Nama: Adelweis Laidy Ferdilla
NPM; 2413031074
Kelas: 2024 C
1. Evaluasilah kelebihan dan kekurangan penggunaan fair value dibandingkan dengan historical cost dalam konteks pelaporan aset tetap di PT Nusantara Properti.
Jawab:
Kelebihan dan kekurangan penggunaan fair value yaitu jika dibandingkan dengan historical cost adalah
- Kelebihan yang pertama yaitu pada relevansi informasi, dimana nilai wajar mencerminkan harga pasar asset saat ini, memberikan gambaran yang lebih akurat tentang posisi keuangan perusahaan saat ini dan nilai ekonomi sebenarnya dari asset dan property tersebut. Ini sangat relevan bagi investor PT Nusantara Properti untuk membuat keputusan investasi di pasar fluktuatif. Pencerminan kondisi ekonomi terkini yaitu pengukuran ini mereflesikan kondisi ekonomi terkini pada tanggal neraca, alih alih kondisi historis. Ini penting untuk sektor property yang nilainya dapat berrfluktuasi drastic dari tahun ke tahun. Komparabilitas dan objektivitas yaitu secara tujuan, nilai wajar berbasis pasar cenderung lebih objektif dan komparabel karena tidak di dasarkan pada kondisi individual yang dicapai pada pengakuan awal asset. Nilai ini mencerminkan ekspetasi pasar bukan ekspetasi spesifik manajemen. Kemudian menghindari erosi modal fisik yaitu nilai wajar yang memabantu menghindari potensi erosi pemeliharaan modal fisik yang bisa terjadi jika biaya historis yang terlalu rendah karena inflasi digunakan untuk menghitung laba yang didistribusikan.
- Kekurangan yaitu pada keandalan dimana ini adalah kelemahan utama PT Nusantara Properti. Penilaian property komersial yang dilakukan pihak ketiga sering di dasarkan pada asumsi pasar subyektif dan model estimasi, terutama jika pasar tidak aktif atau asset bersifat unik. Ini dapat mengurang verifiabilitas data. Volatilitas laba yang tinggi dimana kenaikan atau penurunan nilai wajar property yang belum di realisasi harus diakui di laporan laba rugi komperhensif kerena dapat menyebabkan volatilitas laba bersih yang signifikan, hal ini akan menyulitkan pengguna untuk memprediksi arus kas masa depan. Berikutnya terdapat resiko keuntungan yang belum direalisasi dimana pengakuan keuntungan yang belum di realisasi dari revaluasi asset dapat menimbulkan risiko, terutama jika keuntungan tersebut didistribusika kepada pemilik sebagai dividen, padahal keuntungan tersebut tidak di dukung oleh arus kas nyata. Penyimpangan menejeerial dimana hal ini dapat menyebabkan peluang untuk memanipilasi nilai buku.
2. Dalam konteks Indonesia dan standar global (IFRS), sejauh mana penggunaan nilai wajar dapat meningkatkan relevansi tanpa mengorbankan keandalan informasi akuntansi?
Jawab:
Dalam konteks IFRS dan Indonesia yang mengadopsi IFRS melalui PSAK, penggunaan nilai wajar secara signifikan meningkatkan relevansi, tetapi peningkatan ini sselalu beresiko mengorbankan keandalan, terutama untuk asset non keuang seperti property ssesuai dengam studi case. Kemudian peningkatan relevansi nilai wajar memberikan pandangan yang lebih prediktif dan informatif bagi investor PT Nusantara Properti investasi, relevansi menjadi kriteria pengukuran yang paling diutamakan karena mencerminkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari asetnya.
- Tantangan keandalan pada pasar property non aktif yaitu property komersial seringkali diperdagangkan di pasar yang kurang aktif atau unik, ketika pasar tidak ada maka estimasi nilai wajar akan bergantung pada model atau tekhnik yang menggunakan asusmsi yang berasal dari data spesifik entitas, yang secara inheren kurang dapat diverifikasi dibandingkan baiaya historis.
- Prediksi keseimbangan tercapai, keseimbangan antara relevansi dan keandalan pada PT Nusantara Properti sangat bergantung pad tingkat hirarki nilai wajar yang digunakan (PSAK 68/IFRS 13), dimaana level I input pasar teramati jika nilai wajar property didasarkan pada harga kuotasian di pasar aktif untuk asset identic, relevansi tinggi dan keandalan juga tinggi, namun ini jarang terjadi pada property. Kemudian level 2 input pasar tidak langsung, jika didasarkan pada harga property serupa dengan penyesuaian, relevansi tinggi, tetapi keandalan sedikit berkurng karena adanya penyesuaian subjektif. Level 3 input yang tidak dapat diamati yaitu jika di dasarkan pada arus kas terdiskonto seperti yang sering terjadi pada property investasi, relevansi tetap tinggi, tetapi keandalan sangat rendah karena di dasarkan pada asumsi eentitas spesifik yang tidak diamati di pasar
Oleh karena itu dapat saya simpulkan bahwa nilai wajar meningkatkan relevansi secara maksinal . namun keandalan informasi akutansu akan dikorbankan sejauh PT Nusantara Properti harus menggunakan input level 3 yang subjektif unttuk menentukan nilai propertinya.
3. Jika Anda adalah anggota Komite Standar Akuntansi Keuangan (DSAK IAI), apa rekomendasi kebijakan Anda terkait penggunaan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di sektor properti? Berikan argumen yang didasarkan pada prinsip-prinsip pelaporan keuangan.
Jawab:
Rekomendasi yang akan saya berikan adalah mewajibkan pengungkapan yang diperluas mengenai proses valuasi untuk property yang diukur menggunakan nilai wajar, terutama yang mmenggunakan input level 2 dan level 3. Kemudian prinsip ppeningkatan kualitas informasu yaitu pengungkapan yang menddetail memungkinkan investor PT Nusantara Properti untuk menilai keandalan dari nilai yang dilaporkan yaitu seberapa besar nilai tersebut bergantung pada asumsi manajerial yang subjektif, pengungkapan harus mencakup asumsi utama yang digunakan untuk penilai, kemudian dampak dari perubahan asumsi material dan kualifikasi penilaian independent yang ditunjuk.
pemisahan pengakuan keuantungan belum direalisasi yaitu pertimbangkan untuk memperkuat Batasan pengakuan keuntungan revaluasi asset tetap. Wlaupun PSAK 16 memindahkannya ke penghasilan komperhensif lain , DSAK harus menekankan bahwa keuntungan revaluasi property investasi harus dipisahkan dalam laporan laba rugi, unruk prinsipnya adalah prinsip prudence dan oencegahan erosi modal, dimana keuntungan revaluasinya, terutama dari asset noon likuid seperti property, bersifat fiktif dan sangat beresiko sebagai laba operasional.
Kemudian konsistensi dan pengujian yang lebih ketat yaitu dengan terapkan pengujian keandalan yang ketat secara periodeik. Jika estiimasi nilai wajar asset property berulang kali jatuh ke level 3 dengan selisih yang sangat besar dari biaya historis dan sulit di verivikasi mkan komite harus mempertimbangkan untuk wajib Kembali, biaya historis sebagai pengukuran utama attau setidaknya mewajibkan pelaporan biaya hiistoris sebagai informasi sekunder di catatat atas laporan keuangan. Hal ini berhubungan dengan prinsip keandalan dan verifiabilitas. Meskipun nilai wajar itu relevam, standar harus mencegah nilai wajar dengan bukti yang sangat rendah digunakan sebagai nilai utama dakam kasus asset non keuangan dimana kebijakan harus memungkinkan fleksibilitas tetapi mendorong penggunaan nilai wajar hanya ketika input pasar dapat diamati secara wajar
NPM; 2413031074
Kelas: 2024 C
1. Evaluasilah kelebihan dan kekurangan penggunaan fair value dibandingkan dengan historical cost dalam konteks pelaporan aset tetap di PT Nusantara Properti.
Jawab:
Kelebihan dan kekurangan penggunaan fair value yaitu jika dibandingkan dengan historical cost adalah
- Kelebihan yang pertama yaitu pada relevansi informasi, dimana nilai wajar mencerminkan harga pasar asset saat ini, memberikan gambaran yang lebih akurat tentang posisi keuangan perusahaan saat ini dan nilai ekonomi sebenarnya dari asset dan property tersebut. Ini sangat relevan bagi investor PT Nusantara Properti untuk membuat keputusan investasi di pasar fluktuatif. Pencerminan kondisi ekonomi terkini yaitu pengukuran ini mereflesikan kondisi ekonomi terkini pada tanggal neraca, alih alih kondisi historis. Ini penting untuk sektor property yang nilainya dapat berrfluktuasi drastic dari tahun ke tahun. Komparabilitas dan objektivitas yaitu secara tujuan, nilai wajar berbasis pasar cenderung lebih objektif dan komparabel karena tidak di dasarkan pada kondisi individual yang dicapai pada pengakuan awal asset. Nilai ini mencerminkan ekspetasi pasar bukan ekspetasi spesifik manajemen. Kemudian menghindari erosi modal fisik yaitu nilai wajar yang memabantu menghindari potensi erosi pemeliharaan modal fisik yang bisa terjadi jika biaya historis yang terlalu rendah karena inflasi digunakan untuk menghitung laba yang didistribusikan.
- Kekurangan yaitu pada keandalan dimana ini adalah kelemahan utama PT Nusantara Properti. Penilaian property komersial yang dilakukan pihak ketiga sering di dasarkan pada asumsi pasar subyektif dan model estimasi, terutama jika pasar tidak aktif atau asset bersifat unik. Ini dapat mengurang verifiabilitas data. Volatilitas laba yang tinggi dimana kenaikan atau penurunan nilai wajar property yang belum di realisasi harus diakui di laporan laba rugi komperhensif kerena dapat menyebabkan volatilitas laba bersih yang signifikan, hal ini akan menyulitkan pengguna untuk memprediksi arus kas masa depan. Berikutnya terdapat resiko keuntungan yang belum direalisasi dimana pengakuan keuntungan yang belum di realisasi dari revaluasi asset dapat menimbulkan risiko, terutama jika keuntungan tersebut didistribusika kepada pemilik sebagai dividen, padahal keuntungan tersebut tidak di dukung oleh arus kas nyata. Penyimpangan menejeerial dimana hal ini dapat menyebabkan peluang untuk memanipilasi nilai buku.
2. Dalam konteks Indonesia dan standar global (IFRS), sejauh mana penggunaan nilai wajar dapat meningkatkan relevansi tanpa mengorbankan keandalan informasi akuntansi?
Jawab:
Dalam konteks IFRS dan Indonesia yang mengadopsi IFRS melalui PSAK, penggunaan nilai wajar secara signifikan meningkatkan relevansi, tetapi peningkatan ini sselalu beresiko mengorbankan keandalan, terutama untuk asset non keuang seperti property ssesuai dengam studi case. Kemudian peningkatan relevansi nilai wajar memberikan pandangan yang lebih prediktif dan informatif bagi investor PT Nusantara Properti investasi, relevansi menjadi kriteria pengukuran yang paling diutamakan karena mencerminkan kemampuan perusahaan untuk mendapatkan manfaat ekonomi dari asetnya.
- Tantangan keandalan pada pasar property non aktif yaitu property komersial seringkali diperdagangkan di pasar yang kurang aktif atau unik, ketika pasar tidak ada maka estimasi nilai wajar akan bergantung pada model atau tekhnik yang menggunakan asusmsi yang berasal dari data spesifik entitas, yang secara inheren kurang dapat diverifikasi dibandingkan baiaya historis.
- Prediksi keseimbangan tercapai, keseimbangan antara relevansi dan keandalan pada PT Nusantara Properti sangat bergantung pad tingkat hirarki nilai wajar yang digunakan (PSAK 68/IFRS 13), dimaana level I input pasar teramati jika nilai wajar property didasarkan pada harga kuotasian di pasar aktif untuk asset identic, relevansi tinggi dan keandalan juga tinggi, namun ini jarang terjadi pada property. Kemudian level 2 input pasar tidak langsung, jika didasarkan pada harga property serupa dengan penyesuaian, relevansi tinggi, tetapi keandalan sedikit berkurng karena adanya penyesuaian subjektif. Level 3 input yang tidak dapat diamati yaitu jika di dasarkan pada arus kas terdiskonto seperti yang sering terjadi pada property investasi, relevansi tetap tinggi, tetapi keandalan sangat rendah karena di dasarkan pada asumsi eentitas spesifik yang tidak diamati di pasar
Oleh karena itu dapat saya simpulkan bahwa nilai wajar meningkatkan relevansi secara maksinal . namun keandalan informasi akutansu akan dikorbankan sejauh PT Nusantara Properti harus menggunakan input level 3 yang subjektif unttuk menentukan nilai propertinya.
3. Jika Anda adalah anggota Komite Standar Akuntansi Keuangan (DSAK IAI), apa rekomendasi kebijakan Anda terkait penggunaan nilai wajar dalam pelaporan aset tetap di sektor properti? Berikan argumen yang didasarkan pada prinsip-prinsip pelaporan keuangan.
Jawab:
Rekomendasi yang akan saya berikan adalah mewajibkan pengungkapan yang diperluas mengenai proses valuasi untuk property yang diukur menggunakan nilai wajar, terutama yang mmenggunakan input level 2 dan level 3. Kemudian prinsip ppeningkatan kualitas informasu yaitu pengungkapan yang menddetail memungkinkan investor PT Nusantara Properti untuk menilai keandalan dari nilai yang dilaporkan yaitu seberapa besar nilai tersebut bergantung pada asumsi manajerial yang subjektif, pengungkapan harus mencakup asumsi utama yang digunakan untuk penilai, kemudian dampak dari perubahan asumsi material dan kualifikasi penilaian independent yang ditunjuk.
pemisahan pengakuan keuantungan belum direalisasi yaitu pertimbangkan untuk memperkuat Batasan pengakuan keuntungan revaluasi asset tetap. Wlaupun PSAK 16 memindahkannya ke penghasilan komperhensif lain , DSAK harus menekankan bahwa keuntungan revaluasi property investasi harus dipisahkan dalam laporan laba rugi, unruk prinsipnya adalah prinsip prudence dan oencegahan erosi modal, dimana keuntungan revaluasinya, terutama dari asset noon likuid seperti property, bersifat fiktif dan sangat beresiko sebagai laba operasional.
Kemudian konsistensi dan pengujian yang lebih ketat yaitu dengan terapkan pengujian keandalan yang ketat secara periodeik. Jika estiimasi nilai wajar asset property berulang kali jatuh ke level 3 dengan selisih yang sangat besar dari biaya historis dan sulit di verivikasi mkan komite harus mempertimbangkan untuk wajib Kembali, biaya historis sebagai pengukuran utama attau setidaknya mewajibkan pelaporan biaya hiistoris sebagai informasi sekunder di catatat atas laporan keuangan. Hal ini berhubungan dengan prinsip keandalan dan verifiabilitas. Meskipun nilai wajar itu relevam, standar harus mencegah nilai wajar dengan bukti yang sangat rendah digunakan sebagai nilai utama dakam kasus asset non keuangan dimana kebijakan harus memungkinkan fleksibilitas tetapi mendorong penggunaan nilai wajar hanya ketika input pasar dapat diamati secara wajar