Nama : Adelweis Laidy Ferdilla
NPM : 2413031074
Aset tak berwujud adalah aset nonfisik yang digunakan perusahaan untuk jangka panjang, seperti hak paten, merek dagang, hak cipta, dan goodwill.
a. Pencatatan aset tak berwujud . Aset tak berwujud dicatat di laporan keuangan jika memenuhi dua syarat utama: (1) perusahaan diperkirakan akan mendapatkan manfaat ekonomi di masa depan dari aset tersebut, dan (2) nilai aset tersebut dapat diukur dengan andal. Pencatatan dilakukan berdasarkan dokumen yang sah dan biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh atau mengembangkan aset tersebut, seperti biaya tenaga kerja, bahan, dan jasa profesional yang langsung terkait . Aset tak berwujud yang dibeli dari pihak lain biasanya lebih mudah dicatat karena nilainya jelas. Sedangkan aset tak berwujud yang dibuat sendiri (misal: hasil riset dan pengembangan) lebih sulit diakui karena manfaat ekonominya seringkali sulit dipastikan
b. Penilaian aset tak berwujud . Penilaian awal aset tak berwujud umumnya menggunakan biaya perolehan, yaitu semua biaya yang dikeluarkan hingga aset siap digunakan. Setelah itu, aset tak berwujud dapat dinilai dengan dua metode:
Model biaya: aset dicatat berdasarkan biaya perolehan dikurangi akumulasi amortisasi dan penurunan nilai.
Model revaluasi: aset dinilai kembali berdasarkan nilai wajar, jika ada pasar aktif untuk aset tersebut
Amortisasi dilakukan selama masa manfaat aset, kecuali jika masa manfaatnya tidak terbatas (misal: goodwill), maka dilakukan uji penurunan nilai secara berkala.
c. Penyajian dalam laporan keuangan . Aset tak berwujud disajikan di neraca pada bagian aset tidak lancar. Dalam catatan atas laporan keuangan, perusahaan wajib mengungkapkan informasi seperti nilai awal, akumulasi amortisasi, metode amortisasi, masa manfaat, dan jika ada, hasil revaluasi. Jika ada aset tak berwujud yang tidak bisa diukur nilainya secara andal, biasanya tidak dicatat di neraca, tapi bisa diungkapkan dalam catatan . Banyak aset tak berwujud yang tidak tercatat di laporan keuangan karena sulit diukur atau tidak memenuhi kriteria pengakuan, sehingga nilai perusahaan di laporan keuangan bisa lebih rendah dari nilai sebenarnya. Oleh karena itu, standar akuntansi terus dikembangkan agar pelaporan aset tak berwujud lebih relevan dan transparan