Nama: Habibah Husnul Khotimah
NPM: 2523031006
Selama mengajar, saya menemukan permasalahan yang komplesk. Permasalahan pertama, motivasi belajar siswa rendah. Dibuktikan dari hasil penilaiian harian siswa dengan nilai di bawah rata-rata dan kurang antusiasnya siswa ketika proses belajar berlangsung. Selain itu, yang menjadi permasalahan lain adalah pemanfaatan teknologi dan akses internet belum dimaksimalkan. Pada dasarnya, kemajuan teknologi memberi kemudahan dan manfaat bagi dunia pendidikan yaitu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik, memungkinkan pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa, memperkaya pengalaman belajar dengan alat multimedia, dan manfaat lainnya yang didapat jika mampu menerapkan dengan maksimal. Tantangan sekanjutnya yang harus saya hadapi ketika saya mengajar siswa yang berkebutuhan kusus yaitu tuna netra dan autisme. Kesalahanya adalah kurang kesesuainya metode pengajaran yang digunakan dan gaya belajar yang diharapkan siswa berkebutuhan khusus tersebut. Upaya saya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengubah motode pembelajaran, semula hanya pemberian tugas mandiri disertai dengan pembelajaran empat mata untuk memastikan materi pembelajaran dapat benar-benar dipahami oleh anak dengan kebutuhan khusus tersebut, diubah menjadi mengikutsertakan anak dengan kebutuhan khusus tersebut ke dalam kelompok-kelopok belajar bersama teman-teman yang lain. Dengan itu, mereka akan lebih aktif berdiskusi dengan teman sekelompok dan tidak merasa dibedakan atau dikucilkan. Anak yang memiliki kebutuhan khusus autisme mempunyai kelebihan yaitu dapat menulis dengan rapih, sehingga dia dipercara untuk menulis hasil diskusi yang nantinya akan dikumpul ke guru, namun tetap selalu melibatkan dia dalam diskusi dan sesekali bergantian menulis dengan teman sekelompok. Anak dengan kebutuhan khusus tuna netra memiliki kelebihan percaya diri, membuat dia dipercaya untuk menjadi moderator ketika presentasi di depan kelas. Saya percaya dengan kerjasama dan pembagian peran di dalam kelompok dengan tidak membeda-bedakan tersebut dapat dengan efektif meningkatkan semangat belajar siswa dan memberikan kesan positif bagi pribadi siswa yang berkebutuhan khusus tersebut. Melalui pengalaman ini, saya belajar betapa pentingnya eksibilitas dalam pendekatan pembelajaran untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan produktif bagi semua siswa.
Permasalahan rendahnya minat belajar dan juga belum maksimalnya pemanfaatan teknologi, menjadikan saya lebih adaptif dalam merancang pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap siswa, serta melalui diskusi dengan wali kelas dihasilkan bahwa strategi yang paling cocok untuk digunakan yaitu PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan, Gembira, dan Berbobot) dipadukan dengan metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi, berfikir kritis, dan kerja sama. Mengkolaborasikan teknologi dengan metode pembelajaran STAD berdampak signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Saya menyaksikan bagaimana setiap kelompok belajar dengan serius, saling membantu dan sangat antusias ketika sesi diskusi berjalan. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan merupakan upaya saya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan modal awal bagi saya sebagai guru ekonomi untuk memberi pemahaman terkait pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal dalam menghadapi persaingan global dan sebagai upaya untuk keluar dari kemiskinan struktural.
NPM: 2523031006
Selama mengajar, saya menemukan permasalahan yang komplesk. Permasalahan pertama, motivasi belajar siswa rendah. Dibuktikan dari hasil penilaiian harian siswa dengan nilai di bawah rata-rata dan kurang antusiasnya siswa ketika proses belajar berlangsung. Selain itu, yang menjadi permasalahan lain adalah pemanfaatan teknologi dan akses internet belum dimaksimalkan. Pada dasarnya, kemajuan teknologi memberi kemudahan dan manfaat bagi dunia pendidikan yaitu dapat meningkatkan kualitas pembelajaran dengan pengalaman belajar yang lebih interaktif dan menarik, memungkinkan pembelajaran yang fleksibel dan responsif terhadap kebutuhan siswa, memperkaya pengalaman belajar dengan alat multimedia, dan manfaat lainnya yang didapat jika mampu menerapkan dengan maksimal. Tantangan sekanjutnya yang harus saya hadapi ketika saya mengajar siswa yang berkebutuhan kusus yaitu tuna netra dan autisme. Kesalahanya adalah kurang kesesuainya metode pengajaran yang digunakan dan gaya belajar yang diharapkan siswa berkebutuhan khusus tersebut. Upaya saya untuk mengatasi masalah tersebut yaitu mengubah motode pembelajaran, semula hanya pemberian tugas mandiri disertai dengan pembelajaran empat mata untuk memastikan materi pembelajaran dapat benar-benar dipahami oleh anak dengan kebutuhan khusus tersebut, diubah menjadi mengikutsertakan anak dengan kebutuhan khusus tersebut ke dalam kelompok-kelopok belajar bersama teman-teman yang lain. Dengan itu, mereka akan lebih aktif berdiskusi dengan teman sekelompok dan tidak merasa dibedakan atau dikucilkan. Anak yang memiliki kebutuhan khusus autisme mempunyai kelebihan yaitu dapat menulis dengan rapih, sehingga dia dipercara untuk menulis hasil diskusi yang nantinya akan dikumpul ke guru, namun tetap selalu melibatkan dia dalam diskusi dan sesekali bergantian menulis dengan teman sekelompok. Anak dengan kebutuhan khusus tuna netra memiliki kelebihan percaya diri, membuat dia dipercaya untuk menjadi moderator ketika presentasi di depan kelas. Saya percaya dengan kerjasama dan pembagian peran di dalam kelompok dengan tidak membeda-bedakan tersebut dapat dengan efektif meningkatkan semangat belajar siswa dan memberikan kesan positif bagi pribadi siswa yang berkebutuhan khusus tersebut. Melalui pengalaman ini, saya belajar betapa pentingnya eksibilitas dalam pendekatan pembelajaran untuk menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan produktif bagi semua siswa.
Permasalahan rendahnya minat belajar dan juga belum maksimalnya pemanfaatan teknologi, menjadikan saya lebih adaptif dalam merancang pembelajaran. Berdasarkan hasil pengamatan terhadap siswa, serta melalui diskusi dengan wali kelas dihasilkan bahwa strategi yang paling cocok untuk digunakan yaitu PAIKEM GEMBROT (Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Menyenangkan, Gembira, dan Berbobot) dipadukan dengan metode pembelajaran Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan metode pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam komunikasi, berfikir kritis, dan kerja sama. Mengkolaborasikan teknologi dengan metode pembelajaran STAD berdampak signifikan terhadap motivasi belajar siswa. Saya menyaksikan bagaimana setiap kelompok belajar dengan serius, saling membantu dan sangat antusias ketika sesi diskusi berjalan. Menciptakan suasana belajar yang menyenangkan merupakan upaya saya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa dan modal awal bagi saya sebagai guru ekonomi untuk memberi pemahaman terkait pentingnya pendidikan tinggi sebagai bekal dalam menghadapi persaingan global dan sebagai upaya untuk keluar dari kemiskinan struktural.