Posts made by Adelweis Laidy Ferdilla

TA C2025 -> DISKUSI

by Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074

Pendapat saya mengenai video tersebut adalah Video tersebut memberikan penjelasan yang sangat jelas dan sistematis mengenai konsep pengukuran dalam laporan keuangan, khususnya pada aspek pengukuran aset dan liabilitas. Menurut saya sebagai mahasiswa, video ini sangat bermanfaat karena menjelaskan beberapa dasar penting seperti pengukuran berdasarkan historical cost, fair value, current cost, dan value in use dengan ilustrasi yang mudah dipahami.

Penjelasan tentang bagaimana nilai aset mengalami penyesuaian dari harga historis ke nilai wajar atau biaya saat ini sangat membantu memahami proses akuntansi modern yang mengutamakan relevansi dan representasi yang wajar dalam laporan keuangan. Selain itu, penggunaan contoh perhitungan depresiasi dan nilai kini juga memberikan gambaran konkret bagaimana nilai aset disesuaikan dalam praktik.

Dengan pembawaan yang terstruktur dan bahasa yang sederhana, video ini cocok bagi mahasiswa yang sedang mempelajari akuntansi keuangan terutama topik pengukuran dalam kerangka konsep pelaporan keuangan. Video ini juga menyorot pentingnya standar akuntansi seperti IFRS 13 dalam menentukan nilai wajar, yang merupakan pengetahuan penting untuk praktik akuntansi profesional ke depan. Jadi, secara keseluruhan saya menilai video ini sangat informatif dan layak sebagai sumber belajar tambahan bagi mahasiswa akuntansi.

TA C2025 -> CASE STUDY

by Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074
Kelas : 2024 C

1. Keputusan PT Garuda Sejahtera untuk memilih nilai wajar sebagai pengukuran mungkin dapat dibenarkan secara konseptual dalam kerangka IFRS, tetapi mendapatkan kritik tajam dalam konteks PSAK serta kondisi pasar Indonesia.

1) Sisi Konseptual (IFRS):
IFRS, terutama IFRS 13, mendukung penggunaan nilai wajar sebagai metode pengukuran karena dipandang lebih relevan. Relevansi ini menunjukkan bahwa informasi tersebut memiliki kemampuan prediktif dan konfirmasi bagi para investor. Nilai wajar juga dirasa lebih mencerminkan substansi ekonomi dari aset, yakni nilai yang dapat diraih jika aset tersebut dijual di pasar saat ini. Hal ini sejalan dengan prinsip "substance over form" yang merupakan salah satu dasar IFRS. Namun, IFRS 13 juga menekankan bahwa nilai wajar harus diambil dari pasar yang aktif dan dapat diandalkan. Kritik dari auditor terkait dengan ketiadaan pasar aktif di Indonesia untuk pesawat adalah argumen yang sah dan sesuai dengan kerangka IFRS. IFRS menyatakan bahwa nilai wajar dapat memberikan informasi yang lebih tepat untuk pengambilan keputusan, khususnya bagi investor global yang akrab dengan model penilaian berbasis pasar.

2) Sisi Konseptual (PSAK dan Konteks Indonesia):
PSAK, meskipun mengintegrasikan IFRS, tetap mempertahankan prinsip konservatisme yang kuat. Konsep biaya historis dianggap lebih dapat diandalkan dan terverifikasi, terutama di pasar yang kurang likuid seperti Indonesia. Dalam PSAK, ketersediaan pasar aktif merupakan syarat penting untuk menerapkan nilai wajar. Jika pasar tidak ada, memakai nilai wajar dapat melanggar prinsip keandalan dan netralitas karena estimasi bisa sangat subjektif. Menggunakan nilai wajar tanpa adanya pasar aktif dapat menyebabkan volatilitas yang tidak semestinya pada laporan laba rugi, yang bisa membingungkan para investor dan tidak mencerminkan kondisi ekonomi yang sejati. Penolakan auditor terasa tepat karena penerapan nilai wajar tanpa pasar yang memadai melanggar prinsip keandalan serta verifiabilitas, yang merupakan karakteristik kualitatif penting dalam kerangka konseptual PSAK.

2. Perbandingan Kerangka Konseptual PSAK dan IFRS
Kerangka Konseptual PSAK merupakan pengadopsian dari Kerangka Konseptual IFRS. Meski demikian, terdapat beberapa penekanan dan perbedaan halus yang penting untuk konteks Indonesia.

Tujuan Laporan Keuangan
-PSAK: Menyediakan informasi keuangan yang bermanfaat bagi pengguna laporan, terutama investor, kreditor, dan pihak-pihak lainnya, dalam membuat keputusan ekonomi.
-IFRS: Sama, tujuannya memberikan informasi keuangan yang bermanfaat untuk alokasi sumber daya. IFRS lebih menekankan pada kebutuhan investor dan kreditor di tingkat global.

Karakteristik Kualitatif Informasi
-PSAK: Memiliki dua karakteristik utama: Relevansi dan Keandalan. Relevansi mencakup nilai prediktif, konfirmasi, dan materialitas. Keandalan meliputi penyajian yang jujur, substansi yang mengungguli bentuk, netralitas, pertimbangan yang sehat, dan kelengkapan.
-IFRS: Menggunakan dua karakteristik fundamental: Relevansi dan Representasi yang Akurat. Relevansi mempunyai sub-karakteristik yaitu nilai prediktif dan konfirmasi. Representasi yang Akurat memiliki sub-karakteristik berupa kelengkapan, netralitas, dan bebas dari kesalahan. Perbedaannya terletak pada penekanan. PSAK tetap menyoroti "keandalan" yang berhubungan erat dengan konservatisme dan verifiabilitas, sementara IFRS lebih menekankan "faithful representation" yang lebih netral dan bebas dari bias konservatif.

Basis Pengukuran
-PSAK: Mengakui dua jenis pengukuran utama, yaitu Biaya Historis dan Nilai Wajar. PSAK lebih konservatif dan lebih memilih Biaya Historis ketika kondisi pasar tidak aktif.
-IFRS: Mendorong penerapan Nilai Wajar sebagai dasar utama untuk beberapa aset dan liabilitas, karena dinilai lebih relevan. Namun, IFRS tetap mengakui Biaya Historis sebagai dasar yang sah. IFRS lebih fleksibel dan berfokus pada nilai pasar.

Asumsi Entitas dan Kelangsungan Usaha
-PSAK: Asumsi mengenai entitas akuntansi (unit akuntansi yang terpisah dari pemilik) serta kelangsungan perusahaan (perusahaan akan beroperasi untuk waktu yang lama) adalah hal yang mendasar.
-IFRS: Menggunakan asumsi yang sama. Tidak ada perbedaan yang signifikan di sini karena kedua kerangka ini menganggap asumsi tersebut sebagai fondasi pelaporan keuangan.

3. Menurut saya Indonesia sebaiknya tidak mengadopsi kerangka konseptual IFRS secara menyeluruh tanpa penyesuaian yang sesuai dengan konteks lokal. Beberapa Argumen Kritis yang dapat dipertimbangkan meliputi:

-Tingkat Kematangan Pasar: Pasar modal dan aset di Indonesia masih dalam tahap pengembangan. Pasar untuk sejumlah jenis aset, seperti pesawat atau properti khusus, sangat terbatas atau bahkan tidak ada. Penggunaan nilai wajar secara luas dapat menyebabkan fluktuasi yang tidak wajar dan mengurangi keandalan informasi.
-Konservatisme Budaya dan Ekonomi: Secara umum, budaya bisnis di Indonesia cenderung lebih konservatif. Pendekatan melalui Biaya Historis lebih mudah dipahami, dapat diverifikasi, dan memberikan stabilitas. Pengadopsian penuh IFRS tanpa penyesuaian dapat menyebabkan ketidakcocokan antara laporan keuangan dan realitas bisnis di tingkat lokal.
-Faktor Sosial dan Pendidikan: Tingkat pemahaman serta literasi akuntansi di kalangan pelaku bisnis, auditor, dan investor di Indonesia masih beragam. Implementasi IFRS yang kompleks secara penuh memerlukan investasi besar dalam pendidikan dan pelatihan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, penerapan yang tidak tepat bisa saja terjadi.
-Stabilitas Keuangan: Penggunaan nilai wajar secara luas dalam laporan keuangan, terutama untuk instrumen keuangan, dapat mempercepat terjadinya krisis. Di saat krisis, nilai pasar dapat turun dengan tajam, yang memaksa perusahaan untuk mengakui kerugian besar yang bisa menyebabkan lebih banyak kepanikan dan kemungkinan kebangkrutan.

Kesimpulannya, Indonesia sebaiknya melanjutkan strategi pengadopsian IFRS dengan melakukan penyesuaian yang sesuai dengan konteks lokal. Pendekatan ini akan memungkinkan Indonesia untuk mendapatkan keuntungan dari standar global (keterbandingan, menarik investasi asing) sambil tetap menjaga relevansi, keandalan, dan stabilitas di pasar domestik. Penyesuaian ini meliputi mempertahankan prinsip konservatisme dan keandalan yang kuat, khususnya di area di mana pasar aktif belum tersedia.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama: Adelweis Laidy Ferdilla
NPM: 2413031074
Kelas: 2024 C

Jurnal “Restrictions in the conceptual framework for financial Reporting: A review of the literature, membahas mengenai tinjauan literatur yang bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis literatur literatur yang membahas tentang batasan-batasan atau kendala dalam kerangka konseptual untuk pelaporan keuangan. Penulis memulai membahas dengan berfokus bahwa proses globalisasi telah mendorong adanya harmonisasi standar pelaporan keuangan. Sebagai respons dua Lembaga penyusun standar akutansi yang paling berpengaruh di dunia yaitu dewan standar akutanssi keuangan Amerika Serikat atau FASB dan Dewan Standar Akutansi International atau IASB, berkolaborasi dalam sebuah proyek bersama. Salah satu proyek utama mereka adalah pengemabangan kerangka konseptual yang seragam. Tujuan utama dari pelaporan keuangan, seperti yang di definisikan dalam kerangka ini adalah untuk menyediakan informasi keuangan yang berguna bagi para pengguna utama seperti investor dan kreditor, dalam membuat alokasi sumber daya. Untuk mencapai tujuan tersebut pentingnya bagi CFW untuk mengkaaji karakteristik fundamental informasi akutansi keuangan dan Batasan batasannya. Meskipun banyak literature telah membahas tentang keguanaan informasi dari CFW tinjauan ini menunjukan bahwa jurnnal ini yang berfokus pada Batasan Batasan dalam kerangka ini masih sangat terbatas. Sebagian besar penelitian empiris yang ada cenderung berorientasi pada US GAAP, sementara penelitian tentang Batasan battasan dalan IFRS masih terbatas.

Jurnal ini juga memberikan gambaran historis yang terperinci tentang evolusi kerangka konseptual yang pertama kali dikembangkan di Amerika Serikat.Upaya resmi pertama dilakukan pada tahun 1936 oleh Asosiasi Akutansi Amerika atau AAA, yang menyatakan bahwa pernyataan tentative prinsip akutansi yang memengaruhi laporran perrusahaan. Jurnal ini juga menegaskan bbahwa tujuan utama pelaporan keuangan addalah menyediakan informasi yang berrguna bagi investor, kreditor dan pengguna lainnya, namun laporan keuangan bertujuan umum dan tidak menyediakan semua informasi yang dibutuhkan oleh pengguna, oleh karena itu merreka harus mempertimbangkan informasi dari sumber lain seperti kondisi ekonomi umum, ekspetasi ekonomi, dan peristiwa politik. Laporan keuangan tidak dibuat untuk menunjukan nilai bisnis secara langsung, tetapi untuk membantu pengguna dalam memprediksi terkait nilai perrusahaan. Pada jurnal ini juga membahass beberapa Batasan utama dalam CFW yaitu
- Biaya historical
- Kebijakan akutansi
- Estimasi akutansi
- Kesalahan dan kecurangan akutansi
- konservatsime
Jadi kesimpulannya jurnal ini menyatakan bahwa meskipun kerangka konseptual berfungsi sebagai panduan penting untuk konsistensi dalam pelaporan keuangan, terrdapat Batasan Batasan yang signifikan yang perlu diperrhatikan. Perdebbatan antara baiaya historis dan nilai wajar, peran penilaian dalam kebijakan akutansim ketergantungan padda estimasi, resiko kesalahan dan kecurangan serta peran konservatisme. Hal ini menekankan pentingnya penelitian lebih lanjut terutama dari perspektif IFRS untuk mengatasi Batasan Batasan ini dan memastikan bahwa laporan keuangan terus memberikan ifnormasi yang paling relevan dan andal bagi paraa pengambilan keputusan.

TA C2025 -> DISKUSI

by Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074
kelas: 24 C

Setelah menyimak video tersebut, saya dapat menyimpulkan bahwa Kerangka Konseptual yang dikembangkan oleh Financial Accounting Standards Board (FASB) berfungsi sebagai landasan teoritis untuk US GAAP, yang disusun guna menjaga keseragaman dan keselarasan dalam penciptaan standar akuntansi. Pada intinya, tujuannya adalah untuk memberikan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan, berfokus pada menyediakan data yang membantu para pengguna utama (seperti investor, kreditor, dan pihak lainnya) dalam memprediksi arus kas yang akan datang dari perusahaan. Kegunaan ini dicapai melalui dua kualitas utama: relevansi dan representasi yang akurat. Relevansi mencakup tidak hanya nilai prediktif dan konfirmatoris tetapi juga berhubungan erat dengan konsep materialitas, di mana pentingnya suatu item ditentukan berdasarkan pengaruhnya terhadap keputusan para pengguna. Di sisi lain, representasi yang akurat sering kali dianggap sama dengan keandalan mengharuskan informasi agar lengkap, netral, dan bebas dari kesalahan. Ini adalah syarat penting, karena informasi yang relevan namun tidak dapat diandalkan tidak berguna. Kualitas dasar ini diperkuat oleh empat kualitas tambahan: komparabilitas (termasuk konsistensi), kemampuan untuk diverifikasi, ketepatan waktu, dan kemudahan pemahaman.

Berkaitan dengan landasan tersebut, Kerangka Konseptual menetapkan elemen-elemen pokok (seperti aset, kewajiban, pendapatan, dan biaya), asumsi-asumsi mendasar (seperti entitas ekonomi, kelangsungan usaha, periodisitas, dan unit moneter), serta prinsip-prinsip pengakuan dan pengukuran. Prinsip-prinsip ini mencakup penggunaan pengukuran atribut yang beragam (misalnya, biaya historis versus nilai wajar), prinsip pengakuan pendapatan yang berorientasi pada pelaksanaan kewajiban, dan prinsip pencocokan dalam pengakuan biaya. Seluruh penerapan kerangka ini terikat oleh dua batasan utama: batasan biaya, yang menegaskan bahwa pengeluaran untuk menyediakan informasi tidak boleh melebihi manfaat yang diperoleh pengguna, dan konservatisme, yang merupakan prinsip kehati-hatian yang cenderung untuk segera mengakui kerugian sambil menunda pengakuan keuntungan hingga benar-benar terjadi, yang bertujuan untuk menghindari laporan keuangan yang terlalu optimis. Secara keseluruhan, kerangka ini berusaha untuk menyeimbangkan tujuan yang seringkali bertentangan seperti antara relevansi (memerlukan data yang lebih mutakhir, sering kali bersifat subyektif) dan representasi yang akurat (membutuhkan data yang lebih terverifikasi, sering kali berdasarkan biaya historis) dalam rangka menghasilkan standar yang adil dan konsisten.

TA C2025 -> ACTIVITY: RESUME

by Adelweis Laidy Ferdilla -
Nama: Adelweis Laidy Ferdilla
NPM: 2413031074
Kelas: 2024 C


Jurnal ini membahas tentang teori akuntansi, termasuk unsur-unsur, struktur, serta kerangka konseptual yang menjadi dasar dalam penyusunan laporan keuangan. Penulis menekankan bahwa teori akuntansi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi juga perlu diterapkan dalam praktik agar laporan keuangan benar-benar bermanfaat.

Teori akuntansi sendiri dipandang sebagai sekumpulan prinsip yang teratur dan logis, yang membantu menjelaskan serta memandu praktik akuntansi. Artikel ini membagi teori akuntansi ke dalam beberapa pendekatan, seperti pragmatis, sintaktik, semantik, normatif, positif, naturalistik, dan ilmiah. Masing-masing pendekatan memiliki fokus yang berbeda, baik dalam menjelaskan perilaku akuntan, kegunaan laporan keuangan, hingga penerapan prinsip yang sesuai dengan kenyataan.

Unsur utama teori akuntansi mencakup kegunaan, relevansi, keandalan, konsistensi, dan keterbandingan informasi. Selain itu, terdapat asumsi dasar seperti entitas usaha, periode akuntansi, kelangsungan usaha, dan penggunaan mata uang sebagai satuan ukur. Struktur teori akuntansi terdiri dari postulat, konsep, dan prinsip yang menjadi landasan dalam penyusunan standar akuntansi.

Kerangka konseptual (conceptual framework) digunakan untuk menyusun standar akuntansi, memandu auditor, membantu penyusun laporan, serta memberikan dasar agar laporan keuangan dapat dipahami oleh berbagai pihak, mulai dari investor, kreditor, hingga pemerintah.

Kesimpulannya, teori akuntansi sangat penting karena menjadi pondasi dari praktik pelaporan keuangan yang kredibel. Namun, teori hanya akan bermanfaat jika diterapkan secara nyata dalam praktik untuk mencegah kecurangan dan meningkatkan kualitas informasi keuangan.