Kiriman dibuat oleh Adelweis Laidy Ferdilla

EPE C2026 -> Diskusi

oleh Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074
Kelas : 2024C

Dalam dunia pendidikan, pengukuran, penilaian, dan evaluasi merupakan tiga konsep yang saling berkaitan tetapi memiliki fungsi dan tujuan yang berbeda. Ketiganya sangat penting dalam menentukan keberhasilan proses pembelajaran.

1. Urgensi Pengukuran dalam Pendidikan
Pengukuran memiliki peran penting karena menjadi dasar awal untuk memperoleh data hasil belajar siswa secara objektif. Tanpa pengukuran, guru akan kesulitan mengetahui tingkat kemampuan peserta didik.
Contoh:
Guru memberikan tes matematika dan memperoleh skor siswa sebagai data kemampuan belajar.

2. Urgensi Penilaian dalam Pendidikan
Penilaian penting karena tidak hanya melihat angka, tetapi juga menafsirkan makna dari hasil belajar siswa. Penilaian membantu guru memahami perkembangan peserta didik secara menyeluruh.
Contoh:
Guru menyimpulkan bahwa siswa dengan nilai tinggi memiliki pemahaman materi yang baik.

3. Urgensi Evaluasi dalam Pendidikan
Evaluasi memiliki cakupan paling luas karena digunakan untuk mengambil keputusan terkait proses pembelajaran. Evaluasi membantu meningkatkan kualitas pendidikan secara keseluruhan.
Contoh:
Guru mengganti strategi mengajar karena hasil belajar siswa masih rendah.

Hubungan Ketiganya
Pengukuran, penilaian, dan evaluasi memiliki perbedaan pada fungsi, tujuan, dan hasil yang diperoleh. Pengukuran berfokus pada angka, penilaian berfokus pada interpretasi hasil belajar, sedangkan evaluasi berfokus pada pengambilan keputusan. Ketiga konsep ini saling berkaitan dan tidak dapat dipisahkan dalam proses pendidikan:
Pengukuran → Penilaian → Evaluasi
Ketiganya memiliki urgensi tinggi dalam pendidikan karena membantu guru mengetahui kemampuan siswa, memperbaiki proses pembelajaran, serta meningkatkan kualitas pendidikan secara menyeluruh.

EPE C2026 -> SUMMARY VIDEO

oleh Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074
Kelas : 2024C

Dalam video tersebut menjelaskan perbedaan dari pengertian-pengertian dasar yaitu Tes, Pengukuran, Penilaian dan Evaluasi

1. Tes, yaitu seperangkat alat untuk mengukur kemampuan siswa yang mempunyai nilai benar atau salah yang harus dijawab oleh siswa.
2. Pengukuran, adalah memberikan penilaian dalam bentuk kuatitatif angka terhadap alat tes yang dikerjakan oleh siswa.
3. Penilaian, adalah suatu proses untuk memberikan judgement terhadap proses pengukuran yang tadi dilakukan.
4. Evaluasi, tidak hanya bicara fokus apa yang terjadi pada hasil belajar siswa. Tetapi, juga mengevaluasi program pembelajaranya

Poin pentingnya yaitu; Jika tidak memiliki alat tes, maka tidak bisa melakukan pengukuran. Jika tidak melakukan pengukuran, maka tidak bisa melalukan penilaian, dan jika tidak melakukan penilaian maka tidak bisa melakukan evaluasi. Jadi, haruslah guru membuat alat tes yang baik, lalu dari tes yang bail tadi dilakukan pengukuran. Setelah diukur kemudian penelian, setelah itu barulah tau bagaimana kemampuan anak, dan berikutnyadengan evaluasi bisa diambil feedback atau melalukan revleksi tentang bagaimana kemampuan kita mengajar.

AKL C2026 -> Case

oleh Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074
Kelas : 2024C

a. Peran Kerangka Konseptual PSAK/IFRS
Kerangka Konseptual PSAK/IFRS berperan sebagai pedoman dasar dalam penyusunan laporan keuangan ketika tidak terdapat standar akuntansi yang secara spesifik mengatur suatu transaksi. Dalam kasus PT Edukasi Nusantara Tbk, kerangka konseptual membantu manajemen dalam menentukan pengakuan, pengukuran, dan penyajian elemen laporan keuangan agar tetap mencerminkan tujuan utama pelaporan, yaitu memberikan informasi yang relevan dan andal bagi pengguna. Kerangka ini menekankan karakteristik kualitatif seperti relevansi, representasi tepat (faithful representation), keterbandingan, dan dapat dipahami. Dengan demikian, meskipun tidak ada PSAK khusus yang mengatur bisnis digital secara rinci, manajemen tetap dapat menggunakan prinsip-prinsip dalam kerangka konseptual untuk membuat kebijakan akuntansi yang rasional dan dapat dipertanggungjawabkan.

b. Analisis Pengakuan Goodwill dan Nilai Wajar Aset Tidak Berwujud
Pengakuan goodwill dari akuisisi PT Cerdas Digital pada dasarnya dapat mencerminkan substansi ekonomi jika didasarkan pada kelebihan nilai yang dibayar dibandingkan nilai wajar aset bersih yang diperoleh, termasuk potensi manfaat ekonomi masa depan seperti pertumbuhan pengguna. Namun, jika nilai goodwill terlalu bergantung pada proyeksi yang optimistis tanpa dasar yang kuat, maka berisiko tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sebenarnya.

Sementara itu, pengukuran aset tidak berwujud seperti platform digital dan basis data pengguna menggunakan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif menimbulkan tantangan. Penilaian ini sangat bergantung pada estimasi dan asumsi manajemen, sehingga rentan terhadap bias. Jika metode penilaian tidak didukung oleh teknik valuasi yang andal (misalnya discounted cash flow yang realistis), maka nilai yang dihasilkan bisa menyimpang dari substansi ekonomi sebenarnya. Oleh karena itu, meskipun pendekatan nilai wajar diperbolehkan, penerapannya harus sangat hati-hati agar tetap mencerminkan kondisi ekonomi yang sesungguhnya.

c. Risiko dan Implikasi Etis Professional Judgment
Penggunaan professional judgment yang tidak tepat dapat menimbulkan berbagai risiko, seperti penyajian laporan keuangan yang menyesatkan, overstatement aset, dan pengambilan keputusan yang keliru oleh investor. Secara etis, hal ini dapat melanggar prinsip integritas, objektivitas, dan profesionalisme dalam akuntansi. Jika manajemen dengan sengaja menggunakan asumsi yang terlalu optimistis untuk meningkatkan kinerja perusahaan secara semu, maka hal tersebut dapat dianggap sebagai manipulasi laporan keuangan. Implikasi lebih lanjut dapat berupa hilangnya kepercayaan publik, penurunan reputasi perusahaan, hingga potensi sanksi hukum. Oleh karena itu, professional judgment harus digunakan secara hati-hati, transparan, dan berdasarkan bukti yang dapat diverifikasi.

d. Pemanfaatan Kasus sebagai Pembelajaran
Sebagai calon pendidik ekonomi, kasus ini sangat relevan untuk digunakan sebagai media pembelajaran yang kontekstual dan kritis. Peserta didik dapat diajak untuk menganalisis bagaimana standar akuntansi diterapkan dalam situasi nyata yang kompleks, khususnya pada bisnis digital yang terus berkembang. Selain itu, kasus ini dapat digunakan untuk menanamkan nilai etika dalam akuntansi, seperti pentingnya kejujuran, tanggung jawab, dan transparansi dalam penyusunan laporan keuangan. Guru dapat mendorong diskusi, studi kasus, dan debat agar siswa tidak hanya memahami konsep secara teoritis, tetapi juga mampu berpikir kritis terhadap praktik akuntansi di dunia nyata. Dengan demikian, pembelajaran menjadi lebih bermakna dan membentuk karakter profesional yang berintegritas.