Kiriman dibuat oleh Muhammad Fawwaz

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Perbedaan utama antara aset tetap dan properti investasi terletak pada maksud pemanfaatannya. Pilihan yang paling menguntungkan bergantung pada tujuan: aset tetap lebih cocok untuk mendukung kegiatan operasional bisnis, sementara properti investasi lebih menarik untuk memperoleh pendapatan sewa atau kenaikan nilai investasi.

Aset Tetap vs Properti Investasi: Apa Bedanya?
Aset tetap adalah aset berwujud (seperti tanah, gedung, mesin, dan kendaraan) yang dimiliki untuk operasional, penyediaan jasa, atau administrasi, dan diharapkan bermanfaat lebih dari satu periode akuntansi (sesuai PSAK 16/IAS 16).

Properti investasi adalah properti (tanah, bangunan, atau keduanya) yang dikuasai untuk menghasilkan pendapatan sewa, kenaikan nilai investasi (capital gain), atau keduanya. Properti ini tidak digunakan untuk operasional bisnis atau dijual dalam kegiatan normal (sesuai PSAK 13/IAS 40).

Arus Kas: Arus kas aset tetap terkait erat dengan aset lainnya (karena digunakan dalam operasional), sementara arus kas properti investasi relatif independen karena berasal dari sewa atau kenaikan nilai investasi.

Implikasi Akuntansi Utama
Pengukuran setelah perolehan: aset tetap umumnya menggunakan model biaya dengan depresiasi sistematis; properti investasi bisa menggunakan model biaya atau nilai wajar (fair value) dengan perubahan nilai dicatat dalam laba rugi.

Klasifikasi dan Reklasifikasi: properti yang awalnya dipakai sendiri (aset tetap) dapat direklasifikasi menjadi properti investasi jika tujuannya berubah menjadi untuk disewakan atau memperoleh kenaikan nilai investasi, begitu juga sebaliknya jika mulai dipakai untuk operasional.

Penyajian: dalam laporan posisi keuangan, aset tetap dan properti investasi biasanya disajikan terpisah. Tujuannya agar pengguna laporan dapat membedakan aset pendukung operasional dan aset yang berfungsi sebagai investasi jangka panjang.

Aset Tetap atau Properti Investasi: Mana yang Lebih Baik?
Jika tujuan utamanya adalah meningkatkan kapasitas operasional (misalnya meningkatkan produksi, mempercepat layanan, atau menurunkan biaya per unit), maka membeli aset tetap lebih masuk akal karena mendukung aktivitas inti dan dapat meningkatkan pendapatan serta efisiensi.

Namun, jika tujuan utamanya adalah memperoleh pendapatan pasif (sewa) dan potensi capital gain, dengan mempertimbangkan risiko pasar properti, properti investasi lebih menarik, terutama jika dapat diukur dengan model nilai wajar sehingga kenaikan nilai tercermin dalam laba rugi dan ekuitas.

Secara teoritis, pemilihan bergantung pada strategi perusahaan: perusahaan manufaktur atau jasa umumnya memprioritaskan aset tetap, sementara perusahaan dengan kas berlebih yang ingin diversifikasi portofolio jangka panjang cenderung memilih properti investasi. Keduanya sah, asalkan diakui dan diukur sesuai standar yang berlaku.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 2

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Saat harga-harga mengalami kenaikan atau inflasi, penggunaan metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang relatif LEBIH KECIL dibandingkan metode FIFO. Hal ini disebabkan karena harga pokok penjualan dihitung berdasarkan nilai persediaan yang terbaru, yang cenderung lebih mahal, sehingga menekan perolehan laba.

Sebaliknya, saat harga-harga mengalami penurunan atau deflasi, metode LIFO akan menghasilkan laba bersih yang relatif LEBIH BESAR dibandingkan metode FIFO. Hal ini terjadi karena harga pokok penjualan dihitung berdasarkan biaya terbaru yang lebih murah, sehingga meningkatkan laba. Sementara itu, FIFO menggunakan biaya lama yang lebih tinggi sehingga laba berkurang.

AKM C2025 -> Penyerahan Jawaban Kasus 1

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Dalam dunia teori akuntansi, metode FIFO, rata-rata tertimbang, dan identifikasi khusus sama-sama bisa diterima, tetapi dampaknya terhadap perolehan keuntungan dan nilai aset persediaan tidaklah sama. Berikut ini adalah perbandingan singkat untuk membantu memahami topik diskusi ini.

Intisari Konsep Metode
FIFO (Masuk Pertama Keluar Pertama): Barang yang pertama kali dibeli dianggap sebagai barang yang pertama kali dijual; nilai persediaan akhir dihitung berdasarkan harga pembelian terkini.

Rata-rata Tertimbang: Harga pokok per unit didapatkan dari total biaya persediaan dibagi dengan jumlah unit, lalu diterapkan untuk menghitung Harga Pokok Penjualan (HPP) dan nilai persediaan akhir.

Identifikasi Khusus: Setiap unit persediaan dilacak berdasarkan harga perolehan awalnya, sehingga HPP dan nilai persediaan akhir menggambarkan biaya unit yang spesifik.

Dampak pada Perolehan Laba
Saat harga-harga naik (inflasi), FIFO menghasilkan HPP yang lebih rendah dan laba yang lebih tinggi karena menggunakan biaya lama yang lebih murah, sementara nilai persediaan akhir tercatat lebih tinggi.

Rata-rata Tertimbang menghasilkan laba yang "moderat", karena biaya per unit adalah rata-rata dari harga lama dan baru; perubahan laba menjadi lebih stabil.

Identifikasi Khusus memberikan laba yang paling "akurat" untuk setiap transaksi, tetapi laba bisa menjadi lebih fluktuatif jika perusahaan secara sengaja menjual unit dengan biaya tertentu (manipulasi laba).

Dampak pada Nilai Aset
FIFO menilai aset persediaan mendekati biaya penggantian saat ini (current cost), sebab nilai persediaan akhir dihitung menggunakan harga pembelian yang paling baru.

Rata-rata Tertimbang menilai aset berdasarkan biaya rata-rata historis, sehingga lebih moderat dan tidak terlalu tinggi atau rendah ketika harga mengalami fluktuasi yang tajam.

Identifikasi Khusus memberikan nilai persediaan yang sangat akurat secara historis per unit, tetapi belum tentu mencerminkan biaya penggantian saat ini jika harga sudah banyak berubah.

Kelayakan Teoretis Masing-Masing
FIFO dinilai layak secara teoretis karena sejalan dengan aliran fisik banyak jenis persediaan (barang yang masuk pertama, keluar pertama) dan menghasilkan neraca yang lebih relevan saat harga naik.

Rata-rata Tertimbang kuat secara teori karena mengurangi perubahan laba yang tidak stabil dan mencerminkan biaya yang "representatif" dari periode berjalan, cocok untuk persediaan homogen dalam jumlah besar.

Identifikasi Khusus paling kuat secara teoretis dalam hal keandalan (reliability) karena HPP dan persediaan didasarkan pada biaya unit yang sebenarnya, tetapi hanya praktis untuk barang bernilai tinggi atau unik; untuk persediaan massal, biaya pencatatan dan pelacakan terlalu besar dibandingkan manfaatnya.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Muhammad Fawwaz -
nama = muhammad khalil fawwaz
npm = 2413031085

Pandangan saya, saat harga-harga naik, laba bersih yang dihasilkan metode LIFO biasanya lebih kecil dibandingkan dengan metode FIFO. Ini karena LIFO menganggap barang yang baru dibeli dengan harga mahal itu yang pertama dijual. Efeknya, harga pokok penjualan jadi lebih besar, yang membuat laba kotor dan laba bersih jadi lebih rendah dari yang dilaporkan FIFO. Sebaliknya, FIFO memakai harga barang lama yang lebih murah sebagai harga pokok penjualan, jadi laba bersih cenderung lebih tinggi saat harga-harga sedang naik.

Namun, saat harga-harga turun, metode LIFO justru cenderung menciptakan laba bersih yang lebih tinggi dibandingkan FIFO. Ini terjadi karena barang yang baru dibeli harganya lebih murah dan langsung dibebankan ke harga pokok penjualan, jadi bebannya lebih kecil dan laba pun naik. Sementara itu, FIFO akan membebankan harga barang lama yang lebih mahal ke harga pokok penjualan, akibatnya laba bersih jadi lebih rendah.

Kesimpulannya, perbedaan cara menilai persediaan antara FIFO dan LIFO sangat berdampak pada laba bersih perusahaan, terutama saat harga-harga tidak stabil. Maka dari itu, memilih metode persediaan harus disesuaikan dengan tujuan laporan keuangan dan juga kondisi ekonomi yang dihadapi perusahaan.