Nama : Rulla Alifah
NPM : Rulla Alifah
1. Blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi laporan keberlanjutan karena data yang dicatat bersifat permanen, terverifikasi, dan memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini membantu mengurangi manipulasi informasi dan memberi stakeholder akses yang lebih transparan terhadap data jejak karbon maupun sumber bahan baku. Namun, teknologi ini tetap bergantung pada kualitas input; jika data awal tidak akurat, blockchain tidak dapat memperbaikinya. Karena itu, kontrol internal dan metode pengukuran yang benar tetap menjadi bagian penting untuk menjaga relevansi dan representasi yang andal dalam konteks teori akuntansi.
2. Dalam konteks Indonesia, tantangan utama mencakup kepatuhan terhadap POJK mengenai laporan keberlanjutan serta risiko pelanggaran UU Perlindungan Data Pribadi karena sifat blockchain yang sulit diubah. Jika sistem melibatkan token atau aset digital, perusahaan juga harus menyesuaikan diri dengan regulasi OJK yang lebih ketat. Di tingkat internasional, data on-chain harus tetap kompatibel dengan standar seperti GRI dan GHG Protocol. Selain itu, kesiapan teknologi di tingkat pemasok, potensi biaya tinggi, serta risiko dianggap melakukan greenwashing menjadi hambatan yang perlu dikelola dengan baik.
3. PT Hijau Lestari disarankan membangun tata kelola data yang jelas agar hanya data yang valid dan terverifikasi masuk ke blockchain. Penggunaan permissioned blockchain dengan model hybrid menyimpan data rinci secara off-chain dan hash di on-chain akan lebih sesuai dengan kebutuhan privasi dan regulasi. Perusahaan juga perlu mengadopsi standar pengukuran emisi yang diakui, melibatkan auditor sejak awal, serta memulai penerapan melalui pilot project terbatas untuk menguji kelayakan teknis dan regulasi. Pelibatan pemasok dan komunikasi transparan akan membantu meningkatkan penerimaan stakeholder dan memastikan manfaat teknologi benar-benar dirasakan.
NPM : Rulla Alifah
1. Blockchain dapat meningkatkan reliabilitas dan transparansi laporan keberlanjutan karena data yang dicatat bersifat permanen, terverifikasi, dan memiliki jejak audit yang jelas. Hal ini membantu mengurangi manipulasi informasi dan memberi stakeholder akses yang lebih transparan terhadap data jejak karbon maupun sumber bahan baku. Namun, teknologi ini tetap bergantung pada kualitas input; jika data awal tidak akurat, blockchain tidak dapat memperbaikinya. Karena itu, kontrol internal dan metode pengukuran yang benar tetap menjadi bagian penting untuk menjaga relevansi dan representasi yang andal dalam konteks teori akuntansi.
2. Dalam konteks Indonesia, tantangan utama mencakup kepatuhan terhadap POJK mengenai laporan keberlanjutan serta risiko pelanggaran UU Perlindungan Data Pribadi karena sifat blockchain yang sulit diubah. Jika sistem melibatkan token atau aset digital, perusahaan juga harus menyesuaikan diri dengan regulasi OJK yang lebih ketat. Di tingkat internasional, data on-chain harus tetap kompatibel dengan standar seperti GRI dan GHG Protocol. Selain itu, kesiapan teknologi di tingkat pemasok, potensi biaya tinggi, serta risiko dianggap melakukan greenwashing menjadi hambatan yang perlu dikelola dengan baik.
3. PT Hijau Lestari disarankan membangun tata kelola data yang jelas agar hanya data yang valid dan terverifikasi masuk ke blockchain. Penggunaan permissioned blockchain dengan model hybrid menyimpan data rinci secara off-chain dan hash di on-chain akan lebih sesuai dengan kebutuhan privasi dan regulasi. Perusahaan juga perlu mengadopsi standar pengukuran emisi yang diakui, melibatkan auditor sejak awal, serta memulai penerapan melalui pilot project terbatas untuk menguji kelayakan teknis dan regulasi. Pelibatan pemasok dan komunikasi transparan akan membantu meningkatkan penerimaan stakeholder dan memastikan manfaat teknologi benar-benar dirasakan.