Kiriman dibuat oleh Rulla Alifah

TA C2025 -> CASE STUDY

oleh Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. Menurut Positive Accounting Theory (PAT), keputusan PT IndoEnergi mengubah metode depresiasi merupakan bentuk upaya manajemen menyesuaikan kebijakan akuntansi demi kepentingan ekonomi tertentu. Perubahan dari metode garis lurus ke saldo menurun ganda dapat dijelaskan melalui beberapa hipotesis PAT. Berdasarkan Political Cost Hypothesis, penurunan laba bisa mengurangi sorotan publik atau tekanan pemerintah terhadap perusahaan besar di sektor energi. Dari sisi Debt Covenant Hypothesis, langkah ini dapat membantu perusahaan menjaga posisi keuangan agar tidak melanggar perjanjian utang. Dengan demikian, tindakan tersebut dianggap rasional karena dapat menekan beban pajak dan menjaga stabilitas finansial jangka panjang.

2. Dalam standar IFRS (IAS 8) maupun US GAAP, perubahan metode depresiasi diperbolehkan jika mencerminkan pola manfaat aset yang lebih akurat. Perubahan ini termasuk kategori change in accounting estimate dan diterapkan secara prospektif, dengan kewajiban mengungkap alasan dan dampaknya. Praktik seperti ini juga terjadi di negara lain, terutama ketika kondisi operasi atau teknologi berubah. Namun, bila perubahan dilakukan untuk tujuan menurunkan laba atau pajak tanpa dasar teknis, hal tersebut dapat dikategorikan sebagai earnings management.

3. Teori Akuntansi Positif cukup kuat untuk menjelaskan motivasi ekonomi di balik kebijakan seperti yang dilakukan IndoEnergi. Namun, teori ini memiliki keterbatasan karena cenderung mengabaikan faktor etika, budaya, serta perbedaan sistem regulasi antarnegara. Dalam praktik global, pengawasan auditor dan aturan transparansi juga memengaruhi keputusan manajemen, hal yang tidak sepenuhnya dijelaskan oleh PAT. Karena itu, teori ini tetap relevan, tetapi perlu dilengkapi dengan pendekatan etika dan institusional agar mampu menjelaskan perilaku akuntansi secara lebih menyeluruh.

TA C2025 -> ACTIVITYl RESUME

oleh Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. “Positive Accounting Theory: Theoretical Perspectives on Accounting Policy Choice” menjelaskan Teori Akuntansi Positif (PAT) yang dikembangkan oleh Watts dan Zimmerman. Teori ini berupaya menjelaskan alasan manajemen memilih kebijakan akuntansi berdasarkan kepentingan ekonomi dan motivasi pribadi, bukan sekadar aturan. Terdapat tiga hipotesis utama: Bonus Plan (manajer menaikkan laba untuk bonus), Debt Covenant (meningkatkan laba agar tidak melanggar perjanjian utang), dan Political Cost (menurunkan laba untuk menghindari tekanan politik). Meski sering dikritik karena dianggap berpihak pada manajer, PAT penting karena mampu menjelaskan dan memprediksi perilaku manajemen secara empiris dalam praktik akuntansi modern.

2. “Perbandingan Pendekatan Teori Normatif dan Positif dalam Kebijakan Akuntansi pada PT Astra International Tbk dan PT Telekomunikasi Indonesia Tbk” membandingkan penerapan teori normatif dan positif di dua perusahaan besar Indonesia. Astra lebih menekankan pendekatan normatif, dengan fokus pada kepatuhan terhadap standar, transparansi, dan tanggung jawab sosial. Sebaliknya, Telkom menerapkan pendekatan positif yang lebih fleksibel sesuai kebutuhan bisnis dan pasar modal. Perbedaan ini dipengaruhi oleh karakteristik sektor industri masing-masing.

Kedua jurnal tersebut menunjukkan bahwa praktik akuntansi ideal adalah perpaduan antara pendekatan normatif dan positif, agar pelaporan keuangan tetap patuh, transparan, serta mampu menyesuaikan diri dengan perubahan ekonomi dan strategi bisnis.

AKM C2025 -> Diskusi

oleh Rulla Alifah -
Nama : Rulla Alifah
NPM : 2413031093

1. Instrumen keuangan adalah perjanjian yang menimbulkan aset bagi satu pihak dan kewajiban atau ekuitas bagi pihak lain. Jenisnya terdiri dari instrumen primer seperti kas, piutang, utang, dan saham, serta instrumen derivatif seperti opsi, kontrak berjangka, dan swap yang nilainya bergantung pada instrumen lain.

2. Kas merupakan uang tunai atau setara kas yang siap digunakan untuk kegiatan perusahaan. Pengendalian internal terhadap kas dilakukan agar tidak terjadi penyalahgunaan, seperti dengan memisahkan tugas penerimaan dan pencatatan kas, menggunakan bukti transaksi resmi, menyetor kas ke bank setiap hari, melakukan rekonsiliasi bank secara rutin, dan mengadakan pemeriksaan mendadak.

3. Kas disajikan dalam aset lancar di neraca bersama setara kas seperti deposito jangka pendek. Dalam catatan laporan keuangan, perusahaan perlu menjelaskan rincian kas (kas di tangan, kas di bank, dan setara kas) serta mengungkapkan bila ada kas yang penggunaannya dibatasi.

4. Piutang adalah hak perusahaan untuk menerima pembayaran dari pelanggan akibat penjualan secara kredit. Piutang diakui saat hak menerima kas timbul, yaitu ketika barang atau jasa sudah diserahkan, meskipun pembayaran belum diterima.

5. Piutang dicatat sebesar nilai bersih yang dapat diterima, yaitu jumlah piutang dikurangi cadangan kerugian piutang tak tertagih. Jika ada bukti pelanggan tidak mampu membayar, perusahaan mengakui penurunan nilai piutang. Dalam laporan keuangan, piutang disajikan di aset lancar, sedangkan dalam catatan laporan keuangan dijelaskan metode penilaian dan rincian piutang yang diragukan.

6. Analisis kas dan piutang bertujuan menilai kemampuan perusahaan mengelola likuiditas dan penagihan. Analisis kas dilakukan melalui laporan arus kas, sedangkan analisis piutang menggunakan rasio seperti perputaran piutang dan rata-rata waktu penagihan untuk melihat seberapa cepat piutang dapat tertagih.