Posts made by Afita Nurmala Sari

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Jurnal The Role of Measurement Theory in Supporting the Objectives of the Financial Statements membahas mengenai konsep pengukuran dalam pelaporan keuangan akuntansi. Pengukuran merupakan komponen yang tidak dapat dipisahkan dalam menetapkan tujuan suatu disiplin pengukuran. Pengukuran merupakan bagian utama dari metodologi penyusunan laporan keuangan, setiap elemen dari laporan keuangan dapat diakui ketika nilai moneternya dapat diukur secara andal. Namun, pengukuran akuntansi tidak sepenuhnya kompatibel dengan teori pengukuran ilmiah. Teori pengukuran dalam teori sosial (representation theory of measurement) menuntut adanya objek yang jelas, atribut yang dapat diukur, dan skala pengukuran yang konsisten. Dalam akuntansi, konsep nilai (value) sering ambigu dan tidak terdefinisikan dengan tegas, sehingga dapat menimbulkan kesenjangan antara teori dan praktik. Setiap hasil pengukuran pada dasarnya merupakan perkiraan yang mengandung ketidakpastian. Namun, dalam praktik akuntansi sering menggambarkan seolah-olah pasti dan faktual, padahal menurut teori pengukuran “true value” tidak pernah ada, hanya terdapat estimasi dengan probabilitas tertentu saja.
Laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan informasi relevan untuk pengambilan keputusan, dengan begitu tujuan ini haruslah di dukung teori pengukuran yang jelas, sehingga informasi yang dihasilkan bisa bias, bermakna, dan dapat dibandingkan antar entitas. Namun, walaupun pengukuran dianggap sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari akuntansi, analisis terhadap definisi, tujuan, dan objektif akuntansi memperlihatkan bahwa konsep pengukuran dalam akuntansi tidak sepenuhnya sejalan dengan prinsip ilmiah pengukuran yang ada.

TA C2025 -> DISKUSI

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Setelah menonton video tersebut pengukuran di akuntansi, saya jadi paham kalau cara kita menilai aset dan hutang di laporan keuangan itu bukan hanya satu. Jadi, data-data yang kita lihat di laporan itu bukan cuma angka yang asal dicatat, tapi ada dasar pengukurannya.
Video itu jelasin ada dua pendekatan utama. Pertama, biaya historis yang simpelnya itu mengukur aset berdasarkan harga pas kita beli dulu. Gampangnya, kalau kita beli motor Rp20 juta, ya itu yang dicatat. Nah, angkanya bakal terus disesuaikan sama penyusutan. Jadi, nilai motor kita yang Rp20 juta itu lama-lama turun karena dipakai, ini namanya disusutin.
Kedua, ada nilai kini, karena dia ngikutin kondisi sekarang. Nilai kini ini dibagi lagi jadi tiga:
• Nilai wajar: harga jual aset kalau kita jual sekarang.
• Biaya kini: biaya untuk membeli aset yang sama persis sepertipunya kita sekarang. Beda sama nilai wajar, ini lebih fokus ke harga beli.
• Nilai pakai: Menghitung berapa banyak duit yang bakal kita dapetin dari aset itu di masa depan. Konsepnya pakai diskonto, jadi nilai uang di masa depan diukur ke nilai sekarang.
Intinya, video ini membahas kalau akuntansi itu bukan hanya soal ,menghitung, tapi juga mikirin gimana cara yang paling pas buat ngasih gambaran yang jujur dan relevan tentang kondisi keuangan perusahaan. Jadi, kita bisa tahu kenapa ada aset yang nilainya bisa beda-beda di laporan keuangan, tergantung metode apa yang dipakai.

TA C2025 -> CASE STUDY

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm : 2453031006
kelas : c

1. Secara konseptual, baik PSAK maupun IFRS mengakui nilai wajar sebagai basis pengukuran, khususnya PSAK 68 yang mengadopsi IFRS 13 tentang pengukuran nilai wajar. Namun, PSAK dan IFRS juga menekankan pentingnya mempertimbangkan reliabilitas dan relevansi pengukuran, di mana nilai wajar harus dapat diandalkan dan mencerminkan kondisi pasar yang aktif. Dalam konteks Indonesia, yang pasar pesawatnya terbatas dan volatilitas tinggi, pendekatan nilai wajar sangat menantang secara praktis dan harus diimbangi dengan pengecekan konservatif.
Dengan demikian, keputusan PT Garuda Sejahtera dapat dibenarkan secara prinsip jika dilakukan pengungkapan transparan dan upaya mitigasi ketidakpastian, namun harus hati-hati agar tidak melebih-lebihkan nilai aset tanpa dasar pasar yang kuat.

2.
- Tujuan Laporan Keuangan
a) PSAK : Menyediakan informasi yang berguna untuk pengambil keputusan ekonomi pengguna laporan keuangan di Indonesia, dengan memperhatikan kebutuhan lokal sekaligus mengacu pada IFRS
b). IFRS : Menyediakan informasi yang relevan dan andal untuk pengambil keputusan ekonomi di seluruh dunia, menekankan transparansi dan komparabilitas internasional
- Karakteristik kualitatif informasi
a) PSAK : Relevansi, keandalan (faithful representation), comparability, understandability
b) IFRS : Relevansi, faithful representation, comparability, verifiability, timeliness, dan understandability
- Basis pengukuran
a). PSAK : Memungkinkan penggunaan nilai wajar maupun biaya historis, menyesuaikan kondisi pasar dan keandalan data
b). IFRS : Pendekatan lebih fleksibel tapi nilai wajar lebih diutamakan jika dapat diandalkan dan relevan
- Asumsi entitas dan kelangsungan usaha
a). PSAK : mengasumsikan entitas beroperasi secara kontinu kecuali ada indikasi sebaliknya
b). IFRS : prinsip kelangsungan usaha sebagai asumsi dasar dalam penyusunan laporan keuangan

3. Saya tidak setuju jika Indonesia harus mengikuti sepenuhnya kerangka konseptual IFRS tanpa penyesuaian lokal. Meskipun adopsi IFRS memberikan banyak manfaat, penerapannya tanpa penyesuaian akan mengabaikan realitas unik di Indonesia.
A. Tantangan Ekonomi: Tingkat kematangan pasar modal dan pasar aktif di Indonesia masih terbatas. Banyak industri, seperti penerbangan, memiliki pasar aset bekas yang tidak likuid, membuat penentuan nilai wajar menjadi sangat sulit dan subjektif. Mengadopsi IFRS secara kaku akan memaksa perusahaan menggunakan estimasi yang kurang andal, berpotensi menyesatkan investor.
B. Faktor Sosial dan Budaya: Budaya bisnis di Indonesia sering kali lebih konservatif, dan penggunaan biaya historis dianggap lebih aman dan dapat diandalkan. Transisi ke nilai wajar membutuhkan edukasi yang masif dan perubahan pola pikir dari akuntan, auditor, regulator, dan pengguna laporan keuangan.
C. Kesiapan Regulasi dan Kualitas Sumber Daya Manusia: Implementasi IFRS yang kompleks membutuhkan auditor dan akuntan yang memiliki keahlian mendalam. Kapasitas sumber daya manusia di Indonesia, terutama di daerah-daerah, masih belum merata untuk sepenuhnya memahami dan menerapkan standar yang rumit ini. Tanpa pengawasan yang kuat dan sumber daya yang memadai, risiko salah saji (misstatement) dalam laporan keuangan bisa meningkat.

Argumen saya adalah Indonesia perlu mengadopsi IFRS dengan adaptasi lokal yang bijaksana. Proses ini sudah dilakukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) melalui konvergensi PSAK-IFRS. Namun, perlu ada fleksibilitas dalam penerapan, terutama terkait dengan standar yang sangat bergantung pada kondisi pasar, seperti pengukuran nilai wajar. Tujuan utama haruslah menciptakan standar yang relevan dan andal dalam konteks ekonomi Indonesia, bukan hanya mengikuti tren global secara buta

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Jurnal “Restrictions in the Conceptual Framework for Financial Reporting: A Review of the Literature” membahas keterbatasan dalam kerangka konseptual pelaporan keuangan melalui tinjauan literatur. Penulis menyoroti bahwa globalisasi mendorong harmonisasi standar akuntansi internasional, sehingga FASB (Amerika Serikat) dan IASB (Internasional) melakukan proyek bersama untuk mengembangkan kerangka konseptual yang seragam. Tujuan utama kerangka ini adalah menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat bagi investor dan kreditor dalam membuat keputusan alokasi sumber daya. Dengan demikian, penting untuk memahami karakteristik kualitatif informasi akuntansi sekaligus menyadari adanya batasan yang melekat.

Literatur yang secara khusus membahas keterbatasan kerangka konseptual masih terbatas, sebagian besar berfokus pada US GAAP, sementara isu serupa pada IFRS kurang mendapat perhatian. Jurnal ini juga meninjau sejarah perkembangan kerangka konseptual, dimulai dari upaya American Accounting Association (AAA) pada 1936, yang kemudian berkembang menjadi acuan penting dalam penyusunan standar akuntansi modern. Kerangka ini memastikan standar disusun secara konsisten, logis, dan memiliki dasar teoritis yang kuat.

Beberapa keterbatasan utama yang diuraikan meliputi penggunaan biaya historis, kebijakan akuntansi, estimasi, potensi kesalahan dan kecurangan, serta konservatisme. Kendala-kendala tersebut menegaskan bahwa meskipun kerangka konseptual menjadi panduan penting, laporan keuangan tetap bersifat tujuan umum dan tidak mampu memenuhi semua kebutuhan informasi pengguna. Investor dan kreditor harus melengkapi analisis mereka dengan kondisi ekonomi, ekspektasi pasar, maupun peristiwa politik. Kesimpulannya, penelitian lebih lanjut, khususnya dalam perspektif IFRS, sangat diperlukan agar pelaporan keuangan tetap konsisten, relevan, dan dapat diandalkan dalam mendukung keputusan ekonomi di era global.

TA C2025 -> DISKUSI

by Afita Nurmala Sari -
nama : afita nurmala sari
npm :2453031006
kelas : c

Video ini membahas kerangka konseptual yang dikembangkan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB) sebagai dasar penyusunan Prinsip Akuntansi yang Berlaku Umum (US GAAP) di Amerika Serikat. Sebelum adanya FASB, lembaga pendahulu seperti Committee on Accounting Procedure dan Accounting Principles Board tidak memiliki kerangka teori yang jelas sehingga standar yang diterbitkan cenderung reaktif dan kurang sistematis. Kehadiran FASB memperbaiki hal ini dengan merumuskan tujuh Statements on Financial Accounting Concepts (SFAC) yang menjadi pijakan dalam pengembangan US GAAP. Video ini menguraikan tujuan pelaporan keuangan, elemen laporan, karakteristik informasi yang berkualitas, asumsi dasar, prinsip akuntansi, serta batasan dalam penyajian laporan.

FASB menempatkan kerangka konseptual sebagai landasan filosofis yang sistematis agar standar akuntansi tidak sekadar menanggapi masalah sesaat, melainkan memberikan panduan jangka panjang yang konsisten. Tujuan utama pelaporan keuangan adalah menyediakan informasi yang relevan dan andal bagi investor maupun kreditur dalam mengambil keputusan ekonomi. Kualitas fundamental yang ditekankan adalah relevansi (informasi mampu memengaruhi keputusan melalui nilai prediktif dan konfirmatori) serta representasi yang setia (informasi menggambarkan kondisi secara jujur tanpa bias). Selain itu, kualitas pelengkap seperti keterpahaman, keterverifikasian, ketepatan waktu, dan keterbandingan memperkuat kegunaan laporan.

Empat asumsi dasar yang menopang kerangka akuntansi adalah: entitas ekonomi, kelangsungan usaha, periodisasi, dan unit moneter. Sementara itu, prinsip pengakuan pendapatan dan beban memastikan keterkaitan antara aktivitas ekonomi dan pelaporannya, yakni pendapatan diakui saat barang atau jasa diserahkan, dan beban diakui pada periode yang sama dengan pendapatan terkait. Namun, pelaporan juga memiliki batasan, misalnya biaya penyusunan laporan yang terlalu tinggi, perlakuan khusus di industri tertentu, serta konservatisme yang mendorong pengakuan kerugian lebih cepat daripada keuntungan untuk menjaga kehati-hatian.

Secara keseluruhan, kerangka konseptual FASB menjadi fondasi penting bagi pelaporan keuangan modern. Kerangka ini memastikan bahwa laporan tidak hanya memenuhi aturan formal, tetapi juga menyajikan informasi yang benar-benar bermanfaat, relevan, dan dapat dipercaya bagi pihak-pihak yang membuat keputusan bisnis maupun investasi.