8. Evaluasi
Model sistem pembelajaran:
1. Model ADDIE (analysis, design, develop, implement, evaluate). Selain itu terdapat
2. Model ASSURE (analyze learners, state objectives, select method media or materials, utilize media and materials, requice learni’s participation, evaluasi and revise.
3. Model ARCS (attention, relevance, confidence, satisfaction)
Klasifikasi model desain system pembelajaran :
1. Model DSP untuk kelas (class room)
2. Model DSP untuk menciptakan produk pembelajaran
3. Model DSP untuk mengembangkan sistem