Kiriman dibuat oleh Muhammad Fawwaz

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

1. Teori Akuntansi Positif menjelaskan perilaku PT IndoEnergi.
Watts dan Zimmerman memperkenalkan Teori Akuntansi Positif (PAT) pada tahun 1978 untuk mengklarifikasi dan memperkirakan keputusan manajemen terkait implementasi kebijakan. PAT merupakan akuntansi yang bebas dari penilaian kualitas kebijakan, baik atau buruk.
PAT berpendapat bahwa manajer dalam konteks kontrak bertindak rasional dan oportunistik untuk memaksimalkan keuntungan mereka sendiri (teori keagenan).
Di bawah PT IndoEnergi, peralihan dari pendekatan penyusutan garis lurus ke saldo menurun ganda mengakibatkan laba bersih yang lebih rendah. Menurut PAT, langkah ini dapat dijelaskan oleh tiga hipotesis utama:
Hipotesis bonus rencana
Manajer yang mendapatkan bonus berdasarkan laba dapat mengubah jumlah laba agar sesuai dengan target tertentu. Jika laba tahun ini sudah besar atau mendekati batas bonus maksimum, manajer dapat menurunkannya sehingga laba tahun depan tampak naik, sehingga memungkinkan mereka untuk tetap mendapatkan insentif. Hipotesis Perjanjian Utang
Manajer mungkin mengubah angka laba untuk memenuhi persyaratan dalam perjanjian utang yang menetapkan rasio keuangan (seperti rasio utang terhadap ekuitas) untuk bisnis. Namun, dalam skenario IndoEnergi, perhatian lebih tertuju pada penghindaran pajak dan manajemen ekspektasi bagi investor daripada utang.
Hipotesis Biaya Politik
Seringkali, publik dan pemerintah menargetkan perusahaan besar atau perusahaan di industri yang penting secara strategis seperti energi. Mengurangi laba akan membantu perusahaan mengurangi tekanan politik seperti pajak yang lebih tinggi, peraturan, atau permintaan dividen yang besar dari pemegang saham.
Oleh karena itu, cara IndoEnergi melakukan depresiasi berubah sejalan dengan Hipotesis Biaya Politik, karena penurunan laba dapat mengakibatkan pajak yang lebih rendah dan berkurangnya perhatian publik.

2. Perbandingan dengan praktik di negara lain (AS dan IFRS)
Berdasarkan IFRS (PSAK di Indonesia juga merujuk pada IFRS):
Menurut IAS 16, perusahaan bebas mengubah metode penyusutannya hanya jika modifikasi tersebut menghasilkan data yang lebih andal dan relevan mengenai manfaat keuangan aset mereka. Dengan kata lain, jika PT IndoEnergi secara substansial meningkatkan penggunaan aset untuk proyek energi baru, perubahan metode tersebut dapat dianggap konsisten dengan standar akuntansi yang berlaku.
Dalam kerangka US GAAP:
GAAP juga memungkinkan perusahaan menyesuaikan metode penyusutannya asalkan perubahan tersebut memiliki justifikasi yang kuat dan menyediakan data yang memadai. Namun, untuk menjamin tidak adanya niat manipulatif, auditor dan regulator (SEC) seringkali memberikan perhatian khusus terhadap perubahan ini.
Ringkasan perbandingan:
Perilaku IndoEnergi bukanlah hal yang luar biasa; banyak perusahaan di beberapa negara juga melakukan manajemen laba dengan dalih pajak atau efisiensi. Meskipun demikian, IFRS dan GAAP meminta pengungkapan yang jelas sehingga pengguna laporan keuangan dapat menilai apakah modifikasi yang dibuat bersifat oportunistik atau sepenuhnya ekonomis.

3. Analisis Kritis Teori Akuntansi Positif
- Teori Akuntansi Positif unggul dalam mengklarifikasi insentif praktis dan finansial yang mendasari kebijakan manajer, terutama yang melibatkan insentif, kontrak, pajak, dan tekanan politik.
Namun di kancah internasional, hipotesis ini mengungkapkan beberapa kelemahan:
Pertimbangan etika dan implementasi tata kelola perusahaan kurang mendapat perhatian.
PAT kini lebih berpijak pada realitas daripada pada apa yang seharusnya. Ia tidak menilai apakah perilaku oportunistik tersebut etis maupun mematuhi konsep keterbukaan informasi.
Tidak memperhitungkan komponen budaya dan norma dunia.
Dalam penerapan IFRS yang menekankan representasi yang andal dan substansi di atas bentuk, standar membantu mengelola dorongan untuk mendapatkan keuntungan secara oportunistik.
Tidak mengartikulasikan motivasi yang tidak didorong oleh faktor ekonomi.
Keputusan dalam akuntansi yang dipengaruhi oleh reputasi jangka panjang, keberlanjutan, atau tekanan sosial, misalnya, tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui PAT.

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024c

Ringkasan Esensi Isi Pertama Jurnal
Artikel jurnal pertama ini mengkaji bagaimana Teori Akuntansi Positif membantu membentuk kebijakan akuntansi. Teori ini bertujuan untuk mengklarifikasi dan memprediksi bagaimana manajemen memilih kebijakan akuntansi yang menguntungkan secara finansial bagi mereka. Hipotesis utama yang diajukan dalam teori ini meliputi: teori rencana bonus (manajer memilih kebijakan yang dapat meningkatkan laba untuk mendapatkan bonus), hipotesis perjanjian utang (manajer memutuskan kebijakan untuk menghindari pelanggaran perjanjian utang; hipotesis biaya politik: manajer memilih kebijakan yang menurunkan laba untuk menghindari biaya politik). Lebih lanjut, jurnal ini membahas keberatan terhadap teori ini, yang memandang pendekatan ekonominya terlalu praktis dan tidak selalu ilmiah. Namun, teori ini membantu kita memahami proses pengambilan keputusan akuntansi serta bagaimana kekuatan eksternal, termasuk standar dan peraturan internasional, memengaruhinya. Ulasan literatur ini menekankan bahwa teori akuntansi positif berfungsi sebagai alat untuk mengantisipasi dan memberikan landasan empiris bagi penelitian akuntansi terkini.

Esensi Resume Jurnal Dua
Jurnal kedua ini mengkaji penerapan teori normatif dan positif dalam kebijakan akuntansi di dua perusahaan publik Indonesia: PT Astra International Tbk (sektor manufaktur) dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (sektor teknologi). Penelitian ini mengandalkan analisis isi kualitatif atas catatan perusahaan dan sumber terkait lainnya yang mencakup periode 2017 hingga 2024. Mengingat tingginya risiko lingkungan dan sosial, hasil penelitian menunjukkan bahwa PT Astra lebih cenderung mengadopsi pendekatan normatif dan konservatif yang berfokus pada kepatuhan regulasi dan legitimasi sosial. Sementara itu, PT Telekomunikasi mengadopsi pendekatan yang positif, lebih fleksibel, dan responsif untuk mendukung rencana perusahaan yang dinamis dan persaingan berbasis pasar. Karakteristik sektor industri, motif manajerial, dan kendala regulasi yang ada memengaruhi variasi ini. Umumnya, kebijakan akuntansi dianggap sebagai hasil negosiasi antara kebutuhan normatif dan praktis yang ideal, sehingga keragaman teoretis menjadi sangat penting dalam praktik akuntansi modern.

Opini
Kedua jurnal ini secara bersama-sama membantu menjelaskan bagaimana teori akuntansi memengaruhi penerapan kebijakan akuntansi di berbagai lingkungan. Jurnal pertama menyajikan kerangka teori yang solid tentang bagaimana teori akuntansi positif menjelaskan motivasi ekonomi yang mendasari kebijakan akuntansi, sementara majalah kedua menawarkan contoh nyata penerapan teori tersebut secara normatif dan positif di sektor Indonesia. Bagi perusahaan yang menghadapi tuntutan regulasi dan lanskap bisnis yang terus berubah, beragam pendekatan yang menyeimbangkan kesesuaian normatif dan fleksibilitas positif sebagaimana dijelaskan dalam artikel kedua sangatlah penting. Oleh karena itu, pemahaman tentang teori akuntansi positif dan normatif menjadi sangat penting bagi manajemen terapan dalam mengembangkan kebijakan akuntansi yang responsif dan bertanggung jawab serta untuk studi akademis.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085
kelas = 2024 c

Menurut pendapat saya, laporan keuangan bergaya neraca memiliki beberapa kekurangan utama sebagai sumber data keuangan. Neraca bersifat tetap karena mencerminkan posisi keuangan perusahaan pada satu titik waktu tertentu, seperti pada tanggal 31 Desember 2024, dan tidak menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu. Lebih lanjut, sering kali metode biaya historis digunakan dalam neraca, oleh karena itu nilai aset dan liabilitas yang tercatat mungkin tidak sesuai dengan nilai pasar saat ini. Selain itu, neraca menghilangkan semua aset yang bernilai komersial—seperti reputasi, loyalitas konsumen, atau kemahiran teknis—yang sebenarnya sangat penting dalam menghasilkan nilai bagi perusahaan. Di sisi lain, beberapa item dalam neraca—seperti penyusutan aset atau cadangan piutang—bergantung pada estimasi dan keputusan manajemen, sehingga bersifat subjektif. Terakhir, neraca hanya menunjukkan nilai angka dan tidak mewakili faktor non-keuangan seperti kinerja manajemen, bahaya lingkungan, atau tingkat kepuasan konsumen.