གནས་བསྐྱོད་བཟོ་མི་ Muhammad Fawwaz

TA C2025 -> CASE STUDY

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024c

1. Kelebihan dan Kelemahan Penggunaan Nilai Wajar yang Dibandung dengan Biaya Historis dalam Konteks PT Nusantara Properti
Kelebihan:
Meningkatnya Relevansi Informasi: Nilai wajar mencerminkan kondisi pasar saat ini; oleh karena itu, akan lebih memudahkan investor untuk menilai status keuangan dan potensi keuntungan PT Nusantara Properti. Dalam industri real estat yang semakin fluktuatif, nilai pasar saat ini menawarkan gambaran yang lebih akurat daripada nilai historis yang mungkin tidak lagi relevan.
Peningkatan transparansi dan keterbandingan: Laporan keuangan menjadi lebih mudah dipahami karena mencerminkan nilai ekonomi riil aset, bukan hanya biaya yang telah dikeluarkan sebelumnya.
Bagi investor dan analis pasar, peningkatan nilai aset dapat meningkatkan persepsi kekuatan keuangan perusahaan, sehingga memudahkan pengambilan keputusan investasi.
Kekurangan:
Subjektivitasnya tinggi: Penentuan nilai wajar biasanya bergantung pada asumsi pasar, suku bunga, atau kondisi ekonomi yang tidak selalu objektif. Hal ini dapat menurunkan kebenaran informasi yang disajikan. Volatilitas dalam laporan keuangan: Fluktuasi pasar menyebabkan nilai aset berfluktuasi seiring waktu, sehingga berpotensi menciptakan inkonsistensi dalam catatan keuangan.
Biaya dan kompleksitas tinggi: Penilaian pihak ketiga memerlukan biaya yang signifikan dan keahlian khusus yang tidak selalu tersedia di semua wilayah Indonesia.
Risiko manipulasi: Manajemen mungkin menggunakan penetapan nilai wajar untuk memperbaiki laporan keuangan karena memerlukan penilaian subjektif (manajemen laba).

2. Relevansi vs. Keandalan: Penerapan Nilai Wajar dalam Konteks Indonesia dan Standar Internasional (IFRS)
Pengukuran nilai wajar digunakan dalam kerangka revisi IFRS dan PSAK 16 untuk meningkatkan relevansi informasi sehingga mencerminkan kondisi ekonomi aktual. Namun, trade-off utamanya adalah antara keandalan dan relevansi:
Relevansi meningkat karena pembaca laporan dapat memahami posisi perusahaan dan potensi ekonomi asetnya, khususnya di industri real estat, yang sangat responsif terhadap pergeseran pasar. Ketika tidak ada pasar aktif, seperti di banyak wilayah Indonesia, keandalan menurun karena penilaian harus menggunakan model atau praduga (Level 2 dan 3 dalam hierarki nilai wajar IFRS 13).
Hal ini menyebabkan hasil pengukuran sangat bergantung pada penilaian ahli dan berpotensi berbeda antar evaluator.
Kesimpulan evaluatif:
Penerapan nilai wajar di Indonesia dapat meningkatkan relevansi, tetapi harus didukung dengan pengungkapan yang memadai mengenai pendekatan, asumsi, dan sumber data yang digunakan untuk menjaga keandalan informasi. Untuk mencapai kedua kualitas kualitatif tersebut, transparansi sangatlah penting.
3. Rekomendasi Kebijakan Jika Menjadi Anggota DSAK IAI
Beberapa rekomendasi bagi anggota DSAK IAI adalah:
Kebijakan yang Direkomendasikan:
Gunakan pendekatan kombinasi (model pengukuran campuran):
Memungkinkan perusahaan di industri properti untuk menerapkan metode nilai wajar selama terdapat pasar yang aktif atau bukti penilaian yang dapat diverifikasi.
Perusahaan harus tetap menggunakan biaya historis termasuk nilai wajar sebagai informasi tambahan jika pasar aktif atau data penilaian yang dapat diandalkan tidak tersedia.
Menggarisbawahi Dasar Pemikiran dan Prinsip:
Sesuai dengan maksud laporan keuangan dalam memberikan data yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi (Kerangka Konseptual Pelaporan Keuangan), nilai-nilai alam mencerminkan kondisi perekonomian saat ini.
Prinsip Keandalan: Informasi harus bebas dari bias dan dapat diverifikasi. Oleh karena itu, dalam situasi di mana evaluasi yang obyektif dan teraudit dapat dilakukan, penggunaan nilai wajar harus dibatasi.
Prinsip Kehati-hatian (Prudence): Dalam kondisi pasar properti yang tidak likuid, nilai wajar harus digunakan dengan hati-hati agar tidak membingungkan pengguna laporan keuangan.
DSAK IAI harus mengklarifikasi kewajiban untuk mengungkapkan data seperti metode penilaian, tingkat hierarki nilai wajar (Tingkat 1–3), dan tanggapan terhadap perubahan asumsi yang signifikan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024c

Dua gagasan mendasar dalam pengukuran akuntansi keuangan—biaya historis dan pengukuran nilai wajar—dibahas dalam jurnal ini. Biaya historis mengukur aset dan kewajiban berdasarkan harga yang dibayarkan saat diperoleh, sementara nilai wajar menggambarkan kondisi ekonomi saat ini berdasarkan harga pasar yang dapat diamati.

IASB dan IFRS semakin mendesak penggunaan nilai wajar, terutama selama penyusunan neraca, meskipun pada awal pengakuan biasanya menggunakan biaya historis. Lebih lanjut, dalam artikel ini diulas usulan IASB untuk menggunakan nilai wajar pada pengakuan awal, jika praktis dan dengan tingkat keandalan yang wajar.

Meskipun demikian, menentukan nilai wajar mengandung risiko, terutama dalam kondisi pasar yang tertekan atau selama krisis keuangan, di mana pengukuran nilai wajar secara akurat merupakan tantangan. Sangat menantang dan cenderung menghasilkan ketidakpastian. Dalam keadaan krisis keuangan, terdapat kecenderungan untuk kembali menggunakan ukuran-ukuran tertentu untuk entitas.

Jurnal ini menyimpulkan bahwa tidak ada satu teknik pengukuran yang sempurna; kombinasi metode biaya historis dan nilai wajar diperlukan untuk menghasilkan data akuntansi yang andal dan akurat. Untuk instrumen keuangan, nilai yang tepat lebih cocok; pengukuran yang berbasis entitas sering kali lebih relevan untuk aset yang bukan keuangan. Untuk menghindari gangguan dalam pemeliharaan modal fisik, catatan harian ini juga menekankan betapa pentingnya untuk tidak membagi keuntungan apa pun dari revaluasi yang belum direalisasi dengan pemilik selama periode pasar sedang meningkat.

Perlukan menyeimbangkan akustik dan relevansi dalam pengukuran akuntansi serta kemampuan beradaptasi terhadap keadaan ekonomi dan pasar terutama di masa krisis keuangan menjadi inti dari bahasan ini.

TA C2025 -> DISKUSI

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024c

Dua pendekatan—biaya historis dan nilai wajar—yang muncul dalam laporan keuangan—menimbulkan beberapa perbedaan antara cara aset dan liabilitas dicatat di perusahaan dalam video ini. Dikatakan bahwa aset yang diperoleh bertahun-tahun lalu dengan harga tertentu (misalnya, 5 juta dolar) sekarang mungkin memiliki nilai pasar yang jauh lebih besar—35 juta dolar atau lebih. Hal ini menimbulkan pertanyaan tentang bagaimana bisnis seharusnya menunjukkan nilai aset tersebut dalam laporan keuangan mereka: haruskah mereka menggunakan biaya awal atau nilai pasar sekarang?

Film ini selanjutnya menunjukkan bahwa meskipun perusahaan bebas memilih di antara metode-metode tersebut, perusahaan harus secara konsisten menerapkan satu metode untuk semua aset dalam kategori yang sama tanpa beralih di antara metode-metode tersebut. Proses penentuan nilai wajar juga digambarkan menantang dan seringkali membutuhkan bantuan ahli penilaian profesional yang membandingkan transaksi aset yang sama di pasar. Metode nilai wajar biasanya digunakan pada aset termasuk properti, merek, aset berwujud atau tidak berwujud, dan liabilitas seperti utang dan pensiun.

Secara keseluruhan, video ini menjelaskan secara jelas dan bermanfaat perbedaan signifikan antara teknik pencatatan aset dan pengaruhnya terhadap laporan keuangan perusahaan. Bergantung pada metode yang digunakan, pendekatan ini memperjelas bagaimana nilai aset dapat direpresentasikan dengan lebih akurat atau konservatif di neraca.

Mereka yang ingin memahami dasar-dasar akuntansi aset dan bagaimana aset tersebut dinilai dalam lingkungan bisnis serta pelaporan keuangan perusahaan akan merasa video ini sangat bermanfaat.

TA C2025 -> CASE STUDY

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024 c

1. Dua pendekatan pengukuran yang relevan:
Berkenaan dengan PT Surya Terang, dua teknik pengukuran utama yang relevan adalah:
a. Biaya Historis, atau biaya historis.
Aset dicatat berdasarkan nilai perolehannya dikurangi akumulasi penyusutan dan kerugian penyusutan.
Contoh:
Sebuah perangkat senilai Rp1.000.000.000 kemudian disusutkan menggunakan pendekatan garis lurus selama sepuluh tahun, dengan nilai sisa Rp100.000.000.
→ Beban penyusutan tahunan sama dengan (1.000.000.000 – 100.000.000) / 10, atau Rp90.000.000 per tahun.
Lima tahun setelahnya (2025), nilai buku sama dengan 1.000.000.000 - (90.000.000 x 5) = Rp550.000.000 (dibulatkan menjadi Rp600.000.000 per kueri).
Manfaat:
Berdasarkan transaksi aktual, objektif dan dapat diverifikasi.
Stabil dan perubahan pasar memiliki pengaruh yang kecil.
Mudah diterapkan, tidak perlu penilaian ulang.
Defisit:
Kurang tepat ketika terjadi pergeseran pasar yang besar (misalnya, inovasi teknologi menurunkan nilai pasar).
Tidak mencerminkan nilai ekonomi aset saat ini.
Jika nilai buku berbeda secara signifikan dari nilai pasar, informasi tersebut seharusnya menyesatkan.
b. Nilai wajar adalah nilai moneter.
Sesuai dengan harga yang akan diterima untuk menjual aset dalam transaksi wajar antara pelaku pasar pada tanggal pengukuran (PSAK 68), aset diukur.
Manfaat:
Lebih tepat karena mencerminkan nilai pasar dan situasi ekonomi terkini.
Menawarkan informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan ekonomi.
Kekurangan:
Penetapan nilai wajar memerlukan estimasi atau evaluasi yang tidak memihak, sehingga mengandung beberapa faktor subjektif.
Nilainya dapat berubah, yang menyebabkan hasil laba rugi yang tidak menentu.
Evaluasi membutuhkan upaya dan biaya tambahan.
2. Konsekuensi akuntansi saat menggunakan model revaluasi:
Jika PT Surya Terang memilih untuk menerapkan model revaluasi sesuai dengan PSAK 16 (Aset Tetap):
a. Dampak terhadap Laporan Posisi Keuangan:
Nilai tercatat Mesin akan berubah dengan nilai wajar, dari Rp600.000.000 menjadi Rp400.000.000.
Kerugian revaluasi akan dicatat sebesar selisih revaluasi negatif (Rp200.000.000).
Kerugian devaluasi ini akan langsung dilaporkan dalam laba rugi jika tidak ada cadangan penilaian atau akan mengurangi surplus revaluasi (jika sebelumnya ada).
b. Dampak terhadap Laporan Laba Rugi:
Jika penurunan nilai ini tidak diimbangi dengan surplus revaluasi yang ada, akan terjadi kerugian revaluasi sebesar Rp200.000. Rp400.000.000 akan dilaporkan sebagai beban dalam laporan laba rugi untuk periode tersebut.
Dengan nilai baru (Rp400.000.000) dan sisa masa manfaat 5 tahun, beban amortisasi berikut akan dihitung untuk mengurangi amortisasi tahunan.
c. Dampak selanjutnya:
Revaluasi di masa mendatang (jika dilakukan) dapat menghasilkan surplus revaluasi yang akan dicatat dalam ekuitas (pendapatan komprehensif lain).
Perusahaan secara hukum terikat untuk mengungkapkan dasar revaluasi, tanggal revaluasi terbaru, dan teknik penilaian dalam catatan atas laporan keuangan.
3. Nilai wajar versus biaya historis: relevansi dan akurasi:
Relevansi:
Dalam skenario PT Surya Terang, nilai wajar lebih relevan karena mencerminkan kondisi ekonomi terkini.
Karena perkembangan teknologi, nilai mesin terdepresiasi; dengan demikian, harga wajar Rp400.000.000 memberikan estimasi manfaat ekonomi yang tersisa lebih tepat daripada harga historis Rp600.000.000.
Representasi yang Andal: Keandalan
Berdasarkan transaksi yang nyata dan mudah diverifikasi, harga historis lebih dapat diandalkan.
Namun, ketika nilai pasar berfluktuasi secara signifikan, data dari biaya historis kurang representatif meskipun secara teknis masih akurat.
Tanpa pasar yang aktif, nilai wajar mungkin kurang dapat diandalkan; namun, dengan penilaian independen, keandalannya dapat ditingkatkan.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

Muhammad Fawwaz གིས-
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas =2024 c

Artikel ini menyoroti ketidaksesuaian antara tujuan pelaporan keuangan dan dasar-dasar teori ilmu sosial. Saat ini belum ada teori akuntansi pengukuran yang menyatakan tujuan proses pengukuran dalam konteks pelaporan keuangan, meskipun akuntansi diakui sebagai disiplin ilmu pengukuran yang memiliki tujuan jangka panjang. Penulis menggunakan teori representatif, yang membangun fondasi ilmu sosial, untuk menunjukkan bahwa tujuan pelaporan keuangan tidak dapat disamakan dengan tujuan pengukuran tanpa bantuan teori pengukuran.
Menurut jurnal tersebut, pengukuran harus didasarkan pada teori yang menyatakan tujuan, tolok ukur perbandingan, dan pengukuran tunggal yang saat ini belum terbukti dalam literatur. Konsep nilai dan biaya dalam akuntansi tidak terdefinisi dengan baik, sehingga sulit untuk mengkarakterisasikannya sebagai pengukuran ilmiah. Akuntansi seringkali menyamakan pengukuran numerik dengan nilai moneter. Selain itu, laporan keuangan berisiko menyajikan informasi yang tidak pasti, dipengaruhi oleh asumsi sosial, dan bias karena keterlibatan internal perusahaan dan pengguna target.
Jurnal menyarankan bahwa agar akuntansi lebih konsisten dengan prinsip-prinsip ilmiah pengukuran dan menghasilkan informasi yang lebih bermanfaat dan tepercaya, perlu dilakukan evaluasi ulang terhadap pengukuran dalam akuntansi dengan mengembangkan teori-teori pengukuran yang jelas yang menjelaskan tujuan, definisi, dan pelaporan keuangan.
Ringkasan ini menggambarkan esensi jurnal yang dimaksud dalam konteks kritis tentang teori akuntansi dan menjelaskan kebenaran akuntansi sebagai sebuah disiplin akademis.