Kiriman dibuat oleh HabibahHusnul 2523031006

DMP2025 -> Summary Video

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031005

Video tersebut menjelaskan model ADDIE sebagai kerangka dasar dalam desain pembelajaran. ADDIE adalah akronim dari Analyze (Analisis), Design (Desain), Develop (Pengembangan), Implement (Implementasi), Evaluate (Evaluasi).
Tahap pertama yaitu Analisis, perancang pembelajaran mengidentifikasi kebutuhan siswa, karakteristik peserta didik, konteks pembelajaran, dan tujuan yang ingin dicapai. Tahap ke dua yaitu Desain meliputi penyusunan rencana pembelajaran, pemilihan metode, penentuan media, dan penyusunan kerangka materi. Pada tahap ke tika melakukan Pengembangan yang merupakan proses membuat bahan ajar, media, perangkat evaluasi, dan prototipe pembelajaran. Tahap ke empat Implementasi berarti menerapkan materi di kelas atau platform pembelajaran, melaksanakan kegiatan belajar kepada peserta didik. Dan terakhir adalah tahap Evaluasi dilakukan untuk mengukur efektivitas pembelajaran baik melalui evaluasi formatif selama proses maupun evaluasi sumatif setelah selesai untuk melihat apakah tujuan pembelajaran tercapai dan merancang perbaikan di iterasi selanjutnya.
Model ADDIE ini memungkinkan adanya siklus umpan balik artinya hasil evaluasi bisa digunakan untuk memperbaiki tahap-tahap sebelumnya agar pembelajaran lebih efektif.

PKDIPS2025 -> Diskusi

oleh HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Membahas persoalan generasi muda yang saat ini mudah terdegradasi nilai-nilai sosial karena pengaruh kemajuan teknologi yang pesat dan perubahan pola interaksi sosial. Media digital yang seharusnya menjadi sarana positif justru sering menampilkan gaya hidup konsumtif, individualistis, dan minim empati. Akibatnya, nilai-nilai seperti sopan santun, gotong royong, dan kepedulian sosial mulai tergerus. Sebagai calon pengembang pendidikan IPS, kita perlu memandang masalah ini sebagai tantangan untuk menanamkan kembali kesadaran moral dan sosial melalui pembelajaran yang kontekstual dan reflektif. Melalui berbagai kegiatan konkret di lingkungan pendidikan. Misalnya, mengadakan proyek sosial digital di mana siswa diminta membuat kampanye daring tentang isu kemanusiaan atau lingkungan, seperti kampanye “Bijak Bermedia Sosial” atau “Gerakan Sekolah Peduli Sampah”. Selain itu, sekolah dapat membentuk forum refleksi mingguan yang membahas perilaku bermoral di dunia maya, seperti etika berkomentar dan menghargai perbedaan pendapat. Pendidikan IPS tidak hanya berperan dalam penguasaan konsep sosial tetapi pendidikan IPS harus mampu mengintegrasikan nilai karakter dalam setiap materi serta membimbing peserta didik agar kritis dan etis dalam memanfaatkan teknologi. Dengan kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat, kemajuan teknologi dapat diarahkan untuk memperkuat, bukan melemahkan, moralitas dan nilai-nilai sosial generasi muda.