Posts made by HabibahHusnul 2523031006

DMP2025 -> Tugas Individu

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031005

Pendekatan, strategi, model, metode, dan teknik merupakan komponen penting dalam proses pembelajaran yang saling berkaitan, namun memiliki makna dan tingkat penerapan yang berbeda. Pendekatan merupakan dasar filosofis atau cara pandang umum terhadap proses belajar mengajar. Pendekatan menjelaskan bagaimana guru memandang hakikat belajar siswa dan bagaimana pembelajaran seharusnya dilakukan. Misalnya, dalam pendekatan konstruktivistik, siswa dianggap sebagai individu aktif yang membangun pengetahuannya melalui pengalaman dan interaksi. Dari pendekatan tersebut lahir strategi, yaitu rencana menyeluruh yang menggambarkan arah dan cara umum yang akan digunakan untuk mencapai tujuan pembelajaran. Strategi bersifat makro dan menjadi pedoman bagi guru dalam menentukan langkah-langkah pembelajaran, seperti strategi pembelajaran ekspositori atau strategi pembelajaran inkuiri.
Selanjutnya, model pembelajaran merupakan bentuk operasional dari strategi yang disusun secara sistematis dalam pola dan tahapan tertentu. Model berfungsi sebagai kerangka konseptual yang menggambarkan prosedur atau langkah-langkah pembelajaran yang terencana dengan baik. Contohnya adalah model Problem Based Learning (PBL), Discovery Learning, atau Cooperative Learning yang memiliki sintaks tersendiri. Untuk mengimplementasikan model, guru menggunakan metode, yaitu cara spesifik yang digunakan dalam proses mengajar, seperti metode ceramah, diskusi, demonstrasi, atau tanya jawab. Metode ini membantu guru menjalankan kegiatan pembelajaran secara lebih konkret.
Terakhir, teknik pembelajaran merupakan penerapan praktis dari metode yang disesuaikan dengan situasi kelas, karakter siswa, serta kondisi materi. Teknik bersifat fleksibel dan bisa berbeda antara satu guru dengan guru lainnya meskipun menggunakan metode yang sama. Misalnya, dalam metode diskusi, guru dapat memilih teknik diskusi kelompok kecil, debat aktif, atau think-pair-share. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa hubungan antara kelima istilah tersebut bersifat hierarkis, dimulai dari pendekatan sebagai dasar filosofis, strategi sebagai rencana umum, model sebagai desain operasional, metode sebagai cara pelaksanaan, dan teknik sebagai penerapan praktis di lapangan.

DMP2025 -> Tugas Mandiri Pertemuan 11

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Salah satu contoh desain pembelajaran abad ke-21 yang relevan adalah Project-Based Learning (PjBL) atau pembelajaran berbasis proyek. Desain pembelajaran ini menempatkan peserta didik sebagai pusat kegiatan belajar dan berfokus pada pengembangan keterampilan berpikir tingkat tinggi, kolaborasi, komunikasi, serta kreativitas yang dikenal dengan istilah keterampilan 4C (Critical thinking, Creativity, Collaboration, dan Communication). Dalam PjBL, siswa tidak hanya menerima pengetahuan secara pasif, tetapi aktif berpartisipasi dalam merancang, melaksanakan, dan mempresentasikan proyek yang berhubungan dengan kehidupan nyata. Misalnya, dalam mata pelajaran IPS, guru dapat memberikan proyek dengan tema “Ekonomi Sirkular di Sekolah: Daur Ulang Sampah Menjadi Produk Bernilai Jual”. Melalui kegiatan ini, siswa diajak untuk mengidentifikasi masalah lingkungan di sekitar sekolah, mencari solusi inovatif dengan memanfaatkan bahan bekas, hingga menghasilkan produk kreatif yang memiliki nilai ekonomi.
Proses pembelajaran dimulai dari perumusan pertanyaan esensial yang menantang, dilanjutkan dengan perencanaan proyek secara berkelompok, pelaksanaan penelitian lapangan, pengumpulan data, pembuatan produk, hingga presentasi hasil karya di depan kelas atau masyarakat. Guru berperan sebagai fasilitator yang membimbing, memantau, dan memberikan umpan balik selama proses berlangsung. Evaluasi dilakukan tidak hanya pada hasil akhir proyek, tetapi juga pada proses kolaborasi, kreativitas, dan kemampuan berpikir kritis siswa. Desain pembelajaran ini sangat relevan di era abad ke-21 karena menumbuhkan karakter mandiri, tanggung jawab, dan kepedulian sosial, sekaligus mengintegrasikan penggunaan teknologi digital dalam proses belajar. Selain itu, PjBL juga mengajarkan siswa untuk belajar secara kontekstual dan reflektif, sehingga mampu mengaitkan pengetahuan akademik dengan situasi kehidupan nyata. Dengan demikian, pembelajaran berbasis proyek tidak hanya meningkatkan hasil belajar kognitif, tetapi juga membentuk keterampilan hidup (life skills) yang dibutuhkan di masa depan.
Langkah-langkah pembelajaran PjBL
1. Menentukan Pertanyaan Esensial (Essential Question)
Guru memunculkan isu atau permasalahan yang menantang, misalnya: “Bagaimana cara mengurangi sampah plastik di lingkungan sekolah?”
2. Merancang Rencana Proyek
Peserta didik dibagi dalam kelompok untuk membuat rencana kegiatan, menentukan tugas, sumber data, dan teknologi yang digunakan.
3. Menyusun Jadwal dan Pelaksanaan Proyek
Setiap kelompok melaksanakan kegiatan seperti observasi, wawancara, dan eksperimen untuk mencari solusi.
Pemantauan dan Bimbingan Guru
Guru berperan sebagai fasilitator, memberi umpan balik, dan membantu siswa mengelola waktu serta sumber daya.
4. Penyusunan dan Presentasi Hasil Proyek
Siswa membuat produk akhir (poster, video, laporan digital) dan mempresentasikannya di depan kelas atau masyarakat.
5. Evaluasi dan Refleksi
Dilakukan evaluasi terhadap proses dan hasil proyek, termasuk refleksi siswa terhadap pengalaman belajar mereka.

sumber: Nirmayani,L.H., Putu, C.P. 2021. Model Pembelajaran Berbasis Proyek (Project Based Learning) Sesuai Pembelajaran Abad 21 Bermuatan Tri Kaya Parisudha. Singajara: Jurnal Pedagogi dan Pembelajaran.

DMP2025 -> Tugas Mandiri (1 Nop 25)

by HabibahHusnul 2523031006 -
Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006

Selama mengajar, saya menemukan permasalahan yang komplesk. Permasalahan pertama, motivasi belajar siswa rendah. Dibuktikan dari hasil penilaiian harian siswa dengan nilai di bawah rata-rata dan kurang antusiasnya siswa ketika proses belajar berlangsung. Selain itu, yang menjadi permasalahan lain adalah pemanfaatan teknologi dan akses internet belum dimaksimalkan. Pada dasarnya, kemajuan teknologi memberi kemudahan dan manfaat bagi dunia pendidikan yaitu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik, memungkinkan pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa, memperkaya pengalaman belajar dengan alat multimedia, dan manfaat lainnya yang didapat jika mampu menerapkan dengan maksimal. Tantangan sekanjutnya yang harus saya hadapi ketika saya mengajar siswa yang berkebutuhan kusus yaitu tuna netra dan autisme. Kesalahanya adalah kurang kesesuainya metode pengajaran yang digunakan dan gaya belajar yang diharapkan siswa berkebutuhan khusus tersebut. Upaya saya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengubah motode pembelajaran, semula hanya pemberian tugas mandiri disertai dengan pembelajaran empat mata untuk memastikan materi pembelajaran dapat benar-benar dipahami oleh anak dengan kebutuhan khusus tersebut, diubah menjadi mengikutsertakan anak dengan kebutuhan khusus tersebut ke dalam kelompok-kelopok belajar bersama teman-teman yang lain. Dengan itu, mereka akan lebih aktif berdiskusi dengan teman sekelompok dan tidak merasa dibedakan atau dikucilkan. Anak yang memiliki kebutuhan khusus autisme mempunyai kelebihan yaitu dapat menulis dengan rapih, sehingga dia dipercara untuk menulis hasil diskusi yang nantinya akan dikumpul ke guru, namun tetap selalu melibatkan dia dalam diskusi dan sesekali bergantian menulis dengan teman sekelompok. Anak dengan kebutuhan khusus tuna netra memiliki kelebihan percaya diri, membuat dia dipercaya untuk menjadi moderator ketika presentasi di depan kelas. Saya percaya dengan kerjasama dan pembagian peran di dalam kelompok dengan tidak membeda-bedakan tersebut dapat dengan efektif meningkatkan semangat belajar siswa dan memberikan kesan positif bagi pribadi siswa yang berkebutuhan khusus tersebut. Melalui pengalaman ini, saya belajar betapa pentingnya eksibilitas dalam pendekatan pembelajaran untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan produktif bagi semua siswa.
Permasalahan rendahnya minat belajar dan juga belum maksimalnya pemanfaatan teknologi, menjadikan saya lebih adaptif dalam merancang pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap siswa, serta melalui diskusi dengan wali kelas dihasilkan bahwa strategi yang paling cocok untuk digunakan yaitu PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan, Gembira, dan Berbobot) dipadukan dengan metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi, berfikir kritis, dan kerja sama. Mengkolaborasikan teknologi dengan metode pembelajaran STAD berdampak signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Saya menyaksikan bagaimana setiap kelompok belajar dengan serius, saling membantu dan sangat antusias ketika sesi diskusi berjalan. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan merupakan upaya saya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan modal awal bagi saya sebagai guru ekonomi untuk memberi pemahaman terkait pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal dalam menghadapi persaingan global dan sebagai upaya untuk keluar dari kemiskinan struktural.