Posts made by Afita Nurmala Sari

EPE C2026 -> Diskusi

by Afita Nurmala Sari -
Nama : Afita Nurmala Sari
NPM : 2453021006

Dalam dunia pendidikan, pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan tiga konsep yang saling berkaitan tetapi memiliki pengertian dan fungsi yang berbeda. Pengukuran adalah proses pemberian angka terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan kriteria tertentu. Melalui pengukuran, guru dapat mengetahui tingkat kemampuan siswa secara kuantitatif, misalnya melalui nilai ujian atau skor tugas. Namun, hasil pengukuran hanya berupa data angka dan belum memberikan makna yang mendalam.

Selanjutnya, penilaian merupakan proses menafsirkan hasil pengukuran untuk mengetahui kualitas pencapaian belajar siswa. Dalam penilaian, angka yang diperoleh siswa diartikan menjadi kategori tertentu, seperti baik, cukup, atau kurang. Dengan adanya penilaian, guru dapat memahami perkembangan belajar siswa serta memberikan umpan balik yang sesuai untuk meningkatkan kemampuan mereka.

Adapun evaluasi adalah proses yang lebih luas, yaitu menggunakan hasil penilaian untuk mengambil keputusan mengenai keberhasilan pembelajaran. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan telah tercapai atau belum, sekaligus menentukan langkah perbaikan yang diperlukan. Melalui evaluasi, guru dapat memperbaiki metode pembelajaran, meningkatkan kualitas proses belajar mengajar, dan menentukan kebijakan pendidikan yang lebih efektif.

Dengan demikian, pengukuran, penilaian, dan evaluasi memiliki urgensi yang sangat penting dalam pendidikan. Pengukuran menyediakan data, penilaian memberikan makna terhadap data tersebut, sedangkan evaluasi menjadi dasar dalam pengambilan keputusan untuk meningkatkan mutu pendidikan.

EPE C2026 -> SUMMARY VIDEO

by Afita Nurmala Sari -
Nama : Afita Nurmala Sari
NPM : 2453031006

Video tersebut membahas konsep dasar dalam evaluasi pembelajaran yang terdiri dari tes, pengukuran, penilaian, dan evaluasi. Keempat istilah ini saling berkaitan dan digunakan untuk mengetahui hasil belajar peserta didik secara menyeluruh. Tes dijelaskan sebagai alat yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang kemampuan siswa, biasanya dalam bentuk soal atau tugas. Setelah tes dilakukan, langkah berikutnya adalah pengukuran, yaitu proses memberikan skor atau nilai terhadap hasil yang diperoleh siswa. Hasil pengukuran ini masih berupa angka dan belum memiliki makna. Selanjutnya adalah penilaian, yaitu proses menafsirkan atau memberi arti terhadap nilai tersebut. Pada tahap ini, guru tidak hanya melihat angka, tetapi juga menentukan kualitas hasil belajar, misalnya apakah termasuk kategori baik, cukup, atau kurang.
Tahap terakhir adalah evaluasi, yang merupakan proses paling luas. Evaluasi mencakup seluruh proses sebelumnya dan digunakan untuk mengambil keputusan, seperti menilai keberhasilan pembelajaran atau menentukan perbaikan yang perlu dilakukan.

AKL C2026 -> Case

by Afita Nurmala Sari -
Nama : Afita Nurmala Sari
NPM : 2453031006

a. Kerangka Konseptual PSAK/IFRS berfungsi sebagai pedoman dasar yang membantu manajemen dalam menentukan perlakuan akuntansi ketika tidak ada standar spesifik yang mengatur suatu transaksi. Dengan adanya kerangka ini, manajemen dapat merujuk pada prinsip-prinsip umum seperti relevansi, keandalan, serta representasi yang jujur untuk memastikan bahwa keputusan yang diambil tetap konsisten dan mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

b. Jika ditinjau secara kritis, pengakuan goodwill dan penilaian nilai wajar aset tidak berwujud belum tentu sepenuhnya menggambarkan realitas ekonomi. Hal ini karena proses pengukurannya sering melibatkan asumsi dan estimasi yang subjektif. Apabila asumsi yang digunakan terlalu optimistis atau tidak didukung bukti yang memadai, maka nilai yang disajikan berpotensi menyimpang dari kondisi sebenarnya, sehingga substansi ekonomi transaksi tidak tercermin secara akurat.

c. Penggunaan professional judgment yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti penyajian laporan keuangan yang menyesatkan, penurunan kepercayaan pengguna laporan, hingga potensi pelanggaran etika dan hukum. Secara etis, hal ini dapat merusak integritas profesi akuntansi karena keputusan yang diambil tidak lagi berlandaskan objektivitas dan tanggung jawab, melainkan kepentingan tertentu.

d. Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini dapat dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran untuk melatih kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etika peserta didik. Melalui pembahasan kasus nyata, siswa dapat diajak memahami bahwa akuntansi tidak hanya soal angka, tetapi juga melibatkan pertimbangan profesional dan nilai moral. Dengan demikian, mereka dapat belajar untuk tidak sekadar menerima informasi, melainkan juga menganalisis, mempertanyakan, dan menilai apakah suatu praktik akuntansi telah mencerminkan kejujuran dan tanggung jawab.